Font Size
15px

"Ah..."

Bagian dalamnya sudah basah oleh sperma. Leah tidak ngerti ngapa dia terus bergerak, seolah-olah dia ingin ngeluarkan sesuatu yang lain. Penglihatannya kabur saat dia nghirup dan ngembuskan napas dengan susah payah, berpegangan pada kesadaran yang terancam mudar. Dia nghitung berapa kali dia telah ncapai puncaknya dan putus asa.

Hanya dua kali. Kali ini dia tidak ingin pingsan, tetapi Ishakan tidak pernah berhenti sampai dia rasa puas. Setiap kali reka berhubungan seks, dia selalu lakukannya. Bahkan ketika dia mohon padanya sambil nangis bahwa dia tidak bisa lakukannya lagi, Ishakan akan mbujuknya dan terus nembusnya sampai dia pingsan.

Leah manggil Ishakan dengan lemah.

"Ishakan..."

"Katakan padaku, Lea."

Dia nggumamkan hal pertama yang terlintas di pikirannya untuk nghentikan dia rayunya lagi.

"Aku lapar," katanya tanpa berpikir. Namun, pria yang tak pernah puas itu berhenti.

"...Sial," katanya sambil ngerutkan kening. "Jadi kamu belum makan malam."

Dia mandangi tubuhnya dengan khawatir, ngukurnya dengan matanya untuk mastikan dia tidak kehilangan berat badan lebih banyak lagi akibat kelaparan lagi.

Leah ngerang saat Ishakan narik kejantanannya dari lubangnya, dan ia rasakan cairan di dalamnya ngalir keluar, sperma Ishakan bercampur dengan cairannya. Cairan putih itu mbasahi di antara kedua kakinya dan di atas pahanya. Ishakan ngambil kain katun dan mbersihkannya serta kejantanannya dengan kasar, lalu lilitkan selimut di sekitar Leah.

"Kamu seharusnya mberitahuku lebih awal bahwa kamu lapar..."

Tampaknya dia ngira dia kelaparan. Namun, itu berarti dia bisa bersantai, dan dia pun tertidur, setengah sadar saat Ishakan berbisik bahwa dia akan mbawanya ke istana tempat orang-orang Kurkan nginap untuk makan malam, dan kemudian dia akan nyuruh seseorang nyiapkan tempat tidurnya, jadi dia tidak perlu khawatir. Dia berjanji akan mbawanya kembali sebelum fajar.

Leah ngangguk. Dia tidak dalam kondisi yang mungkinkan untuk ndengarkan dengan saksama.

***

Beberapa waktu kemudian, reka tiba di istana tempat orang-orang Kurkan tinggal, dan Leah dibangunkan oleh suara lembut.

"Lea."

Sebuah tangan mbelai pipinya, dan dia mbuka matanya, ngerutkan kening karena belaian yang nggelitik itu. Dia berada di tempat tidur dan miliki nampan penuh piring berisi makanan di depannya. Dia tidak terkejut lihat begitu banyak, tetapi dia masih bertanya-tanya siapa yang mungkin bisa nghabiskan semua itu.

Dia lapar, tetapi dia tidak punya tenaga untuk makan. lihatnya natap makanan dengan cemas, Ishakan berbicara dengan suara lembut.

"Aku akan mberimu makan."

Leah ngangguk, dan Ishakan segera lahap makanannya seolah-olah dia baru saja nunggu izinnya. Mulut Leah terbuka dan tertutup dan Ishakan nyuapinya, seperti seekor burung kecil yang diberi makan oleh orang tuanya. Dia sangat lelah, matanya hampir tertutup, dan dia tidak mperhatikan apa yang dia makan. Dia telah makan cukup banyak sebelum dia ingat bahwa dia seharusnya ngurangi porsi makannya. Ishakan tersenyum.

"Kurasa lain kali aku harus nyuapimu dulu," bisiknya. Ia ingin nggodanya, tetapi ia takut si gadis nolak untuk mbuka mulutnya, jadi ia tidak berkata apa-apa lagi dan terus nyuapinya.

Setelah makan begitu lama, dia rasa sangat ngantuk, dan lupa akan etika saat dia nguap lebar. narik tubuhnya sedikit lebih dekat ke tubuh Ishakan, dia berbisik.

"Aku ngantuk..."

"Yah, kamu makan lebih banyak dari biasanya."

Ishakan mberi isyarat dan seseorang ngambil nampan itu untuk mbawanya pergi. rasakan kehangatan Ishakan, Leah mulai kehilangan keinginannya untuk tidur.

"Tidurlah lagi, Leah. Aku akan mbawamu kembali dengan selamat." Suaranya tenang dan nenangkan, dan dia mbelai rambut perak Leah dengan lembut saat dia mulai tertidur.

"..."

Ia raih ja nakas, ngambil tembakaunya, dan nyalakannya di tungku, lalu nghisapnya. Mata emasnya, yang sebelumnya hangat untuk Leah, kini njadi dingin.

"Haban."

Haban bersembunyi di balik bayangan dan ndekat tanpa bersuara sambil mbungkuk. Ishakan ngembuskan asap rokok dan mberi perintah.

"Katakan pada Morga untuk datang ke sini."

Waktunya telah tiba untuk ncari tahu apa yang terjadi dengan Leah.

You are reading Predatory Marriage : Leah & Raja Kurkan Chapter 118: Waktunya Telah Tiba Untuk Mengetahuinya on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

The Lucky Farmgirl cover
Similar genre

The Lucky Farmgirl

Bamboo Rain ·Romance

TheFourthBrotherhadsquanderedhiswealththroughgambling,leavingtheirmotherinacriticalstate.Tomakemattersworse,thecreditorsevenaskedthemtosellManbaoto...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.