Font Size
15px

Sekali lagi, dia tertidur. skipun dia tidak mau, dia tidak bisa lawan rasa kantuknya.

Dalam mimpinya, dia berlari njauh dari sesuatu, berlari dengan panik di tengah kegelapan. Setelah sekian lama, dia nemukan sebuah pintu, dan di balik pintu yang terbuka itu ada sebuah cahaya. Namun, ketika dia ncoba raihnya, dia terjatuh. Pergelangan kakinya terikat, dan pintu terbanting nutup tepat saat dia lihat belenggu di pergelangan kakinya.

Cahaya itu nghilang. Kegelapan nuhi seluruh tempat itu saat Leah nggedor pintu dengan putus asa hingga ia terseret oleh rantainya ke dalam kegelapan yang lebih pekat.

"...Ahhh!"

Leah terbangun sambil nangis sebentar. Namun, begitu lihat mata emas natapnya, ia rasa terhibur. Ia ndesah. Ishakan nurunkan kain yang nutupi separuh bagian bawah wajahnya, mbelai rambutnya dengan satu tangan.

"Apakah kamu bermimpi buruk?" tanyanya.

Dia ngangguk kecil dan nempelkan wajahnya di dada pria itu, nyadari bahwa dia sedang nunggang kuda dalam pelukannya. Sudah berapa hari dia tidur kali ini? Pemandangan telah berubah total. Gurun berada di belakang reka, tetapi di hadapannya ada tanah hijau, dan di balik itu, pohon palem dan rumput serta bangunan yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Gaya arsitektur seperti itu belum pernah terlihat di Estia. Dan di ujung deretan bangunan batu putih berdiri istana Kurkan.

Bangunan itu tampak elegan dan misterius dengan atap kubah dan empat nara runcing, dengan pintu dan jendela lengkung. Leah nundukkan pandangannya. Jalan setapak yang dilalui kuda itu dilapisi dengan pola-pola batu yang indah. Bahkan di Estia, hanya sedikit jalan yang dibangun dengan baik. Jalan seperti ini hanya dapat dilihat di ibu kota, atau di istana-istana orang kaya.

Sutra ungu suku Kurkan muncul di benaknya. Bahkan saat itu, Leah nyadari bahwa suku Kurkan pasti miliki pewarna terbaik di benua itu.

Dugaannya benar. Orang-orang daratan nyebut orang Kurkan sebagai orang barbar, tetapi kenyataannya tidak demikian. reka miliki keterampilan yang lebih baik daripada kebanyakan negara maju. Ishakan terkekeh padanya saat dia natap sekelilingnya dengan saksama.

"Aku tahu kamu akan nyukainya."

Leah nggigit bibirnya karena malu dan ncoba nenangkan kegembiraannya. Semuanya tenang, sekarang setelah dia mikirkannya. Tidak ada seorang pun yang terlihat, hanya reka berdua di atas kuda Ishakan. Dia bertanya ke mana orang-orang Kurkan yang berkuda bersama reka pergi.

"Saya ngirim reka ke istana terlebih dahulu, untuk nghindari kebisingan," jawab Ishakan.

"ngapa...?"

"Karena aku tidak ingin reka mbangunkanmu."

Jalanan juga sunyi dan kosong. Namun, saat Leah mperhatikan, ia nyadari bahwa ini adalah keheningan buatan. Ada mata-mata yang bersinar di celah-celah jendela, di pohon-pohon palem, di semak-semak yang lebat, gang-gang, dan di sekelilingnya. Mata-mata itu ngamati dengan rasa ingin tahu dan langsung nghilang begitu ia lakukan kontak mata. Ia bisa rasakan lebih banyak mata dari orang-orang Kurkan yang tidak bisa ia lihat, natap dengan rasa ingin tahu ke rambut perak dan kulit putihnya.

Agak malukan, tetapi dia bersyukur atas sambutan reka, skipun dia bertanya-tanya apakah ada alasan ngapa reka terus bersembunyi.

"Apakah perlu untuk ncegah reka keluar?" tanyanya.

"Kau sudah ngalaminya sekali. Kau butuh ketenangan agar bisa beristirahat dengan baik," katanya, dan dia nutup mulutnya, ngingat apa yang terjadi di oasis. "Mungkin karena darah hewan," lanjutnya. "Tapi kita semua sangat setia pada naluri kita."

Leah natapnya dengan bingung.

"reka penasaran dengan sifat Anda," katanya. Itu adalah jawaban yang sangat lugas dan malukan. "Tentu saja, pilihan pasangan tidak ditentukan hanya oleh faktor eksternal..."

Dia ngerti maksudnya dan wajahnya rah sampai ke leher, mbuat Ishakan tertawa terbahak-bahak.

Gerbang di dinding luar istana terbuka, dan istana itu sunyi dan kosong seperti jalanan, dan bahkan lebih indah di dalam. Tanaman eksotis berkaran di taman dan reka berhenti di depan gerbang lengkung dan turun. Ishakan masuki istana dengan Leah di lengannya.

Ketinggian langit-langitnya ngejutkan, nciptakan kesan lapang, dan dekorasi wahnya narik perhatian dari satu objek ke objek lainnya. Fitur yang paling ngesankan adalah lantai keramiknya, terbuat dari emas, permata, dan marr. Keramik persegi terhubung sempurna seperti tanaman rambat untuk nciptakan pola lengkung yang rumit. Bahkan pilar dan langit-langitnya miliki pola sitris yang tampak sona.

"Aku ingin nunjukkan banyak hal kepadamu... tapi kamu harus istirahat dulu."

Saat Ishakan berjalan, Leah mperhatikan dengan penuh rasa kagum. Sebelum ia nyadarinya, reka telah sampai di sebuah ruangan.

You are reading Predatory Marriage : Leah & Raja Kurkan Chapter 145: Istana on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.