Font Size
15px

Morga mberikan ramuan yang baru saja diujinya di tungku perapian kepada Ishakan. Sang Putri tidak dalam kondisi yang mungkinkan untuk minumnya sendiri, jadi Ishakan nuangkannya ke dalam mulutnya dan nciumnya, neteskannya sedikit demi sedikit ke dalam mulutnya. Tubuhnya yang lemas negang sedikit. Ketika ramuan itu habis, ia mbuka bibirnya untuk mastikan bahwa sang Putri telah nelannya.

Tanpa ragu, ia nggigit jarinya, robek kulitnya sehingga darah ngucur deras. Ia masukkan jarinya yang berdarah ke dalam mulut kecil sang Putri, nggosokkan darahnya ke lidah sang Putri dan mbuatnya nelannya.

"...!"

Mata sang Putri yang setengah tertutup berkedip-kedip. Morga nyalakan tungku, ngeluarkan asap tebal. Leah nggelengkan kepalanya, ncoba ndorong jarinya keluar dari mulutnya, dan bahkan nggigitnya dengan keras, tetapi Ishakan tidak nyerah. Sebaliknya, dia ndorongnya lebih dalam. Air mata mulai nuhi matanya.

"Ahhh!!" Teriakannya nembus malam. Tubuhnya yang kecil bergetar, hampir kejang-kejang. Ishakan luknya erat-erat saat ia nggeliat nahan rasa sakit yang luar biasa, nggigit dan ncakarnya dengan panik.

"Sakit, sakit, sakit sekali...!" teriaknya putus asa, terisak-isak sambil mohon, "Ahh, bunuh aku, bunuh saja aku..."

Namun tangan yang gang tubuhnya tetap kuat, dan Ishakan masukkan satu jari lagi ke dalam mulutnya agar lidahnya tidak tergigit.

"Tidak, Leah." Ia rasakan sakit, tetapi itu bukan rasa sakit fisik. Gigitan dan cakaran Leah seperti geli baginya. "Aku akan mbiarkanmu lakukan apa yang kau mau, tetapi bukan itu."

Ia ncoba nenangkannya, manjakannya lebih lagi. Ia ngusap wajahnya ke pipinya yang basah oleh air mata, sambil berbisik.

"Jangan ngatakan hal-hal seperti itu..."

Ishakan tampak rapuh saat ia luk sang Putri dan terus berbisik padanya. Mata Morga bergetar saat ia lihatnya, dan ia nundukkan kepalanya.

"..."

Morga tahu bahwa keterikatan ini bukan sekadar perasaan yang dangkal, tetapi perasaan Ishakan jauh lebih kuat dari yang dibayangkannya. Di antara suku Kurkan, suku serigala disebut-sebut akan mberikan seluruh hati reka saat milih pasangan. Namun, Morga tidak nyangka Ishakan akan bertindak seperti itu.

Raja Kurkan tidak pernah terkalahkan, pikir Morga. Namun, ia mungkin mulai rasakan hal itu karena sang Putri.

***

Bertengger di puncak pohon, Haban mandang ke kejauhan. Ia dapat lihat awan debu dari sekelompok besar orang yang berlari kencang. Sambil nyipitkan mata sambil mperhatikan reka dengan saksama, Haban berbicara kepada Genin, yang duduk di bawahnya.

"Genin, apakah kamu ingat pertama kali kamu bertemu Ishakan?"

"Tentu saja aku ingat."

Haban dari suku kucing dan Genin dari suku serigala telah dipilih sebagai pengawal mantan Raja Kurkan. Saat reka bekerja bersamanya, reka harus ngawasi perbuatan jahatnya. Akhirnya reka tidak tahan lagi, dan larikan diri, tetapi reka dengan cepat ditangkap dan dipenjara. Ishakan muncul tepat saat reka diperintahkan untuk milih antara kesetiaan atau kematian.

"Aku belum pernah lihat makhluk sekuat dan secantik itu."

"Juga berbahaya," kata Haban.

Genin ngangguk. skipun Ishakan sering nghisap tembakau untuk nahannya, ia miliki naluri liar yang tak terkendali yang tidak dapat ia sembunyikan.

"Tapi lain ceritanya kalau dia sama Putri," katanya. Waktu sama Leah, Ishakan selalu kalem, kayak lagi di tempat paling damai.

"nurutku, sang Putri adalah teman yang sempurna." Bibir Haban lengkung saat dia lihat kelompok yang berlari semakin dekat. Di hadapan ratusan ksatria, dia tidak nunjukkan rasa takut. skipun jelas-jelas unggul dalam jumlah, matanya berbinar. Bertarung dan mbunuh adalah hal yang penting bagi orang Kurkan.

"Putra Mahkota mimpin," kata Genin, sambil mperhatikan kelompok yang ndekat dengan saksama. "Orang itu sudah terlalu nyiksa Putri. Kita tidak bisa mbiarkannya mbawanya pergi."

ndengar perkataannya, Haban mfokuskan pandangannya pada sang pangeran yang mimpin para kesatria. Saat dia lihatnya maju terus, Haban tersenyum licik.

"Kita harus mperlakukannya dengan baik. Dia milik kita sekarang."

"Kau benar." ngukur jarak untuk mastikan Blain berada dalam jangkauannya, Genin ngangkat busurnya. "Dia bukan lagi Putri Estia."

Perlahan, ia narik tali busur. Otot-otot di lengannya mbengkak saat ia mbidik dan lepaskan anak panahnya pada saat yang tepat. Saat anak panah lesat, ia berbicara, wajahnya tanpa ekspresi.

"Dia akan njadi Ratu Kurkan."

You are reading Predatory Marriage : Leah & Raja Kurkan Chapter 136: Penyergapan on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Death Notice cover
Trending now

Death Notice

Gluttonous Monk ·Horror

Heisagiftedandintelligentyoungman.Heisamurdererthatenjoysthebloodshed.He...Readmore Heisagiftedandintelligentyoungman.Heisamurdererthatenjoystheblo...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.