Kenangan hari itu begitu jelas. Kenangan itu begitu ngakar, tak pernah bisa hilang dari ingatan Ishakan. Terjebak dalam kegelapan yang pekat di sebuah lubang di mana ia bahkan tak bisa regangkan anggota tubuhnya, satu-satunya jalan keluar adalah pintu kayu bundar kecil di langit-langit.
Itulah tempat yang digunakan untuk ngajarkan kepatuhan. Tempat itu terlalu kejam untuk seorang anak laki-laki. Ia bahkan tidak bisa mbedakan aliran waktu. Tidak ada segelas air atau sepotong roti pun. Rantai berat nahan anggota tubuhnya dan lukai kulitnya, di mana luka yang tidak diobati mbusuk, nggelap karena nanah dan dipenuhi belatung.
Mulutnya disumpal sehingga ia tidak bisa nggigit lidahnya, dan mperparah rasa haus yang mbakar tenggorokannya. Rasa haus itu lebih ngerikan daripada rasa lapar di perutnya yang kosong. Lambat laun, tekadnya untuk njaga kehormatannya sebagai prajurit gurun runtuh di hadapan rasa sakit seperti itu. Namun, setiap kali ia tergoda untuk tunduk dan bersumpah untuk patuh, penderitaannya tak tertahankan.
skipun ia rindukan kematian, kekuatan hidup orang Kurkan luar biasa ulet.
Aku ingin mati. Tolong biarkan aku mati. Tuhan, biarkan aku mati , Ishakan berdoa dengan sungguh-sungguh.
Namun doanya tidak terjawab. Si kecil Kurkan, ditelantarkan oleh orang-orangnya sendiri, bahkan diabaikan oleh Tuhan. Dan ketika ia telah kehilangan semua harapan dan keinginannya hancur, sebuah cahaya turun.
Pintu kayu yang tadinya tampak takkan pernah bergerak telah terbuka. Sinar matahari masuk. Rambut perak yang berkilauan. Mata ungu yang berkilauan seperti batu kecubung.
Dulu dia tidak mahaminya, tetapi sekarang dia mahaminya. Dia telah jatuh cinta pada pandangan pertama. Ishakan nyesali waktu yang telah disia-siakannya, tanpa ngetahuinya. Dia akan lakukan yang terbaik sekarang, karena alasan itu.
"..."
Wajahnya tanpa ekspresi saat ia mandang ke depan ke arah dataran. Penuh dengan eulalia, padang rumput itu begitu luas sehingga tidak terlihat ujungnya. Angin kencang bertiup di atas reka dan eulalia bergerak seperti gelombang. Dari langit, seekor elang njerit, dan Haban natap burung di langit dan berbicara.
"Ishakan."
Ishakan noleh ke belakang dan lihat orang-orang Kurkan di belakangnya, berbaris di atas kuda reka. Masing-masing ngenakan kain panjang yang nutupi separuh wajah reka. Sambil natap mata reka yang tajam, ia narik kain yang nutupi wajahnya hingga ke dagunya.
"Ayo."
Kuda-kuda itu ngangkat kaki depan reka, ringkik saat reka berlari kencang. Suara kuku reka yang nghantam dataran terdengar seperti genderang. Mata para penunggangnya bersinar luar biasa terang dengan euforia pertempuran. Naluri binatang dalam pembuluh darah reka mbuat tubuh reka ndidih.
Tak jauh dari eulalies, tujuan reka sudah terlihat. Bendera Keluarga Kerajaan Estia berkibar gah, dan mulut Ishakan berkedut. Terlepas dari semua dedikasinya, tak seorang pun di Estia telah nyelamatkan Putri reka. Baginya, konyol sekali bahwa reka hanya akan nyaksikan pengorbanan yang dilakukannya dengan darah dan air matanya. Itu njijikkan.
"Serang!" perintahnya. Haban gang tanduk domba jantan di pinggangnya dan niup seruan pertempuran, suaranya yang keras bergema di seluruh dataran yang luas. Suku Kurkan telah berpencar untuk maju dari berbagai arah, dan kelompok lain nanggapi dengan tanduk reka sendiri, suara yang nandakan dimulainya pertempuran.
"Sergap!" teriak sang ksatria kerajaan. "Tingkatkan kecepatan!"
Para kesatria baru nyadari para pengejar reka belakangan. ngejar mangsa yang larikan diri adalah hal terbaik yang dilakukan suku Kurkan.
Para kesatria segera dikepung, teriakan reka dan suara pedang yang dihunus bercampur baur. Para eulalies berlumuran darah panas saat para kesatria lawan dengan putus asa, dan para kusir berusaha larikan diri. Semua itu sia-sia. Kait-kait besi beterbangan dari segala arah seperti anak panah dan ngenai kereta.
"Orang-orang barbar ini...!" teriak sang kusir sambil ngayunkan cambuknya dengan panik.
Itulah kata-kata terakhirnya. Belati lengkung nusuk jantungnya dan kereta itu terhuyung-huyung, tak terkendali. Tali-tali ngencang dan kereta itu terbalik.
Dengan pedangnya yang lengkung, Ishakan nebas leher seorang kesatria yang ndekat. Ada senyum kejam di wajahnya. Sulit untuk ngendalikan sifatnya saat lihat darah, dan nalurinya hanya akan njadi lebih liar dengan lebih banyak pembunuhan.
Mata emasnya berkilauan dari topeng darah rah. Seorang kesatria yang natap matanya mundur ketakutan, tetapi seutas tali ncengkeram lehernya dan nyeretnya dari kudanya. Pembantaian sepihak berlanjut, dan tubuh Ishakan berlumuran darah.
Akhirnya, ia lihat ke arah kereta yang terbalik, di mana seorang wanita bertubuh kecil tengah berjuang untuk ndorong pintu yang rusak. Ia tak dapat nahan senyum. Wanita itu seharusnya ketakutan, tetapi ia tidak bersembunyi. Sebaliknya, ia ncoba keluar dan lihat sekeliling untuk mahami situasinya. Itu cocok untuknya.
Tidak ada lagi rintangan yang nghalangi jalannya. Perlahan, ia nuntun kudanya ke arahnya, dan mata Leah terbelalak. Mata ungunya yang indah bergetar.
"ngapa...?"
Bulu matanya yang keperakan, bibirnya yang tebal dan lengkung indah, suaranya yang lembut...semuanya sangat nawan.
Ia tak bisa nunggu lebih lama lagi. Ia raihnya dan ndekapnya dalam pelukannya. Saat ia gang tubuh rampingnya, aroma lembut dan manisnya tercium ke hidungnya. Aroma yang bahkan dapat nenangkan sifatnya yang kasar. Perasaan puas yang ndalam nuhi tubuhnya.
Cahayaku, keselamatanku.
Istriku.
"Kau tidak ingat?" Ishakan tersenyum lebar, tidak dapat nahan kegembiraannya yang semakin muncak. "Bukankah aku bilang aku akan nghancurkan hidupmu?"
Reviews
All reviews (0)