Pada saat itu, semua pengawal ngacungkan tombak dan lembing reka. Ishakan ngulurkan tangannya dan Genin mberinya lembing. Begitu dia gangnya, dia ngayunkan lengannya ke belakang tanpa ragu. Otot-ototnya ngembang, kain pakaiannya ngencang di tubuhnya, dan dia nyipitkan matanya, pupil emasnya bersinar.
Tulang rusuknya mbengkak saat ia bernapas dan gangnya. Lembing padat yang terbuat dari abu lesat keluar seperti anak panah dan nembus kulit dan daging keras binatang itu, ninju sisi lainnya. Babi hutan yang berlari itu berguling di tanah, langsung mati.
"..."
Semua orang yang hadir di tempat perburuan itu natap babi hutan itu, tercengang. Bahkan jika lembing itu dibuat untuk berburu, itu tidak cukup untuk nangkap seekor babi hutan. Biasanya beberapa orang harus bergabung dan nyerang dengan bantuan anjing pemburu. Namun, Ishakan dengan mudah mbunuhnya sendiri.
Selain itu, lembing itu telah nembusnya sepenuhnya. Itu mustahil dengan kekuatan manusia. Sendirian di antara kerumunan yang tercengang, orang-orang Kurkan itu sangat tenang. Sikap reka ngejutkan, tetapi reka tampak sangat alami.
Kemudian, para pengawal nyeret bangkai babi hutan itu. Ishakan mperhatikan saat babi hutan itu ninggalkan noda darah di jejaknya, dan mbuka mulutnya.
"Jika bukan karena anak panah itu, aku tidak akan bisa nangkapnya."
Ishakan natap Blain. Matanya sedikit lengkung.
"Pertimbangkan penangkapan yang dilakukan oleh Pangeran ini."
Pengakuan itu ngejek, dan nyiratkan bahwa ia dapat berburu semaunya. Ia percaya diri. Wajah Blain berubah. Ia natap babi hutan itu dengan tajam.
"Itu bukan milik siapa pun," katanya dengan tenang. Para pengawal yang kebingungan nyeret babi hutan yang tidak dimiliki itu ke sebuah kereta dan Blain natap langit, kelabu dan berawan, seolah-olah akan turun hujan setiap pagi. Sambil nepukkan taji ke sisi kudanya, kuda itu bergerak maju, terkejut dengan perintah yang tiba-tiba itu, dan kelompok pemburu itu bergerak lebih dalam ke dalam hutan.
Saat jalan setapak nyempit, kelompok itu bergerak dalam barisan yang lebih panjang. skipun reka tampak terpencar dalam perburuan reka, Ishakan ngikuti Blain sepanjang jalan. Pengejaran yang lambat itu nggerogoti sarafnya. Ketika akhirnya ia nepi di samping kuda Ishakan, Blain tidak dapat nahan diri. Namun sebelum kata-kata itu keluar dari bibirnya, ia ndengar suara serak.
"Kamu bilang padaku untuk tidak nginginkan apa yang kamu miliki..."
Blain natap Ishakan. Si Kurkan terus berbicara, tali kekangnya terlepas di jari-jarinya.
"Jika tidak ada pemiliknya, tidak...bahkan itu bukan sebuah objek, bukankah itu ngubah banyak hal?"
"...Apa maksudmu?"
"Persis seperti yang sudah kujelaskan padamu. Aku tidak perlu nambah atau ngurangi apa pun." Ishakan berhenti bicara, dan kedua pria itu saling natap. "Dia tidak punya pemilik, dan dia bukan objek. Itu berarti dia bebas milih siapa pun yang dia inginkan."
Ishakan terdiam. Tatapan reka tajam. Lalu dia nyerang lagi.
"Tapi nurutku dia tidak akan pernah milih Putra Mahkota...apa yang mbuatmu begitu khawatir?" Dia tersenyum. "Apakah kamu berencana untuk lakukan pernikahan sedarah?"
Tawa lengking terdengar. Blain tertawa sia-sia saat sapu tangan yang diikatkan di pergelangan tangan Ishakan nyentuh pipinya. Mata birunya berkilat karena kegilaan dan teriakan terengah-engah terdengar dari para pelayannya saat ia ngangkat busurnya.
Ujung anak panah itu, yang diasah dengan batu asah, nunjuk ke arah mata emas Ishakan.
"Teruslah bicara, Raja," kata Blain dingin.
Reviews
All reviews (0)