"Apa yang kamu pikirkan?" Cerdina bertanya. "Kami akhirnya bersama setelah sekian lama, dan kami bahkan tidak berbicara."
"Saya minta maaf..."
"ngapa kamu minta maaf? Lagipula, akhir-akhir ini kamu sibuk dengan negosiasi," kata Cerdina, tampak malu. "Harap diingat bahwa Anda tidak perlu maksakan diri. Perjanjian damai tidak begitu penting untuk masa depan Estia."
Lea tetap diam. Dia tahu Cerdina ingin ngatakan lebih banyak.
"Sebenarnya, nurut saya itu adalah upaya yang konyol sejak awal. Bagaimana kita bisa berhubungan dengan binatang seperti itu?" Wajah narik Cerdina mulai berubah, ekspresinya njadi kurang nyenangkan. Penampilannya yang nyenangkan digantikan oleh sifat aslinya, dingin dan tegas. "Hal-hal vulgar itu..."
Lea nelan ludah. Dia rasakan tenggorokannya tercekat, dan mulutnya tiba-tiba terasa sangat kering. Kata-kata Cerdina telah nghilangkan keraguan yang dia rasakan sejak makan siang. Cerdina tidak ingin bernegosiasi sejak awal. Tapi kenapa? Leah tidak dapat mahaminya, ngetahui bahwa Blain mungkin akan nggantikan takhta. Jika reka miliki perjanjian damai, reka dapat ngekang pengaruh Byun Gyeongbaek...
"Tapi, Leah..." Cerdina berbicara sekali lagi, ngamati Leah dengan cermat. "Apakah berat badanmu bertambah?"
Dia ngerutkan kening, dan di bawah kontar pedas itu, Leah rasa seolah-olah ada yang nekan dadanya. Tanpa sadar, dia ncengkeram gaunnya.
"Sesibuk apapun kamu, kamu tidak boleh ngabaikan sesuatu yang begitu ndasar, bukan?" Tangan halus Cerdina mbelai pipi pucat Leah. ski terlihat seperti sikap penuh kasih sayang, Leah getar saat disentuh. "Saya harap Anda tidak ngecewakan saya."
Setiap kali Leah berdiri di hadapan ratu, dia rasa seperti gadis kecil yang rapuh. Seolah semua keyakinan dan pengalamannya nguap, dan dia kembali njadi anak tak berdaya yang tidak bisa berbuat apa-apa selain getar ketakutan. Suara Leah terdengar getar dan tak berdaya.
"Aku akan berhati-hati."
"Ingatlah untuk manggilku ibu ketika kamu berbicara denganku."
"Baiklah. Ibu."
"Ya. Kamu sangat baik," Cerdina tersenyum. Dia bisa lihat ketakutan di mata Leah. "Sangat jinak. Saya telah ngajar anak-anak saya dengan baik, bukan begitu?"
Leah ngangguk cepat, dan Cerdina tersenyum lebar.
"Putra mahkota!" Seorang petugas berteriak, bergegas nuju reka, panik dan berkeringat.
"Bisul? Apa yang terjadi padanya?" Mata Cerdina langsung nyipit dan penampilan tenangnya lenyap, wajahnya muram dan galak. Pergeseran cepat itu resahkan petugas.
"Yang Mulia terluka."
***
Dalam hierarki suku Kurkan, setiap suku miliki kepala sukunya sendiri, dan di atas kepala suku tersebut, ada raja. Morga, kepala suku yang mbawa darah ular, miliki bakat dalam ilmu sihir.
Seperti kaum Gipsi, hanya sedikit orang Kurkan yang miliki kemampuan nguasai ilmu sihir. Dan karena pemberian ini, Morga njadi kuat, dan naik ke puncak hierarki. Dia adalah salah satu dari sedikit orang Kurkan yang miliki kemampuan dan ketampanan yang luar biasa. Namun reputasinya adalah salah satu yang terburuk di antara rakyatnya, dan hanya kekuatannya yang nutupi kepribadiannya yang buruk.
"Mars akan keluar hari ini," katanya dingin. "Nasib buruk mbayangi kami dan nuhi udara dengan kekerasan dan agresi. Tidak sabar, mudah marah," ia ngingatkan. "Aries harus berhati-hati." Beralih ke temannya, dia bertanya, "apakah kamu Aries?"
"TIDAK."
"Lalu kamu dilahirkan di konstelasi apa?"
"Aku tidak tahu."
Morga ndecakkan lidahnya ndengar jawabannya, tidak puas. "Itu tidak bagus, Haban, tidak bagus sama sekali. Anda harus berhati-hati saat berjalan.
Pada saat itu, Haban tersandung akar pohon yang nonjol dan terjatuh, nghantam tanah dengan jeritan yang muakkan. Sayangnya, Morga telah mbacakan mantra tanpa dia sadari.
Reviews
All reviews (0)