Sejak Morga lihat sang Putri di hutan, dia tahu kondisinya serius. Biasanya, mantra tidak terlihat secara kasat mata. Bahkan para penyihir tidak dapat dengan mudah ngetahui apakah seseorang terkena mantra, kecuali reka nggunakan ramuan.
Namun dalam kasus sang Putri, berbeda. Dia bisa lihat asap hitam yang ngerikan ngepul di sekujur tubuhnya dengan sangat mudah. Ada begitu banyak lapisan mantra jahat dan kuat, sehingga skipun sang Ratu ncoba nyembunyikannya, dia tidak bisa. Morga telah mastikan bahwa mantra paling kuat pada sang Putri adalah cuci otak, tetapi dia telah mbuat kesalahan dalam penilaiannya. Sang Ratu telah lakukan lebih dari sekadar cuci otak. Dia telah ngubah sang Putri njadi boneka, lalu nutupinya di antara lapisan mantra.
"Dalam kondisinya saat ini, dia telah kehilangan kendali atas tubuhnya," jelas Morga. Kelompok yang berlari kencang itu telah berhenti dan dia berlutut di tanah dengan kepala tertunduk, kakinya getar. "Ratu tidak dapat dicegah untuk lacak kita. Mantra yang lebih kuat harus diucapkan. Ini semua salahku..."
"Bangunlah, Morga. Sekarang bukan saatnya untuk ncela." Ishakan ndesah. "Aku tahu kau sudah berusaha sebaik mungkin."
Morga harus nahan air matanya ndengar kata-kata hangat itu, dan ngatupkan bibirnya. Haban, yang berada di belakang kerumunan Kurkan, tertawa sampai Genin mukulnya.
"Apa yang kamu ingin aku lakukan?"
"Tolong beri aku waktu."
Atas permintaan itu, Ishakan natap Genin, dan dia ngerutkan kening.
"Dengan asumsi reka tahu lokasi kita, jika kita berhenti lebih lama di tempat ini, kita akan disusul oleh pengejaran keluarga kerajaan," katanya, dan renung sejenak sebelum mberikan pendapatnya. "ngapa kita tidak ninggalkan Morga dan sang Putri di sini, sentara kita kembali untuk nghadapi para pengejar?"
"Ishakan harus bersamaku," sela Morga cepat-cepat. "Aku butuh darahnya."
"...Apakah karena konstitusi saya?"
"Ya."
Haban segera ngangkat tangannya.
"Saya rasa Genin dan saya sudah cukup. Tolong beri saya sekitar tiga puluh prajurit."
Operasi ini akan libatkan masing-masing dari reka yang mimpin lima belas prajurit untuk nyergap para pengejar. Manusia tidak miliki penglihatan yang baik di malam hari. Serangan ndadak seharusnya cukup untuk nang.
"Kita pasti akan ndapatkan hasil yang muaskan," kata Haban dengan mata berbinar.
Genin ngangkat tangannya.
"Bisakah Putra Mahkota dibunuh?" tanyanya.
"Tentu saja tidak!" seru Morga. Ia njelaskan bahwa reka tidak boleh lakukannya sebelum reka mahami semua mantra yang digunakan sang Putri. Haban nyikut Genin karena sarannya.
"Putra Mahkota, aku bisa nghancurkannya dengan satu pukulan," gumamnya sambil ngerutkan kening. Namun, dia ngangguk pada dirinya sendiri. Dia akan berhati-hati untuk tidak mbunuhnya. Begitu keputusan dibuat, reka segera lanjutkan perjalanan. Genin dan Haban berbalik ke arah reka datang, ditemani oleh tiga puluh Kurkan yang telah reka pilih.
Suku Kurkan yang tersisa mbentuk formasi pertahanan untuk bersiap nghadapi kejutan apa pun, sentara Morga dan Ishakan kembali ke kereta.
"..."
Ekspresi Ishakan tampak sedih saat mbuka pintu kereta, dan Morga nahan napas saat lihat reaksi sang Raja. Sang Putri telah diikat lagi dan natap Ishakan, matanya yang ungu cerah tidak fokus.
Gigi Ishakan terkatup rapat dan tangannya ncengkeram pintu kereta hingga urat-uratnya muncul, ngancam akan nghancurkan kayu hitam yang berharga itu. Dengan hati-hati, ia nggendong sang Putri dan nariknya keluar dari kereta. Ia mbentangkan selimut tebal di tanah, mbaringkan Leah di atasnya dan lepaskan ikatannya sentara Morga mulai persiapannya.
Sambil ngamati bentuk bulan dan posisi bintang, ia ngambil ramuan yang telah disiapkannya, lalu motong jarinya dengan belati dan neteskan darah ke dalam botol. Ia nutup botol dengan sumbat, lalu ngocok ramuan tersebut untuk ncampurnya.
"Ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu," katanya. "Apa yang akan kita lakukan sekarang...adalah pilihan terakhir."
Ada tode sentara untuk mutarbalikkan mantra secara paksa, tetapi biasanya hanya digunakan pada reka yang sedang terkena mantra ringan karena tingkat keparahan reaksinya. Besarnya mantra ini berarti bahwa pada kenyataannya, dia bahkan bisa mati.
Namun, ia akan tetap ncoba skipun demikian, karena Ishakan. Suku Kurkan miliki daya tahan yang tinggi terhadap mantra, tetapi Ishakan kebal terhadapnya. Jika reka nggunakan darah Ishakan, reka dapat nghindari tatapan mata Ratu hingga reka ncapai padang pasir.
"Itu tidak akan ngancam nyawanya jika kita nggunakan darahmu, tetapi itu akan njadi tode yang kejam bagi sang Putri." Morga ngeluarkan bola kristal yang retak dan tungku. Sambil nggoyangkan ranting-ranting juniper di atas tungku, dia neteskan setetes ramuan ke dalamnya, bercampur dengan darahnya sendiri. Begitu ramuan itu nyentuh tungku, asapnya njadi gelap dan nebal.
"Dia akan rasakan sakit yang amat sangat. Dia akan nggeliat hebat. Pastikan Anda nahannya dengan benar."
Hal yang paling mudah dilakukan adalah mbiarkannya terikat, tetapi talinya akan mbakar kulitnya saat ia lawan. Ishakan luk Leah seperti boneka. Morga natap reka dan berbicara dengan tegas.
"Kalau begitu, mari kita mulai. Pertama berikan ini padanya..."
Reviews
All reviews (0)