Font Size
15px

Sambil nahan napas, dia ndongak ke arahnya dengan mata bulat dan terkejut seperti kelinci. Ishakan mbelai bibirnya dengan lembut.

"Bisakah kau nelannya?" bisiknya.

Perlahan, ia nelan spermanya, natap matanya. Ia rasakan kehangatan di tenggorokannya, dan setelah nelan semuanya, Ishakan ncium keningnya.

"Kenapa, kenapa, kenapa, tiba-tiba...?" tanya Leah terbata-bata.

"Mulai sekarang kamu harus makan semuanya."

"Hah, s3n?"

"Dengan cara itu Anda dapat mperbaiki kondisi Anda lebih cepat."

skipun malu, dia bertanya ngapa dia harus nelan spermanya, tetapi itu bukan penjelasan. Dia sama sekali tidak bisa mahaminya. Rantainya bergetar saat Ishakan mbalikkan tubuhnya, dan dia njilati bibirnya saat natapnya.

Di bawah pinggang rampingnya, bokongnya yang bulat rah seolah-olah seseorang telah mukulnya, begitu pula bagian dalam pahanya. mbelah bokongnya dengan kedua tangan, Ishakan mperlihatkan daging rah muda pekat di antara kedua kakinya, masukkan jari tengahnya ke celah yang basah dan licin itu. Secara refleks, Leah ncoba larikan diri.

Ia terkekeh saat lihat gadis itu rangkak pergi dan nyeretnya kembali dengan rantai pendek di antara kedua kakinya, ngembalikannya ke tempatnya. Ia raih rantai di ranjang kanopi, lalu mperpendeknya hingga lengannya negang.

"Kenapa kau ncoba larikan diri?" tanyanya. "Jangan malu-malu..."

Sambil ncium tulang belakangnya, dia mbungkukkannya. Dengan tangan terikat, dia hanya bisa nggerakkan pinggulnya saat dia berbaring tengkurap di tempat tidur. Ishakan ndorong wajahnya di antara kedua kakinya dan Leah terkesiap.

"Ah...!"

Lidahnya njilati bagian luar dan kemudian masuk ke dalam sambil ngusap paha dan pantatnya. Suara bibir dan lidahnya ngisap cairan dari vaginanya mbuat matanya berair.

Leah nggigil begitu keras hingga ia bahkan tidak bisa ngerang. Serangkaian klimaks ngguncang tubuhnya dan dinding bagian dalam tubuhnya berkontraksi, ncengkeram lidahnya. Hal itu hanya mbuat sensasi di dalam dirinya semakin kuat.

Dia tidak bisa nutup mulutnya karena dia terengah-engah, matanya berkaca-kaca. Kenikmatan itu nghancurkan tubuhnya dan air liur ngalir dari bibirnya. Apakah ini karena dia sudah lama tidak berhubungan seks? Dia tidak tahu harus berbuat apa.

Dia baru saja akan turun ketika jari-jari panjang nyentuh klitorisnya, dan dia nggelengkan kepalanya dengan panik ketika Ishakan mulai nggosoknya dengan lembut, ndorong lidahnya ke dalam dirinya.

"Ah, jangan, itu, mm, tidak...!"

Sensasinya semakin kuat. Dia hampir ncapai klimaks, sebentar lagi dia akan ncapai klimaks, dan dia ngerang, nggigil tak terkendali.

Tiba-tiba, Ishakan narik diri, baik mulut maupun jari-jarinya. Erangan keluar dari mulutnya. Dia berhenti tepat sebelum dia ncapai klimaks.

"Ahh..."

Namun, sesaat kemudian ia kembali mbelai klitorisnya dengan ujung jarinya, kali ini dengan lembut. Ia ingin ia nggosoknya lebih keras, tetapi ia tidak lakukannya, dan tepat saat ia akan ncapai klimaks lagi, ia narik tangannya. Cara ia terus berhenti tepat sebelum ia ncapai klimaks mbuatnya gila, tubuhnya begitu panas, dan mulutnya hampir kering.

"Ah, Isha, Ishakan..." Ia tak tahan lagi dengan sensasi geli di perut bagian bawahnya. Pikirannya dipenuhi oleh sesuatu yang tebal dan panas yang nembusnya. Leah nggoyangkan pinggulnya dengan tidak sabar, mohon. "Masukkan, ah, kumohon, cepat...!"

Dia tidak percaya dia lakukan hal yang begitu sum, tetapi dia tidak punya waktu untuk mikirkannya. Kejantanannya yang kokoh nembus jauh ke dalam salurannya yang sempit.

"Ahhhhhhh...!"

Ia ndekati klimaks yang ditunggu-tunggu dan cairan mulai nyembur dari dalam dirinya, mbasahi bagian dalam pahanya. Putingnya bergesekan dengan seprai saat ia nggoyangkan pinggulnya dengan liar.

Setiap kali bagian dalam tubuhnya digosok dengan kejantanannya yang keras, dia pikir dia akan mati karena kepuasan. Dia nggigil, ncengkeram bantal erat-erat, rantainya berderak. Gelombang kenikmatan nyapu dirinya begitu kuat sehingga penglihatannya redup, dan erangan penuh gairah keluar darinya.

"Ahhh...!"

Ia ncapai klimaks lagi. Ishakan mbalikkan tubuhnya, alat kelamin reka masih nyatu, dan ia rasakan seluruh tubuh Ishakan bergesekan dengannya, mbuatnya ngerang lagi. Tiba-tiba, terdengar suara patah, dan rantai di antara kedua kakinya putus. Kedua kaki Leah terbuka lebar.

Leah yang sudah kelelahan karena org@sms-nya, ndongak ke arahnya, lemas. Mata Ishakan sedikit rah, dan dia tersenyum.

"Mulai sekarang aku akan nyelidiki kamu dengan benar."

You are reading Predatory Marriage : Leah & Raja Kurkan Chapter 150: Ikat Aku 4 on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Mr. CEO Has a Crush on Me cover
Similar genre

Mr. CEO Has a Crush on Me

Mu Anan ·Romance

Shewasframedbyhersisterandaccidentallyhadaone-nightstandwithhim.Later,hefoundvariousunreasonableexcusestoforcehertolivewithhim.Toseekrevenge,sherel...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.