Font Size
15px

Setelah ngalahkan beberapa naga es itu, Duchess Arlet kembali bergerak untuk lawan beberapa naga es yang masih tersisa.

Sentara itu, Irene terlihat sedikit takjub ketika lihat aksi ibundanya itu.

"Ini pertama kalinya kamu lihat ibundamu dalam pertarungan sungguhan ya, Irene?," tanya Duke Louis secara tiba-tiba.

Irene awalnya sedikit terkejut tetapi kemudian dia nyadari mungkin ayahandanya itu tadi sedang mperhatikannya yang sedang lihat aksi ibundanya.

"Tidak, ayahanda. Sebelumnya aku pernah lihat ibunda ketika bertarung lawan orang-orang yang berubah njadi iblis di akademi. Hanya saja saat itu ibunda tidak terlihat bertarung dengan serius. Aku belum pernah lihat ibunda bertarung dengan serius. Bahkan ketika latih tanding denganku, ibunda juga terlihat tidak serius lawanku," ucap Irene.

"Kali ini pun ibundamu juga belum ngeluarkan semua kemampuannya, Irene. Para naga es itu yang rupakan naga es yang terbuat dari sihir bukanlah tandingan ibundamu. Ibundamu mungkin akan ngeluarkan semua kemampuannya saat kita lawan ’makhluk itu’, sang pemimpin Roh es," ucap Duke Louis.

"Tidak hanya ibunda saja, ayahanda. Semua orang yang ada disini pasti akan ngeluarkan semua kemampuannya untuk ngalahkan makhluk itu," ucap Irene.

"Iya, kamu benar. Aku sendiri juga akan ngeluarkan semua kemampuanku," ucap Duke Louis.

Setelah Duke Louis ngatakan itu, beberapa naga es terlihat nghampiri ke tempat Duke Louis dan Irene berada. Duke Louis yang nyadari itu pun bersiap untuk bertarung kembali.

"Obrolannya kita akhiri sampai sini saja, Irene. Kita harus ngurus reka terlebih dahulu," ucap Duke Louis.

"Ayahanda benar," ucap Irene yang sudah bersiap untuk bertarung.

Setelah itu, beberapa naga es itu lalu lancarkan serangan kepada Irene dan Duke Louis, tetapi Irene dan Duke Louis dengan mudah nghindari dan nahan serangan beberapa naga es itu.

"Jumlah reka cukup banyak. Aku bisa saja ngalahkan reka sekaligus tetapi aku harus nunggu mon yang tepat," ucap Duke Louis.

"Kapan mon yang tepat itu, ayahanda?," tanya Irene.

"Saat reka semua berkumpul di satu tempat, sedangkan saat ini reka masih tersebar di kanan, kiri, depan dan belakang kita," ucap Duke Louis.

"Kalau begitu biar aku yang njadi umpan agar reka bisa berkumpul di satu tempat," ucap Irene.

Duke Louis pun terkejut setelah ndengar perkataan Irene.

"Apa? Kamu mau njadi umpan?," tanya Duke Louis.

"Iya, ayahanda," ucap Irene.

"Tidak, bagaimana mungkin seorang ayah rintahkan anaknya sendiri untuk njadi umpan. Aku tidak bisa lakukannya," ucap Duke Louis.

"Ayahanda tidak perlu khawatir, aku akan baik-baik saja. Lagipula hal ini diperlukan agar ayahanda bisa ngalahkan reka sekaligus. Apa ayahanda ingin kita ngalahkan reka satu persatu saja skipun hal itu makan waktu yang lebih lama?," tanya Irene.

Duke Louis pun terdiam sesaat setelah ndengar perkataan Irene. Namun tidak lama kemudian, dia mulai berbicara kembali.

"Baiklah, ayo kita lakukan, Irene. Kamu yang njadi umpan, aku yang akan ngalahkan reka sekaligus," ucap Duke Louis yang akhirnya nyetujui agar Irene njadi umpan.

Kemudian, Irene pun nanggapi perkataan Duke Louis.

"Baik, ayahanda," ucap Irene.

Setelah itu, Irene lesat ndekati beberapa naga es itu satu persatu lalu nyerang reka dengan rapier dan sihirnya. Irene nyerang beberapa naga itu dengan serangan biasa, bukan serangan yang kuat. Tujuannya agar beberapa naga yang diserang oleh Irene itu milih untuk nargetkan Irene, lagipula mang itulah tujuannya yaitu untuk njadi umpan. Setiap naga es di sekitarnya yang masih belum nargetkan dirinya langsung Irene dekati dan nyerang naga es itu agar naga es itu nargetkan dirinya. Irene terus lakukan hal itu sampai semua naga di sekitarnya nargetkan dirinya.

Sentara itu, disaat beberapa naga es itu sedang terfokus dengan Irene, Duke Louis yang saat ini sedang dalam kondisi aman karena tidak ada naga es yang ngincarnya terlihat sedang ngangkat pedangnya ke atas dengan tangan kanannya sambil lafalkan sebuah mantra.

"Kepingan salju abadi, turunlah,"

"Hancurkan lawanku dalam hujan kepingan tajam nyelimuti,"

"Hingga tiada daya, tunduk dan hening."

Setelah Duke Louis selesai lafalkan mantra, Duke Louis lihat beberapa naga es yang nargetkan Irene sudah berkumpul di satu tempat, reka tidak tersebar lagi seperti sebelumnya. lihat itu, Duke Louis pun langsung rintahkan Irene untuk nghindar karena dia akan lancarkan sihir kepada beberapa naga es itu.

"Irene, njauhlah sedikit dari tempatmu berada saat ini," ucap Duke Louis.

"Baik, ayahanda," ucap Irene.

Irene pun kemudian langsung pergi lesat untuk njauh dari tempatnya saat ini. Tepat saat Irene sudah lesat pergi, Duke Louis pun langsung lancarkan sihirnya.

~Ice Magic : Rain of Snowflakes~

Setelah Duke Louis lancarkan sihirnya itu, kepingan salju dalam jumlah yang sangat banyak tiba-tiba berjatuhan dari atas tempat beberapa naga es itu berada. Sebagian besar orang yang ada di dekat tempat itu terkejut ketika lihat munculnya kepingan-kepingan salju yang turun itu, sentara sisanya terlihat sedang fokus lawan para naga es yang masih tersisa.

Lalu, kepingan salju yang berjatuhan itu pun langsung ngenai tubuh beberapa naga es itu. Ketika kepingan salju itu ngenai bagian tubuh dari beberapa naga salju itu, bagian tubuh reka tiba-tiba hancur seketika. Padahal yang nghujani reka terlihat hanyalah kepingan-kepingan salju biasa, namun nyatanya setiap kepingan salju itu miliki bobot yang sangat berat sehingga mampu nghancurkan bagian tubuh dari naga es itu yang dikenainya.

Kepingan-kepingan salju itu terus berjatuhan selama kurang lebih 5 nit. Debu asap berwarna putih pun bermunculan dan semakin tebal seiring kepingan-kelingan salju itu terus nghujani tempat itu. Setelah itu, kepingan salju itu pun berhenti nghujani tempat itu. Hanya saja, debu asap efek dari kepingan salju yang nghujani tempat itu saat ini masih belum hilang. Debu asap itu masih cukup tebal dan pekat.

Namun seiring waktu, debu asap itu pun perlahan mulai nghilang. Setelah debu asap itu nghilang, terlihat jelas kondisi di tempat itu setelah kepingan-kepingan salju nghujani tempat itu. Terlihat beberapa naga es yang sebelumnya nargetkan Irene kini sudah dikalahkan semuanya. Tubuh reka semua sudah sepenuhnya hancur karena dihujani oleh kepingan-kepingan salju yang tercipta dari sihir Duke Louis.

Sebagian besar orang yang ada di dekat tempat itu kembali terkejut setelah lihat beberapa naga itu telah hancur oleh sihir Duke Louis. Irene pun juga terlihat sedikit terkejut ketika lihat kondisi beberapa naga es itu.

"Aku tidak nyangka beberapa naga es itu langsung hancur setelah terkena 1 serangan sihir milik ayahanda. Tetapi ngingat posisi ayahanda sebagai seorang Duke, wajar kalau ayahanda sekuat ini. Mungkin lain kali aku akan ncoba untuk latih tanding dengannya jika ayahanda tidak sibuk," pikir Irene.

Setelah mikirkan itu, Irene lalu berbalik untuk nghampiri Duke Louis. Tetapi ketika Irene berbalik, Irene lihat ada 4 ekor naga es yang berada di belakang Duke Louis. Duke Louis terlihat belum nyadari ada 4 ekor naga es di belakangnya. lihat hal itu, Irene tiba-tiba langsung lesat dengan cepat ke arah Duke Louis.

"Ayahanda, nunduk!," ucap Irene sambil lesat ke arah Duke Louis.

Duke Louis tidak tahu kenapa Irene nyuruhnya untuk nunduk, tetapi ski begitu Duke Louis tetap nurutinya. Duke Louis pun langsung nunduk, sentara Irene terlihat bersiap untuk lancarkan sebuah serangan dengan raipernya. Setelah Irene sudah berada di depan Duke Louis yang sedang nunduk, Irene lalu lancarkan serangan kepada 4 naga es yang terlihat sudah ingin nyerang Duke Louis.

~San Lucia Art Secret Technique : Rain of Snowflakes - Death Slash~

Kepingan-kepingan salju tiba-tiba bermunculan tepat sebelum Irene lancarkan serangannya itu. Kepingan-kepingan salju itu bermunculan dan nempel di beberapa anggota tubuh 4 naga es itu seperti di kepala, tangan, kaki, badan, sayap dan lain-lain. Kemudian, Irene pun lancarkan serangannya itu kepada 4 naga es itu. Setelah Irene lancarkan serangannya itu, anggota tubuh dari 4 naga es yang tertempel oleh kepingan-kepingan salju itu tiba-tiba langsung terpotong. Semua anggota tubuh 4 naga es yang tertempel oleh kepingan-kepingan salju itu terpotong tanpa terkecuali. 4 naga es itu pun langsung tumbang dengan anggota tubuh yang telah terpotong-potong.

Beberapa prajurit yang ada di sekitar tempat itu terlihat terkejut ketika lihat Irene berhasil ngalahkan 4 naga es itu dengan 1 serangan. Sentara Irene, setelah berhasil ngalahkan 4 naga es itu, dia lalu gangi tubuh Duke Louis yang berada di depannya.

"Ayahanda tidak apa-apa?," tanya Irene yang terlihat sedikit cemas.

Duke Louis yang awalnya masih nunduk secara perlahan mulai berdiri tegap kembali. Setelah kembali berdiri tegap, Duke Louis terlihat tersenyum ke arah Irene.

"Terima kasih, Irene. Aku tahu kalau kamu bisa ngatasi reka," ucap Duke Louis.

Irene terlihat bingung dengan perkataan Duke Louis, tetapi tidak lama kemudian, Irene mulai nyadari apa maksud perkataan Duke Louis.

"Jadi ayahanda sebenarnya sudah tahu kalau ada 4 naga es yang ingin nyerang ayahanda dari belakang?. Aku kira ayahanda tidak tahu jadi aku bergegas untuk nolong ayahanda," ucap Irene.

"Tentu saja aku sudah tahu. Aku bisa saja ngatasi reka berempat tetapi aku pikir mon ini bisa dimanfaatkan untuk lihat tindakan apa yang akan kamu lakukan jika kamu lihatku yang akan diserang oleh 4 naga es itu. Dan ternyata kamu milih untuk bergerak nolongku," ucap Duke Louis.

"Tentu saja aku akan bergerak untuk nolong ayahanda jika aku lihat ayahanda akan diserang seperti tadi. Mana mungkin seorang anak akan diam saja lihat ayahnya akan diserang," ucap Irene.

Duke Louis pun tersenyum setelah ndengar perkataan Irene.

"Terima kasih karena telah nolongku, Irene. Tindakanmu yang langsung bergerak untuk nolongku itu benar-benar luar biasa. Aku harap kamu juga lakukan itu jika ada orang lain yang berada di situasi yang sama dengan yang aku alami tadi," ucap Duke Louis.

Setelah ndengar perkataan Duke Louis, Irene pun terdiam sesaat sambil mikirkan sesuatu.

"Begitu ya. Apa yang dilakukan ayahanda tadi rupakan semacam tes untukku. Ayahanda ingin lihat apa tindakan yang aku lakukan jika di hadapanku ada orang yang sedang berada dalam bahaya seperti yang dialami ayahanda tadi," pikir Irene.

Setelah mikirkan itu, Irene lalu berbicara kembali untuk nanggapi perkataan Duke Louis.

"Baik, ayahanda. Aku juga akan lakukan hal yang sama jika di hadapanku ada orang lain yang berada di situasi yang sama," ucap Irene.

-

Sentara itu, di sisi komandan Asier dan komandan Ivana.

Komandan Asier dan komandan Ivana terlihat sedang lawan para naga es yang ada di sekitar reka. Sebelumnya, ketika Irene ngalahkan 4 naga es yang hendak nyerang Duke Louis, komandan Asier sempat lihat ke arah Irene. Komandan Asier terlihat bangga saat lihat adiknya itu berhasil nguasai salah satu dari teknik rahasia keluarga San Lucia.

"Ibunda sudah mberitahuku kalau Irene sudah bisa nggunakan teknik rahasia keluarga San Lucia karena beliau sendiri yang ngajarkannya. Tetapi ini pertama kalinya aku lihat Irene nggunakannya secara langsung. Seperti yang diharapkan dari adikku," ucap komandan Asier sambil lawan para naga es yang ada di sekitarnya.

Komandan Ivana yang juga sedang lawan para naga es yang ada di sekitarnya lalu nanggapi komandan Asier yang berbicara.

"Irene tidak hanya diajari dan dilatih oleh nona Arlet saja, tetapi juga dilatih oleh Rid. Dalam beberapa waktu ke depan, mungkin saja Irene akan jauh lebih kuat dari kita berdua, Asier," ucap komandan Ivana.

"Iya, mungkin saja. Sepertinya saat ini kita tidak boleh hanya bersantai-santai saja, kak Ivana. Kemarin kita berdua sudah diberi ’pelajaran yang berharga’ oleh Rid dan sekarang kita nyadari kalau Irene mungkin saja akan lampaui kita,"

"Jika Irene berhasil lampauiku, sebagai kakaknya aku tentu bangga padanya. Tetapi hal itu juga akan mbuatku sedikit kecewa apabila aku jadi lebih lemah dari Irene. Oleh karena itu, sepertinya mulai saat ini aku tidak bisa bersantai-santai saja. Aku harus njadi lebih kuat lagi," ucap komandan Asier.

Komandan Ivana yang ndengar perkataan Asier pun lalu tersenyum.

"Iya, kamu benar. Kita tidak boleh bersantai-santai lagi. Kita harus njadi lebih kuat," ucap komandan Ivana.

Setelah itu, baik komandan Asier dan komandan Ivana terlihat sedang bersiap untuk lancarkan sebuah serangan.

~San Lucia Art Secret Technique : Frozen Flower Petals - Estirmina~

Komandan Asier lancarkan sebuah tebasan es berukuran cukup besar ke arah para naga es yang ada di hadapannya. Jika dilihat lebih teliti, tebasan es yang dilancarkan oleh komandan Asier bukanlah tebasan es seperti biasanya, lainkan adalah kelopak bunga es dalam jumlah banyak yang nyatu dan mbentuk sebuah tebasan es berukuran cukup besar.

Tebasan kelopak bunga es yang dilancarkan oleh komandan Asier lalu ngenai para naga es yang ada di hadapannya. Begitu tebasan itu ngenai tubuh dari para naga es itu, tubuh para naga es itu langsung hancur berkeping-keping. Tubuh reka semua yang dikenai oleh tebasan itu sama sekali tidak bersisa. Para naga es yang ada di hadapan komandan Asier pun berhasil dikalahkan oleh komandan Asier dengan tebasan itu.

Sentara itu, di saat yang sama, Komandan Ivana terlihat bersiap untuk lancarkan serangan ke para naga es yang ada di hadapannya. Komandan Ivana terlihat seperti ingin lancarkan serangan tusukan kepada para naga es itu.

Lalu, saat komandan Ivana sedang bersiap untuk lancarkan serangannya itu, beberapa kelopak bunga yang terbuat dari salju tiba-tiba berjatuhan dan hinggap di atas kepala para naga es itu satu persatu. Setelah semua kepala para naga es itu sudah dihinggapi oleh kelopak bunga itu, komandan Ivana lalu lancarkan serangannya itu.

~San Lucia Art Secret Technique : Rain of Snow Petals - Disorder~

Komandan Ivana lancarkan serangan tusukan ke arah salah satu kelopak bunga yang hinggap di atas salah satu dari para naga es itu. ski jarak antara komandan Ivana dengan naga es itu cukup jauh, komandan Ivana tetap lancarkan serangan tusukan itu. Setelah lancarkan serangan itu, sebuah sinar atau laser yang terbuat dari es muncul dari ujung pedang milik komandan Ivana. Sinar itu lalu lesat ke arah kelopak bunga yang ditandai oleh komandan Ivana sebelumnya. Sinar es itu lesat dengan cepat dan langsung nghancurkan kelopak bunga itu dalam sekejap. Tidak hanya nghancurkan kelopak bunga itu saja, sinar es itu juga lubangi kepala dari naga es yang dihinggapi oleh kelopak bunga itu. Naga es itu pun langsung tumbang setelah sinar es itu lubangi kepalanya.

Tidak berhenti sampai disitu saja, sinar es yang baru saja lubangi naga es itu terus lesat ke kelopak bunga yang masih hinggap di kepala para naga es yang lainnya. Sinar es itu lesat dengan cepat untuk nghancurkan kelopak bunga itu satu persatu. Tidak lama kemudian, semua kelopak bunga yang hinggap di kepala para naga es itu pun telah hancur. Bersamaan dengan hancurnya kelopak bunga itu, kepapa dari para naga es itu juga telah dilubangi oleh sinar es itu. Para naga es itu pun langsung tumbang setelah kepala reka telah dilubangi oleh sinar es itu. Kini, para naga es yang ada di sekitar komandan Asier dan komandan Ivana telah dikalahkan semuanya.

Para prajurit yang lihat aksi reka berdua terlihat sangat terkejut.

"Jadi ini kemampuan sebenarnya dari komandan prajurit kerajaan San Fulgen?,"

"Jika reka berdua saja sudah sangat sekuat ini, bagaimana dengan Rid sendiri?," tanya orang-orang itu.

Disaat orang-orang itu masih terkejut ketika lihat aksi dari komandan Asier dan komandan Ivana, beberapa naga es tiba-tiba nghampiri reka dari segala arah. Jumlah naga es itu terlihat cukup banyak, sekitar belasan naga es. reka pun kembali terkejut begitu lihat kalau para naga es itu telah ngepung reka. Tidak hanya ngepung saja, para naga es itu juga telah bersiap untuk nyerang reka.

Duke Louis, Duchess Arlet, komandan Asier dan komandan Ivana yang lihat hal itu langsung bereaksi dan segera bergegas nuju tempat reka untuk nolong reka. Tetapi baru sebentar reka bergerak, terlihat ada seseorang yang lesat dengan sangat cepat ke tempat para prajurit itu dan langsung nyerang para naga es itu dengan pedangnya.

~Secret Sword Art - Dragon Slayer Technique : Full Moon Slash~

Serangan yang dilancarkan oleh orang itu pun langsung mbuat tubuh para naga es yang ngepung para prajurit itu terbelah njadi dua. Para naga es itu pun langsung dikalahkan dalam sekejap

Para prajurit yang lihat hal itu terlihat hanya terdiam saja. Tidak lama setelah itu, para prajurit itu lalu lihat ke sekeliling reka. Di sekeliling reka itu terdapat tubuh para naga es yang terbelah njadi dua setelah terkena serangan barusan. Saat lihat tubuh para naga es itu, barulah reka terkejut ketika lihat para naga es yang sebelumnya bersiap untuk nyerang reka tiba-tiba langsung dikalahkan dalam waktu singkat.

"Yang benar saja?!?!,"

"Naga es sebanyak ini dikalahkan hanya dengan 1 tebasan?!," ucap orang-orang itu.

Setelah lihat ke sekeliling reka, reka lalu lihat ke sosok orang yang ngalahkan para naga es itu. Orang itu kini sedang berdiri tidak jauh dari reka.

"Tetapi jika itu dia, maka itu tidaklah ngherankan,"

"Kamu benar. Tidak ngherankan kalau Rid Archie lah yang lakukan hal ini,"

"Setelah lihat apa yang terjadi kemarin, sepertinya aku tidak akan terkejut lagi apabila lihat Rid Archie lakukan hal yang diluar dugaan lagi," ucap para prajurit itu.

Seperti perkataan para prajurit itu, aku lah yang baru saja ngalahkan para naga es yang ngepung para prajurit itu. Setelah ngalahkan para naga es itu, aku lalu nanyakan kondisi para prajurit itu.

"Apa kalian semua terluka?," tanyaku.

Para prajurit itu lalu saling lihat satu sama lain. Tidak lama kemudian, salah satu dari prajurit itu mulai berbicara.

"Tidak ada satupun dari kami yang terluka. Ini semua berkatmu, Rid Archie. Terima kasih," ucap prajurit itu.

Para prajurit yang lain pun ikut berterima kasih kepadaku.

"Sama-sama," ucapku.

Sentara itu, di sisi komandan Asier dan komandan Ivana.

Komandan Asier dan komandan Ivana yang sebelumnya sedang bergerak ke tempat para prajurit itu, kini sedang berhenti bergerak dan terdiam sambil lihat ke arah Rid.

"Bisa-bisanya dia ngalahkan naga es sebanyak yang muncul dari segala arah itu hanya dengan 1 serangan tebasan," ucap komandan Ivana.

"Yah jika itu Rid, aku tidak heran dia bisa lakukannya," ucap komandan Asier.

Sentara itu, di sisi Duchess Arlet.

Sama seperti komandan Asier dan komandan Ivana, Duchess Arlet kini juga sedang terdiam sambil lihat ke arah Rid.

"Lagi-lagi Rid kembali lakukan hal yang diluar dugaan," pikir Duchess Arlet.

Setelah mikirkan itu,. Duchess Arlet lalu lihat ke sekeliling. Saat lihat sekeliling, Duchess Arlet lihat masih ada beberapa naga es yang belum dikalahkan. ngetahui masih ada beberapa naga es lagi, Duchess Arlet lalu mulai berbicara.

"Semuanya tetap fokus. Masih ada beberapa naga es lagi yang harus kita kalahkan. Kita tidak boleh lengah sampai semua naga es ini berhasil kita kalahkan," ucap Duchess Arlet dengan suara cukup keras agar perkataannya terdengar oleh semua orang di tempat itu.

Setelah ndengar perkataan Duchess Arlet, semua prajurit yang ada di tempat itu pun sedang dalam posisi bersiap untuk lawan para naga es yang masih tersisa itu. Para prajurit yang sebelumnya hanya diam ketakutan dan terkejut pun kini juga telah bersiap. Mungkin karena jumlah naga es yang tersisa saat ini lebih sedikit dari sebelumnya mbuat reka jadi lebih berani. Apalagi, setelah lihat aksi Duchess Arlet, Duke Louis, komandan Asier dan komandan Ivana dalam ngalahkan para naga es itu, mungkin hal itu juga nyulut keberanian dalam diri reka.

Setelah itu, kami semua pun lalu bergerak untuk nyerang para naga es yang masih tersisa itu.

-

Sekitar 10-15 nit kemudian,

100 ekor naga es yang nyerang tempat para prajurit itu berada saat ini pun telah berhasil dikalahkan. Tubuh para naga es yang hancur itu kini tersebar di sekeliling tempat kami berada. Sebagian besar prajurit terlihat kelelahan setelah lawan para naga es itu. ski kelelahan, untungnya tidak ada satupun dari reka yang terluka saat ini. Sebelumnya ada, tetapi reka yang terluka langsung disembuhkan oleh Rid.

Kini, setelah 100 ekor naga es itu berhasil dikalahkan, para prajurit yang ada di tempat itu terlihat sedang ngarahkan pandangan reka ke beberapa orang tertentu. Beberapa orang itu adalah Duke Louis, Duchess Arlet, Komandan Asier, komandan Ivana, Irene dan juga Rid. Alasan para prajurit itu lihat ke arah reka karena reka rasa takjub dan terkesan dengan aksi reka berenam. Itu karena reka berenam adalah orang yang paling banyak ngalahkan 100 ekor naga es itu.

"Apa-apaan reka itu!? reka dapat ngalahkan para naga es itu dengan mudah,"

"Seperti yang diharapkan dari keluarga San Lucia. reka dipastikan adalah keluarga terkuat kedua setelah keluarga kerajaan di kerajaan San Fulgen ini,"

"Tidak, justru nurutku keluarga San Lucia rupakan keluarga terkuat di kerajaan ini,"

"reka semua benar-benar kuat, terlebih Rid Archie. Bisa-bisanya dia ngalahkan para naga es itu dengan mudahnya. Sejauh ini, dia yang paling banyak ngalahkan para naga es itu,"

"Itu benar. Anggota keluarga San Lucia mang kuat tetapi ada individu yang lebih kuat lagi dari luar keluarga San Lucia. Individu itu adalah Rid Archie. Bisa-bisanya dia njadi orang yang paling banyak ngalahkan para naga es itu dalam kondisi sedang ngaktifkan sihir api penghangatnya dan juga sambil nyembuhkan orang-orang yang terluka. Dengan lakukan semua hal itu, bagaimana bisa dia masih belum kelelahan sampai sekarang?," ucap para prajurit itu.

-

Sentara itu, di sebuah gua yang ada di pegunungan Orokho.

Sosok wanita berwujud Humanoid naga es terlihat sedang duduk di kursi singgasananya sambil masang ekspresi yang sedikit terkejut.

"reka semua sudah dikalahkan? Secepat ini?," tanya wanita itu.

Setelah ngatakan itu, wanita itu tiba-tiba berdiri dari kursi singgasananya.

"Kelihatannya orang-orang yang datang kali ini lebih kuat dari yang sebelumnya. Kalian bertiga, cepat pergi ke tempat orang-orang itu," ucap wanita itu.

3 naga berukuran sangat besar yang berada di belakang kursi singgasana yang diduduki wanita itu terlihat sudah bersiap untuk njalankan perintah wanita itu.

"Begitu kalian sampai di tempat reka, langsung bunuh reka semua tanpa terkecuali. Jangan biarkan ada satupun dari reka yang hidup dan pergi dari pegunungan ini," ucap wanita itu dengan ekspresi yang serius.

Setelah ndengar perkataan wanita itu, 3 naga es itu pun langsung ngaum dengan sangat keras.

*ROAARRRRRRR

Kemudian, 3 naga es berukuran sangat besar itu pun langsung terbang lesat untuk nuju ke tempat Rid dan yang lainnya. Sentara wanita berwujud humanoid naga es itu terlihat sedang lihat ke arah 3 naga es yang sedang terbang untuk keluar dari gua.

"Aku tahu kalau wanita berambut putih itu datang lagi kesini tetapi saat ini aku sedang tidak mood untuk nerima tamu lagi," ucap wanita itu.

Setelah ngatakan itu, wanita itu noleh ke bagian pojok gua yang terdapat bongkahan es besar yang di dalamnya ada seorang wanita yang tertidur. Setelah noleh ke bongkahan es itu selama beberapa detik, wanita itu lalu kembali duduk di kursi singgasananya dan mulai nutup matanya kembali.

-Bersambung

You are reading Peace Hunter Chapter 513 : Ekspedisi di Pegunungan Orokho part 2 on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Mercenary’s War cover
Similar genre

Mercenary’s War

Just Like Water ·Action

GaoYangwasamilitaryenthusiast,anordinaryone,wholovedknives,guns,andadventure. Inanaccident,GaoYangfoundhimselfinAfrica,whereheunfortunatelyexperien...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.