"Hmm. Lebih rusak dari yang kukira. Penyihir barbar itu cukup hebat. Tapi sepertinya dia belum bisa nembus lebih dalam."
Cerdina ngerutkan kening, kesal.
"Sebenarnya, sulit juga ketika aku ngucapkan mantra pertama empat tahun lalu. Kau ncoba keluar dari pencucian otak begitu ada kesempatan sekecil apa pun." Dia nunggu, mperhatikan sampai Leah cukup nderita untuk matahkan keinginannya, lalu bertanya dengan murah hati, "Apakah itu nyakitkan, Leah?"
Leah ngangguk panik. Ia minta maaf tanpa ragu atas perilakunya. Ia akan ncium kaki Cerdina untuk nghentikan rasa sakitnya.
Cerdina tertawa terbahak-bahak dan njentikkan jarinya, dan rasa sakit yang nyiksa itu langsung nghilang. Leah duduk di lantai, terengah-engah. Duduk di seberangnya, Cerdina mbelai rambut peraknya dengan lembut. Ketika Leah ncoba malingkan kepalanya, rasanya seperti jantungnya runtuh. Tubuhnya tidak bergerak, tetapi dia rasa seperti orang asing di tubuhnya sendiri. Bahkan nghirup dan ngembuskan napas pun terasa aneh, seolah-olah rohnya ada di tubuh orang lain. Keringat dingin ngalir di punggungnya dan Cerdina tersenyum saat ketakutan lintas di mata Leah.
"Kau tidak perlu takut." Perlahan, ia nggaruk dagu Leah dengan kuku jarinya, nggambar garis rah di kulit putihnya. Leah tidak punya pilihan selain nahan rasa sakitnya. natap mata ungu Leah yang bergetar, Cerdina tersenyum ramah.
"Apakah kamu pernah ncekik seseorang yang kamu cintai?"
Tangan Leah bergerak sendiri dan lingkari lehernya sendiri, ncekiknya. Mata Cerdina lengkung saat dia lihat Leah rah karena kekurangan udara. Begitu kesadarannya mudar, tangannya terlepas, dan Leah terengah-engah. Dia rasa seolah-olah jantungnya akan ledak, dan dia tidak punya banyak waktu untuk nenangkan diri.
"Apakah kamu pernah nusukkan pisau ke jantung?"
Leah tidak bisa nggerakkan bibirnya. Cerdina renung lalu berkata, "ahh..."
Dia nyentuh bibir Leah dengan jarinya, dan baru saat itulah Leah dapat berbicara.
"Oh, tidak..."
"Kau tidak mau, kan? Kau benci rasa sakit."
"Ya... aku mbencinya..."
"Kalau begitu, jangan pikirkan hal yang tidak perlu." Cerdina mbelai pipi pucat Leah dengan penuh kasih sayang. "Jangan katakan apa pun pada Blain. Kurasa dia tidak akan suka lihatmu dalam keadaan seperti ini. Tentu saja, sebaiknya kau juga tidak mberi tahu siapa pun." Dia tersenyum dingin. "Kita akan rahasiakannya antara ibu dan anak."
Leah ngangguk pelan, tatapannya kosong. Air mata ngalir di pipinya, nempel di dagunya, dan jatuh ke lantai. Cerdina nyeringai.
"Mulai hari ini, kendalikan pola makanmu. Pernikahan sudah dekat, tetapi berat badanmu sudah naik banyak."
Dia berdiri dengan anggun dan natap Leah yang duduk putus asa di lantai.
"Kalau begitu aku pergi dulu," katanya pelan. "Senang ngobrol denganmu, Leah."
Gagang pintu, yang tidak bergerak skipun Leah berusaha keras, berputar dengan mudah. Cerdina mbuka pintu dan pergi.
"..."
Leah nundukkan kepalanya sendirian. Rambut peraknya jatuh seperti air terjun dan tawa hampa keluar darinya. Itu konyol. Dia yakin dia tidak tersihir, hanya karena dia tidak terlihat seperti Raja. Tapi sekarang dia tahu dia dalam keadaan yang ngerikan. Boneka lain.
Peringatan Cerdina jelas. Sang Ratu dapat ngendalikan tubuhnya, yang berarti jika Leah lakukan sesuatu yang bodoh, dia akan mbuatnya nderita.
Leah mbayangkan dirinya ncekik Ishakan. nusukkan pisau ke jantungnya. Pikirannya baru saja jernih, dan sekarang njadi gelap lagi. Kegelapan nyelimuti dirinya dari kepala hingga kaki.
Untuk waktu yang lama, dia tetap di tempatnya. Perlahan, dia ngangkat kepalanya, lihat sekeliling dengan linglung. Kenangan tentang malam penuh euforia di kamar ini bersama Ishakan terasa jauh. Pergelangan kakinya masih terikat rantai. Kebebasan yang diimpikannya tidak pernah ada.
"Ishakan..." kata Leah putus asa.
Air matanya kembali ngalir. Dia tidak akan pernah nginjakkan kaki di padang pasir itu seumur hidupnya. Dia tidak akan pernah bersamanya.
Reviews
All reviews (0)