Tidak mungkin dia akan ngirim Leah kembali ke Estia, bahkan jika itu mbuatnya mbencinya. Namun sekarang setelah dia mutuskan untuk tetap di sisinya, Ishakan tidak lihat alasan untuk ngikatnya. Ishakan ncium pergelangan tangannya.
"Pertama, kamu harus makan," katanya. "Kamu sudah tidur lama, jadi aku akan mbawakan makanan ringan."
Ishakan keluar dari gubuk dan segera kembali dengan nampan berisi makanan. Namun mungkin karena ia nganggap Leah sebagai pasien, kali ini ia tidak mbawa makanan yang ditumpuk tinggi-tinggi hari ini. Leah tertawa dalam hati.
Ishakan duduk di kursi di samping tempat tidur Leah dan nata makanan satu per satu. Pertama, ia letakkan bubur panas di hadapannya, lalu nata makanan yang akan dimakannya sedikit demi sedikit.
Leah tersenyum saat lihat Ishakan motong daging sapi muda njadi potongan-potongan kecil, tetapi tiba-tiba wajahnya njadi gelap saat kenangan itu muncul di benaknya. Sejak usia dini, saat nafsu makannya sedang tinggi-tingginya, Cerdina ngatur makanannya. Leah makan bersama Cerdina setidaknya dua hari sekali, dan setiap kali itu mbuatnya mual. Makan sangat negangkan.
Cerdina telah ngajarkannya etika makan yang ketat. Jika Leah lakukan kesalahan sekecil apa pun, Cerdina akan segera berhenti makan dan mukulnya dengan tongkat di bagian lengannya yang tersembunyi di balik lengan bajunya. Dan ketika Leah terlalu lapar dan ncoba makan lebih banyak, Cerdina akan nertawakannya dengan nada ngejek dan nunjukkan kekurangan pada tubuhnya, ncubit daging perut dan pahanya, skipun Leah miliki konstitusi yang normal saat masih kecil.
—Aku rasa saat ini kau tidak dapat nganggap dirimu sebagai Putri Estia, Leah.
Tatapan Cerdina dingin saat dia mberi tahu Leah bahwa dia harus selalu miliki penampilan yang bermartabat.
—Apakah Anda ingin ndengar orang ngatakan bahwa ibu tiri mbuat kesalahan dalam mbesarkan anak tirinya?
Kemudian Lea harus mohon padanya, mohon untuk dimaafkan, dengan ngatakan bahwa ia telah lakukan kesalahan dan tidak mau makan lagi. Beberapa orang telah naruh kasihan pada Lea dan telah ncoba mberinya makanan secara diam-diam, tetapi semuanya diusir dari istana setelah ngalami siksaan yang brutal.
Siklus itu berulang beberapa kali dan setelah lihat apa yang dilakukan Cerdina kepada para korban, Leah mulai nahan diri untuk tidak makan sendiri. Ia bahkan lebih berhati-hati karena ia takut Countess lissa, satu-satunya orang yang dapat ia percaya, akan diusir.
Asal Leah nahan diri, semua orang akan rasa damai.
Ia rasa tidak enak saat makan bubur, lalu letakkan sendoknya. Ia tidak bisa makan lagi. Rasanya seperti tiba-tiba ia rasa kenyang. Saat ia ngembalikan semangkuk bubur yang setengah dimakan, Ishakan ngerutkan kening.
"Jangan bilang kau sudah selesai."
"Aku sudah kenyang." Leah ragu sejenak, lalu berbicara pelan. "Aku ingin makan lebih banyak, tapi...aku tidak bisa. Mungkin karena aku sudah lama tidak makan."
Ishakan terdiam. Matanya berbinar-binar, tetapi tanda-tanda bahaya segera mudar. Ia tidak ncoba mbujuknya lebih jauh, hanya ngambil makanannya, lalu kembali luk Leah erat-erat.
skipun dia belum makan banyak, kehangatannya mbuatnya rasa kenyang.
"Ayo kita cari udara segar," kata Ishakan sambil mbelai rambutnya. "Aku ingin nunjukkan sesuatu padamu."
Sambil nggendongnya, tangannya yang besar ndorong pintu kanvas barak hingga terbuka. Leah terkesiap saat reka keluar dari kegelapan nuju cahaya, matahari yang terik dan pasir keemasan seluas lautan.
Itu adalah gurun.
Reviews
All reviews (0)