Ishakan ndengarkan dengan tenang lalu ngibaskan tembakaunya, lemparkan abunya ke dalam baki di ja samping tempat tidur.
"Saya baru saja nyinggung hal itu kepadanya," katanya pelan. "Ada reaksi yang kuat. Tubuh kecilnya nggigil kesakitan, dia bahkan tidak bisa berteriak..."
Ishakan terdiam, luk sang Putri. nahan emosinya, ia berbicara lagi, tenang dan tenteram.
"Dia bilang dia ingin mati. Apakah itu juga mantra?"
Morga tidak dapat nyembunyikan ekspresi iba di wajahnya. Kata-kata kasar seperti duri keluar dari tenggorokannya.
"Itu... kanis pertahanan naluriah."
Tatapan dingin Ishakan ndorong Morga untuk terus berbicara.
"nurutku, sang Putri ncoba ngatasi kutukan itu dengan caranya sendiri. Tanpa disadari, dia lawan dengan keras pencucian otak, tetapi selalu kalah, dan pada akhirnya, dia milih satu tode sebagai pertahanan terakhir..."
Tanpa sadar, dia milih satu-satunya jalan keluar yang tersedia untuk mbebaskannya dari kutukan itu. Bibir Morga bergetar saat dia berbicara.
"Kematian."
Ruangan itu sunyi. Bibir Ishakan bergerak-gerak mbentuk senyum tipis, tetapi tatapannya tetap datar.
Morga nggigil, nundukkan matanya ke tanah. Dia tidak berani natap wajah Rajanya. Dia tahu kemarahan Ishakan tidak ditujukan padanya, tetapi tubuhnya masih nggigil ketakutan. Keringat dingin ngalir di punggungnya dan untuk beberapa saat, semua yang ada di depan matanya njadi gelap. Mungkin karena rasakan energi yang ngalir lalui ruangan, sang Putri bergeser, ngeluarkan suara protes samar.
Energi yang nyesakkan itu lenyap dalam sekejap, dan Ishakan ndesah sambil mbelainya.
"Maafkan aku. Aku tidak marah padamu, Morga."
"Aku tahu..."
Morga, yang telah ninggal dan dibangkitkan, narik napas getar.
"Bisakah aku mbunuh Ratu?" tanya Ishakan.
Dia bertanya tentang ngambil nyawa Ratu Estia seolah-olah dia bisa matahkan lehernya kapan pun dia mau. Dia tidak nggertak. Dia bisa lakukannya jika dia mau. Tapi dia seharusnya tidak lakukannya sekarang. Morga baru saja tenang, tetapi dia njawab begitu cepat sehingga dia hampir nggigit lidahnya.
"Beberapa mantra dapat lilit kehidupan orang lain. Sebelum kita ngetahui mantra apa yang telah dilemparkan kepada sang Putri, kita tidak boleh ndekati sang Ratu dengan sembarangan." Kata-kata itu lukai harga dirinya. "Masalah terbesarnya adalah sang Ratu lebih kuat dari yang kuduga."
Kekuatannya mirip dengan Morga, tetapi kemampuan seorang penyihir bertambah seiring keberhasilannya dalam mantra yang lebih sulit. Sang Ratu telah rapalkan ratusan mantra kepada banyak orang. Semakin banyak keberhasilan yang diraihnya, semakin kuat jadinya.
Morga tidak bisa lakukannya sendirian. Untuk nemukan mantra yang telah diucapkannya dan nemukan cara untuk nghilangkannya, ia harus kembali ke Kurkan untuk minta bantuan penyihir lainnya. Akan butuh waktu yang lama untuk ngungkap mantra-mantra ini, karena mantra-mantra itu telah nyelimuti sang Putri sepanjang hidupnya.
"Pertama-tama, sang Putri harus dibawa ke Kurkan..." Morga mulai, tetapi bahkan setelah dia nyelesaikan penjelasannya, dia tahu bahwa sang Putri tidak akan pernah ninggalkan Estia sendirian.
Ishakan nghisap tembakaunya lagi. Ia berusaha keras untuk nekan sifatnya yang semakin kuat karena kekuatan emosinya.
"Saya akan lakukan sesuatu tentang hal itu," katanya.
***
Udara terasa pahit karena aroma tanaman obat. Tangan wanita paling mulia di Estia itu kotor, bernoda, dan lengket karena obat-obatan. Kukunya kasar dan kulitnya kasar.
Namun Cerdina tidak berhenti nggiling dan ncampur. Ia lakukannya sendiri, tanpa bantuan pembantu.
Setelah nimbang herba-herba itu dengan timbangan, ia natanya dalam panci yang ndidih di atas tungku kecil. Dengan setiap bahan baru yang ditambahkan, warna cairan yang nggelegak itu berubah. Warnanya berubah njadi hijau ketika ia masukkan daun hijau, njadi kristal ketika ia nambahkan embun pagi, dan njadi kerahan ketika ia nambahkan kelopak mawar...
Akhirnya, dia ndekati ranjang tempat Blain berbaring. Seluruh tubuhnya diperban dan dia terbaring diam seperti mayat. Dia rasa sedih saat ncabut sehelai rambut Blain dan naruhnya di dalam sebuah pot, mbuat cairan itu bersinar keemasan dan kemudian berubah njadi hitam pekat. Dia mindahkan ramuan yang sudah jadi ke dalam gelas, lalu nuangkan setetes ke dalam mulut Blain.
Setelah waktu yang lama, kelopak matanya mulai bergetar, lalu terbuka, mperlihatkan mata biru.
"Bisul...!"
Cerdina ncium keningnya, air mata ngalir di wajahnya.
"Blain, anakku, anakku sayang..."
Tidak seperti Cerdina yang nangis tersedu-sedu, Blain tetap tenang dan natapnya dalam diam saat ia berenang kembali ke kesadarannya.
"...Ibu." Blain ngatakan hal yang selama ini ngganggunya. "Kurasa aku nyukai Leah."
"..."
Wajah Cerdina njadi pucat dan kaku.
"Aku tidak ingin hanya miliki anak itu," katanya pelan. "Aku ingin jantungnya."
Reviews
All reviews (0)