Leah natapnya, tercengang. Sejak saat itu? Apa yang telah reka lakukan?
Tentu saja, sekarang setelah dipikir-pikir lagi, Ishakan baru ncapai klimaks satu kali. Di sisi lain, ia sudah ncapai klimaks beberapa kali. Ishakan nariknya keluar dari pikirannya dengan robek gaun tidurnya dan lemparkannya ke sudut tempat tidur yang lebar.
Ia bergerak perlahan saat ia nusukkannya, mata reka saling bertatapan. Kejantanannya perlahan ndorong ke dalam dinding bagian dalam tubuhnya, mbuatnya nggigil, nahan napas hingga ia sepenuhnya terbungkus di dalam dirinya. Sambil ndesah, ia natap mata pria itu saat reka bergetar bersama.
"..."
Tanpa suara, Ishakan remas paha wanita itu dengan tangannya, begitu kuat hingga ninggalkan bekas jari-jarinya. Terlambat, ia nyadari apa yang dilakukannya dan lepaskan wanita itu, nenggelamkan kejantanannya lebih dalam ke dalam wanita itu.
Dia bahkan tidak bisa dibandingkan dengan binatang buas. Dia nyerang dengan kasar dan jauh lampaui apa pun yang bisa dia tahan, dan dengan tangan terikat, dia tidak bisa ngendalikan tubuhnya. Dia nggigil saat dia nabraknya, suara tubuhnya bertabrakan dengan tubuhnya yang keras dan kasar. Tubuhnya yang panas nerima ini dengan senang hati. Segera, dia ncapai klimaks lagi, matanya tertutup rapat dalam kenikmatan yang nyiksa.
"Mm, ahh...!"
Seluruh tubuhnya getar saat otot-ototnya negang. Namun Ishakan tidak berhenti. Ia terus lakukannya, tidak pernah mberinya waktu untuk beristirahat, maksanya lewati serangkaian klimaks secara berurutan. Ia ncapai klimaks setiap kali kejantanannya bergerak masuk dan keluar, wajah dan lidahnya mati rasa karena kenikmatan. Ia ingin nyuruhnya berhenti, tetapi ia rasa sulit untuk ngucapkan namanya. Akhirnya ia nemukan kekuatan untuk berbicara.
"Ah, Ish, Ishakan..." katanya bingung, dan dia nangkap lidahnya dengan jari-jarinya, nggosoknya untuk mbuat air liurnya ngalir ke bibirnya.
"Kamu harus berbicara dengan baik dan benar."
"Ahhh, mm, ahh...!"
"Apa yang bisa saya bantu?"
Dia nggigit jarinya. Namun tentu saja, tidak ada bekas di kulitnya yang keras, dan saat dia ndorong lagi, dia nggigil, ngerang. Rasanya seolah-olah tubuhnya telah ncapai batasnya, tetapi dia masih tidak bisa ngatakan apa yang diinginkannya. Saat dia terus rasakan kenikmatan yang tak henti-hentinya, dia samar-samar ndengar bisikannya.
"Apakah kamu masih takut, Leah?"
Leah ngerjapkan mata dan air matanya netes. Pada suatu saat, dia berhenti mperhatikan suara rantainya, skipun rantai itu berderak keras. Saat dia nyadarinya, semua indranya terasa lebih hidup, sensasi kejantanannya yang panas renggangkan dinding bagian dalamnya, kehangatan kulitnya, udara manis dari hembusan napasnya, dan mata emasnya yang natapnya.
Dia tidak bisa bicara. Dia tidak nunggu jawabannya saat dia bergerak lagi, dan dia rasa bisa rasakan bentuk kejantanan pria itu di dalam dirinya, tubuh bagian bawahnya manas seolah-olah dia terbakar, geli di dalam dirinya.
Perasaan itu pernah ia rasakan sebelumnya, panas, cair, dan ledak-ledak, dan skipun ia malu, ia tidak bisa bergerak. Perut bagian bawahnya kram dan ia ncoba nggerakkan tangannya, tetapi ia bahkan tidak bisa nyembunyikan wajahnya karena rantai yang ngikat borgolnya ke kanopi itu kencang.
Dia ncoba nepisnya, tetapi dia tidak punya kekuatan, tetapi cukup untuk mbuatnya berhenti.
"Ah, aku tidak bisa..." Leah mulai putus asa.
Ishakan hanya natapnya, seolah-olah dia tidak akan ndengarnya kecuali dia ngucapkan kata-kata itu dengan jelas. Wajahnya rah saat dia ngucapkan kata-kata yang malukan itu.
"Kurasa aku akan datang..." Tidak ada jawaban. Suara Leah ninggi, mohon. "Kumohon...! Huh...!"
Namun, dia malah ndorong kedua kakinya lebih lebar lagi, dan skipun dia ncoba untuk tetap nyatukannya, tidak ada cara untuk lepaskan cengkeramannya. Klitorisnya terbuka sepenuhnya.
Dia bahkan tidak bisa bicara. Yang bisa dia lakukan hanyalah narik pergelangan tangannya yang terikat dengan sia-sia, rantainya berderak. Yang ingin dia lakukan hanyalah nyembunyikan wajahnya jika dia tidak bisa ndorongnya, tetapi karena dia terikat, dia bahkan tidak bisa lakukan itu.
Reviews
All reviews (0)