Lututnya terluka, tetapi Morga tetap berjalan dengan tenang, ninggalkan Haban. Bahkan Genin ninggalkannya untuk ngikuti Ishakan, dan dia ndesah pasrah saat wanita itu natapnya dengan kekaguman yang nyata. Tidak diragukan lagi dia adalah bawahan yang sangat setia.
Penggunaan sihir yang berulang-ulang hanya akan ningkatkan kemampuan penyihir itu, seperti otot yang digunakan berulang-ulang. Sayangnya, latihan Morga untuk ningkatkan kemampuannya selalu mbebani orang-orang Kurkan di sekitarnya. Dia tidak pernah takut nggunakan reka sebagai kelinci percobaan untuk mantra tingkat tinggi apa pun yang ingin dia praktikkan.
Karena reputasinya, orang-orang Kurkan lainnya perlahan mulai njauh darinya, agar tidak njadi sasaran eksperinnya. Ishakan adalah satu-satunya orang yang tidak bisa dimantrai Morga, jadi ia harus bersikap lembut di hadapan Rajanya.
mikirkan hal ini hanya mbuat Haban semakin marah, dan dia mukul tanah. Dia telah berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia akan berhati-hati dengan setiap gerakan, dan kemudian jatuh ke dalam mantra Morga. Dia tidak bisa nahan diri untuk nggertakkan giginya karena marah.
"Ah..." gerutunya.
Morga telah mberikan mantra serupa kepada Byun Gyeongbaek belum lama ini. Mantra itu mbuat Byun percaya bahwa ia tersandung dan jatuh karena ia mabuk, tetapi mantra itu telah mungkinkan Haban untuk matahkan kaki bangsawan itu tanpa nimbulkan masalah. Morga telah pergi setelah itu, berusaha ncari Tomaris, dan Haban tidak nyangka bahwa reka akan bertemu lagi secepat ini. Untuk saat ini, ia harus nghubungi orang-orang Kurkan lainnya.
Sambil nahan rasa sakit yang dirasakannya, dia bangkit dan berjalan ngejar reka.
Manusia mulai berkumpul di hutan. reka pasti sudah selesai mpersiapkan perburuan. Ia bisa lihat ketakutan di mata reka saat orang-orang Kurkan lainnya lewat di antara reka. Namun Haban tidak mpedulikan reka, begitu pula yang lainnya. Manusia selalu njadi makhluk yang penakut. Tidak ada yang istiwa dalam hal ini.
Begitu dia nyusul, Haban berhenti di samping Morga, ngerutkan kening karena jijik. Morga natap sang putri.
"Apakah dia orang yang selama ini banyak kudengar ceritanya?" tanyanya sambil nilai.
"Dia adalah Bunga Estia, tapi tidak ada kata-kata yang dapat nggambarkan kecantikannya."
"Ya, dia sangat cantik."
"Apakah kau terkesan?" tanyanya, tetapi bukan karena ia kagum, lainkan hanya sebagai pengalih perhatian dari rasa sakit di lututnya. Haban natap dingin ke arah Morga, nyadari bahwa ekspresi kekagumannya berangsur-angsur njadi kaku semakin lama ia natapnya. ngapa?
skipun ia segera nunjukkan ekspresi senang lagi, ia jelas njadi pucat sesaat. Morga nyapa orang-orang dengan ramah, tetapi Haban tahu ia tidak santai.
"Ada apa?" Dia tak dapat nahan diri untuk bertanya.
Morga tidak njawab pertanyaannya. Dia berdiri kaku, berpikir.
"Apa yang harus kulakukan sekarang?" tanyanya dengan suara keras.
"Sepertinya situasinya sangat berbahaya."
***
Gonggongan itu semakin keras saat anjing-anjing itu semakin dekat dengan mangsanya. Ketika reka nemukannya, Blain noleh ke arah suara gonggongan itu dan narik anak panah, mbidiknya sentara para pemburu lainnya ngikutinya. Mata Blain ngamati sekelilingnya sambil terus nengok ke depan.
Tidak jauh dari situ, ia lihat Raja Barbar. reka harus minjamkannya salah satu kuda terbesar di kandang Estia, hanya karena kuda biasa terlalu kecil. Blain tidak dapat nahan diri untuk berpikir bahwa itu aneh. Itu tampak seperti seekor binatang buas yang nunggangi binatang buas lainnya.
Ia nahan tawanya dan nepis pikiran itu. Namun, kegembiraan sesaat yang dirasakannya lenyap saat ia lihat sapu tangan yang dikenalnya diikatkan pada gagang pedang Ishakan. Ia ngenali pola kain itu, dan sulaman bergaya Estian. Ia ngepalkan tangannya dengan marah. Tidak penting lagi bahwa ia seorang Raja!
Ia nggertakkan giginya dan berbalik dengan tegas ke depan, ngangkat busurnya. Sambil masang anak panah, ia narik talinya ke belakang dan lepaskannya. Tangannya getar dan anak panah itu terpantul, nghilang ke dalam semak-semak yang lebat. Sedetik kemudian, suara jeritan keras bergema di hutan dan seekor babi hutan muncul dari semak-semak. Babi hutan itu miliki taring yang besar dan tajam. Anak panah itu tertancap di salah satu matanya...
Ia bergerak ke arah reka, nuju Ishakan dan Blain.
Reviews
All reviews (0)