Ishakan hanya mandangi wajah Leah yang rah. Dia selalu berperilaku sama. Dia bisa saja berbicara dengan normal, tapi dia nolak lakukannya kecuali dia mintanya terlebih dahulu. Dan sekali lagi, dia tidak punya pilihan untuk ndesak, untuk mbuat dia ngklarifikasi apa yang baru saja dia katakan.
"Apa...apa maksudmu?" dia bertanya, lalu nutup matanya rapat-rapat, malu. Pertanyaan itu terdengar sangat bodoh, seharusnya dia ngekspresikan dirinya dengan lebih anggun, lebih anggun. Wajahnya begitu panas hingga dia bisa rasakan darah naik ke ujung telinganya.
Dan bahkan setelah beberapa saat, Ishakan masih tidak respon. Dia mbuka matanya perlahan dan nemukan pria itu sedang natapnya, tanpa berkedip, seolah dia sedang lihat mangsa yang paling nggugah selera di negeri ini.
"Kau sangat cantik," gumamnya.
Lea bergidik. Jika dia bertingkah lebih manis, dia akan lahapnya utuh, ngunyahnya sampai ke tulang. Dia narik napas dalam-dalam dan lengannya luknya erat, tangannya mulai mbelai dia. Dia nggigitnya, gigitan kecil, sesekali nghisap kulit sensitifnya, dan Leah tetap linglung, gangi kue di tangannya.
Terdengar suara siulan samar di kejauhan. Ishakan berhenti, ngerutkan kening. "Sekarang aku benar-benar harus pergi," desahnya. "Jangan kaget jika Morga muncul."
Leah tersadar dari lamunannya. Ini adalah pertama kalinya dia ndengar nama itu, tapi dia ngira Ishakan pasti ngacu pada pria Kurkan berambut panjang yang dia lihat sebelumnya.
"Dia bisa rapal mantra. Dia cukup bagus. Kepribadiannya agak aneh, tapi..." Ishakan terdiam. "Pokoknya, aku akan pergi." Dia ngangkatnya dan mberinya ciuman singkat, tersenyum nakal. "Aku pasti akan mbayarmu kembali untuk saputanganmu. Tunggu saat itu."
Leah hanya sempat berkedip sebelum dia nghilang secepat dia muncul. Tertinggal dan kecewa, dia duduk di sofa. Kue di tangannya jatuh ke lantai.
Setelah beberapa saat yang lama, desahan keluar darinya. Semuanya tampak tidak nyata, seolah-olah ada gelombang besar yang nerjangnya dan nghanyutkannya. Dia letakkan punggung tangannya ke pipinya dan nyadari bahwa dia masih kepanasan. Leah narik napas dalam-dalam beberapa kali, nghirup dan nghembuskan napas.
Pikirannya dipenuhi dengan pikiran-pikiran aneh. Dia berusaha nahan hatinya, tapi perasaan di dalam dirinya nderu semakin keras, bergejolak seperti ikan yang baru ditangkap, berjuang untuk larikan diri. reka luar biasa. Dia tidak bisa ngendalikan reka. Dia terus ndengar kata-kata Ishakan.
Tiba-tiba terdengar suara dari luar.
"Putri." Countess lissa berbicara, dan Leah rasa seolah-olah air es telah disiramkan ke tubuhnya. Gejolaknya reda. Dia harus pergi berburu elang bersama Cerdina, dan dia telah lupakan semuanya.
Badai yang ditimbulkan Ishakan dalam dirinya njadi tenang. Bayangan Cerdina mbayangi dirinya, dan, rasa seolah-olah dia terjebak dalam mimpi buruk, Leah njawab.
"Aku keluar," katanya sambil keluar dari tenda.
***
Cerdina telah nyelesaikan persiapannya dan sudah mberi makan elangnya. Burung itu nancapkan cakarnya ke dalam sarung tangan tebalnya saat makan sepotong daging yang dia tawarkan. Cerdina hanya mberikannya satu gigitan karena elang tidak akan berburu secara efektif jika sudah kenyang.
"Selamat datang, Lea."
Leah ngenakan sarung tangan kulit yang nutupi lengannya dan mbuka sangkar berisi elang miliknya. lepaskan tali yang ngikat kakinya, dia mbiarkannya terbang, dan para pemburu bergegas ngikutinya. Elang itu makai mainan yang mbuatnya mudah diikuti.
skipun reka mulai pada saat yang sama, elang Cerdina sudah jauh lampaui elang Leah. Leah nggigit bibirnya saat dia lihat elangnya di udara.
Cerdina mandang Leah dan tersenyum pada dirinya sendiri. "Bagaimana kalau kita pergi juga?"
mimpin wanita lainnya, Cerdina bergerak maju dan Leah ngikuti dari belakang. Jika reka berjalan cukup lambat, para pemburu akan nemukan elang dan mangsanya sendiri dan kembali. Hutan dipenuhi suara kicau burung, ski dingin.
nyesuaikan ujung gaunnya, Leah mperhatikan Cerdina dengan penuh perhatian. Karena Cerdina adalah seorang Gipsi, bisakah dia nggunakan sihir? Leah pernah ndengar bahwa hanya sedikit orang Gipsi yang bisa lakukannya, tapi Ishakan tidak akan mbawa seorang Kurkan yang mampu rapal mantra jika dia tidak punya alasan yang kuat. Hal ini dapat mbuat situasi njadi lebih rumit, namun Leah telah berhasil ngatasi sebagian besar tantangan sejauh ini...
Dia ngalihkan perhatiannya ke wanita bersama Cerdina. reka berasal dari keluarga bangsawan masyarakat kelas atas, dan reka ngikuti ratu seperti bayangan tanpa ekspresi.
Leah nduga Cerdina tidak dikaruniai lingkaran pertemanan yang erat. Para wanita akan tetap berada di sisinya sampai batas tertentu, tetapi Cerdina pasti telah nemukan kelemahan reka. Leah tanpa lelah ncari kelemahan Cerdina sendiri, tapi sayangnya tidak nemukannya. Sang ratu harus miliki keterampilan yang hebat untuk nyembunyikannya dengan baik. Tapi jika ada sihir yang terlibat...
Hal-hal yang Leah pertanyakan mulai nyatu. Raja Estia yang keras kepala telah ngalami kemunduran setelah nobatkan Cerdina sebagai ratunya. Benarkah usia tua yang ngaburkan penilaiannya?
Leah lamun ketika Cerdina berhenti berjalan dan ngalihkan pandangannya ke Leah, tersenyum dengan cara yang paling manis...
Reviews
All reviews (0)