Kata-katanya ngejutkannya bahkan saat dia nangis tersedu-sedu karena senang. Itu adalah lamaran yang liar dan manis. Tidak ada wanita lain di dunia yang pernah nerima lamaran seperti itu.
Namun, dia tidak bisa njawab, dan Ishakan tersenyum getir lihat kesunyiannya. Hatinya sakit saat lihat mata Ishakan njadi gelap. Dia ingin nghiburnya dengan cara tertentu.
Dia nciumnya. njilati bibirnya dengan canggung, dia nyelipkan lidahnya, rasakan gigi tajamnya nggigit lidahnya dengan lembut. Lidahnya nggeliat saat dia nggali lebih dalam, dan dia ngusap dan ngisap lidahnya, mpermainkannya. Saat reka berciuman, dia ngusap payudaranya untuk nunjukkan bahwa dia nerapkan apa yang telah diajarkannya, dan saat bibir reka berpisah, dia natapnya.
"Kamu..." Suaranya bergetar saat dia berbisik. "Kamu tidak selalu jujur."
Matanya penuh dengan kenakalan dan dia nggigit ujung hidungnya, lepaskannya.
"Kamu pandai berbohong."
Leah tidak njawab, tetapi sepertinya dia sudah tahu. Dia tahu apa yang dirasakannya, dan tahu apa yang ingin dia jawab.
Percakapan itu berakhir, dan dia ngangkat kedua kaki Leah ke atas bahunya. Karena perbedaan ukuran tubuh reka yang cukup jauh, pinggul Leah terangkat dari ranjang, dan kejantanannya nembus dalam-dalam ke dalam lubangnya.
"Huk...!"
Mata Leah mbelalak. Sulit nahan penetrasinya dalam posisi ini, dan betisnya getar. Kejantanannya ndorong perlahan ke dalam dirinya dan saat ncapai bagian dalam, panas yang nggairahkan nyebar dari perut bagian bawah dan ngalir ke seluruh tubuhnya.
Dia ngerang, lengkungkan punggungnya, tulang belakangnya nonjol di sepanjang lengkungan itu. skipun dia nggigil dengan nyedihkan, Ishakan tidak nahan diri, dan nyerangnya dengan keras.
Leah nyaris tak mampu ngangkat lengannya untuk luk leher Ishakan setelah ia ncapai klimaks lagi. Kepalanya nunduk ke belakang dan ia mohon dengan bibir getar.
"Ishakan, a-aku baru saja datang..."
Bagian dalamnya basah kuyup, jadi dia yakin lelaki itu tahu itu, tetapi lelaki itu terus nggerakkan pinggangnya. Dia benar-benar ngira dia akan mati. Sambil nggaruk punggungnya dengan kuku-kukunya, dia berbicara dengan putus asa.
"Aku kelelahan, ahhh, aku tidak tahan lagi..."
"Lelah?"
"Ya, hmm, aku kelelahan... Ayo istirahat sebentar...."
Ishakan tersenyum dan nggerakkan pinggangnya lebih keras.
"Tentu saja itu kebohongan lainnya."
Dia tidak pernah berbohong tentang hal ini, tetapi sulit untuk mbantahnya. Pandangannya kabur dan hanya erangan yang keluar dari mulutnya, air liur ngalir dari sudut-sudutnya. Lengannya terlepas dari lehernya.
"Ah, ahhhh..."
Ia ncapai klimaks lagi. Ishakan nahannya dengan lengan bawahnya yang kuat, nopangnya dengan tangannya yang besar sambil natapnya dengan nakal. Leah getar, bingung.
Sambil luknya, ia bangkit dari tempat tidur, ninggalkannya layang di udara. Leah rasakan firasat buruk dan mulai getar, tetapi ia luknya lebih erat dan nempelkan tubuhnya ke dinding. Punggungnya terasa dingin saat kakinya layang di udara.
ski kesadarannya kabur, dia tidak khawatir berhubungan seks dalam posisi ini, tetapi lebih khawatir akan jatuh ke lantai, dan pahanya negang di sekitar Ishakan. Dia ngelilinginya dengan seluruh kekuatannya saat kejantanannya nembus lubangnya lagi.
Kejantanannya yang besar dan panas ngeluarkan suara-suara cabul saat ia ndorong masuk ke dalam dirinya, tubuhnya bergoyang keras saat ia nghantamnya. Payudaranya bergoyang, putingnya bergesekan dengan dada berotot Ishakan.
"Hmm, hah, ahh...!"
skipun ia telah ncapai klimaks berkali-kali, ia rasakan kesemutan lagi di tubuh bagian bawahnya dan semburan cairan nyembur di titik pertemuan keduanya. Ia rasa seperti kehilangan akal sehatnya, matanya yang ungu kehilangan fokus. Air mata nggenang di sudut kelopak matanya dan ngalir di pipinya.
"Sebutkan namaku." Lidah Ishakan yang panas njilati air matanya. "Kau harus ingat dengan siapa kau lakukannya."
Dia hanya bisa berpegangan padanya, percaya pada pria di hadapannya. Dengan kekuatan terakhirnya, dia luknya dan nyebut namanya dalam pusaran ketakutan dan kesenangan.
"Ah, Ishakan..."
Mata emasnya dipenuhi rasa puas saat Leah luknya.
"Hmm, Lea..."
Giginya nggigit leher Leah, nimbulkan rasa sakit yang tajam, dan Leah njerit keras.
"Ahh, Ishakan, hmm..."
Kejantanannya yang tebal dan kaku nusuk dalam-dalam dan cairan panas nyembur, nuhi seluruh dinding bagian dalamnya. Lengan dan kakinya bergetar karena kenikmatan yang tak terlukiskan, dan bahkan setelah tubuhnya lemas, jari-jarinya getar.
Saat Leah asyik dengan klimaksnya, Ishakan terus nggerakkan batang kelaminnya yang sudah agak lunak ke dalam dirinya, dan Leah pun ngerang putus asa saat Ishakan nggesekkan penisnya ke dinding bagian dalam.
Reviews
All reviews (0)