Font Size
15px

Penaklukan Estia telah direncanakan sejak lama. Sebenarnya, alasan reka ngunjungi Estia dengan kedok negosiasi perdamaian sebagian adalah sebagai persiapan untuk invasi. Namun tanggalnya belum ditetapkan hingga sekarang. Ketegangan nuhi ruang konferensi.

"Tapi mantranya..." Morga buru-buru njelaskan.

"Kami akan njaga Ratu tetap hidup," kata Ishakan.

"...!"

Itu benar-benar tak terduga. Morga natap sang Raja.

"Temukan semua mantra yang digunakan pada Leah sebelum itu," tambah Ishakan. "Dan aku ingin kau..."

Mata Morga lebar saat Ishakan njelaskan idenya.

"Apakah itu mungkin?"

Biasanya, tidak. Namun Morga berpikir hal itu mungkin saja terjadi dengan Ishakan. Patut dicoba. Sang penyihir ngepalkan tangannya erat-erat. Jalan yang ditempuh Ishakan tidak pernah mudah. ​​Sejak Morga mulai layaninya hingga sekarang, sang Raja selalu nempuh jalan yang mustahil. Ia telah ncapai hal-hal yang nurut orang lain tidak akan pernah bisa ia lakukan, hingga akhirnya ia nduduki takhta Kurkan.

Bagi Morga, Ishakan adalah rcusuar. Tidak peduli seberapa tidak pasti jalannya, ia akan selalu percaya dan ngikutinya. Ia tidak ragu bahwa kali ini akan sama saja. Morga ngangguk tegas.

"Saya akan lakukannya," katanya.

"Para prajurit sudah siap," kata kepala suku beruang dengan antusias. "reka mungkin akan berangkat berperang dalam waktu satu bulan."

Mata Ishakan nyipit saat dia ngeluarkan abu dari pipanya.

"Saya tidak nginginkan perang besar-besaran dan total," katanya.

Salah satu kepala suku hendak bertanya ngapa, tetapi nutup mulutnya, terlambat ngingat bahwa pengantin perempuan Raja adalah Putri Estia. Dia telah berkorban banyak untuk lindungi negara itu, dan negara itu mulai hancur. Demi dia, Ishakan akan ncoba minimalkan kerusakan saat dia naklukkannya.

"Bagaimana kalau kita rebut istana dulu, baru negaranya?" tanya kepala suku rubah, dan njelaskan rencana umumnya. reka akan ngumpulkan pasukan secara diam-diam di dekat ibu kota, lalu rebut istana kerajaan dalam satu hari.

Keamanan di ibu kota telah terganggu oleh masuknya pasukan Tomari dari seluruh benua. Pengawasan yang sebelumnya waspada telah dilonggarkan. Infiltrasi akan mudah dilakukan. skipun intervensi Byun Gyeongbaek bisa repotkan, reka dapat ngalihkan perhatian pasukannya ke tempat lain saat reka rebut ibu kota.

"Namun, perang habis-habisan lawan Byun Gyeongbaek tidak akan bisa dihindari," kata Ishakan sambil tersenyum lebar. "Dia akan noleransinya jika hanya lawan Byun Gyeongbaek."

Setelah semua orang mahami rencana umumnya, reka mulai mbahas rinciannya. Setiap kepala suku bebas nyampaikan pendapat reka, dan skipun reka terkadang berdebat satu sama lain, Ishakan selalu miliki keputusan akhir.

Ada berbagai topik lain yang akan dibahas selain Estia, karena Ishakan sudah lama tidak hadir. Setelah beberapa jam, Ishakan mutuskan untuk mberi semua orang waktu istirahat sejenak. Sambil letakkan pipanya, ia natap kepala suku beruang itu.

"Saya ndengar bahwa kurma dari daerah Anda sangat manis dan lezat," katanya.

"...Ya?"

"Bawa beberapa."

"...."

Kepala suku itu terdiam di tempatnya, tidak tahu harus berkata apa. Ishakan tidak pernah ngajukan permintaan seperti itu sebelumnya.

"Aku bisa, aku bisa, mbawakan apa pun yang kau inginkan..." Ucap kepala suku itu terlambat, begitu terkejutnya hingga ia tergagap.

"Pilih yang paling berharga saja," kata Ishakan dengan tenang, lalu nambahkan, "Aku tidak akan makannya."

'Ia akan mberikannya kepada istrinya...' Sang kepala suku, yang segera nyadari apa maksudnya, segera njawab dengan penuh tekad.

"Aku akan milih yang paling berharga!"

Mata Ishakan lengkung.

"Jika Anda punya sesuatu yang lezat selain itu, bawalah. Istriku kurang nafsu makan, jadi aku akan berusaha mberinya lebih banyak makanan."

Ada senyum di matanya saat mikirkan istrinya. Ini adalah pertama kalinya salah satu kepala suku lihatnya seperti ini. skipun dia tampak lunak terhadap bawahannya, itu hanya untuk nutupi sifatnya yang buas, setajam pedang. Namun sekarang dia tampak semanis pern, pedangnya tersarung. Para kepala suku saling bertukar pandang, berbagi pikiran yang sama.

reka akan mbawa semua hal lezat yang reka punya, jika reka harus nciptakannya.

You are reading Predatory Marriage : Leah & Raja Kurkan Chapter 155: Penaklukkan 2 on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Vengeance in His Bed cover
Similar genre

Vengeance in His Bed

JacintaVike ·Romance

18+READERSONLY:Thisstorycontainsexplicitsexualcontent(smut),darkthemes,stronglanguage,possessivealphadynamics,andanenemies-to-loverspowerimbalance....

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.