Setelah bermain-main dengan rambut Leah, Cerdina ngambil beberapa helai rambut yang rontok dan Leah ngantarnya ke pintu masuk utama Istana Putri, lalu kembali ke kantornya. Sambil duduk di janya, ia ngambil beberapa dokun. Tidak ada dayang yang layaninya. Senyum sinis tersungging di bibir Leah saat ia mbaca.
mbawanya kembali ke istana? Cerdina hanya ingin terus nyiksanya. Tidak ada alasan lain yang bisa mbawanya kembali. Dia tidak akan ngizinkannya.
Leah tersenyum getir, rosot di janya. Sambil jamkan mata, ia nghitung hari-hari hingga hari pernikahan. Tidak banyak waktu tersisa sebelum ia bisa beristirahat selamanya. Keinginannya untuk hidup sudah lama hilang. Kematian adalah satu-satunya pembalasan dendam yang bisa ia dapatkan, dan satu-satunya cara untuk bebas.
Cerdina telah berjanji pada hari Leah ninggalkan istana, dia akan mbebaskan dayang-dayangnya dari cuci otak. Dia hanya berhasil mbuat Cerdina berjanji dengan ngibas-ngibaskan ekornya seperti anjing. Jadi setelah pernikahan, dia bisa bunuh diri pada malam pertama dengan Byun Gyeongbaek....
"..."
Leah nutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Ia tidak bisa berpikir jernih akhir-akhir ini. Sejak hari itu, semua pikirannya terputus dan ia tenggelam dalam kesedihan. Pikirannya terasa seperti tanah basah setelah hujan.
Rasa sakit yang disebabkan Cerdina dan perasaan ngerikan karena ncekik dirinya sendiri terus terulang dengan jelas di benaknya. Setiap kali dia ncoba nyingkirkan kenangan itu, nama pria itu selalu muncul di benaknya. Sakit. Dia berusaha lupakan nama itu.
—Apakah kamu pernah ncekik seseorang yang kamu cintai?
— Pernahkah kau nusukkan pisau ke jantung?
Suara lembut itu kembali terngiang di telinganya dan bahunya bergetar saat Leah nutup telinganya dengan kedua tangannya, nangis dalam diam. Sendirian, ia jamkan mata dan ncoba mbasmi gelombang ketakutan yang luap.
Kesialan hanya akan bertambah besar jika dibagi. Dia tidak seharusnya berada dalam kegelapan. Leah berharap dengan sepenuh hatinya agar pria yang berseri-seri itu selalu berada di bawah sinar matahari.
***
Waktu berlalu begitu cepat. Waktu terasa berjalan lebih cepat karena pikirannya sedang kacau. Namun, itu tidak penting. Sebaliknya, Leah berharap waktu berlalu begitu saja.
Besok adalah hari dimana orang Kurkan akan pergi.
Leah berjalan sendirian di taman Istana Putri larut malam. Cerdina telah ngganggunya sepanjang hari, dan dia kelelahan dan ingin segera tidur, tetapi dia tidak bisa. Seperti sebelumnya, dia yakin Ishakan akan ngunjunginya malam ini.
Dia sangat rindukannya. Namun, dia tidak ingin lihatnya. Dia tidak ingin harus ngucapkan kata-kata kasar kepadanya atau nolaknya untuk ngusirnya dengan dingin. Dia lebih suka dia pergi saja. Jika dia pergi, maka dia bisa percaya bahwa cinta yang dibisikkannya kepadanya adalah kebohongan dan dia hanya ncoba ncuri rahasia Estia.
Maka dia bisa ngakhiri hidupnya tanpa penyesalan.
Leah terus berjalan lebih lambat, berharap lelaki itu akan nemukannya, sekaligus berharap lelaki itu tidak akan nemukannya. Langkahnya yang tanpa tujuan terhenti di depan taman bunga tuberose. Atau yang dulunya adalah taman. Semuanya telah dicabut dan disebar di tanah, sebagai persiapan untuk bunga-bunga baru. Sambil ngamati dengan saksama bunga-bunga yang hancur dan patah, ia nemukan satu bunga yang masih utuh.
Saat dia ngulurkan tangannya...
"..."
Sebuah batu kecil jatuh di depan kakinya. Perlahan, dia ndongak.
Ada seorang pria duduk di dahan pohon dengan punggungnya nempel pada batang pohon yang tebal, sambil rokok. Sambil ngembuskan napas, asap ngepul di depan wajahnya yang serius. Tampak wajar saja cara dia mandangnya dari atas. Dalam kegelapan, mata emasnya yang cerlang natapnya seolah-olah dia tahu ngapa dia berjalan di sekitar taman, tidak dapat pergi ke kamar tidurnya.
Leah nundukkan pandangannya dan mbangun tembok kokoh di sekeliling hatinya. Kali ini ia berharap pria ini tidak dapat nyentuh emosinya.
Begitu Leah berhenti natapnya, Ishakan njatuhkan pipanya dan lompat pelan dari pohon. ski tinggi, ia ndarat tanpa suara. Gerakannya sangat lincah. Saat ia ndekatinya, Leah bisa ncium aroma tembakau.
"Salam, Raja Kurkan," kata Leah.
Ishakan tersenyum getir ndengar nada ramah itu. Matanya nyipit.
"Saya kira ada berbagai cara untuk nolaknya."
Leah berbicara, masih nghindari tatapannya.
"Sudah malam," kata Leah, nghindari tatapannya. "Tidak baik bagi kita untuk berkumpul di taman Istana Putri, jadi...!"
Kata-katanya terhenti saat dia narik napas karena terkejut.
"Kau tak perlu negurku." Sebuah pelukan hangat luknya erat. Tak lama kemudian, ia ndengar suara lelaki itu lagi. "Biarkan aku lukmu sebentar, Leah."
Reviews
All reviews (0)