Dengan kata-kata itu, semua pikiran buruknya lenyap seperti salju yang ncair. Kelegaan yang luar biasa mbuat air matanya ngalir lagi. Ishakan ngira air matanya akhirnya mulai surut, dan tidak tahu harus berbuat apa dengan banjir baru itu. Pria yang biasanya fasih itu tidak bisa berkata apa-apa, seolah-olah dia kehilangan lidahnya. Dia hanya luk Leah tanpa suara.
Sambil bersandar padanya, dia nangis sekuat tenaga. Sudah lama sekali sejak dia bisa nangis sebebas itu. Ini hampir pertama kalinya dia nangis secara terbuka, alih-alih nangis dalam diam di sudut kamar tidurnya.
Seberapa banyak dia nangis? Rasanya seolah-olah dia baru berhenti ketika air matanya habis. Ishakan ncium dan mbelainya sepanjang waktu.
"Leah," katanya lembut.
Dia ndongak ke arahnya, bulu matanya yang basah berkibar. Ishakan natap matanya langsung.
"Jika kau kembali..." bisiknya pelan, "Kau benar-benar akan mati kali ini."
Dia rasakan sensasi aneh di dalam dadanya. Dia tahu dia tidak berbohong untuk ncoba nahannya. Tidak diragukan lagi apa yang akan dilakukan Cerdina. Bahkan jika dia tidak mbunuhnya, itu mungkin akan mbuatnya berada dalam kondisi yang sama seperti sang Raja.
"Entah bagaimana aku akan mbebaskanmu dari kutukan itu. Kumohon..." Ishakan nempelkan dahinya dengan lembut ke dahi wanita itu dan ngusap hidung wanita itu dengan dahinya. "Tetaplah bersamaku di padang pasir."
Ia sudah ndengarnya beberapa kali sebelumnya. Leah berkedip, bulu matanya nyentuh pipinya. Di tempat ini, di mana bahkan napas reka saling bercampur, ia nunggu tanggapannya.
Tidak ada yang terselesaikan. Dia masih bisa nempatkannya dalam bahaya. Namun Ishakan berkata dia akan ngurusnya. Pria di hadapannya pasti bisa bertahan hidup. Dia akan lindunginya tidak peduli ancaman atau bahaya apa pun yang nghadangnya. Dia ingin mpercayainya.
Selama ini, ia maksakan bibirnya untuk ngucapkan kata-kata yang bertentangan dengan keinginan hatinya. Akhirnya, ia dapat ngatakan kebenaran.
"Aku akan..." Ragu-ragu, dia ncium bibirnya dengan hati-hati lalu nariknya kembali. Matanya mbelalak. natap mata emas itu, pupil matanya lebar, dia lanjutkan, "...Aku akan tinggal di rumahmu...."
Namun, ia tidak nyelesaikan kalimatnya. Ishakan ncengkeram bagian belakang lehernya dan ndekatkan bibir reka dengan penuh semangat. Lidah yang panas masuki mulutnya dan njilati setiap bagian tubuhnya, ngusap setiap giginya, mbelai langit-langit mulutnya yang lembut dengan kuat. Erangan keluar dari mulutnya.
"Ah..."
Saat dia ndesah pelan karena kenikmatan, ciumannya semakin intens. Tubuhnya perlahan jatuh ke belakang karena gairahnya dan segera dia berbaring di tempat tidur dengan Ishakan di atasnya, nciumnya dengan penuh nafsu. Tangannya terus mbelainya. Dia nyentuh rambutnya yang indah, mbelai pipinya, mijat bahunya. Dia tenggelam dalam luapan kasih sayang yang diterimanya.
Dia hampir tidak bisa gang bahunya. Dia bisa rasakan otot-otot yang kuat di bawah telapak tangannya, dan dia ngusapkannya di sepanjang tulang selangka yang kokoh dan lehernya yang keras, berusaha luk tubuhnya yang gemuk. Rantai itu njuntai di samping tangannya yang terentang.
"Leah, Leah..." Dengan suara pelan, ia ngulang nama gadis itu berulang kali. Gadis itu nggigil setiap kali ngucapkannya. Ada sensasi aneh yang nggelitik di perut bagian bawahnya. Ketika gadis itu ngangkat bibirnya tanpa sadar, Ishakan nyelipkan lengannya di belakang gadis itu dan luknya erat-erat, seolah-olah ia sudah nduganya. Pikiran reka njadi gelap saat reka terus berciuman dengan penuh gairah.
Tiba-tiba, ia rasakan kehangatan di pahanya. Sekarang ia tahu persis apa itu, ngeras. Ishakan tidak berusaha nyembunyikan kegembiraannya. Ia nekan kejantanannya di salah satu paha Leah dan tanpa sadar Leah nggesekkan dirinya di paha di antara kedua kakinya. Saat erangan kenikmatan keluar darinya, Ishakan ngerutkan kening dan ngangkat kepalanya.
"Ahh...Masalah mungkin akan terjadi jika ini terus berlanjut." Dia nggigit pipinya dengan lembut, yang berwarna rah seperti buah persik matang. "Pernahkah kau ndengar bahwa binatang buas dan Kurkan miliki kemampuan untuk ngendalikan diri?"
Dia nggelengkan kepalanya dan dia tersenyum sambil njilati bibirnya.
"Jika kita lanjutkan, dengan kondisi tubuhmu saat ini..." gumamnya. Namun terlepas dari kata-katanya, tidak mudah baginya untuk narik diri. Dengan ekspresi kecewa, dia ncium wajah, leher, dan bahunya. Dia tidak nolak ciumannya. Jauh di dalam hatinya, dia ingin berpura-pura itu tidak benar, dan nyelesaikan apa yang telah reka mulai. Namun dia tahu lebih dari siapa pun bahwa tubuhnya tidak dalam kondisi normal. Dia tidak tahu kerusakan apa yang bisa terjadi jika dia berhubungan seks dengan Ishakan.
Ishakan nggigit dan ngisapnya cukup lama sebelum bangkit untuk ngambil kain katun. Saat nyeka wajah dan tubuh wanita itu, dia tiba-tiba berhenti. Pandangannya jatuh ke pergelangan tangan wanita itu.
"..."
Dengan cepat, ia lepaskan borgol kulit itu. skipun pegangannya longgar dan kain lembut di dalam borgol itu, bekas rah tetap ada di pergelangan tangannya. Itu bukan hal yang serius, dan sepertinya akan cepat sembuh. Ishakan lihat pergelangan tangannya yang rah dan ngangkatnya ke bibirnya.
Reviews
All reviews (0)