"Katakan apa yang tidak kuketahui," kata Ishakan. Pertanyaan berikutnya bukanlah pertanyaan yang bisa dijawab dengan mudah olehnya. "Sejak kapan kau njadi boneka di bawah pengaruh mantra Ratu?"
"...!"
Leah negang. Ia hampir lupa bernapas. Terlambat, ia njawab.
"Oh, bagaimana..."
"Apakah kau sengaja ngatakan hal-hal yang kejam kepadaku?" Ishakan lanjutkan sebelum ia dapat rumuskan pertanyaannya dengan tepat. "Atau apakah kau berniat bunuh diri, bahkan berpikir untuk nghabiskan malam pertamamu dengan seseorang yang njijikkan seperti Byun Gyeongbaek?"
Perlahan-lahan dia ndekatkan wajahnya ke bisikan-bisikan itu dan berbisik mperingatkan.
"Apa yang tidak kuketahui, Leah."
"..."
Ia tak bisa berkata apa-apa. Semua rahasia yang coba ia sembunyikan terungkap, dan Ishakan nyaris tak bisa nahan amarahnya. Ia teringat percakapan reka tadi malam di istana. Bahkan saat itu, Ishakan masih marah. Emosi mbuncah dalam dirinya dan tubuhnya bereaksi sebelum pikirannya sempat ngenalinya.
Air mata nuhi matanya, dan Leah nangis tersedu-sedu ketika air mata itu ngalir, mbasahi pipi putihnya.
"Tidak, aku tidak marah padamu..." kata Ishakan kaku, malu tak seperti biasanya.
Namun, air matanya tak kunjung berhenti. Alih-alih berbicara, ia hanya luknya dengan hati-hati, dan Leah tak dapat nahannya lagi. Ia nangis tersedu-sedu. Ia ingin lakukannya dengan benar. Ia ingin njadi putri yang sempurna. Namun, ia gagal dalam tugas terakhirnya, skipun semua rencananya telah disusun dengan matang. Ia nganggap bahwa ia akan berhasil, dan milih kematian dengan tenang dan tanpa rasa takut.
"Ratu..."
Namun, kematian bukanlah hal yang benar-benar diinginkannya. Cangkang keras di sekelilingnya hancur.
"Dia berkata, bahwa aku, aku akan ncekikmu, dan bahwa, bahwa aku akan nusukmu di jantung, dengan pisau... Bahwa aku akan mbunuhmu..." Leah berjuang untuk ngeluarkan kata-kata itu sambil berusaha nahan isak tangisnya. "Aku, aku tidak ingin kau... Aku tidak ingin kau mbenciku..."
Air matanya tak henti-hentinya ngalir. Ia luapkan semua kesedihan yang telah terpendam selama ini, dan ia nangis sekeras-kerasnya hingga wajahnya rah. lihatnya, bibir Ishakan bergetar seolah ingin berbicara, tetapi ia ngurungkan niatnya dan hanya mpererat pelukannya.
Dia luk erat-erat sambil nceritakan semua rahasia yang disembunyikannya.
"Wanita itu, dayang-dayangku di Istana Putri, dia ngubah reka njadi boneka..." Benar-benar hancur, perasaan terdalamnya luap. "Aku sangat takut, Ishakan..."
Tubuhnya getar karena intensitas emosinya. Saat dadanya basah oleh air mata, Ishakan luknya diam-diam, mbelai punggungnya. Baru setelah dia mulai tenang, dia akhirnya berbicara dengan lembut.
"Dengar, Leah."
Dia ndongak. Matanya tampak sedikit sedih, emosi yang tidak cocok untuk pria yang tidak punya penyesalan di dunia ini. Perlahan, dia ndekatkan bibirnya ke kelopak mata wanita itu.
"Kau boleh ncekikku dan nusukku di jantung." Leah nggigit bibir bawahnya dengan keras. Ishakan nciumnya dengan lembut berulang kali, seolah ingin nghapus air matanya. "Aku tidak akan mati karena itu, jadi aku tidak peduli. Dan..." Sambil ndesah dalam, ia ncium pangkal hidung Leah dengan lembut dan berbisik. "Aku tidak bisa mbencimu."
Reviews
All reviews (0)