Font Size
15px

Leah hendak pergi.

Blain natap kereta itu njauh, rasakan campuran emosi yang nyayat hati. skipun dia tahu dia harus nunggu, dia ingin segera berlari dan nghentikan kereta itu. Pikiran tentang Leah yang nghabiskan malam pernikahannya dengan Byun Gyeongbaek mbuat api berkobar di hatinya. Namun Blain nahan diri. Dia tidak hanya ingin ngambil tubuhnya.

Ia nginginkan hatinya. Setiap kali ia natap raja barbar itu dengan mata penuh emosi dan kasih sayang, hal itu nyiksanya tak tertahankan. Ia berharap wanita itu akan natapnya seperti ia natap Ishakan. Bahwa ia akan berbisik malu-malu padanya dengan pipi rah dan mata penuh kasih.

Jika dia bisa ndapatkan hatinya, dia bisa nyerahkan keperawanannya. Dia juga berpikir bahwa setelah dia tidur dengan pria tua yang jahat itu, maka dia akan lebih bersedia berhubungan seks dengannya.

Blain pernah ndengar bahwa Byun Gyeongbaek punya selera buruk di ranjang. Ada rumor bahwa dia telah mbeli banyak pelacur yang mirip Leah, lalu mperlakukan reka dengan kasar. Jika Blain mbiarkannya nderita sebentar lalu nyelamatkannya...

Kedengarannya seperti ide bagus.

Hanya dalam waktu singkat, ia akan ngenakan mahkota, dan ngklaim semua yang njadi haknya.

Blain ninggalkan para dayang yang bersedih dan masuki Istana Putri yang tak bertuan. Ia ingin berjalan lewatinya sebelum jejak Leah benar-benar nghilang. Berjalan nyusuri koridor yang sunyi, ia mbuka pintu untuk ngamati setiap ruangan. Ruang tamu, ruang belajar, kamar tamu, ruang penyimpanan tempat pakaian dan aksesorisnya disimpan...

Langkah kakinya berhenti di depan kantor, dan ia masuk seolah-olah ia adalah pemiliknya. Aroma samar Leah tercium di tempat yang bersih dan teratur itu. Blain duduk di kursi ja dan mainkan pena Leah.

Tanpa sadar, dia mbuka laci, dan wajahnya mucat. Ada sebuah amplop yang disegel dengan segel lilin dan sesuatu yang tertulis di sudutnya.

[Surat Wasiat Terakhir.]

Amplop itu bergetar, dan dia nyadari tangannya getar. Sambil robek amplop itu, dia segera mbaca satu halaman, lalu semua dokun yang telah diletakkan di sampingnya.

reka njelaskan bagaimana barang-barang Leah akan dibagi antara dayang-dayang Istana Putri, dan para bangsawan yang ngikutinya. lihat betapa susah payahnya dia nuliskan apa yang akan dia berikan kepada setiap orang, dia tidak dapat nahan diri untuk tidak ngumpat.

"Brengsek...!"

Sambil robek surat wasiat dan dokun-dokunnya, Blain bergegas keluar dari kantor. Begitu keluar dari istana, dia lihat para kesatria berkumpul di dekatnya. Pengiringnya telah nunggu dengan kereta kuda yang njauh dari para kesatria dan bergegas nghampiri Blain.

"Sesuatu yang ngerikan telah terjadi! Para barbar nyerang prosesi pernikahan sang Putri!"

Blain rasakan sesuatu patah dalam dirinya.

"...Sang Putri," kata Blain sambil nggertakkan giginya. Petugas itu tidak ngerti geraman pelan itu, dan saat dia tidak njawab, Blain ncengkeram kerah bajunya dan berteriak, "Sang Putri!!!"

"Dia telah diculik...!"

Blain mbiarkan pria itu pergi dan lepaskan seekor kuda dari kereta.

"Beritahu ibuku." Sambil naiki kuda, dia berkata dengan dingin, "Aku sendiri yang akan ngejar binatang buas itu."

***

Begitu reka mastikan Raja reka telah nggendong pengantinnya, suku Kurkan mbunyikan terompet perang untuk mundur. reka semua berhenti bertarung dan berlari cepat, ninggalkan mayat-mayat dan eulali yang berlumuran darah. Baru ketika reka ncapai tepi dataran, derap langkah tanpa henti itu berakhir.

Suku Kurkan lainnya telah nunggu lebih dulu. Morga nunggu di dekat kereta yang terbuat dari kayu hitam halus dan tidak berpola dan segera ndekati Ishakan.

"Ishakan, ke sini!"

Ishakan tergelincir dari kudanya saat Leah ronta-ronta di bahunya.

"Lepaskan aku! Lepaskan aku!" Leah ninju wajahnya dengan tinjunya yang kecil, tetapi tidak ada gunanya. Ishakan hanya natapnya, dan ketika dia lihat tangannya rah, dia raih pergelangan tangannya untuk nghentikannya lukai dirinya sendiri.

Ia nggendong Leah ke dalam kereta, yang miliki kursi dan bantal berlapis dengan hati-hati, serta beberapa selimut. Ia bergegas ke sisi terjauh kereta, bernapas dengan cepat. Untuk sesaat, ia dan Ishakan mbeku, saling natap. Suara Morga nyela reka saat ia ngikuti reka.

"Kamu harus mberikannya padanya sekarang juga."

Ishakan nerima botol kaca kecil yang berisi cairan aneh berwarna rah tua.

Leah nolak untuk mbuka mulutnya, tetapi Ishakan ncengkeram rahangnya dan maksa mulutnya terbuka, nuangkan cairan ke dalamnya. Leah ncoba ludahkannya, tetapi tangan besar Ishakan nutupi hidung dan mulutnya. Leah nggaruk tangan Ishakan dengan kuku-kukunya, tetapi Ishakan tidak bergerak. Tangan Ishakan yang lain dengan lembut nutupi tenggorokannya, ngusap-usap. Pada akhirnya, Leah harus nelan cairan di mulutnya, dan baru setelah Ishakan yakin bahwa Leah telah nelan semuanya, Ishakan nurunkan tangannya.

Lea terbatuk.

"Kenapa... Kenapa aku..."

You are reading Predatory Marriage : Leah & Raja Kurkan Chapter 133: Biarkan Aku Pergi on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Love You Till the End cover
Similar genre

Love You Till the End

Xi Yan ·Romance

ShenChenstartslivingalifeofunrestrainedindulgencesincemarryingShiYu.Themostbeautifullovers’prattleshehaseverheardis“Iwillpunishthosewhomyouhaveoffe...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.