Font Size
15px

Sekitar 30 nit kemudian, semua orang yang akan ikut dalam ekspedisi di pegunungan Orokho pun telah bersiap. reka semua termasuk Duke Louis, Duchess Arlet, komandan Asier, komandan Ivana dan yang lainnya sudah berada di depan gerbang kediaman Duke Louis. Aku juga sudah berada di depan gerbang, bahkan aku sudah berada di dalam kereta kuda yang akan ngantar kami ke perbatasan pegunungan Orokho. Aku berada di dalam kereta kuda bersama senior Nadine, Irene, Leandra dan Lily.

Tidak hanya aku dan reka saja yang pergi dengan naiki kereta kuda, semua orang yang ikut dalam ekspedisi juga akan pergi naiki kereta kuda nuju kaki pegunungan Orokho. Setelah sampai di kaki pegunungan, kami semua akan lanjutkan perjalanan naiki pegunungan Orokho dengan berjalan kaki.

Di dalam kereta kuda yang aku tumpangi, aku, Irene, Leandra dan Lily sedang berbincang, sentara senior Nadine terlihat sedang lihat ke luar jendela. Aku penasaran dengan apa yang senior Nadine lihat. Karena aku juga duduk di samping jendela dan juga di depan senior Nadine, aku mutuskan untuk lihat keluar jendela untuk lihat apa yang senior Nadine lihat.

Saat aku lihat keluar jendela, aku lihat Duke Louis dan Duchess Arlet sedang berbicara dengan tuan Irwin di depan gerbang depan kediaman reka. Tuan Irwin rupakan seorang Marquess daerah Armavir yang rupakan salah satu wilayah San Lucia dan juga rupakan ayah dari senior Nadine. Aku lihat tuan Irwin tidak sendirian. Beliau ditemani oleh seorang wanita cantik yang bernama nona Hima. Nona Hima rupakan ibunda dari senior Nadine.

Aku tidak tahu apa yang Duke Louis dan Duchess Arlet bicarakan dengan tuan Irwin dan nona Hima karena jarak kereta kuda yang aku naiki dengan gerbang depan cukup jauh. Tetapi aku bisa nebak kalau Duke Louis dan Duchess Arlet ingin berpamitan dengan tuan Irwin dan nona Hima serta minta reka berdua untuk berjaga di kediaman Duke Louis karena tuan Irwin dan nona Hima tidak ikut dalam ekspedisi ini.

-

Tepat di gerbang depan kediaman Duke Louis.

"Irwin, Hima, aku titipkan kediamanku kepada kalian," ucap Duke Louis.

"Baik, kakak," ucap tuan Irwin.

"Serahkan pada kami, kak Louis, kak Arlet. Kami titipkan juga putri kami kepada kalian berdua. Tolong jaga dan lindungi Nadine kami," ucap nona Hima.

"Iya, kami berjanji," ucap Duchess Arlet.

Setelah reka saling berpamitan, Duke Louis dan Duchess Arlet pun mulai bersiap langkah pergi ninggalkan gerbang depan kediaman reka.

"Kalau begitu, kami pergi dulu," ucap Duke Louis.

"Iya, hati-hati, kakak," ucap tuan Irwin.

Duke Louis dan Duchess Arlet pun lalu mulai langkah pergi. Namun, baru beberapa langkah reka langkah, Duke Louis tiba-tiba berhenti. Duke Louis lalu mulai berbicara kembali tanpa noleh ke belakang, tepatnya ke tuan Irwin dan nona Hima sedikitpun.

"Irwin, jika terjadi kemungkinan terburuk dimana aku mati dalam ekspedisi kali ini, aku serahkan jabatan Duke San Lucia kepadamu," ucap Duke Louis.

Setelah Duke Louis selesai berbicara, kini giliran Duchess Arlet yang berbicara. Sama seperti Duke Louis, Duchess Arlet berbicara tanpa noleh sedikitpun ke arah tuan Irwin dan Hima.

"Aku juga serahkan jabatan Duchess San Lucia kepadamu, Hima. Karena jika suamiku mati, aku tidak mungkin akan bisa tetap hidup. Aku akan ikut mati bersamanya," ucap Duchess Arlet.

Tuan Irwin dan nona Hima pun terkejut dengan apa yang dikatakan Duke Louis dan Duchess Arlet.

"Apa yang kalian berdua katakan!?," tanya tuan Irwin.

"Tolong jangan ngatakan hal seperti itu, kak Louis, kak Arlet. Jika kalian berdua mati, bagaimana dengan Asier dan Irene!?," tanya nona Hima.

"Asier sekarang sudah dewasa, jadi dia pasti tidak akan kenapa-kenapa. Lalu untuk Irene, dia saat ini sudah miliki orang yang dicintainya. Jika kami berdua mati, orang itu yang akan nemani Irene," ucap Duchess Arlet.

"Tetapi tetap saja, tolong jangan berkata seperti itu," ucap tuan Irwin.

"Tenang saja, Irwin. Apa yang barusan aku katakan itu jika terjadi kemungkinan terburuk. Kami berdua tidak berniat untuk mati saat ini, tetapi kami juga tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Makanya kami mbicarakan tentang hal itu," ucap Duke Louis.

Tuan Irwin dan nona Hima pun terdiam setelah ndengar perkataan Duke Louis.

"Kalian berdua tenang saja. Kami akan berusaha agar kemungkinan terburuk itu tidak terjadi. Justru kami akan berusaha keras agar kemungkinan terbaik lah yang terjadi," ucap Duchess Arlet.

"Kemungkinan terbaik?," tanya nona Hima yang terlihat sedikit bingung.

"Iya. Kemungkinan terbaiknya adalah kami semua kembali dengan selamat setelah berhasil ngalahkan makhluk yang tinggal di pegunungan Orokho itu," ucap Duchess Arlet.

-

Beberapa nit kemudian,

Setelah Duke Louis dan Duchess Arlet selesai berbincang dengan tuan Irwin dan nona Hima, reka berdua lalu berjalan nuju ke kereta kuda yang akan reka tumpangi. Tidak lama kemudian, reka pun telah naiki kereta kuda tersebut. Kereta kuda yang reka tumpangi tepat berada di depan kereta kuda yang aku, Irene, Leandra, Lily dan senior Nadine tumpangi. Kereta kuda yang reka tumpangi itu sama dengan kereta kuda yang komandan Asier dan komandan Ivana tumpangi karena sebelumnya aku lihat reka berdua naiki kereta kuda itu lebih dulu sebelum Duke Louis dan Duchess Arlet.

Setelah naiki kereta kuda tersebut, Duke Louis lalu mberi perintah untuk berangkat.

"Ayo kita berangkat," ucap Duke Louis.

Suara Duke Louis itu terdengar ke semua kereta kuda yang ada. Itu karena di masing-masing kereta kuda sudah diberikan sebuah alat sihir yang digunakan untuk nerima perintah dari Duke Louis. Alat sihir itu mirip dengan kristal komunikasi, yang mbedakan adalah alat itu hanya digunakan untuk ndengar saja, tidak bisa digunakan untuk berkomunikasi dengan pihak lain.

Begitu perintah dari Duke Louis terdengar ke semua kereta kuda, satu persatu kereta kuda yang berkumpul di gerbang depan kediaman Duke Louis pun mulai bergerak ninggalkan gerbang depan.

Untuk nuju ke pegunungan Orokho yang berada di sebelah utara kota San Lucia, tentu kami harus nyusuri jalanan kota San Lucia terlebih dahulu. Saat kami sedang nyusuri jalanan kota, terlihat banyak warga kota San Lucia yang berdiri di pinggir jalan untuk lihat kami yang ingin pergi ekspedisi ke pegunungan Orokho. Beberapa dari reka bahkan nyemangati kami.

"Tolong kalahkan naga es yang ada di pegunungan Orokho itu, tuan Duke,"

"Kalahkan naga es itu dan ubah kembali cuaca dan iklim di wilayah San Lucia ini," ucap orang-orang yang nyemangati kami.

Dari perkataan reka, reka sepertinya sudah tahu kalau hari ini keluarga San Lucia akan lakukan ekspedisi kembali di pegunungan Orokho. Mungkin Duke Louis dan Duchess Arlet sendiri yang mberitahu reka. Namun, tampaknya reka masih belum tahu kalau yang akan kami lawan itu sebenarnya bukan sosok naga es. Tetapi mang lebih baik untuk tidak mberitahu sosok apa yang sebenarnya akan kami lawan nanti di pegunungan Orokho. Jika reka tahu, akan terjadi kehebohan dan kepanikan di kota ini.

Lalu, tidak lama kemudian, kami pun telah tiba di bagian utara kota San Lucia. Di bagian utara kota adalah sebuah hutan kecil yang biasanya aku gunakan sebagai jalan nuju perbatasan pegunungan Orokho. Tetapi hutan itu tidak bisa dilewati oleh kereta kuda, jadi kami tidak bisa nuju pegunungan Orokho lewat hutan ini. Namun, di ujung kiri dari hutan ini, atau lebih tepatnya di sebelah barat laut kota San Lucia, ada sebuah jalan terbengkalai yang njadi penghubung ke pegunungan Orokho. Jalan itu yang akan kami lalui untuk nuju ke pegunungan Orokho.

Aku tahu tentang jalan ini beberapa hari setelah pertama kali aku berlatih di perbatasan pegunungan Orokho. Jalanan itu dulunya mang digunakan untuk akses nuju pegunungan Orokho ketika pegunungan Orokho belum njadi pegunungan es seperti sekarang ini. Karena sekarang pegunungan Orokho telah njadi pegunungan es, jalanan itu pun njadi terbengkalai karena sudah tidak ada lagi orang yang berani pergi ke pegunungan Orokho. ski saat ini sudah terbengkalai, jalanan itu masih dijaga oleh para prajurit Storm Leopard setiap harinya untuk ncegah adanya monster atau hewan buas dari pegunungan Orokho yang datang ke kota San Lucia lewat jalan itu.

Beberapa nit kemudian, kami pun sampai di jalan itu. Kami lalu terus nyusuri jalan itu untuk nuju ke pegunungan Orokho. Namun, baru beberapa saat kami nyusuri jalan itu, tiba-tiba Duke Louis mberi perintah lewat alat sihir.

"Berhenti sebentar," ucap Duke Louis.

Seluruh kereta kuda yang ndengar perintah itu pun langsung berhenti. Perintah dari Duke Louis itu mbuatku bingung. Tidak hanya aku saja, aku lihat Irene, Leandra, Lily dan senior Nadine juga rasa bingung dengan perintah Duke Louis yang rintahkan untuk berhenti. Aku yakin semua prajurit di tiap kereta kuda juga bingung dengan hal itu.

Karena bingung dan penasaran dengan apa yang terjadi, aku mutuskan untuk mbuka jendela kereta kuda yang aku tumpangi dan lihat ke luar. Setelah lihat ke luar, aku ngarahkan pandanganku ke depan kereta kuda yang aku tumpangi. Di samping kereta kuda nomor 2 dari depan, aku lihat ada beberapa orang yang sedang berdiri. Orang-orang yang berdiri itu ngenakan seragam prajurit Storm Leopard. Di antara orang-orang itu, 2 di antaranya rupakan orang yang aku kenal. 2 orang itu rupakan komandan Allister dan wakil komandan Agneta.

Setelah itu, aku lihat 2 orang keluar dari kereta kuda nomor 2 dari depan itu, 2 orang itu adalah Duke Louis dan Duchess Arlet. Terjawab sudah alasan kenapa Duke Louis mberi perintah untuk berhenti, ternyata ada komandan Allister dan wakil komandan Agneta yang ingin nemuinya. Mungkin komandan Allister dan wakil komandan Agneta ingin mberi semangat dan dukungan kepada kami yang ingin lakukan ekspedisi di pegunungan Orokho. Tadinya aku kira ada situasi berbahaya yang terjadi, makanya Duke Louis rintahkan untuk berhenti.

Karena rasa penasaranku sudah terjawab, aku mutuskan untuk berhenti lihat ke luar dan duduk santai di dalam kereta kuda seperti sebelumnya. Irene yang lihatku sudah duduk santai setelah lihat ke luar lalu bertanya kepadaku tentang apa yang terjadi di luar.

"Apa ada sesuatu yang terjadi di luar sehingga ayahanda rintahkan untuk berhenti, Rid?," tanya Irene.

"Tidak ada sesuatu yang terjadi, Irene. Hanya saja, ada komandan Allister dan wakil komandan Agneta yang saat ini sedang nemui dan berbincang dengan paman Louis dan bibi Arlet," ucapku.

"Begitu ya," ucap Irene.

-

Sentara itu, di sisi Duke Louis dan Duchess Arlet.

"Tuan Duke, nona Duchess. Maaf karena tidak bisa mbantu dengan ikut secara langsung," ucap komandan Allister.

"Sudah saya bilang untuk berhenti minta maaf, komandan. Sebelumnya anda sudah minta maaf karena tidak bisa ikut, sekarang pun anda minta maaf lagi," ucap Duke Louis.

"Itu benar. Anda tidak perlu minta maaf terus, komandan. Lagipula sudah ada Asier dan Ivana yang ikut. Terlalu berlebihan apabila anda yang juga rupakan komandan prajurit malah ikut juga. Saya nanti jadi rasa tidak enak dengan Yang Mulia Ratu. Tetapi, skipun anda tidak ikut, anda sudah mbantu kami dengan ngirim beberapa prajurit milik anda," ucap Duchess Arlet.

"Bantuan yang saya berikan itu tidak seberapa, nona Duchess. Lagipula yang saya kirimkan hanya 40-an prajurit saja. Kalau bisa, saya ingin ngirim semua prajurit untuk ikut dalam ekspedisi di pegunungan Orokho," ucap komandan Allister.

"Jika anda ngirim semua prajurit untuk ikut, siapa yang akan njaga wilayah San Lucia?," tanya Duke Louis sambil tersenyum.

"Anda benar juga. Tidak mungkin saya njaga keseluruhan wilayah San Lucia seorang diri," ucap komandan Allister.

Kemudian, reka pun saling tertawa.

"Ya sudah, itu saja yang ingin saya bicarakan dengan kalian, tuan Duke, nona Duchess. Maaf karena telah nyita waktu kalian yang sedang buru-buru untuk pergi ke pegunungan Orokho," ucap komandan Allister.

"Tidak apa-apa. Ya sudah, kalau begitu kami kembali ke dalam dulu. Sampai nanti, komandan," ucap Duke Louis.

"Iya. Sampai nanti, tuan Duke," ucap komandan Allister.

Setelah itu, Duke Louis dan Duchess Arlet pun masuk kembali ke kereta kuda yang reka tumpangi. Ketika Duke Louis dan Duchess Arlet sudah kembali masuk ke kerta kuda yang reka tumpangi dan mau nutup pintu kereta kuda itu, komandan Allister tiba-tiba berbicara lagi.

"Tuan Duke, nona Duchess, tolong berhati-hatilah. Selain itu, kalian berdua fokus saja untuk ngalahkan makhluk yang tinggal di pegunungan Orokho itu. Kalian berdua jangan khawatirkan wilayah San Lucia khususnya kota San Lucia karena saya dan para prajurit saya akan njaga dan lindungi kota dan wilayah San Lucia disaat kalian sedang berada di pegunungan Orokho," ucap komandan Allister.

Duke Louis dan Duchess Arlet yang ndengar perkataan komandan Allister pun langsung noleh ke komandan Allister.

"Iya. Saya serahkan kota dan wilayah San Lucia kepada anda, komandan," ucap Duke Louis.

"Serahkan saja pada saya, tuan Duke," ucap komandan Allister.

Setelah ngatakan itu, komandan Allister secara tidak sengaja lihat ke dalam kereta kuda yang ditumpangi Duke Louis dan Duchess Arlet yang pintunya masih terbuka. Di dalam kereta kuda itu, komandan Allister lihat komandan Asier dan komandan Ivana yang juga sedang lihat ke arahnya.

"Asier, Ivana, kalian juga tolong kalahkan makhluk itu. Kalian berdua rupakan komandan prajurit kerajaan San Fulgen. Tidak mungkin kalian akan kalah dari makhluk itu kan?," tanya komandan Allister.

Komandan Allister dan komandan Ivana pun langsung njawabnya.

"Iya, tentu saja. Kami akan ngalahkan makhluk itu," ucap komandan Asier.

"Itu benar," ucap komandan Ivana.

Komandan Asier dan komandan Ivana masang ekspresi yang serius saat ngatakan hal itu. Komandan Allister pun langsung tersenyum setelah ndengar jawaban reka berdua.

"Bagus," ucap komandan Allister.

Sentara Duke Louis dan Duchess Arlet hanya tersenyum saja ketika lihat interaksi antara 3 komandan prajurit San Fulgen. Setelah itu, karena dirasa sudah tidak ada yang ingin dibicarakan lagi, Duke Louis dan Duchess Arlet pun pamit kepada komandan Allister.

"Kalau begitu kami pergi dulu," ucap Duke Louis.

"Iya. Hati-hati, tuan Duke," ucap komandan Allister.

Setelah itu, pintu kereta kuda yang Duke Louis dan Duchess Arlet tumpangi pun kembali ditutup setelah Duke Louis dan Duchess Arlet sudah masuk kembali. Kemudian, Duke Louis pun kembali mberi perintah lewat alat sihir.

"Ayo kita jalan lagi," ucap Duke Louis.

Seluruh kereta kuda yang ndengar perintah Duke Louis pun mulai bergerak kembali. Kereta kuda yang ditumpangi Duke Louis dan Duchess Arlet pun kini telah bergerak ninggalkan komandan Allister, wakil komandan Agneta dan beberapa prajurit Storm Leopard yang masih berdiri di pinggir jalan. Satu persatu kereta kuda yang berada di belakang kereta kuda yang ditumpangi Duke Louis dan Duchess Arlet pun mulai bergerak lewati komandan Allister. Sampai akhirnya kini giliran kereta kuda yang aku tumpangi yang bergerak lewati komandan Allister.

Ketika kereta kuda yang aku tumpangi lewati komandan Allister. Aku yang kebetulan sedang lihat keluar jendela pun jadi ikut lihat komandan Allister. Tidak hanya aku saja yang lihat komandan Allister, komandan Allister juga lihatku ketika kereta kuda yang aku tumpangi lewatinya. Saat lihat komandan Allister, aku sedikit mbungkukkan kepalaku sebagai tanda hormat. Komandan Allister yang lihatku pun langsung ngangguk tanda ngerti dengan sikapku itu.

Aku dan komandan Allister sudah beberapa kali bertemu sejak aku tinggal di kediaman Duke Louis. Entah itu di kediaman Duke Louis, kota San Lucia atau perbatasan pegunungan Orokho ketika aku sedang berlatih. Karena itu, aku cukup ngenalnya dan terkadang sedikit ngobrol dengannya ketika bertemu. Makanya komandan Allister langsung paham ketika lihat sikapku.

Lalu, setelah kereta kuda yang aku tumpangi telat lewati komandan Allister, kereta kudaku terus laju ngikuti kereta kuda yang di depannya untuk nuju ke pegunungan Orokho.

-

Sentara itu di dalam kereta kuda yang Duke Louis dan Duchess Arlet tumpangi.

"Aku tidak nyangka kalau tuan Allister yang dulunya sombong dan arogan akan njadi orang yang tenang seperti ini. Sepertinya kehilangan tangan kanan sangat berpengaruh pada perubahan sikapnya," ucap komandan Asier.

"Bukankah itu bagus? Setidaknya ketika terjadi pertemuan antar komandan prajurit, aku tidak harus berdebat lagi dengannya. Aku suka sikap tuan Allister yang sekarang," ucap komandan Ivana.

"Ngomong-ngomong soal berdebat, aku jadi ingat saat pertemuan antar komandan prajurit yang saat itu Violetta baru pertama kali ikut. Kamu dan tuan Allister berdebat hebat saat itu dan bahkan kalian berdua sampai hampir bertarung. Untungnya Yang Mulia Ratu bergerak lebih cepat untuk nghentikan kalian," ucap komandan Asier.

"Tolong jangan ingatkanku tentang hal itu lagi," ucap komandan Ivana.

-

Sentara itu, di pinggir jalan tempat komandan Allister berada.

Komandan Allister, wakil komandan Agneta dan beberapa prajurit Storm Leopard terlihat masih berada di pinggir jalan itu sambil lihat kereta kuda di barisan terakhir yang sudah bergerak lewati reka.

"Komandan. nurut komandan, apakah dalam ekspedisi kali ini, keluarga San Lucia bisa ngalahkan ’makhluk’ itu?," tanya wakil komandan Agneta.

"Dengan ikutnya tuan Duke, nona Duchess, Asier dan Ivana, kemungkinan besar reka bisa ngalahkan ’makhluk’ itu. Itu karena reka berempat rupakan anggota keluarga San Lucia terkuat saat ini. Apalagi, Rid Archie juga ikut kali ini,".

"Jika informasi yang aku dapatkan kemarin itu benar, Rid Archie mungkin akan njadi orang yang ngalahkan ’makhluk itu," ucap komandan Allister.

Setelah ngatakan itu, komandan Allister terus lihat ke arah rombongan kereta kuda yang terus laju nuju ke pegunungan Orokho.

"Aku serahkan padamu, Rid Archie," pikir komandan Allister.

-

Rombongan kereta kuda pasukan ekspedisi terus laju di jalan penghubung nuju pegunungan Orokho. Semakin dekat kereta kuda itu dengan pegunungan Orokho, salju yang turun pun semakin lebat. Udaranya pun juga semakin dingin. Saat ini aku masih belum rasakannya karena aku tahu kalau rombongan kereta kuda ini masih berada di perbatasan pegunungan Orokho. Itu karena pemandangan di sekitar yang aku lihat dari jendela kereta kuda rupakan pemandangan yang sama yang sering aku lihat ketika aku berlatih di perbatasan. Jadi aku tahu kalau saat ini kami masih berada di perbatasan.

Aku tidak rasakan udaranya semakin dingin karena aku sudah sering kesini, jadi aku sudah terbiasa. Aku bisa ngetahui kalau udaranya semakin dingin karena Leandra dan Lily terlihat semakin kedinginan. reka berdua sudah mulai kedinginan sejak kami pertama kali tiba di wilayah perbatasan dan kini reka semakin kedinginan seiring kami yang sudah semakin dekat dengan pegunungan Orokho.

-

Beberapa nit kemudian, Duke Louis tiba-tiba kembali mberi perintah lewat alat sihir.

"Berhenti, kita sudah sampai," ucap Duke Louis.

Semua kereta kuda yang ndengar perintah itu pun langsung berhenti.

"Kalian semua, keluarlah. Mulai sekarang, kita akan lanjutkan ekspedisi dengan berjalan kaki," ucap Duke Louis.

Setelah ndengar perintah Duke Louis, semua orang yang naiki kereta kuda pun mulai keluar dari kereta kuda yang reka tumpangi. Setelah reka keluar, sebagian besar dari reka terlihat terkejut dengan pemandangan yang reka lihat. Sebuah pegunungan tinggi yang diselimuti salju yang biasanya reka lihat dari jauh, kini tepat berada di depan reka. Lalu, hujan salju lebat yang terus turun di tempat kami berada, serta udara dingin yang sangat nusuk tubuh. Dengan pemandangan dan fenona yang kami rasakan itu, bisa dipastikan kalau saat ini kami telah berada di kaki pegunungan Orokho.

"Jadi ini pegunungan Orokho," ucapku sambil lihat ke pegunungan salju yang tepat di depanku.

-

Sentara itu, di sebuah gua yang berada di pegunungan Orokho.

Sosok wanita berwujud humanoid Naga es yang awalnya sedang tertidur di kursi singgasananya secara perlahan mulai mbuka kedua matanya.

-Bersambung

You are reading Peace Hunter Chapter 511 : Dimulainya Ekspedisi di Pegunungan Orokho part on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.