Font Size
15px

Pagi harinya, di halaman depan kediaman Duke San Lucia.

Terlihat sudah ada banyak orang yang berkumpul di halaman depan kediaman Duke San Lucia. Orang-orang yang berkumpul itu terdiri dari para prajurit, baik itu para prajurit yang akan tetap tinggal di kediaman Duke San Lucia dan para prajurit yang akan ikut dalam ekspedisi di pegunungan Orokho. Semua prajurit itu terlihat sedang nyiapkan perbekalan yang terdiri dari senjata, logistik dan lain-lain. Ada dari reka yang sedang naruh perbekalan itu di dalam beberapa tas berukuran besar dan ada juga dari reka yang ngangkut dan naruh tas besar yang sudah diisi oleh perbekalan itu ke dalam kereta kuda yang dikhususkan untuk mbawa barang-barang.

Tidak hanya para prajurit saja, para pelayan yang bekerja di kediaman Duke San Lucia juga ikut dalam nyiapkan semua perbekalan tersebut. Semua orang yang ada di halaman depan kediaman Duke San Lucia, terlihat sangat sibuk dengan tugas reka masing-masing.

-

Sentara itu, di ruang kerja Duke Louis.

Terlihat Duke Louis, Duchess Arlet, komandan Asier dan komandan Ivana sedang berada di ruangan itu. reka berempat saat ini terlihat ngenakan seragam atau pakaian yang sama. reka berempat ngenakan pakaian seperti keja berlengan panjang dengan warna perpaduan putih dan biru muda. Untuk bawahan, reka ngenakan celana panjang berwarna putih. Bahkan Duchess Arlet dan komandan Ivana yang rupakan wanita juga nggunakan celana panjang. Selain itu, reka berempat saat ini juga ngenakan jubah tebal dan panjang berwarna biru muda.

Setelan pakaian yang reka kenakan itu sepertinya rupakan pakaian atau seragam khusus yang dikenakan oleh para anggota keluarga San Lucia. Komandan Ivana yang biasanya ngenakan kimono bahkan hari ini juga ngenakan setelan yang sama dengan reka bertiga. Selain itu, baik komandan Asier dan komandan Ivana yang biasanya ngenakan jubah komandan prajurit reka, kali ini tidak nggunakannya. Saat ini, reka berempat saat ini benar-benar terlihat seperti bangsawan skipun aslinya reka mang bangsawan.

"Yang terjadi kemarin mang sangat di luar dugaan. Aku harap hal tersebut tidak mpengaruhi kondisi kalian saat ini," ucap Duke Louis.

"Tenang saja, ayahanda. ski aku sendiri juga tidak nyangka dengan apa yang terjadi kemarin tetapi saat ini kondisiku baik-baik saja. Aku siap untuk ikut dalam ekspedisi ini," ucap komandan Asier.

"Saya juga siap, tuan Louis," ucap komandan Ivana.

"Baiklah, karena kalian sudah siap, ayo kita pergi ke halaman sekarang," ucap Duke Louis.

"Iya," ucap komandan Asier dan komandan Ivana.

-

Di kamar Rid.

Aku saat ini sedang ngenakan pakaian yang diberikan oleh Duchess Arlet berikan semalam kepadaku. Duchess Arlet bilang dalam ekspedisi di pegunungan Orokho nanti aku harus ngenakan pakaian ini.

Setelah selesai ngenakan pakaian itu, aku lalu lihat pakaian yang aku kenakan dengan lebih teliti. Keja berlengan panjang dengan warna perpaduan biru muda dan putih serta bawahan celana panjang berwarna putih, seperti itulah pakaian yang sedang aku kenakan saat ini. Selain pakaian yang aku kenakan ini, Duchess Arlet juga mberikan aku jubah tebal dan panjang berwarna biru muda. Tetapi saat ini aku belum makainya dan baru makai pakaiannya saja. Jubah yang diberikan Duchess Arlet masih aku letakkan di tempat tidurku.

Setelah aku mperhatikan pakaianku, pintu kamarku tiba-tiba diketuk dari luar.

*tok *tok *tok

Aku tahu siapa yang ngetuk pintu kamarku karena aku telah rasakan aura orang itu. Orang itu adalah orang yang sangat aku kenal jadi setelah rasakan aura orang itu, aku langsung mpersilahkannya untuk masuk.

"Masuk saja, Irene," ucapku.

Setelah aku ngatakan itu, pintu kamarku pun terbuka. Kemudian, Irene yang telah berdiri di depan pintu kamarku pun langsung masuk ke dalam kamarku.

Saat Irene masuk ke dalam kamarku, aku cukup terpukau ketika lihatnya. Itu karena Irene saat ini juga ngenakan pakaian yang sama dengan yang aku kenakan. Selain itu, dia juga ngenakan jubah tebal dan panjang yang sama dengan yang diberikan Duchess Arlet kepadaku. Dengan pakaian dan jubah yang dikenakannya itu, Irene nampak lebih anggun dari dia yang biasanya, makanya aku cukup terpukau ketika lihatnya.

Lalu, setelah Irene masuk ke dalam ke kamarku, Irene tiba-tiba terdiam saat lihatku. Aku pun bingung kenapa Irene tiba-tiba terdiam saat lihatku jadi aku mutuskan untuk bertanya kepadanya.

"Ada apa, Irene?," tanyaku.

Setelah ndengar pertanyaanku, Irene yang sebelumnya terdiam langsung njawab pertanyaanku.

"Tidak ada apa-apa. Hanya saja, kamu sangat cocok makai pakaian keluarga San Lucia, Rid," ucap Irene.

Setelah ndengar perkataan Irene, aku jadi ngetahui kalau pakaian yang aku kenakan ini rupakan pakaian keluarga San Lucia. Aku pikir pakaian ini rupakan pakaian yang diberikan khusus untukku. Tetapi ternyata pakaian ini rupakan pakaian keluarga San Lucia, pantas saja Irene juga makainya. Itu berarti tidak hanya Irene saja yang ngenakan pakaian ini, Duke Louis, Duchess Arlet dan anggota keluarga San Lucia lainnya juga akan ngenakan pakaian ini.

"Pakaian keluarga San Lucia? Aku baru ngetahuinya. Bibi Arlet sama sekali tidak mberitahuku soal ini, beliau hanya mberikan pakaian ini dan nyuruhku untuk makainya. Padahal aku belum secara resmi bergabung dengan keluarga San Lucia, tetapi bibi Arlet malah mberikan pakaian ini kepadaku," ucapku.

"Itu berarti nona Duchess sudah ngakuimu sebagai anggota keluarga San Lucia skipun kamu belum nikahi nona Irene, Rid," ucap Lily yang tiba-tiba ikut masuk ke dalam kamarku.

Tidak hanya Lily saja, Leandra pun juga ikut bersamanya.

"Lea, Lily," ucapku.

Leandra dan Lily juga ngenakan keja berlengan panjang, celana panjang serta jubah tebal dan panjang namun miliki warna yang berbeda dengan yang aku dan Irene kenakan. Warga pakaian reka mirip dengan warna seragam prajurit Duke San Lucia.

"Kalian berdua sudah siap ya?," tanya Irene.

"Iya, nona. Kami berdua sudah siap untuk ikut dalam ekspedisi nanti," ucap Leandra.

"Baiklah," ucap Irene.

"Berarti tinggal aku saja ya," ucapku.

Setelah aku ngatakan itu, aku lalu berjalan ke tempat tidurku dan ngambil jubah panjang yang ada di tempat tidurku itu. Setelah ngambil jubah panjang itu, aku lalu ngenakan jubah panjang itu.

Lalu, tak lupa juga aku ngambil pedang milikku dan kemudian aku taruh di pinggangku.

Setelah aku sudah bersiap, aku lalu berjalan nghampiri reka bertiga.

"Karena semuanya sudah bersiap, ayo kita pergi ke halaman depan," ucapku.

"Iya," ucap Irene.

Setelah itu, kami berempat pun bergegas pergi ke halaman depan kediaman Duke San Lucia.

-

Di halaman depan kediaman Duke San Lucia.

Ketika kami baru saja sampai di halaman depan, aku lihat sudah ada banyak orang yang telah berkumpul di halaman depan. Mayoritas orang-orang yang sudah berkumpul itu adalah para prajurit yang akan ikut dalam ekspedisi di pegunungan Orokho. reka sepertinya sudah siap untuk ikut dalam ekspedisi itu.

Selain para prajurit yang telah berkumpul di halaman depan, aku juga lihat Duke Louis, Duchess Arlet, komandan Asier dan komandan Ivana yang sedang mberi arahan kepada beberapa anggota keluarga San Lucia, para pelayan dan para prajurit yang telah berkumpul di halaman depan.

Aku kira reka masih berada di ruangan reka masing-masing, ternyata reka sudah berada di halaman depan. Karena reka sudah ada di halaman depan, aku mutuskan untuk nghampiri reka. Aku juga ngajak Irene, Leandra dan Lily yang berjalan bersamaku untuk nghampiri reka.

Saat kami sedang berjalan untuk nghampiri reka, aku rasakan ada banyak tatapan yang diarahkan kepadaku. Tetapi aku tidak mperdulikannya karena tatapan yang aku rasakan itu bukanlah tatapan yang ngancam.

"Sepertinya hasil latih tanding kemarin masih mbuatmu njadi pusat perhatian sampai hari ini, Rid," ucap Leandra sambil lihat ke sekitar.

Sepertinya Leandra nyadari kalau semua orang yang ada di halaman depan saat ini sedang lihat ke arahku. Banyaknya tatapan yang aku rasakan itu adalah dari reka. Aku sudah rasakan kalau reka natapku sejak aku baru tiba di halaman depan.

"Sudah pasti Rid akan njadi pusat perhatian karena hasil latih tanding kemarin. Tidak hanya sampai hari ini saja, beberapa hari, bulan atau bahkan tahun ke depan, aku yakin Rid akan tetap njadi pusat perhatian karena hasil latih tanding kemarin," ucap Lily.

Aku hanya diam saja tanpa nanggapi perkataan reka. Aku hanya diam sambil terus langkah nghampiri Duke Louis, Duchess Arlet dan lainnya.

Tidak lama kemudian, kami berempat pun tiba di tempat Duke Louis, Duchess Arlet dan yang lainnya berada.

"Akhirnya bintang utama kita tiba juga," ucap komandan Asier yang langsung berbicara kepadaku begitu aku tiba.

"Tolong jangan berbicara seperti itu, kak Asier," ucap komandan Asier.

"Yah soalnya semua orang yang ada di halaman ini saat ini sedang lihat ke arahmu, Rid. Jadi sudah jelas kamu saat ini adalah bintang utama," ucap komandan Asier.

"Sudah, Asier. Rid nanti akan rasa tidak nyaman," ucap Duke Louis.

"Ah benar, maafkan aku, Rid," ucap komandan Asier.

"Tidak apa-apa, kak Asier. Kak Asier tidak perlu minta maaf, lagipula aku tidak mpermasalahkannya," ucapku.

"*Haaahhh semua ini gara-gara latih tanding kemarin. Andai saja latih tanding kemarin diadakan tertutup tanpa dilihat oleh orang lain, tidak, bahkan andai kemarin tidak digelar latih tanding itu, kamu tidak akan njadi pusat perhatian semua orang seperti ini," ucap Duchess Arlet yang tiba-tiba ikut dalam pembicaraan.

"Tetapi nona Arlet, tanpa latih tanding kemarin pun Rid sudah njadi pusat perhatian banyak orang. Apalagi berkat sepak terjangnya yang sering diberitakan di surat kabar," ucap komandan Ivana.

"Namun latih tanding kemarin semakin mbuatnya njadi pusat perhatian banyak orang, khususnya orang-orang di kediaman ini. Untungnya hasil latih tanding kemarin tidak disebarluaskan ke luar kediaman ini. skipun ada beberapa orang dari luar kediaman ini yang ngetahuinya, setidaknya reka tidak akan mbocorkannya ke publik. Jika hasil latih tanding kemarin disebarluaskan dan diketahui semua orang di kerajaan ini, entah apa yang akan terjadi nantinya," ucap Duchess Arlet.

Komandan Ivana pun terdiam setelah ndengar perkataan Duchess Arlet.

"mang cukup disayangkan karena Rid njadi pusat perhatian lagi akibat dari latih tanding itu. Rid mungkin akan rasa tidak nyaman karena telah njadi pusat perhatian lagi. Tetapi berkat latih tanding itu, aku jadi semakin yakin kalau Rid dapat ngalahkan makhluk yang tinggal di pegunungan Orokho itu,"

"Semua orang yang nyaksikan latih tanding itu pasti juga percaya dan yakin kalau Rid dapat ngalahkan makhluk itu dan nyelesaikan ekspedisi ini untuk selamanya," ucap Duke Louis.

Duchess Arlet pun terdiam setelah ndengar perkataan Duke Louis. Namun tidak lama kemudian, dia mulai berbicara lagi.

"Ya, kamu benar. Sebelum latih tanding itu, ketika kita pertama kali ngajak Rid untuk ikut dalam ekspedisi itu, aku sudah yakin kalau Rid bisa ngalahkan makhluk itu. Tetapi setelah lihat latih tanding itu, aku jadi semakin yakin kalau Rid dapat ngalahkan makhluk itu," ucap Duchess Arlet.

Setelah ngatakan itu, Duchess Arlet lalu noleh dan lihat ke arahku.

"Rid, aku rasa malu karena harus ngatakan ini tetapi kamu rupakan harapan kami untuk dapat ngalahkan makhluk itu apabila kami tidak dapat ngalahkan makhluk itu sendiri. Maaf karena telah mberikan tanggung jawab yang besar kepadamu," ucap Duchess Arlet.

Aku pun langsung nanggapi perkataan Duchess Arlet.

"Tidak apa-apa, bibi Arlet. Sejak awal ketika aku diundang untuk ikut dalam ekspedisi ini, aku sudah nerima tanggung jawab ini. Jadi bibi Arlet tidak perlu minta maaf. Apabila bibi Arlet dan yang lainnya tidak bisa ngalahkan makhluk itu, aku yang akan ngalahkan makhluk itu," ucapku.

-

Beberapa nit kemudian,

Saat ini, Duke Louis dan Duchess Arlet sedang berdiri di hadapan orang-orang yang ikut dalam ekspedisi. Sebelumnya dimulainya ekspedisi di pegunungan Orokho, Duke Louis dan Duchess Arlet mutuskan untuk mberikan beberapa kata kepada orang-orang yang akan ikut dalam ekspedisi di pegunungan Orokho jadi reka berdua berdiri di hadapan orang-orang itu untuk ngatakan sesuatu.

"Selamat pagi, semuanya," ucap Duke Louis.

"Pagi, tuan Duke," ucap orang-orang yang ada di hadapan Duke Louis.

"Sebelum kita berangkat ke pegunungan Orokho untuk lakukan ekspedisi, izinkan aku untuk ngatakan beberapa kata,"

"Pertama, izinkan aku untuk ngucapkan terima kasih kepada kalian untuk bersedia ikut dalam ekspedisi di pegunungan Orokho kali ini. Aku masih tidak nyangka kalau dari semua prajurit yang terpilih untuk ikut dalam ekspedisi, tidak ada satupun yang milih untuk tidak ikut. Padahal kalian semua sudah diberitahu betapa berbahayanya ekspedisi di pegunungan Orokho, tetapi kalian masih tetap mau ikut. Aku benar-benar berterima kasih kepada kalian,"

"Kedua, kalian tentu sudah tahu betapa berbahayanya ekspedisi di pegunungan Orokho. Entah itu bahaya dari makhluk yang njadi tujuan dari ekspedisi ini, naga-naga es ciptaannya, monster dan hewan buas yang tinggal di pegunungan Orokho atau dan dan suhu ekstrem di pegunungan Orokho. Jika nanti ada di antara kalian yang sudah tidak sanggup untuk lanjutkan ekspedisi, aku ngizinkan kalian untuk berhenti dan segera pergi ninggalkan pegunungan Orokho,"

"Lalu, jika nanti terjadi situasi atau kondisi yang sangat berbahaya, aku juga ngizinkan kalian untuk pergi nyelamatkan diri kalian masing-masing. Kalian, terutama para prajuritku yang miliki tanggung jawab untuk lindungiku dan keluarga San Lucia tidak perlu untuk lindungi kami apabila situasi yang sangat berbahaya itu terjadi. Fokuslah untuk lindungi dan nyelamatkan diri kalian sendiri," ucap Duke Louis.

Para prajurit Duke San Lucia pun terdiam setelah ndengar perkataan Duke Louis. Namun tidak lama kemudian, komandan Mina yang rupakan komandan prajurit Duke San Lucia yang juga ikut dalam ekspedisi tiba-tiba nanggapi perkataan Duke Louis.

"Tetapi, tuan Duk-," ucap komandan Mina.

"Tidak ada tapi-tapi, Mina. Ini adalah perintah jadi kamu dan para prajuritmu harus nurutinya," ucap Duke Louis dengan suara tegas.

Komandan Mina terdiam sesaat setelah ndengar perkataan Duke Louis. Namun tidak lama kemudian, dia kembali nanggapi perkataan Duke Louis.

"Baik, tuan Duke," ucap komandan Mina.

"Terima kasih,"

"Itu saja yang ingin aku sampaikan. Terima kasih atas perhatian kalian semua dan mohon bantuannya dalam ekspedisi nanti. Mari kita selesaikan ekspedisi ini untuk selamanya dengan ngalahkan makhluk yang ada di pegunungan Orokho!," ucap Duke Louis dengan suara yang keras seperti sedang berorasi.

Semua orang yang ada di halaman depan kediaman Duke Louis pun langsung bersorak setelah ndengar perkataan Duke Louis. reka semua bersorak sebagai bentuk semangat sebelum njalani ekspedisi di pegunungan Orokho. reka tahu kalau ekspedisi di pegunungan Orokho bukanlah ekspedisi yang mudah, lainkan sangat berbahaya, tetapi reka mutuskan bersorak untuk ningkatkan keberanian reka.

Setelah itu, karena Duke Louis dan Duchess Arlet sudah mberikan beberapa kata kepada orang-orang yang ikut dalam ekspedisi, Duke Louis kemudian langsung rintahkan reka semua untuk bersiap karena sebentar lagi reka akan berangkat nuju pegunungan Orokho.

"Kalian semua bersiaplah karena sebentar lagi kita akan berangkat nuju pegunungan Orokho," ucap Duke Louis.

"Baik, tuan Duke," ucap orang-orang yang berada di halaman depan.

Setelah itu, reka semua pun mulai bersiap. Beberapa dari reka ada yang sedang mastikan apakah perlengkapan dan logistik yang reka bawa sudah sesuai atau tidak.

Sentara itu, disaat ada beberapa dari reka yang sedang mastikan perlengkapan dan logistik, ada juga beberapa dari reka yang kini sedang saling berbincang. reka sepertinya telah mpersiapkan diri jadi reka hanya tinggal nunggu waktu berangkat saja. Sambil nunggu, reka pun saling berbincang.

"Sudah jelas tuan Duke ingin njadikan ekspedisi kali ini sebagai ekspedisi yang terakhir karena banyak sekali prajurit yang ikut dalam ekspedisi kali ini. Selain itu, dalam ekspedisi kali ini juga banyak orang kuat yang ikut. Rid, putri Irene, nona Nadine, komandan Mina, komandan Asier, komandan Ivana, nona Duchess dan bahkan tuan Duke sendiri juga mutuskan ikut dalam ekspedisi kali ini. Tidak hanya reka saja, beberapa anggota keluarga San Lucia juga ikut dalam ekspedisi kali ini,"

"Banyaknya orang yang ikut mbuat ekspedisi kali ini tidak seperti ekspedisi pada umumnya. Daripada sebuah ekspedisi, ini lebih tepat disebut sebagai perang," ucap prajurit A.

"Kita mang ingin pergi berperang, yaitu berperang dengan makhluk penghuni pegunungan Orokho yang diceritakan oleh nona Duchess sebelumnya," ucap prajurit B.

"Dengan orang sebanyak ini, makhluk penghuni pegunungan Orokho itu pasti akan dapat dikalahkan kali ini," ucap prajurit C.

"Iya, apalagi Rid Archie juga ikut. Aku masih belum lupakan latih tanding antara dia lawan komandan Asier dan komandan Ivana yang terjadi kemarin. Dengan ikutnya dia, makhluk itu pasti akan dapat dikalahkan," ucap prajurit B.

-Bersambung

You are reading Peace Hunter Chapter 510 : Dimulainya Ekspedisi di Pegunungan Orokho on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Pokémon Court cover
Similar genre

Pokémon Court

Sounding Stream ·Action

SootopolisCity,atraditionalTrainerfoughtabattleagainstWallace,therepresentativeof...Readmore SootopolisCity,atraditionalTrainerfoughtabattleagainst...

Elven Invasion cover
Trending now

Elven Invasion

Respro ·Action

MagicvsScience HumanvsElves EarthvsForestia MortalvsGod ThisisataleinwhichGoddessLunainordertosaveherplanetandcivilizationstartsainvasiononEarth,Wi...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.