Jari-jari Blain narik tali busur dengan kencang. Para pelayannya tidak berani nghalanginya. ngingat kepribadiannya yang ngerikan, para pengawal dan pemburu takut dia akan lepaskannya, dan nahan napas. Namun, sentara semua orang lumpuh, Ishakan tertawa. skipun matanya bisa tertusuk anak panah, dia tampak geli, matanya bersinar.
"Bisakah kau lepaskan tali busur itu?" tanyanya dengan arogan. "Seorang bayi yang hanya lakukan apa yang diminta darinya, dan yang selalu nempel pada rok ibunya."
"...!"
Tangan yang gang tali busur getar, dan napas Blain semakin tidak teratur. Ujung anak panah bergetar, tetapi masih ngarah ke Ishakan.
"Kau tidak pernah lakukan apa pun sendiri. Kau bahkan tidak tahu apa yang kauinginkan, kau hanya nggunakan sang putri sebagai tang." Ishakan ngusap dagunya. "Lihatlah sekelilingmu, Putra Mahkota. Tidak ada seorang pun di sini yang bisa lindungimu, apa yang akan kau lakukan?"
Mata emasnya bersinar aneh di tengah hutan yang gelap. Dia berbisik pelan kepada Blain.
"Bisakah kau nembakkan anak panah itu padaku?"
Blain nggertakkan giginya, nggumamkan serangkaian hinaan. Tepat saat mata Ishakan lengkung puas, Blain akhirnya lakukan sesuatu yang seharusnya tidak dilakukannya.
Anak panah itu lesat keluar.
"..."
Blain nahan napas. Tangannya getar, jadi tidak ngenai mata Ishakan. Sebaliknya, tangannya tersangkut di bahunya.
Kemudian semuanya terjadi dalam sekejap mata. Ishakan ngangkat busurnya dan nembak kuda yang ditunggangi Blain. Kuda itu berdiri tegak, ringkik, dan Blain terjatuh, diikuti oleh Ishakan, yang nginjak pergelangan tangannya. Blain njerit kesakitan saat tulang-tulangnya patah.
"Yang mulia!!!"
Hutan itu langsung njadi kacau. Para pelayan Blain berteriak, dan para kesatria nghunus pedang reka. Di antara manusia yang berisik itu, hanya orang-orang Kurkan yang tetap diam. reka nonton, tanpa ekspresi dan emosi, seolah-olah reka telah ramalkan keributan itu. Namun ketika para kesatria itu ndekat, reka bergerak untuk nghalangi reka, sehingga tidak seorang pun dapat ncapai Ishakan dan sang Pangeran.
"Keluar dari jalan!"
"Kita tidak bisa lakukan itu. Putra Mahkota-lah yang ngusulkan pertarungan dominasi hierarkis."
"Perebutan dominasi hierarki! Sungguh perilaku yang vulgar dan biadab...!"
Haban dengan wajah tanpa ekspresi, mperingatkan kesatria yang tak terkendali itu.
"Pergilah jika kau ingin mati."
"..."
Suku Kurkan natap reka dengan dingin. skipun jumlah reka tidak sampai sepuluh orang, para kesatria itu mundur dengan ekspresi ketakutan.
Saat keributan terjadi di belakangnya, Ishakan ncabut anak panah dari bahunya dan lemparkannya ke tanah. Sambil ncengkeram leher Blain, ia ngangkatnya, ngabaikan darah yang ngucur dari lukanya. Blain berjuang sekuat tenaga, tetapi kakinya tidak nyentuh tanah dan pergelangan tangannya terpelintir ke arah yang aneh.
Ishakan tersenyum pada Blain yang natapnya seolah ingin mbunuhnya.
"Bukankah kau yang nyerang lebih dulu?" Ucapan Ishakan penuh ketulusan. "Bertindak mbela diri, Putra Mahkota."
***
Perburuan itu berakhir dengan cara yang paling buruk.
Blain dibawa kembali dengan kereta seperti salah satu hewan yang dikenang. Cerdina lupa akan sikapnya yang anggun dan bersikap seolah-olah dia sudah gila. Banyak yang terkejut lihat ratu yang biasanya baik dan lembut itu hampir ngigau. skipun dia sudah gila karena cedera yang dialami putranya, perilakunya tetap saja aneh.
Sambil nangis panik, dia lihat orang-orang Kurkan ndekat dan ngawasi reka dengan mata rah, lalu natap Ishakan. Dia berbicara dengan tenang, skipun dia natapnya dengan kebencian.
"Itu adalah kecelakaan yang tidak terduga."
Sudut bibirnya terangkat. Dengan senyum yang nghantui, dia berkata dengan jahat, "Anda akan nyesali ini, Raja."
Reviews
All reviews (0)