Dia tahu itu. Dia juga yakin bahwa dia akan pulih.
"Tapi kau bilang butuh waktu sepuluh tahun..." bisiknya. Ia harus njalani sepuluh tahun dengan penderitaan karena tahu ia mungkin akan mbunuhnya.
Ishakan perlahan berjongkok, tubuhnya yang besar nutupi seluruh tubuhnya, nggambarkan perbedaan ukuran tubuh reka. Secara naluriah, dia ncoba untuk mundur, tetapi borgol di pergelangan tangannya ncegahnya bergerak.
"Dalam sepuluh tahun itu?" tanya Ishakan sambil nyeringai. "Apa kau khawatir aku akan mati di tanganmu?"
Leah ngerjap. Sekarang dia ngerti apa yang dimaksud lelaki itu ketika dia manggilnya naif. Leah ngamati lelaki di hadapannya. Dia pucat dan kurus, tetapi dia berkulit kecokelatan dan berotot kekar. Ketakutan yang tertanam di hatinya seperti jarum nghilang. Leah natapnya dengan mata getar.
"SAYA..."
Lalu dia nanyakan hal lain padanya.
"Berikan aku ciuman."
Mata Ishakan lengkung.
"Aku mang berniat lakukannya."
Perlahan, bibir reka bersentuhan. Ia nggigit bibirnya dengan lembut dan masukkan lidahnya. Kehangatan yang telah ia lupakan ngalir di perut bagian bawahnya. Ia ngeluarkan erangan kecil, lengannya terangkat untuk ncoba luknya, tetapi rantainya malah berderak.
Suara itu sama dengan suara yang nghantui mimpinya dan bahkan realitasnya dalam halusinasi pendengaran, tetapi sekarang suara itu tidak mbuatnya takut. Dia bersama Ishakan.
reka berciuman, berbagi kehangatan. Saling natap tanpa ngalihkan pandangan, saling nggosok dan nghisap lidah. Saat ciuman reka semakin intens, tubuhnya nghangat sepenuhnya.
Bibir reka terbuka dengan suara basah, napas reka yang panas terengah-engah. Ishakan natapnya dengan mata setengah tertutup.
"Aku ingin..." bisik Leah ragu-ragu, dan sudut mulutnya terangkat.
"Apa?" tanyanya sambil tersenyum.
"Aku ingin lakukannya bersamamu."
Ia ingin sepenuhnya berada dalam kekuasaannya. Ia ingin rasa terlindungi di sisinya, sebagai Leah, bukan sebagai boneka Cerdina. Ia tidak bisa luknya dengan tangannya, jadi ia ncoba ncium pipinya dengan lembut. Namun karena bibirnya tidak bisa njangkau, ia nggigit sisi dagunya.
Bahkan gigitannya tidak ngenai kulitnya yang keras. Dia njilati dagunya dengan lembut.
"Masukkan ke dalamku..." katanya ragu-ragu. Ia rasa sangat malu ngatakannya. Ia berharap bisa berbicara lebih fasih, lebih nggoda, tetapi ia tidak punya bakat untuk itu. Leah nggigit bibirnya.
Bahkan saat dia rasa malu atas keberaniannya sendiri, Ishakan tidak bergerak, natapnya tajam, mata emasnya bersinar begitu tajam hingga dia rasakan gelombang déjà vu.
"...Aku selalu mikirkannya." Bisiknya. "Jika darah hewan di dalam tubuhku lebih padat, kau akan ndapat masalah."
Perlahan, tangannya njelajahi tubuhnya. Bergerak di atas belahan dadanya, dia dengan lembut ngusap putingnya, yang terlihat di balik gaun tidurnya yang tipis. Tangannya luncur turun dari pahanya hingga betisnya dan nggenggam pergelangan kakinya, ngangkat pergelangan kakinya yang diborgol ke atas. Ishakan nyelipkan bantal di bawah pinggangnya dan njilat bibirnya.
"Jika aku nuruti dorongan hatiku, kau pasti sudah sakit hati sekarang," gumamnya.
Bagian bawah gaun tidurnya yang bergaya Kurkan lorot, gaun tipis dengan tali serut di pinggangnya yang mbuatnya tidak tertutup sama sekali. Terlambat, dia ingat bahwa dia tidak ngenakan pakaian dalam.
Sambil lihat di antara kedua kakinya, Ishakan nggigit pergelangan kakinya di sekitar belenggu, ninggalkan bekas di kulit putihnya.
"Kita lakukan ini sebelum kita masukkan ke dalam," katanya, dan ndorong kejantanannya di antara kedua pahanya.
Reviews
All reviews (0)