Font Size
15px

Raja Estia rintahkan pengusiran orang-orang Kurkan. Namun, karena nyadari adanya kelalaian bersama, ia tidak segera ngusir reka. reka diberi masa tenggang dua minggu.

Diputuskan bahwa setelah orang-orang Kurkan pergi, Leah akan ninggalkan istana untuk pergi ke perbatasan, beberapa minggu lebih cepat dari jadwal. Ia nghabiskan setiap hari dengan sibuk bekerja dan ndelegasikan tugas sebelum keberangkatannya.

Hari ini jadwalnya sangat padat. Sebelum mulai daftar tugasnya, Countess lissa mbawa sisir kayu dan duduk untuk nyisir rambutnya. Keahliannya dalam nata rambut Leah sama bagusnya dengan tahun-tahun yang telah reka lalui bersama. Tidak ada yang bisa nata rambutnya lebih baik.

"Byun Gyeongbaek akan segera nuju perbatasan barat," katanya. "Tapi sepertinya dia ingin bertemu denganmu terlebih dahulu."

"Baiklah. Pokoknya, kita harus bertemu."

Keduanya terus mbicarakan hal-hal tertentu, dan saat Leah mperhatikan bagaimana rambut peraknya ditata, dia berkata, "Aku belum lihat Baroness Cinael."

Tangan Countess lissa yang rajin berhenti sejenak sebelum dia njawab dengan tenang.

"Dia telah diskors."

Dia telah nangani masalah itu di bawah wewenang kepala dayang, tetapi belum mberi tahu Leah karena dia sangat sibuk akhir-akhir ini.

"Kau mperlakukannya sebagai pelakunya," Leah berkontar dengan tenang.

"..."

Countess lissa letakkan sisir di atas ja rias.

"Maafkan saya, Putri. Saya sudah berusaha lakukan sesuatu, tetapi situasinya semakin mburuk... jadi saya pikir sebaiknya Baroness ngambil cuti sakit dan beristirahat sejenak."

Ia diasingkan dan diperlakukan sebagai pelaku pencurian gaun sutra ungu, tetapi kebenarannya belum terungkap. Leah perlu bertemu dengannya dan ndengar pembelaannya.

"Saya punya waktu luang beberapa jam sore ini."

Dia telah netapkan waktu itu untuk beristirahat, dan skipun dia secara resmi bebas, dia biasanya minum teh sambil lihat-lihat dokun.

"Saya akan ngunjungi Baroness Cinael."

"Bukankah itu terlalu tiba-tiba?"

"Ada hal yang lebih penting daripada etika."

Ia nggigil, ngucapkan kata-kata itu. Ia tidak terbiasa ngatakan hal semacam itu, dan Countess lissa tampak sedikit terkejut. Leah lanjutkan dengan cepat, ngesampingkannya.

"Tolong persiapkan untuk itu. Karena aku akan ngunjunginya, aku harus mbawa hadiah sebagai tanda kesopanan."

Setelah nyelesaikan pekerjaannya di pagi hari, ia makan siang dan bersiap untuk berangkat. Saat naiki kereta, ia mbawa sebungkus kue yang dibuat oleh kepala koki Istana Putri. Kue itu adalah kue kesukaan Baroness Cinael.

Tak seorang pun dayangnya berasal dari garis keturunan keluarga yang kuat, dan sang Baroness tinggal di daerah yang agak jauh dari pusat ibu kota. Dalam perjalanan ke sana, Leah berspekulasi sendiri. Akan lebih baik jika semuanya berjalan dengan hati-hati. Dayang-dayangnya tidak akan milih dan ngecualikan sang Baroness tanpa alasan. Dia pasti telah lakukan sesuatu yang ncurigakan.

Mungkin dia ncuri gaun itu untuk mbayar pinjaman pribadi. Namun Leah tidak percaya dia ncuri gaun itu karena masalah pribadi. ngetahui kepribadiannya, Leah ngira Baroness akan mberitahunya, dan minta bantuan.

Saat dia mbuat spekulasi ini, dia telah tiba di kediaman Baroness tanpa nyadarinya. Kereta kerajaan berhenti di depan sebuah rumah besar sederhana. Wanita di luar yang sedang nyiram bunga di taman mbelalakkan matanya saat dia lihat kereta, dan lihat Leah keluar.

"Putri..."

"Wanita."

Leah tersenyum dan berlari luknya, air matanya ngalir deras. Sang Baroness luknya erat-erat seolah-olah dia akan pingsan. Sang Baron, yang tetap tinggal di rumah untuk nghibur istrinya, terkejut lihat sang Putri. Dalam diam, Leah luk sang Baroness, dan ketika dia akhirnya bisa berhenti nangis, sang Baroness nuntun Leah masuk. Sambil nuangkan teh, dia njelaskan.

"Saya tidak ndapatkan gaji karena diskors... Saya terpaksa tidak mpekerjakan beberapa karyawan untuk nghemat sedikit biaya. Lagi pula, saya tidak punya kegiatan apa pun di rumah."

Teh dalam cangkir nunjukkan pola yang lemah saat teh ndingin perlahan. Leah nunggunya berbicara. Sang Baroness tetap diam sampai tehnya hangat lalu mulai nangis lagi.

"Saya sangat frustrasi... Saya hanya ngikuti instruksi..." Dia nyeka matanya dengan sapu tangannya, tetapi matanya segera basah lagi. Dia ncengkeram sapu tangannya sambil lanjutkan. "Hari itu saya disuruh ngeluarkan gaun sutra ungu dan mbawanya ke pelayan di luar... itulah yang saya lakukan."

"Siapa yang mberimu perintah itu?"

Baroness Cinael jamkan matanya rapat-rapat. Ia tidak dapat njawab pertanyaan itu dengan mudah. ​​Setelah ragu-ragu sejenak, ia akhirnya berbicara dengan hati-hati.

"...Nona lissa."

You are reading Predatory Marriage : Leah & Raja Kurkan Chapter 122: Countess Melissa on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Mr. CEO Has a Crush on Me cover
Similar genre

Mr. CEO Has a Crush on Me

Mu Anan ·Romance

Shewasframedbyhersisterandaccidentallyhadaone-nightstandwithhim.Later,hefoundvariousunreasonableexcusestoforcehertolivewithhim.Toseekrevenge,sherel...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.