Cerdina terdiam. Matanya getar, lesu karena terjaga selama berhari-hari, dan ia terpaksa ngangkat sudut mulutnya. Matanya yang rah mbuat senyumnya tampak aneh. Jari-jarinya bernoda dan lengket karena potongan rumput saat ia mbelai wajah Blain perlahan. Namun, kata-kata yang keluar dari bibirnya yang getar itu licik.
"Tidak mungkin, Blain. Cinta tidak segelap emosi yang kau rasakan."
"..."
"Kamu tidak sedang jatuh cinta. Kamu hanya ingin milikinya."
Blain natap ibunya dalam diam. Cerdina telah ngatakan hal yang sama, saat pertama kali ia ngatakan bahwa ia ncintai Leah.
"Sudah kubilang. Saat kau njadi Raja, dan kemudian Kaisar, benua ini akan berada di bawah kakimu. Akan ada banyak wanita seperti itu..."
"Ibu."
Bibir kering Blain bergerak perlahan.
"Jika aku tidak lakukan apa yang kauinginkan, apakah kau akan ngucapkan mantra padaku juga?"
"Bisul!"
Teriakan itu nggema di kamar tidur dan Cerdina natap pergelangan tangannya yang diperban, terengah-engah karena gelisah. Alih-alih berteriak lagi, dia mbungkuk untuk luknya.
"Jangan bersikap kejam pada ibumu. Aku lakukan segalanya demi kebaikanmu."
Jari-jarinya yang ramping mbelai rambut peraknya.
"Kita hampir selesai, kan? Tinggal sedikit lagi. Kalau kau mau, aku akan mbiarkanmu miliki hatinya juga. Tapi nanti kau akan ngerti. Itu bukan hal yang besar..."
Suaranya yang berbisik dipenuhi dengan kasih sayang yang tak terkendali. Tidak peduli apa pun yang diinginkan Blain, dia selalu nerimanya. Selalu sama. Dia ingin putranya ndapatkan yang terbaik dari segalanya.
Blain tersenyum tipis. nurutnya, dia tidak bertindak berbeda dari orang lain, skipun dia tidak sedang disihir.
"Nanti aku tahu kalau sudah ndapatkannya," katanya kepada Cerdina, yang natapnya tanpa berkedip. "Tolong berikan aku jantung Leah. Selama aku bisa milikinya...aku akan lakukan apa pun yang kau inginkan, Ibu."
***
Seperti dugaanku, dia pingsan lagi. Ya, bukan pingsan, tapi tertidur.
Atau begitulah yang diyakini Leah.
Ketika dia mbuka matanya, dia ndapati dirinya berbaring di tempat tidur di Istana Putri dengan cahaya redup yang masuk lalui jendela. Saat itu fajar.
Dia mandang sekelilingnya dan nemukan bahwa tempat tidur yang hampir robek saat reka bercinta dengan penuh gairah telah dirapikan dan seluruh ruangan njadi rapi, seolah apa yang terjadi malam sebelumnya hanyalah ilusi.
Kekosongan yang tak dapat dijelaskan nuhi hatinya. Leah nggigit bibir bawahnya, tetapi ketika dia berbalik dia nemukan sebuah catatan kecil di ja samping tempat tidurnya, ditulis dengan huruf-huruf kasar di secarik kertas yang robek.
[Maukah kamu ikut denganku ke padang pasir?]
Kaligrafi Ishkan masih jelek, tetapi tampaknya sudah sedikit lebih baik dari sebelumnya. Apakah dia sedang berlatih? Dia tidak dapat nahan tawa ketika mbayangkan Ishakan gang pena bulu di tangannya yang besar, nulis di selembar kertas kecil itu.
Leah luk catatan itu dan lemparkan dirinya kembali ke tempat tidur. Itu bukan perilaku yang pantas untuk seorang putri, tetapi tidak ada yang lihat.
"..."
Dia mbaca catatan itu beberapa kali lagi, lalu nempelkannya kembali di dadanya.
Anehnya, hal itu mbuatnya teringat akan sakit kepala hebat yang dialaminya malam sebelumnya. Ia mang sering sakit kepala, tetapi tadi malam adalah pertama kalinya ia rasakan sakit yang begitu hebat. Rupanya ia telah ncapai batasnya, tetapi anehnya kepalanya terasa lebih jernih setelahnya.
Dan biasanya tubuhnya terasa berat saat bangun pagi. Ia nderita migrain kronis, dan hidup dalam awan gelap depresif yang seakan-akan resap hingga ke dasar hatinya.
Namun kini semuanya sejelas hari yang cerah. Ia pikir ia bisa lakukan apa saja, dan untuk pertama kalinya pikiran penuh harapan ngalir deras tanpa henti. Pikirannya sejernih mata air.
Bukankah nyenangkan pergi ke padang pasir bersama Ishakan?
Semuanya hancur. Negosiasi dan reformasi pajak tidak akan terjadi. Lebih baik natap masa depan daripada ngorbankan hidupnya. Mungkin ini adalah jalan yang harus dia tempuh demi Estia. Bahkan jika dia harus ngorbankan reputasinya untuk lindungi negaranya, dia akan tetap nuhi tugasnya sebagai Putri.
Begitu banyak pikiran yang muncul yang sebelumnya tidak dapat ia pikirkan. Jika ia benar-benar njadi Ratu Kurkan, ia dapat mbujuk reka untuk tidak nyerang Estia. Ia dapat lanjutkan negosiasi, atau ncoba lakukan perdagangan antara kedua negara.
Dan...dia bisa bersama Ishakan.
Seketika, jantungnya mulai berdebar-debar seakan akan ledak. Tubuhnya bergetar hebat karena emosi yang luap. Ia tak dapat ngendalikannya. Ia mondar-mandir di ruangan itu, tak dapat diam saat imajinasinya terus berpacu.
Di padang pasir, dia akan bebas. Dia bisa njadi Leah, bukan Putri Estia. Dia bisa makan apa saja yang dia mau, dia tidak perlu lihat wajah saudara tirinya, dia tidak perlu nahan kewaspadaan ibu tirinya.
Leah harus berbaring di lantai. mbayangkan hidup tanpa semua ikatan dan batasan ini mbuatnya begitu bersemangat, ia rasa kepanasan. Berbaring dengan kulit telanjangnya di lantai marr yang dingin, ia narik napas dalam-dalam, nenangkan dirinya.
Masih ada waktu tersisa. Dia harus mikirkan keputusan ini dengan matang.
Tetapi Leah tahu hatinya condong ke satu arah.
Reviews
All reviews (0)