Font Size
15px

Ia tidur nyenyak, tanpa mimpi buruk. Leah terbangun dengan perasaan segar, skipun ia sedikit terkejut saat mbuka mata. Lingkungan di sekitarnya tidak dikenalnya, tetapi ada juga sepasang lengan yang lingkari tubuhnya, luknya dari belakang. Napas lembut pria itu nggelitik telinganya dan skipun ia hanya ngenakan gaun tidur tipis dan sebagian tubuhnya tertutup selimut, ia sama sekali tidak rasa kedinginan.

"..."

Leah mbuka mulutnya untuk berbicara, tetapi mpertimbangkannya kembali. Setelah beberapa saat rasa ragu, dia nggigit bibirnya dan dengan hati-hati ncoba njauh. Tangannya tampak sangat putih dibandingkan dengan kulit lengannya yang kecokelatan.

"...!"

Tepat saat dia hendak beranjak, tangan yang lingkari pinggang dan perutnya bergerak ke atas, ke atas payudaranya. Saat Leah terkesiap karena terkejut, dia ngusap payudaranya dan ncium bagian belakang lehernya. Suaranya yang dalam berbicara.

"Apakah kamu sudah bangun?"

Ishakan tersenyum padanya saat dia berbalik, matanya sedikit nakal.

"Sudah berapa lama aku tertidur?"

"Sedikit lebih dari sehari."

Untungnya, dia tidak tidur selama beberapa hari kali ini. Perlahan, dia ngangguk. Mata emasnya natapnya, ngamati. Dia masih tampak sedikit ngantuk.

Ishakan njilat bibirnya. Pandangannya beralih ke payudaranya, putingnya nonjol lalui gaun tidurnya yang tipis. Ketika dia lihatnya, Leah nutupinya dengan tangannya.

Sambil ngerutkan kening tidak puas, ia bangkit, raih kendi di dekatnya untuk minum air, lalu ngulurkannya kepada Leah. Itu adalah hal yang tidak masuk akal untuk dilakukan, minum langsung dari kendi, bertentangan dengan semua tata krama Estia, tetapi Leah ngangkatnya ke bibirnya. Hal-hal itu tidak penting. Ia tidak berada di Estia lagi.

Aliran air yang ngalir di tenggorokannya yang kering terasa nyegarkan. Begitu selesai, Ishakan ncium dan luknya, nggigit bibirnya.

"Mulai hari ini, kita harus berciuman lima kali sehari," bisiknya.

"Lima kali...?"

"Itu wajib, Leah," katanya lembut. Leah ngangguk otomatis, masih sedikit linglung. "Sepertinya cairan tubuhku mbantu mantramu."

"...?"

"Kau tidak bisa lakukan itu setiap hari, kan? Itulah sebabnya kita harus berciuman." Ia ngusap lembut bibirnya dengan jari-jarinya. "Tentu saja, jika kau tidak keberatan, aku bisa lakukannya setiap hari untuk mbantumu."

Tidak akan baik-baik saja, dia masih sakit karena terakhir kali. Jika reka berhubungan seks setiap malam, dia mungkin benar-benar akan mati. Ishakan tersenyum lihat ekspresinya yang ncela. Pada saat itu, terdengar ketukan sopan di pintu.

"Tuan Ishakan. Ini ndesak." Suara itu mbuat Ishakan ngerutkan kening, dan dia ndecakkan lidahnya saat dia bangkit dari tempat tidur.

"Aku tidak bisa sarapan denganmu. Aku akan ngirimimu makanan bersama Genin, kau harus makan. Kalau kau mau, kita bisa makan siang bersama nanti."

Ishakan ngenakan jubah, lalu mbungkuk untuk ncium keningnya, lalu hidungnya, dan terakhir bibirnya.

"Aku ingin tinggal bersamamu." Matanya mbelalak, dan dia tersenyum. "Tapi itu tidak bisa dihindari."

Dia nangkup pipinya dengan kedua tangannya.

"Aku sedang sibuk nyiapkan hadiah untukmu."

You are reading Predatory Marriage : Leah & Raja Kurkan Chapter 158: Lima Ciuman on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.