Kamar Ishakan yang luas miliki struktur yang luar biasa, dengan pintu lengkung yang ditutupi tirai tembus pandang yang misahkan ruangan. Jika tali yang ngikat tirai dibuka, semua ruang depan akan tersembunyi.
Sambil mbaringkan Leah di kursi berlengan dekat tempat tidur, Ishakan hanya lepas jubah luarnya yang berat karena pasir. Ia bersandar pada bantal bermotif arabesque dan tiba-tiba teringat saat pertama kali lihatnya di istana di Estia. Ia juga ingat betapa tidak pada tempatnya penampilannya.
Lelaki yang tidak cocok dengan Estia yang lembut itu benar-benar betah di Kurkan. Istana itu elegan, gah, dan nyegarkan, benar-benar tempat yang cocok untuk Ishakan. Sentara di sini, Leah adalah sosok yang aneh. Ia nggigit bibirnya.
Dia bertanya-tanya apa yang sedang terjadi di Estia sekarang.
skipun dia telah tiba di istana Kurkan setelah lintasi seluruh padang pasir, sudut hatinya masih terikat pada Estia. Perasaannya terhadap tanah airnya nggantung di atasnya seperti bayangan. Tidak peduli seberapa banyak cahaya bersinar, itu tidak akan hilang, dan setidaknya ndorongnya tampak lebih gelap, mperkuat kehadirannya.
Hal itu mbuatnya teringat mimpi buruknya. Sensasi belenggu di pergelangan kakinya masih terasa jelas. Mungkin itu kenyataan. Tempat ini, mimpi indah ini, hanyalah ilusi.
—Apakah kamu pernah ncekik seseorang yang kamu cintai?
Bisikan Cerdina yang tersenyum bergema di telinganya, dan tiba-tiba ada rasa sakit yang tajam di kepalanya dan napasnya tersengal-sengal. Sebuah tangan hangat nyentuh dahinya.
"Lea."
Leah jamkan matanya rapat-rapat. Perlahan, jantungnya yang berdebar kencang mulai tenang.
"Ishakan, aku..." Tangannya diturunkan saat dia mbuka mata dan natapnya, "...Aku masih terkena kutukan. Jadi setidaknya njauhlah sampai aku nyelesaikan pengobatannya..."
Matanya nyipit, dan Leah terdiam lihat ketidaksenangan di wajahnya.
"Butuh waktu untuk nghilangkan kutukan itu. Saya perkirakan butuh waktu setidaknya sepuluh tahun untuk nyelesaikan pengobatannya," katanya.
Sepuluh tahun. Angka itu mbuat rahangnya ternganga.
"Sulit untuk nculik pengantin wanita, dan sekarang aku harus ninggalkannya sendirian selama sepuluh tahun?" Sebelum dia bisa njawab, Ishakan mulai nanggalkan pakaiannya. "Kau selalu berpikir terlalu banyak."
Leah yang terkejut ncoba lawan.
"Hei, tunggu...!"
"Jangan bergerak. Aku tidak bisa mbaringkanmu di tempat tidur yang penuh pasir."
Dengan cepat, ia nanggalkan seluruh pakaiannya dan ngangkatnya. reka berada di ruangan tertutup, tetapi hari masih terang benderang. Dalam keadaan telanjang, Leah ncoba nutupi payudaranya dengan lengannya, tetapi tubuh bagian bawahnya tetap terbuka. Sensasi angin yang bertiup di bagian pribadinya mbuatnya ngencangkan pahanya.
"Dan jika ada seseorang yang mperhatikanku!"
"Kalau begitu, orang itu ingin segera mati."
Saat dia nggendongnya lewati beberapa pintu lengkung, reka tiba di kamar mandi tanpa jendela, yang hanya diterangi lampu. Bak mandi berisi air panas berada di tengahnya, dan kelopak bunga putih ngapung di permukaannya. Leah duduk di air saat Ishakan nanggalkan pakaiannya di depannya, mperlihatkan otot-ototnya yang terbentuk dengan baik, tulang rusuk yang tebal, dan perut yang terbentuk dengan baik. Leah natap otot-ototnya yang kuat lalu tersipu saat matanya bertemu dengan matanya.
"Jangan lakukan itu, Leah. Kamu harus mandi dan tidur lebih banyak." Ishakan lepaskan celananya, mperlihatkan kejantanannya yang sudah setengah tegak. "Kamu tidak akan bisa tidur jika terus natapku seperti itu," ia mperingatkan.
Dengan cepat, Leah nundukkan pandangannya. Permukaan air beriak hebat saat Ishakan langkah masuk ke dalam bak mandi. Ishakan njilat bibirnya saat natap wajah putih dan pipinya yang rah. Namun untungnya ia hanya ngusap pipinya lalu berkonsentrasi mbasuh diri.
Setelah kering dan berpakaian, reka berbaring berdampingan di tempat tidur, dan kelelahan mulai nyerangnya. Tubuhnya benar-benar tampak begitu lemah. Ishakan telah nutup tirai agar dia bisa tidur dan minjamkan dadanya sebagai bantal.
Sudah lama sekali ia tidak pulang, jadi ia seharusnya punya banyak hal yang harus dilakukan, tetapi ia tidak nunjukkan tanda-tanda khawatir. Leah tahu ia harus mbiarkannya pergi, tetapi ia ingin bersandar padanya sedikit lebih lama. Dalam pelukannya, ia bergumam dengan ngantuk.
"...Saya tidak tahu harus berbuat apa sekarang."
"Tidak perlu terburu-buru," bisik Ishakan sambil mbelai rambutnya yang basah. "Kau harus beristirahat dan mulihkan diri, lalu kau bisa mutuskan dengan tenang. Jika kau ingin lakukan sesuatu, aku bisa mberimu beberapa tanggung jawab. Sayang sekali jika kau nyia-nyiakan kemampuanmu."
Leah ngangkat kepalanya. Ia ingin nolongnya. Ishakan tersenyum lihat ketertarikannya.
"Kebetulan, ada posisi yang cocok," katanya dengan nakal. "Ratu Kurkan."
"..."
Leah natapnya tanpa tahu harus berkata apa, dan dia ngangkat alisnya yang nantang.
"Apa yang akan kau lakukan jika aku nolaknya...?" gumamnya.
Ishakan tersenyum, ndekatkan wajahnya ke wajahnya.
"Apakah kau akan nolak, Leah?" Matanya nyipit. "Aku?"
Reviews
All reviews (0)