Font Size
15px

skipun berhati-hati, Leah tertarik dengan mata yang tersenyum itu. Ia tahu Ishakan adalah pria yang luar biasa dan tampan, skipun terkadang ia mbuatnya ringis karena sifatnya yang tidak tahu malu.

Namun saat ia natapnya, tatapan tajamnya lembut. Tidak mungkin ia bisa nolak pria ini. Leah nggelengkan kepala dan bersandar di dada Ishakan, dan Ishakan luknya seolah-olah ia telah nunggu saat itu. Tangan yang mbelai tulang belakangnya terasa hangat dan kuat.

"Kupikir aku sudah ninggalkan semuanya..."

Dia bisa ndengar bunyi rantai berderak di telinganya, dan skipun dia tahu itu halusinasi pendengaran, dia harus nahan keinginan untuk lihat ke bawah ke pergelangan kakinya. Dia tidak ingin lihat. Sebagian dirinya takut bahwa pergelangan kakinya benar-benar dibelenggu. Dia nyelipkan kakinya di bawah selimut.

"Aku masih mikirkan Estia," akunya, ncoba larikan diri dari bayang-bayang yang nyiksanya. "Ini...nyedihkan..."

Ishakan letakkan tangannya di kepala wanita itu, pipinya bersandar di dada kokohnya.

"Jangan pikirkan apa pun. Tidur saja. Kamu akan baik-baik saja setelah tidur nyenyak."

Leah jamkan matanya. Ia bahkan belum terjaga selama setengah hari, tetapi ia kembali tertidur dalam pelukannya, berharap ia bisa tetap terjaga sedikit lebih lama besok.

***

Tubuhnya bergerak sendiri. Leah tidak suka ini. Ia ingin berteriak, tetapi tidak ada yang keluar dari mulutnya. Sambil raih belati, ia ndekati pria itu, yang sedang tertidur lelap.

skipun dia sedang tidur, matanya perlahan terbuka saat dia ndekat, dan saat dia bertemu dengan tatapan mata emas itu, dia nusukkan belati itu ke jantungnya. Sensasi ngerikan seperti teriris daging manusia tersalurkan langsung ke tangannya.

Baru saat itulah ia terbebas dari ikatannya. Namun, sekarang setelah ia bisa berbicara, Leah tidak berkata apa-apa. Ia hanya bisa lihat ke bawah atas apa yang telah dilakukannya, dan Ishakan-lah yang ngambil langkah pertama saat ia tetap mbeku dan tak berjiwa.

"Tidak apa-apa," katanya sambil luknya. "Tidak apa-apa, Leah."

"Kenapa, kenapa.." kata Leah, saat darah panasnya mulai ngalir. skipun dia bisa ncegah Leah nusuknya, dia hanya lihat Leah nusukkan belati itu ke tubuhnya. Ishakan nyelipkan sejumput rambut Leah di belakang telinganya, berbisik.

"Aku tidak ingin kau terluka secara tidak sengaja jika aku nghindarinya."

Leah terbangun, terkejut. Batas antara mimpi dan kenyataan njadi kabur dan ia panik, berguling dan jatuh dari tempat tidur. Ia nahan jeritan kesakitan dan bergegas riksa tangannya. Ia terkulai saat lihat tangannya bersih dari darah, diliputi rasa lega dan cemas.

Itu hanya mimpi. Namun, itu juga bisa njadi kenyataan kapan saja. Sebuah pikiran muncul di benaknya.

Saya harus kembali ke Estia.

Dia tidak seharusnya berada di sini. Dia harus kembali ke Estia. Dia berdiri sempoyongan dan berlari ke pintu keluar terdekat, sebuah jendela yang ditutupi tirai tipis. Angin malam yang sejuk nyentuh wajahnya begitu dia nyingkap tirai, dan Leah tersadar seolah-olah dia telah ditampar.

"..."

Leah natap kosong. Cahaya bulan redup nyinari bangunan-bangunan batu putih, dan daun-daun palem bergoyang tertiup angin. Ia ngembuskan napas yang telah ditahannya dan jatuh ke tanah, nutupi wajahnya dengan kedua tangannya.

Seluruh tubuhnya getar. Baru sekarang dia benar-benar ngerti. Dia tidak hanya njadi boneka Cerdina, tetapi dia juga kehilangan akal sehatnya. Dia tidak waras. Dia pikir dia telah nemukan jalan keluar, tetapi keputusasaan ini tidak ada habisnya. Selalu ada neraka yang lebih buruk.

Sendirian di kegelapan, Leah berbalik, terkejut. Sepasang mata sedang ngawasinya di bawah sinar bulan yang ngalir lalui jendela. Leah berdiri diam dan natapnya dengan mata tenang, seolah-olah dia telah ngawasinya sejak awal. Sambil natapnya, bibirnya bergerak perlahan.

"...Kurung aku."

Ketakutannya tak tertahankan. Terutama dengan bayangan pria ini, yang tak lawan saat dia nusuknya, layang di depan matanya.

"Kau bisa masukkanku ke penjara, ngisolasiku di suatu tempat, atau ngikatku. Jika ini terus berlanjut, aku benar-benar bisa mbunuhmu..." bisiknya, wajahnya pucat. "Bantu aku dengan ini, Ishakan."

Ishakan tidak nanggapi permohonan putus asanya. Dia tahu lebih baik daripada siapa pun bahwa dia belum terbebas dari mantra Ratu. Dia mungkin ngerti persis apa yang ada dalam pikirannya. Namun dia tidak nunjukkan rasa takut, tersenyum tipis saat dia nunduk natapnya.

"Kau sangat naif..." katanya. Sambil ngangkatnya, dia nggendongnya di bahunya dan mbawanya ke tempat tidur, lalu lemparkannya ke sana. Sesaat kemudian, sesuatu jatuh di tempat tidur di depannya.

Itu adalah sepasang borgol kulit dengan rantai. Tidak seperti borgol di kereta yang hanya ngikat satu pergelangan tangan, borgol ini ngikat kedua pergelangan tangan, dan Ishakan masangnya dengan cekatan, ngamankan rantai di kanopi di kepala tempat tidur.

Itu belum semuanya. Dia juga mborgol pergelangan kakinya. Tidak ada rantai panjang dari kanopi, tetapi rantai pendek di antara pergelangan kakinya. Rantai itu hanya selebar telapak tangan, jadi mustahil baginya untuk berjalan. mbelenggu anggota tubuhnya mbuatnya rasa lebih baik. skipun tidak nyaman, dia lega karena tidak akan bisa nyakiti Ishakan seperti yang dia lakukan dalam mimpinya.

"Aku telah ngikatmu sesuai keinginanmu." Kata Ishakan sambil naik ke atas Leah. "Aku berjanji akan nyembuhkanmu, jadi aku tidak ngerti ngapa kau begitu khawatir."

You are reading Predatory Marriage : Leah & Raja Kurkan Chapter 147: Ikat Aku on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.