Dia bermimpi aneh. Mimpi sederhana tentang penderitaan, rasa sakit yang mbakar, sangat jelas. Dia bertanya-tanya apakah itu akan njadi sensasi yang akan dia rasakan jika tubuhnya terbakar dalam api neraka.
Jika ada pisau di dekatnya, dia akan nusukkan pisau itu ke jantungnya sendiri. Rasa sakitnya tak tertahankan sehingga yang bisa dia lakukan hanyalah nangis dan mohon kematian.
Seseorang luknya, terus-nerus berbisik padanya. Ia tidak ingat apa yang dikatakannya. Namun, kehangatan lembut dan bisikan kasih sayang itu nyenangkan. Ia berpegangan erat padanya di tengah rasa sakit yang tak berujung, dan ketika rasa sakit itu akhirnya berhenti, ia pingsan.
Rasanya waktu telah berlalu. Ia tidak yakin berapa lama, tetapi ia telah berkeliaran cukup lama dalam kegelapan, setidaknya beberapa hari, sebelum akhirnya ia tersadar. Leah terbangun dengan sedikit sakit kepala, ngerutkan kening.
"..."
Tercengang, dia lihat sekeliling. Dia berada di tempat yang asing. Itu bukan Estia. Sepertinya dia berada di barak. Lantainya ditutupi karpet bermotif eksotis dan tempat tidur tempat Leah berbaring ditutupi kain bermotif wah. Dia nyingkirkan selimut dan berdiri.
Atau dia ncoba.
Suara kesakitan keluar dari mulutnya. Dia ingat minum ramuan dan kehilangan kewarasannya, dan rasa seolah-olah tubuhnya hancur berkeping-keping.
Leah duduk di tempat tidur dan lihat sekeliling lagi. Ada segerombolan dahan tergantung di dinding di atas kepala tempat tidur. Di salah satu sudut barak ada tungku besar. Ia terbiasa dengan bau yang tercium; bau tembakau yang sering dihisap Ishakan. Ia duduk, linglung.
Rasa ngeri nerpanya. Kenangan muncul satu demi satu, tidak teratur seakan-akan seseorang telah motongnya njadi beberapa bagian. Ada rasa sakit yang nusuk di kepalanya, dan Leah ncengkeramnya dengan kedua tangan. Rasanya seolah-olah tengkoraknya akan retak.
"Ahh...!"
Dia ringkuk sambil ngerang kesakitan. Pintu kanvas barak terbuka dan sinar matahari nyinari ruangan yang redup itu.
"Oh, Lea!!!"
Kehangatan nyelimuti tubuhnya seperti perisai yang kokoh. Leah berpegangan erat padanya hingga napasnya yang sesak njadi tenang dan sakit kepalanya perlahan reda. Setelah beberapa lama, dia ngangkat kepalanya, dan di depan matanya berdiri pria yang bahkan dalam mimpinya selalu ingin dia lihat. Bibir Leah terbuka.
"Ishakan..."
Terkejut oleh suaranya sendiri yang serak, dia nutup mulutnya. Ishakan nuangkan air dari kendi di ja samping tempat tidur ke dalam gelas dan mbawanya ke bibirnya, dan dia segera minumnya. Dia rasa segar kembali. Bahkan sakit kepala yang sedikit dan masih ada pun hilang sepenuhnya.
Saat itulah dia renungkan apa arti semua itu.
"Sudah berapa lama aku tertidur?" Itulah hal pertama yang ingin dia konfirmasi.
"Sudah tiga minggu."
Tiga minggu? Apakah itu mungkin? lihat keterkejutannya, mata Ishakan nyipit.
"Tentu saja, biasanya seseorang akan mati," katanya pelan. Sihirlah yang mbuatnya tetap hidup. Bibir Leah terbuka.
"Jadi, ini..."
"Itu gurun. Kami sedang dalam perjalanan ke Kurkan, dan sepertinya kami akan sampai di sana paling lambat dalam tiga hari."
Leah natapnya, terkejut, tetapi tidak berkata apa-apa. Dengan susah payah, ia ndorongnya njauh. Ia ingin mastikannya dengan matanya sendiri, tetapi begitu ia ncoba bangun dari tempat tidur, sesuatu narik pergelangan tangan kirinya dengan suara logam.
Ada borgol kulit tebal di pergelangan tangannya, dilapisi kain lembut di bagian dalam. Rantai tipis nghubungkannya ke tempat tidur untuk mbatasi gerakannya.
"...Apa ini?"
Dia begitu bingung dengan perlakuan biadab ini hingga dia hampir tidak bisa berkata apa-apa. Leah nggigit bibir bawahnya dengan keras.
"Lepaskan aku segera dan kirim aku kembali ke Estia," katanya dengan tenang. Namun Ishakan ngabaikan permintaannya. Ia hanya tertawa sebentar.
"Ke mana? Ke wilayah Byun Gyeongbaek?" Tatapannya datar, dan dia berbicara dengan dingin. "Bahkan jika pengantin yang diculik itu kembali, dia tidak akan bersenang-senang. Pasti reka akan ngatakan bahwa kamu tidak suci dan reka akan lempari kamu dengan batu tanpa ampun. Bukankah begitu cara reka berperilaku di Estia?"
Sarkasnya mbuatnya marah.
"Itu bukan urusanmu!" teriak Leah. Ia lihat mata emasnya telah nggelap, tetapi ia tidak dapat nahan diri. Suaranya dipenuhi dengan kesengsaraan. "Kau tidak tahu apa-apa..."
Begitulah yang ia rasakan saat mutuskan untuk mati. Itu bukanlah keputusan yang mudah, tetapi ia milih mati karena tidak ada jalan keluar lain. Ia nutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Ia rasa ingin nangis. Ishakan tidak pernah ninggalkannya, yang mbuatnya begitu bahagia dan begitu nderita di saat yang bersamaan. Karena ia tahu apa yang mungkin terjadi.
Belum terlambat. Dia harus kembali. Dia hendak mohon agar dia ngusirnya, ketika dia ndengar suaranya yang rendah.
"Aku tidak tahu apa, Leah." Nada suaranya sangat tenang. Leah nurunkan tangannya, bahunya getar.
Tatapan mata Ishakan lebih dingin dari sebelumnya. Ia hampir tidak bisa nahan amarahnya.
Reviews
All reviews (0)