Font Size
15px

skipun Leah tidak lagi berada di Estia, hatinya masih terperangkap di istana negara itu. Sang Ratu telah nyakitinya sejak lama. Ia tidak akan pulih dengan mudah. ​​Ishakan ngerutkan kening saat natapnya, ngingat cara Leah mohon bantuannya.

— Bantu aku dengan ini, Ishakan.

Ia tidak dapat mahami kegelisahannya. Setelah lihatnya nderita mimpi buruk dan halusinasi, ia ngikatnya sesuai permintaannya untuk mberi tahu bahwa ia berada di tempat yang aman. Ia ingin agar ia ngerti bahwa ia sekarang berada di wilayah kekuasaannya, bukan wilayah kekuasaan Ratu. Namun, nurutnya itu tidak cukup.

Itu adalah masalah yang tidak dapat diselesaikan sampai akar permasalahannya diberantas. Ishakan terkekeh, sambil mbelai dahi Leah dengan jari-jarinya.

Dia mbayangkan sebuah mahkota di rambut peraknya saat dia ndekatkan pipanya ke mulutnya.

***

Orang-orang Kurkan yang baru saja kembali ke istana sangat sibuk. Karena reka telah lama pergi, ada banyak urusan yang belum selesai, tetapi reka terus-nerus diganggu.

Penyebabnya adalah pengantin perempuan sang Raja, yang telah diculik dari Estia. Karena tidak dapat muaskan rasa ingin tahu reka terhadap Ishakan sendiri, orang-orang Kurkan ngganggu orang-orang yang pernah ke Estia bersamanya. Genin dan Haban nyaris berhasil larikan diri.

"Aku benar-benar akan mati," gerutu Haban sambil ndorong pintu ruang konferensi hingga terbuka. Pintu itu sangat besar, mbentang dari lantai hingga ke langit-langit, dan di sebagian besar tempat hanya bisa dibuka oleh beberapa orang dewasa. Namun, bagi seorang Kurkan, itu tidak njadi masalah.

Genin dan Haban mbungkuk sopan dan mberi salam saat reka masuki ruang konferensi, tempat belasan orang Kurkan duduk di ja kayu hitam panjang yang dihiasi emas. Ruangan itu ditutupi ubin arabesque warna-warni, tempat para kepala suku berkumpul. Haban dan Genin ada di sana sebagai pengawal Raja.

Morga, sebagai kepala suku ular, juga duduk di ja dan tampak kelelahan. Ia datang ke pertemuan itu langsung setelah bangun dari tidur. Ia telah tidur sejak reka kembali ke istana.

"Di mana Raja?" tanya seorang kepala suku.

"Ishakan sedang berkembang biak..." Genin langsung njawab. Di sampingnya, Haban nyenggolnya.

"Sekarang Leah sudah ada di sini, jangan gunakan kata itu lagi," bisiknya.

"Ah," kata Genin, lalu ngoreksi, "Perkawinan..."

Haban nyikutnya lagi. Genin ragu-ragu.

"S3x...?" tawarnya ragu, dan saat Haban ngangguk, dia lanjutkan dengan lebih tegas, "Dia berusaha keras untuk berhubungan s3x."

lihat kedua orang idiot itu, Morga tersenyum.

"Aku... khawatir," Genin nambahkan sambil ngerutkan kening.

"Ya. Kurasa itu terlalu berat untuk Leah," Haban setuju, dengan ekspresi serius. skipun orang Kurkan mungkin berhubungan seks selama beberapa hari, Leah adalah makhluk yang sama sekali berbeda. mbayangkan wanita kurus dan lemah itu, mata Morga bergetar.

"Kurasa aku rasa sedikit bersalah..." gumamnya.

Pintu terbuka dan semua orang berdiri dari tempat duduk reka untuk mberi hormat. Pria yang masuk duduk di ujung ja, dan Genin serta Haban ngambil tempat di belakangnya. Setelah dia duduk, barulah para pemimpin lainnya duduk. Ishakan natap setiap orang Kurkan yang berkumpul di ruang konferensi.

"Kita berkumpul lagi setelah sekian lama," katanya sambil ngulurkan tangan. Haban telah nyiapkan pipa untuknya, dan Ishakan nerimanya, lalu langsung beralih ke pokok bahasan. "Dalam waktu sebulan, kita akan mulai naklukkan Estia."

Dia tersenyum lihat ekspresi terkejut di wajah rakyatnya.

"Bukankah nyenangkan jika aku mberikannya kepada calon istriku sebagai hadiah pernikahan."

You are reading Predatory Marriage : Leah & Raja Kurkan Chapter 154: Penaklukkan on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.