Kembali ke tempat Rid dan pasukan ekspedisi berada.
Setelah lihat pegunungan Orokho yang tepat berada di depanku, aku lalu lihat ke sekitarku. Saat lihat ke sekitar, aku lihat hampir semua orang yang ikut dalam ekspedisi rasa kedinginan. ski reka tidak bilang kalau reka kedinginan, tetapi itu terlihat dari gestur tubuh reka.
Bahkan para anggota keluarga San Lucia yang dikenal tahan terhadap suhu dingin juga rasa kedinginan ketika reka nginjakkan kaki di tempat ini. Para anggota keluarga San Lucia yang rasa kedinginan yang aku lihat adalah Irene, senior Nadine, dan yang lainnya. Untuk Duke Louis, Duchess Arlet, komandan Asier, dan komandan Ivana, aku tidak tahu apakah reka rasa kedinginan karena gestur tubuh reka tidak nandakan kalau reka kedinginan. Mungkin saja reka sebenarnya kedinginan tetapi reka masih bisa nahan untuk tidak mbuat gestur tubuh yang nandakan kalau reka kedinginan, sama sepertiku.
Saat ini, aku juga rasa kedinginan. Jubah tebal yang aku dan yang lainnya kenakan ternyata tidak bisa nahan dinginnya suhu di pegunungan Orokho ini.
"Suhu di tempat ini benar-benar sangat dingin, bahkan lebih dingin dari suhu di kota San Lucia," ucap Lily yang rasa kedinginan.
"Iya, kamu benar, Lily," ucap Leandra yang juga ikut rasa kedinginan.
Terlihat asap putih keluar dari mulut reka ketika reka berbicara. Tidak hanya saat berbicara saja, asap putih itu juga keluar dari mulut reka ketika reka nghembuskan nafas. Sebegitu dinginnya suhu di tempat ini sampai asap putih pekat selalu keluar dari mulut reka setiap reka nghembuskan nafas. Padahal di kota San Lucia tidak sampai seperti ini.
Sentara itu, Duke Louis dan Duchess Arlet sudah nyadari kalau hampir semua orang yang ikut dalam ekspedisi ini rasa kedinginan. Oleh karena itu, reka langsung mberi suatu perintah.
"Untuk para prajurit yang bisa nggunakan sihir api yang cukup panas, aku minta tolong untuk nggunakan sihir kalian agar kami semua tidak kedinginan dan tetap rasa hangat di pegunungan ini," ucap Duchess Arlet.
Setelah ndengar perkataan Duchess Arlet, beberapa prajurit yang nuhi kriteria dari Duchess Arlet pun langsung nanggapi perkataannya.
"Baik, nona Duchess," ucap beberapa prajurit itu.
Setelah itu, beberapa prajurit itu pun bersiap untuk ngaktifkan sihir reka. Tetapi sebelum itu, aku langsung nghentikan reka.
"Berhenti," ucapku.
Semua orang yang ada di tempat itu pun terkejut dengan perkataanku. Beberapa prajurit yang bersiap untuk ngaktifkan sihir reka pun batal ngaktifkannya.
Lalu, Duchess Arlet yang bingung kenapa aku nyuruh reka berhenti pun bertanya kepadaku.
"Ada apa, Rid? Kenapa kamu nyuruh reka untuk berhenti?," tanya Duchess Arlet.
"Jika reka terus nggunakan sihir api untuk nghangatkan kita semua selama berada di pegunungan ini, dikhawatirkan reka akan kehabisan Mana lebih dulu sebelum kita bertemu makhluk itu. Kita masih mbutuhkan bantuan reka untuk ngalahkan makhluk itu dan para naga es ciptaannya. Jadi aku ingin nghemat Mana reka agar reka tidak cepat kelelahan,"
"Sebagai gantinya biar aku saja yang lakukannya, bibi Arlet. Aku akan nghangatkan kalian semua dengan sihir apiku," ucapku.
~ Fire Magic : Calefaciens Ignis ~
Dengan sihir apiku itu, aku nciptakan sebuah kobaran api berukuran sedang yang layang dan berada di tengah-tengah kami semua. Setelah kobaran api itu muncul, semua orang yang sebelumnya rasa kedinginan, kini tidak lagi rasa kedinginan. Aku bisa ngetahuinya karena reka sudah berhenti mbuat gestur tubuh yang rasa kedinginan. Asap putih pun tak lagi muncul setiap reka nghembuskan nafas reka. reka semua pun langsung terkejut begitu reka sudah tidak rasakan kedinginan lagi.
"Aku sudah tidak rasa kedinginan lagi. Ini sungguhan!?,"
"Aku juga tidak rasa kedinginan lagi,"
"Aku juga," ucap orang-orang itu.
Sentara itu, dari banyaknya orang yang terkejut karena sudah tidak rasakan kedinginan lagi, ada beberapa orang yang justru lebih terkejut begitu nyadari kalau Rid bisa nghangatkan semua orang dengan 1 sihirnya, dimana seharusnya sulit bagi orang lain untuk lakukan itu.
"Apa-apaan sihirnya itu? Hanya dengan 1 sihir api sudah bisa nghangatkan semua orang yang ikut dalam ekspedisi ini!?,"
"Kemarin dia sudah lakukan hal yang sangat luar biasa, dan sekarang dia lakukannya lagi," ucap beberapa orang itu.
Lalu, setelah berhasil mbuat sihir api itu, aku lalu noleh ke arah Duchess Arlet. Aku ingin lihat bagaimana tanggapan Duchess Arlet terhadap apa yang aku lakukan. Saat aku noleh ke arah Duchess Arlet, Duchess Arlet ternyata sedang berjalan nghampiriku.
"Terima kasih karena telah mbantu dengan nggunakan sihirmu, Rid. Tetapi apa tidak apa-apa jika kamu yang nghangatkan kami semua seorang diri? Itu berarti kamu harus mpertahankan sihirmu itu sepanjang ekspedisi ini," ucap Duchess Arlet sambil berjalan sampai akhirnya beliau berhenti beberapa langkah di depanku.
"Tidak apa-apa, bibi Arlet. Lagipula aku sudah bilang kalau lebih baik untuk nghemat Mana reka. Mana reka akan cepat habis apabila terus digunakan untuk nghangatkan semua orang dengan sihir reka. Jadi biar aku saja yang lakukannya, lagipula aku cukup percaya diri dengan kapasitas Manaku," ucapku.
Duchess Arlet terdiam sesaat setelah ndengar perkataanku. Namun, tidak lama kemudian beliau kembali berbicara.
"Ya sudah jika kamu berkata begitu. Sekali lagi aku ucapkan terima kasih, Rid," ucap Duchess Arlet.
"Sama-sama, bibi Arlet," ucapku.
Setelah itu, Duchess Arlet tiba-tiba natap ke arah Rid tanpa Rid sadari.
"Aku tahu kalau Rid itu bukan manusia biasa. Sudah banyak hal-hal diluar dugaan yang dia lakukan. Latih tanding antara dia dengan Asier dan Ivana yang terjadi kemarin masih belum bisa aku lupakan. Dan sekarang dia kembali lakukan hal di luar dugaan dengan mbuat sihir api untuk nghangatkan kami semua seorang diri,"
"Setiap kali Rid selalu lakukan hal diluar dugaan, selalu muncul pertanyaan yang sama di dalam diriku ini. Rid, sebenarnya kamu itu siapa?," pikir Duchess Arlet.
Disaat Duchess Arlet terus terdiam sambil natap Rid, tiba-tiba ada seorang prajurit yang dengan suara keras seperti hendak mberi laporan.
"Ada monster yang datang!!," ucap prajurit itu.
Suara prajurit itu berhasil didengar oleh semua orang yang ada di tempat itu. reka semua pun langsung bersiap setelah ndengar laporan prajurit itu. Duchess Arlet yang awalnya terdiam pun juga langsung bersiap. Begitupun dengan Duke Louis yang langsung mberi perintah dengan nggunakan alat sihir miliknya.
"Ada monster yang datang, bersiaplah untuk nyerang!," ucap Duke Louis.
Semua orang yang ada di tempat itu sudah bersiap nunggu kedatangan para monster yang akan datang. Tidak lama kemudian, tepat seperti perkataan prajurit itu, sekelompok monster dalam jumlah banyak akhirnya tiba di tempat kami berada. Kebanyakan dari monster itu adalah Ice Lizard dan Ice Yeti yang rupakan monster yang tinggal di pegunungan Orokho.
Setelah para monster itu tiba di tempat kami, para monster itu lalu langsung nyerang kami. Karena kami sudah tahu kalau reka akan datang dan nyerang, begitu reka nyerang kami, kami dapat ngatasinya dengan mudah.
Saat kami masih fokus ngatasi para monster yang nyerang kami, aku mutuskan untuk mberitahu kepada semua orang tentang sihir api yang digunakan untuk nghangatkan kami semua. Aku mberitahu reka dengan suara cukup keras agar terdengar oleh reka semua.
"Semuanya, sihir api yang aku gunakan untuk nghangatkan kita semua hanya berefek dalam radius 100 ter dari kobaran api yang aku ciptakan ini. Jadi tolong tetap berada dalam radius 100 ter dari kobaran api ini agar kalian tidak kedinginan oleh suhu ekstrem pegunungan ini," ucapku.
Setelah aku ngatakan itu, semua orang yang ndengar perkataanku langsung noleh ke arahku. reka noleh ke arahku dengan ekspresi terkejut.
"Apa!?,"
"100 ter!?,"
"Yang benar saja!? Sihir apimu ini miliki radius penghangatan sejauh 100 ter!?," ucap beberapa orang yang terkejut setelah ndengar perkataanku.
Tidak hanya reka semua saja yang terkejut, Duchess Arlet juga terkejut setelah ndengar perkataan Rid.
"Tidak ngherankan kalau reka semua terkejut. Radius 100 ter itu sudah sangat luas untuk sihir api yang digunakan untuk penghangatan seperti ini. Para prajuritku di ekspedisi sebelumnya paling hanya bisa nggunakan sihir api untuk penghangatan dalam radius 10-20 ter,"
"Tetapi ini 100 ter!? Dan lagi, hingga saat ini Rid belum nunjukkan tanda-tanda kelelahan ski nggunakan sihir dalam radius yang sangat luas itu. Lagi-lagi aku tidak bisa berkata-kata terhadapmu, Rid," pikir Duchess Arlet.
ski reka semua masih terkejut dengan perkataan Rid, tetapi hal itu tidak ngganggu fokus reka yang saat ini sedang lawan para monster yang terus nyerang reka.
-
Sentara itu, di sebuah gua yang ada di pegunungan Orokho.
Sosok wanita berwujud humanoid Naga es terlihat sedang duduk di kursi singgasananya. Matanya seperti sedang lihat ke sudut lain dari gua itu.
"Aku rasakan ada banyak orang yang datang ke pegunungan ini. Di antara banyak orang itu, aku rasakan sosok yang familiar. Kalian semua, pergi dan urus orang-orang itu," ucap wanita itu.
Setelah itu, 100 ekor naga es yang ada di hadapan wanita itu langsung terbang keluar gua untuk nyelesaikan perintah yang diberikan wanita itu.
-
Kembali ke tempat para pasukan ekspedisi berada.
Terlihat para pasukan ekspedisi sudah ngalahkan sebagian besar dari para monster yang nyerang reka. Hanya tersisa beberapa saja dari monster itu yang masih hidup. Tidak lama kemudian, seluruh monster yang nyerang reka pun berhasil dikalahkan.
"Kerja bagus, kalian semua," ucap Duke Louis lewat alat sihir yang beliau punya.
Beliau ngapresiasi kerja keras semua orang dalam ngalahkan para monster yang tiba-tiba nyerang.
"Untuk sekarang, lebih baik kita istirahat dulu. Lagipula kalian pasti cukup lelah setelah ngalahkan para monster tersebut. Kita akan kembali njelajah pegunungan Orokho setelah istirahat selesai," ucap Duke Louis.
Duke Louis masih nggunakan alat sihir ketika berbicara agar suaranya dapat didengar oleh semua orang yang ikut dalam ekspedisi.
"Baik, tuan Duke," ucap orang-orang itu setelah ndengar perkataan Duke Louis.
Setelah itu, reka lalu naruh kembali senjata yang reka gunakan. Sebagian dari reka lalu duduk di hamparan salju untuk istirahat, sentara sisanya hanya berdiri saja.
Ketika kami semua sedang istirahat, tiba-tiba aku rasakan ada banyak objek yang ndekat ke arah kami berada. Aku yang sebelumnya sudah naruh pedangku di pinggangku, lalu ngambil pedangku lagi dan langsung noleh ke arah datangnya banyak objek itu. Duke Louis dan Duchess Arlet yang terlihat bingung dengan tingkahku yang tiba-tiba ngambil pedangku lagi lalu bertanya kepadaku.
"Ada apa, Rid? Apa ada sesuatu?," tanya Duke Louis.
"Iya. Aku rasakan ada banyak objek yang sedang ndekat ke tempat kita berada. Objek itu ndekat dengan cara terbang dari arah sana," ucapku sambil nunjuk ke arah datangnya objek itu.
"Banyak objek terbang yang sedang ndekat ke tempat kita berada?," tanya Duchess Arlet.
Duchess Arlet awalnya bingung dengan objek terbang yang aku maksud. Tetapi tidak lama kemudian, beliau terlihat seperti sudah tahu apa objek terbang yang aku maksud itu.
"Jangan bilang!?," ucap Duchess Arlet.
Tepat setelah Duchess Arlet ngatakan itu, objek terbang yang aku maksud terlihat sudah mulai bermunculan dari arah yang aku tunjuk barusan. Semua orang yang sebelumnya sedang beristirahat langsung bersiaga dengan ngambil dan gang senjata reka masing-masing. reka lalu noleh dan lihat ke arah datangnya objek terbang itu untuk lihat objek terbang itu lebih teliti. Semakin dekat objek terbang itu dengan tempat kami berada, semakin jelas juga wujud dari objek terbang itu. Ketika reka semua sudah lihat wujud objek terbang itu dengan jelas, reka semua pun langsung terkejut.
"Objek yang terbang itu, bukankah itu naga? Selain itu, jumlahnya ada banyak sekali," ucap salah satu anggota pasukan ekspedisi.
Objek terbang itu ternyata adalah adalah Naga, dan jumlah reka sangatlah banyak.
"Jumlah reka itu kira-kira ada 100 ekor," ucapku.
Beberapa anggota pasukan ekspedisi yang ndengar perkataanku pun langsung terkejut.
"100 ekor!?,"
"Jadi maksudmu jumlah naga itu ada 100 ekor!?,"
"ngalahkan 1 ekor naga saja sudah cukup sulit, dan sekarang kami harus ngalahkan 100 ekor!?," ucap beberapa anggota pasukan ekspedisi.
reka sepertinya masih tidak percaya dengan apa yang reka lihat. Ini pertama kalinya reka lihat naga, tentu reka akan sangat terkejut. Apalagi yang reka lihat saat ini ada sekitar 100 ekor naga. Jika berpacu pada buku atau informasi yang mberitahu soal beragam macam ras di dunia ini, tentu ngalahkan 1 ekor naga cukuplah sulit. Tetapi itu jika naga itu rupakan naga asli. Sedangkan naga yang terbang nghampiri kami semua saat ini, bukanlah naga asli. Aku sudah tahu itu dari awal, makanya aku nyebut reka dengan kata ’objek’ bukan dengan ’makhluk’ karena reka bukan ’makhluk asli’.
Disaat beberapa orang masih terkejut dengan kemunculan para naga itu, Duchess Arlet tiba-tiba berbicara untuk nenangkan reka semua.
"Semuanya tetap tenang. Para naga itu bukanlah naga sungguhan, reka hanyalah naga yang terbuat dari es. Sebelumnya aku sudah bilang kan kalau makhluk yang tinggal di pegunungan Orokho ini bisa nciptakan banyak naga es? Para naga es itu lah makhluk ciptaannya,"
"Sekarang lebih baik kita segera nghancurkan para naga es itu. Makhluk itu pasti akan muncul setelah kita nghancurkan para naga es itu," ucap Duchess Arlet.
Saat Duchess Arlet ngumpulkan para prajurit yang akan ikut dalam ekspedisi, dia sudah mberitahu segala sesuatu yang dia tahu tentang kekuatan makhluk yang tinggal di pegunungan Orokho, termasuk kemampuannya dalam nciptakan naga es. reka yang ikut dalam ekspedisi ini seharusnya sudah nduga kalau akan ada banyak naga es yang muncul. reka seharusnya sudah tahu kalau hal ini mungkin akan terjadi dan reka sudah berlatih untuk ngantisipasinya. Tetapi begitu reka lihat banyaknya naga es itu secara langsung, reka hanya terdiam sambil nampilkan ekspresi yang terkejut.
ski Duchess Arlet sudah mberitahu reka sebelumnya dan bahkan kembali ngingatkan reka sekarang tentang para naga itu yang hanya rupakan naga yang terbuat dari sihir es. Hal itu tetap tidak dapat mbuat sebagian besar dari reka njadi tenang. Adanya 100 ekor naga skipun itu hanyalah naga ciptaan yang terbuat dari sihir es tetap mbuat reka terkejut dan ketakutan sehingga reka hanya terdiam saja.
"Sebagian besar dari reka hanya diam saja. Sepertinya reka masih terkejut ketika lihat ada 100 ekor naga es di hadapan reka," ucap Duke Louis sambil mperhatikan orang-orang yang terkejut.
"Apa boleh buat, kalau begitu kita lawan para naga es itu dengan orang-orang yang bisa bergerak. Asier, Ivana, bersiap untuk lawan para naga es itu," ucap Duchess Arlet sambil mberi perintah kepada komandan Asier dan komandan Ivana.
"Baik," ucap komandan Asier dan Ivana.
Duke Louis, Duchess Arlet, komandan Asier dan komandan Ivana lalu bersiap untuk nyerang para naga es yang nghampiri kami.
"Aku akan ikut mbantu juga, ibunda," ucap Irene.
"Kami juga akan ikut mbantu, nona Duchess," ucap Leandra.
Irene, Lily dan Leandra juga terlihat bersiap untuk lawan para naga es itu.
"Baiklah. Kalian semua yang masih bisa bergerak juga bersiaplah untuk lawan para naga es itu," ucap Duchess Arlet.
"Baik, nona Duchess," ucap sebagian orang dari pasukan ekspedisi.
Sentara sebagian lagi masih terdiam dan terkejut dengan para naga es yang ada di hadapan reka. Aku tidak nanggapi perkataan Duchess Arlet, ski begitu aku juga telah bersiap untuk lawan para naga es itu.
Lalu, setelah para naga es itu sudah berada sangat dekat dengan tempat kami berada, Duchess Arlet lalu rintahkan untuk langsung nyerang para naga es itu.
"Kalahkan para naga es itu!," ucap Duchess Arlet.
Duke Louis, Duchess Arlet dan semua orang yang bisa bergerak lalu maju untuk lawan para naga es itu. reka nggunakan senjata dan sihir reka untuk lawan para naga es itu. Para naga es itu tentu tidak diam saja saat reka diserang oleh Duke Louis, Duchess Arlet dan yang lainnya. reka nyerang balik dengan nggunakan cakar, ekor, dan tubuh reka. Bahkan reka juga nyerang dengan nggunakan semburan sihir es yang keluar dari mulut reka.
Beberapa orang yang ikut nyerang para naga es itu pun terkena serangan yang dilancarkan para naga es itu. Untungnya, reka hanya terluka saja skipun ada beberapa dari reka yang terluka cukup parah setelah terkena serangan itu. Saat lihat reka yang terluka setelah terkena serangan para naga es itu, aku pun berinisiatif untuk langsung nyembuhkan reka.
~Fire Magic : Fire Blessing of Full Healing~
Setelah aku ngaktifkan sihirku, beberapa bola-bola api kecil langsung keluar dari kedua tanganku yang saat ini sedang diangkat keatas ketika ngaktifkan sihirku itu. Bola-bola api kecil itu kemudian langsung lesat ke arah orang-orang yang terluka setelah terkena serangan para naga es itu. Orang-orang yang terluka itu terlihat bingung ketika lihat ada bola api kecil yang nghampirinya.
"Apa ini?,"
"Sebuah bola api kecil?," tanya orang-orang yang terluka itu.
Karena reka terlihat bingung, aku mutuskan untuk mberitahu reka agar reka tidak bingung lagi.
"Kalian jangan khawatir, bola api itu tidak berbahaya. Justru, bola api itu akan nyembuhkan kalian," ucapku.
Setelah aku ngatakan itu, bola-bola api kecil itu lalu ngenai tubuh dari orang-orang yang terluka. Setelah bola-bola api kecil itu ngenai tubuh reka, reka yang terluka pun langsung pulih. Entah itu luka ringan maupun luka yang cukup parah, semuanya langsung pulih setelah terkena bola-bola api kecil itu. Bahkan anggota tubuh reka yang mbeku setelah terkena semburan es dari para naga es itu juga langsung pulih dan es yang mbekukan anggota tubuh reka pun langsung ncair.
Ini alasan kenapa aku nggunakan sihir penyembuhan dari sihir api yang rupakan perpaduan sihir api dengan ’Blessing of Full Healing. Jika aku hanya nggunakan ’Blessing of Full Healing’ saja, anggota tubuh reka yang mbeku tidak akan pulih. Sihir api yang aku gunakan untuk penghangatan pun tidak bisa untuk ncairkan es itu. Jadi aku mutuskan nggunakan sihir penyembuhan dari sihir api agar anggota tubuh reka bisa pulih dan tidak mbeku lagi.
Orang-orang yang aku pulihkan itu pun terkejut setelah lihat tubuh reka yang terluka tiba-tiba langsung pulih setelah nyentuh bola-bola api kecil itu. Sentara itu, Duchess Arlet yang ngetahui kalau aku telah nyembuhkan orang-orang yang terluka itu lalu berterima kasih kepadaku.
"Terima kasih karena telah nyembuhkan reka, Rid," ucap Duchess Arlet.
Duchess Arlet ngatakan itu sambil lawan para naga es yang ada di hadapannya. Setelah ngatakan itu, Duchess Arlet terlihat bersiap untuk lancarkan sebuah serangan kepada beberapa naga es yang ada di hadapannya.
"Untuk sekarang mang belum ada yang tewas karena serangan para naga es itu, tetapi jika pertarungan ini berlangsung lama, mungkin saja akan ada korban tewas. Kita harus segera nyelesaikan pertarungan ini," ucap Duchess Arlet.
Setelah itu, Duchess Arlet lalu lancarkan sebuah serangan kepada beberapa naga es yang ada di hadapannya.
~San Lucia Art Secret Technique : Freezing Air Slash - Absolut Frysning~
Duchess Arlet lesat dengan sangat cepat ke arah beberapa naga es yang ada di hadapannya dan disaat yang sama juga langsung nebas beberapa naga es itu. Tidak lama setelah Duchess Arlet nebas beberapa naga es itu, tubuh beberapa naga es itu tiba-tiba diselimuti oleh bongkahan es yang sangat besar. Bongkahan es itu nyelimuti hampir 70-80% tubuh beberapa naga es itu. Bongkahan es yang nyelimuti tubuh reka itu mbuat reka tidak bisa bergerak ski tubuh reka sendiri juga terbuat dari es.
Tidak lama setelah tubuh reka diselimuti bongkahan es, bongkahan es itu tiba-tiba hancur dengan sendirinya. Tidak hanya bongkahan es itu saja, bagian tubuh beberapa naga es yang diselimuti oleh bongkahan es itu juga ikut hancur. reka pun telah dikalahkan sepenuhnya oleh Duchess Arlet.
- Bersambung
*Note dari Author :
Halo para pembaca Peace Hunter. Saya ingin minta maaf karena baru rilis bab terbaru hari ini. Sebelumnya saya dilanda cukup banyak kesibukan jadi tidak ada waktu untuk mbuat bab terbaru, makanya baru bisa rilis bab terbaru sekarang. Sebenarnya saya ingin rilis 2 bab sekaligus tetapi bab yang 1 lagi masih proses pembuatan. Prosesnya sudah 50% dan diperkirakan rilis Minggu ini jika tidak ada kesibukan lagi yang landa saya.
Itu saja yang ingin saya sampaikan. Terima kasih atas perhatiannya.
Reviews
All reviews (0)