Bunga-bunga tuberose di taman Istana Putri sedang kar penuh. Pemandangan bunga-bunga putih kecil yang bergoyang tertiup angin sungguh nyenangkan, tetapi Leah hanya natapnya kosong sebelum dia mberi perintah dengan suara datar.
"Cabut saja semuanya. Lebih baik nanam bunga lain."
Dialah yang minta reka nanam bunga sedap malam. Para dayangnya bingung dengan perintah aneh itu, tetapi semua orang tahu perasaan pengantin wanita sebelum pernikahannya tidak stabil.
"Putri!"
Leah noleh saat ndengar suara itu. Itu Byun Gyeongbaek dari Oberde. Saat itu lebih awal dari waktu yang telah reka sepakati untuk bertemu, tetapi karena Leah tidak ada di istana, dia datang ke taman.
Entah ngapa, dia terdiam setelah manggilnya, dan ndekat perlahan sambil natap Leah, yang berdiri di depan taman bunga seputih salju. Dia bersikap cukup sopan, yang jarang dilakukannya.
"Apakah kamu suka bunga sedap malam?" tanyanya.
"...Tidak." Leah berbisik sambil natap bunga-bunga itu. "Aku tidak nyukainya."
Bersama-sama, reka berjalan-jalan di taman. Byun Gyeongbaek berencana untuk pergi ke perbatasan barat malam itu, dan berbicara dengannya tentang beberapa hal, sebagian besar tentang hal-hal yang berhubungan dengan pernikahan. Ia juga berbicara tentang gaun pengantin seperti apa yang akan terlihat bagus untuknya dan bagaimana aula pernikahan harus didekorasi.
Leah ndengarkan dengan diam, sambil ngangguk sesekali, dan dia ngerutkan kening lihat ekspresi Leah yang tak berekspresi.
"Setidaknya kamu bisa berpura-pura tersenyum," katanya. "Kamu sangat kaku."
Ketika dia maksakan sudut mulutnya ke atas, itu muaskannya. Dia gang tangannya dan dia tidak lakukan apa pun. Dia tidak punya keinginan untuk njauh. Dia hampir tidak nyadari berlalunya waktu. Dia tenggelam dalam pikirannya saat reka berjalan, dan ketika itu berakhir dan dia pergi, dia kembali ke Istana Putri. Cerdina sedang nunggunya.
Duduk di sofa di ruang tamu, Cerdina dilayani oleh Countess lissa, yang matanya tidak fokus. Sama seperti dayang-dayang di istana Ratu, dia bergerak tanpa ekspresi, seperti boneka hidup.
Leah ngamati pemandangan itu, lalu ndekati Cerdina dan nundukkan kepalanya.
"Saya telah bertemu dengan Byun Gyeongbaek dari Oberde," katanya.
"Begitu ya." Cerdina ngangguk dan nunjuk ke tempat di sampingnya. Leah duduk dengan patuh, nghabiskan teh dingin dari cangkirnya, lalu ngambil teko untuk nuangkan teh segar. Bagi Cerdina, ini hal yang biasa. Ia tidak lagi ngenakan topeng di hadapan Leah. Ia nunjukkan sifat aslinya.
Dia ngunjungi Istana Putri sesering mungkin seolah-olah istana itu miliknya sendiri, dan sering manggil Leah ke Istana Ratu untuk layaninya. Cerdina tampak senang dengan penampilan Leah sebagai dayang.
Seiring bertambahnya waktu yang dihabiskannya bersama Cerdina, jumlah makanan yang dimakannya pun nurun drastis. Cerdina nanggalkan pakaian Leah setiap hari dan nyuruhnya berdiri di depan cermin, nunjukkan setiap bagian yang cacat tanpa lewatkan satu detail pun, untuk mbuktikan bahwa ia harus nyesuaikan pola makannya.
Hari ini dia lakukan hal yang sama. Cerdina nyuruh Leah berdiri di depan cermin besar untuk riksa tubuh telanjangnya, lalu ngeluarkan pita pengukur untuk mastikan pinggangnya sedikit lebih kecil dari sebelumnya.
"Kita tidak bisa mbiarkan Bunga Estia nunjukkan kekurangannya, bukan?"
"...Ya." Jawab Leah. Matanya gelap dan kusam. Cerdina mbelai pipinya dengan penuh kasih sayang, seolah-olah dia sedang mberi hadiah kepada hewan peliharaan atas kepatuhannya.
"Kemarilah. Aku akan nata rambutmu."
ngambil sisir kayu yang diberikan Countess lissa, Cerdina mulai nyisir rambut Leah sendiri. Ia natap rambut keperakan itu, selembut sutra, dan mbelainya. Leah berdiri diam dan natap Countess lissa, yang berdiri seperti boneka di sudut ruangan. Ia pikir hatinya mati rasa, tetapi hatinya kembali berdenyut.
"Jika aku bersikap lemah lembut..."
Dia mbuka mulutnya untuk berbicara dengan Cerdina.
"Jangan lupa untuk rilisnya."
"Tentu saja, Leah. Aku akan lepaskan reka saat kau pergi ke wilayah Byun Gyeongbaek untuk nghadiri pernikahan. Aku sudah berjanji atas namaku," kata Cerdina dengan murah hati. "Dan saat waktunya tiba, aku akan mbawamu kembali ke istana kerajaan."
"...Ya, Ibu."
Reviews
All reviews (0)