Font Size
15px

Ibu Cerdina cantik. Dia tahu itu, dan tahu bagaimana manfaatkannya. Itulah sebabnya dia mperoleh gelar Countess Weddleton. Dibutakan oleh cinta, Count telah nutupi status rendahnya.

Ketika masih muda, Cerdina kadang-kadang pergi bersama ibunya ke pusat kota, di mana reka akan berbelok ke jalan dan nemukan gang tertentu. Ada sekelompok pria dan wanita yang kadang-kadang bernyanyi di sana, bermain dengan senar gitar kecil. Ketika reka lihat Cerdina dan ibunya, reka akan ndekat dengan gembira, berbicara kepada ibu Cerdina dalam bahasa yang tidak dingertinya, dan mberikan gadis itu perhiasan dan mainan kasar.

Ketika tangannya sudah penuh dengan mainan, seorang wanita dengan senyum nawan letakkan bola kristal di atas tumpukan itu.

—Anda mungkin mbutuhkan ini.

Dalam perjalanan pulang, Cerdina mandangi bola ajaib itu dengan rasa ingin tahu.

— Ibu, apakah kalian orang Estia? tanyanya.

Alis ibunya yang cantik berkerut. Ia njawab dengan suara lembut namun tegas.

— Kami bukan orang Estia. Kami juga bukan orang Tomari. Kami adalah orang Toma.

Kemudian, Cerdina makan jantung ibunya agar njadi lebih kuat dari siapa pun. Namun, itu pun tidak cukup untuk naklukkan dunia. Raja Estia terperangkap dalam ambisinya, dan begitu lihat kesempatan, Cerdina ngucapkan mantra yang akan njungkirbalikkan seluruh benua.

Itu adalah sesuatu yang tidak akan berani dilakukan oleh siapa pun. Dia ngucapkan mantra yang akan ngubah darah yang paling rendah njadi darah yang paling agung.

"Ahhh, ahhh..."

Dia njerit dan nggigil saat ncapai klimaks. Wajahnya rah saat dia milin tali sutra di satu tangan dan mbelai pipi Raja dengan tangan lainnya.

"Istirahatlah, suamiku," katanya penuh kasih sayang. Tali kekang lilit lehernya dan wajahnya mbiru. Ia tidak bisa bernapas. Tubuhnya getar dan kaku.

"Oh..."

Cerdina tertawa terbahak-bahak saat rasakan banjir s3n di dalam dirinya.

Kelopak mata Raja tertutup untuk nutupi mata yang tidak fokus. Tubuhnya yang berkedut njadi lemas. Cerdina ndekatkan telinganya ke dada Raja. Baru setelah yakin Raja telah benar-benar berhenti bernapas, dia lepaskan tali itu.

"Ahh..."

Dia berdiri, perlahan narik kejantanan pria itu keluar dari tubuhnya, dan ngenakan jubah yang telah dia letakkan di dekatnya, sutra lembut nutupi kulit putihnya. Dia ngikatkan selempang di pinggangnya.

"Blain," panggilnya. Atas panggilan sayang darinya, pria yang duduk di balik tirai itu ndekat perlahan. Rambut pirangnya sangat cocok untuknya. Cerdina mbelai rambut keperakannya dan ngambil sebuah benda dari ja nakas. Belati yang berlumuran darah kering itu adalah peninggalan ibunya.

"Itu hal yang sama yang kulakukan pada ibuku," katanya nghibur.

"..."

Blain tidak nanggapi. natap wajahnya yang tanpa ekspresi, mata Cerdina nyipit.

"Ini untuk..."

"Diam."

Ia ngambil belati itu darinya. Itu kasar, tetapi ia terlalu diliputi kegembiraan. Blain ndekati tubuh Raja dan nusukkan belati itu ke dadanya. Darah ngalir keluar dan nodai tempat tidur. Tak lama kemudian, suara daging ntah yang dikunyah nuhi ruangan.

Cerdina nyaksikan dengan gembira. Akhirnya, saat yang telah lama ditunggunya pun tiba.

"Anakku sayang..." bisiknya, mabuk kegirangan. "Kau akan ndapatkan penobatan paling nakjubkan di dunia, Blain."

You are reading Predatory Marriage : Leah & Raja Kurkan Chapter 157: Kematian Tak Terduga on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

The Lucky Farmgirl cover
Similar genre

The Lucky Farmgirl

Bamboo Rain ·Romance

TheFourthBrotherhadsquanderedhiswealththroughgambling,leavingtheirmotherinacriticalstate.Tomakemattersworse,thecreditorsevenaskedthemtosellManbaoto...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.