Font Size
15px

Kembali ke halaman depan kediaman Duke San Lucia.

Orang-orang yang berkumpul itu atau lebih tepatnya orang-orang yang awalnya akan ikut dalam ekspedisi ke pegunungan Orokho mulai ngangkat tangan kanan reka satu persatu. reka terus ngangkat tangan kanan reka sampai tidak ada satupun dari reka yang ngangkat tangan reka lagi.

Duchess Arlet yang lihat satu persatu dari reka mulai ngangkat tangan reka awalnya hanya bersikap biasa saja. Dia tahu kalau akan ada dari reka yang milih tidak ikut setelah dia njelaskan bahaya dari ekspedisi itu. Tetapi setelah orang-orang itu berhenti ngangkat tangan kanan reka, Duchess Arlet pun terkejut setelah lihat dan mperhatikan orang-orang yang ngangkat tangan kanan reka. Duchess Arlet terkejut karena tidak ada satupun dari prajurit Duke San Lucia yang ngangkat tangan kanan reka. Itu berarti para prajurit Duke San Lucia yang berkumpul itu milih untuk tetap ikut dalam ekspedisi di pegunungan Orokho skipun reka sudah tahu betapa berbahayanya ekspedisi itu.

"Kalian, kenapa tidak ada satupun dari kalian yang ngangkat tangan kanan kalian? Kalian sudah tahu kan kalau ekspedisi ini adalah ekspedisi yang berbahaya, tetapi kenapa tidak ada satupun dari kalian yang milih untuk tidak ikut?," tanya Duchess Arlet kepada para prajurit Duke San Lucia.

Para prajurit Duke San Lucia itu terdiam setelah ndengar pertanyaan Duchess Arlet. Namun tidak lama kemudian, salah satu dari prajurit itu mulai berbicara.

"Maaf, nona Duchess. Saya ingin nanyakan sesuatu kepada anda," ucap prajurit itu.

"nanyakan apa?," tanya Duchess Arlet.

"Jika sebagian besar dari orang-orang yang berkumpul disini milih untuk tidak ikut dan hanya tersisa sedikit orang saja yang ikut, apa ekspedisinya akan tetap dilanjutkan?," tanya prajurit itu.

"Iya, ekspedisinya akan tetap dilanjutkan. Bahkan jika tidak ada satupun prajurit yang ikut, kami keluarga San Lucia akan tetap lanjutkan ekspedisinya," ucap Duchess Arlet.

"Begitu ya. Kalau begitu, keputusan kami semua sudah tepat untuk tetap milih ikut dalam ekspedisi itu," ucap prajurit itu.

Duchess Arlet terlihat bingung setelah ndengar perkataan prajurit itu.

"Kenapa? Ekspedisi di pegunungan Orokho adalah ekspedisi yang berbahaya. Jika kalian tetap ikut, kalian mungkin bisa saja mati disana," ucap Duchess Arlet.

"Karena kami tahu ekspedisi itu adalah ekspedisi yang berbahaya, makanya kami mutuskan untuk tetap ikut. Mana mungkin kami akan mbiarkan keluarga yang kami layani selama ini berada dalam bahaya. Kami tidak akan mbiarkan hal itu karena itu akan nghancurkan harga diri kami sebagai prajurit Duke San Lucia," ucap prajurit itu.

Duchess Arlet yang ndengar itu pun terkejut. Tidak hanya Duchess Arlet saja, Duke Louis yang berada di samping Duchess Arlet juga terkejut setelah ndengar perkataan prajurit itu. Lalu, setelah prajurit itu ngatakan hal itu, para prajurit Duke San Lucia yang lain pun mulai berbicara.

"Itu benar, harga diri kami akan hancur apabila kami milih tidak ikut dalam ekspedisi di pegunungan Orokho sentara keluarga yang selama ini kami layani tetap milih ikut dalam ekspedisi itu,"

"Keluarga saya sudah sejak lama layani dan ngabdi kepada keluarga San Lucia. Ayah saya dan kakek saya dulu juga rupakan prajurit Duke San Lucia saat itu. reka juga pernah ikut dalam ekspedisi di pegunungan Orokho. skipun berbahaya reka tetap ikut dalam ekspedisi itu. Jika saya milih untuk tidak ikut dalam ekspedisi itu hanya karena ekspedisi itu berbahaya, saya akan mbuat malu ayah dan kakek saya,"

"Tuan Duke dan nona Duchess sudah beberapa kali mbantu saya dan keluarga saya. Jika tuan Duke dan nona Duchess mbutuhkan bantuan, tentu saya akan mbantu termasuk untuk ikut dalam ekspedisi di pegunungan Orokho. skipun berbahaya, saya tidak peduli. Saya siap mpertaruhkan nyawa saya,"

"Saya juga sama, saya siap untuk mpertaruhkan nyawa saya," ucap para prajurit Duke San Lucia.

Setelah ndengar itu, Duchess Arlet pun langsung terharu.

"Kalian....," ucap Duchess Arlet.

Tidak hanya Duchess Arlet saja, Duke Louis juga terharu setelah ndengar perkataan para prajurit Duke San Lucia. reka berdua tidak nyangka kalau para prajurit yang reka miliki akan berani mpertaruhkan nyawanya untuk reka. Padahal para prajurit itu sudah diberi kebebasan untuk milih apakah ingin lanjut ikut ekspedisi atau tidak, tetapi para prajurit itu tetap milih untuk ikut ski sudah tahu akan bahayanya.

Sentara komandan Asier, komandan Ivana dan para keluarga San Lucia yang lain terlihat tersenyum setelah ndengar perkataan para prajurit Duke San Lucia itu.

Beberapa saat kemudian, setelah sempat terharu dengan perkataan para prajurit Duke San Lucia, kini Duchess Arlet kembali bersikap normal. Dia lalu kembali ngatakan sesuatu kepada para prajurit yang sedang berkumpul itu.

"Sepertinya tidak ada yang ngangkat tangan lagi. Kalau begitu, untuk para prajurit yang ngangkat tangan, silahkan saling berkumpul. Untuk para prajurit yang tidak ngangkat tangan juga silahkan saling berkumpul agar kami bisa mbedakannya," ucap Duchess Arlet.

Para prajurit yang tidak ngangkat tangan kemudian mulai bergerak dan berkumpul dengan para prajurit yang tidak ngangkat tangan lainnya. Sentara para prajurit yang sebelumnya ngangkat tangannya terlihat belum bergerak sama sekali. Duchess Arlet yang nyadari itu pun terlihat bingung.

"Kalian yang sebelumnya ngangkat tangan, kenapa kalian belum bergerak dan saling berkumpul? Apa kalian masih mikirkan tentang keputusan kalian itu? Jika iya, kalian tenang saja. Sesuai perkataanku sebelumnya, aku yang akan bertanggung jawab apabila pemimpin kalian yaitu komandan Allister atau Yang Mulia Ratu mberikan hukuman. Jadi kalian tidak perlu khawatir," ucap Duchess Arlet.

Alasan Duchess Arlet nyebut nama komandan Allister dan Ratu Kayana adalah karena para prajurit yang ngangkat tangan itu semuanya adalah prajurit Storm Leopard dan prajurit yang berjaga di ibukota San Estella. Sentara para prajurit Duke San Lucia tidak ada satupun yang ngangkat tangan.

Setelah Duchess Arlet ngatakan itu, para prajurit yang ngangkat tangan itu masih belum bergerak juga. ski masih bingung kenapa para prajurit itu belum bergerak juga, Duchess Arlet kini hanya diam saja. Lalu tidak lama kemudian, salah satu dari prajurit yang sebelumnya ngangkat tangan tiba-tiba mulai berbicara.

"Maaf, nona Duchess. Saya ingin mbatalkan keputusan yang saya buat," ucap prajurit itu.

Duchess Arlet lalu noleh ke arah prajurit yang berbicara itu.

"Saya awalnya ngangkat tangan saya dan milih untuk tidak ikut dalam ekspedisi di pegunungan Orokho. Tetapi sekarang saya ingin mbatalkan keputusan saya itu. Saya tetap ingin ikut dalam ekspedisi di pegunungan Orokho," ucap prajurit itu.

Setelah prajurit itu berbicara, prajurit yang lain pun juga ikut berbicara.

"Saya juga, nona Duchess,"

"Saya juga. Saya tetap ingin ikut dalam ekspedisinya,"

"Saya juga," ucap para prajurit yang sebelumnya ngangkat tangan kanan reka.

Duchess Arlet pun terkejut setelah ndengar perkataan para prajurit itu.

"Bukannya kalian semua sebelumnya milih untuk tidak ikut? Kenapa kalian sekarang milih untuk mbatalkan pilihan kalian itu?," tanya Duchess Arlet.

Salah satu dari prajurit itu lalu njawab pertanyaan Duchess Arlet. Prajurit itu ngenakan seragam kerajaan San Fulgen yang berarti prajurit itu rupakan prajurit yang awalnya bertugas untuk njaga ibukota San Estella.

"Setelah lihat kesetiaan yang ditunjukkan oleh para prajurit San Lucia terhadap keluarga San Lucia, saya rasa malu pada diri saya sendiri. Para prajurit San Lucia berani milih untuk tetap ikut dalam ekspedisi di pegunungan Orokho ski reka sudah tahu seberapa bahaya ekspedisi tersebut. Malah reka siap untuk mpertaruhkan nyawa reka agar ekspedisi kali ini bisa berhasil dan tujuan ekspedisi ini pun dapat tercapai,"

"Sedangkan saya, setelah ngetahui bahaya dari ekspedisi tersebut, saya milih untuk tidak ikut karena saya takut. Padahal saya sudah dipilih oleh Yang Mulia Ratu untuk ikut dalam ekspedisi tersebut, tetapi saya milih untuk tidak ikut. Saya rasa malu karena saya tidak bertanggung jawab atas tugas yang diberikan kepada saya dari Yang Mulia Ratu. Saya rasa kalau saya sudah tidak setia dengan Yang Mulia Ratu karena milih kabur dari tugas yang diberikan beliau,"

"Saya benar-benar tertampar setelah lihat kesetiaan yang ditunjukkan oleh para prajurit Duke San Lucia. Kali ini, saya juga ingin nunjukkan kesetiaan saya kepada orang yang saya layani yaitu Yang Mulia Ratu," ucap prajurit itu.

Setelah prajurit itu berbicara, kali ini giliran seorang prajurit dari Storm Leopard yang berbicara.

"Dia benar. Saya juga tertampar setelah lihat para prajurit Duke San Lucia. Saya juga ingin nunjukkan kesetiaan saya kepada komandan saya yaitu komandan Allister. Jadi saya milih untuk tetap ikut dalam ekspedisi ini," ucap prajurit itu.

Setelah itu, para prajurit yang sebelumnya ngangkat tangan kanan reka pun ikut berbicara juga. Semua prajurit itu ngatakan alasan yang sama dengan yang dikatakan 2 prajurit sebelumnya. Sentara Duchess Arlet terlihat masih terkejut saat ndengar perkataan prajurit-prajurit itu. Tidak hanya Duchess Arlet saja, Duke Louis pun juga terkejut.

"Apa kalian yakin? Apa kalian yakin ingin tetap ikut ski sudah tahu bahayanya? Jika kalian tetap milih tidak ikut pun kami tidak masalah. Kami juga akan bertanggung jawab apabila kalian diberi hukuman oleh Yang Mulia Ratu atau komandan Allister," ucap Duchess Arlet.

Setelah Duchess Arlet ngatakan itu, para prajurit itu lalu ngatakan sesuatu dengan kompak.

"Kami yakin!," ucap para prajurit itu.

Duke Louis dan Duchess Arlet pun kembali terkejut. reka tidak nyangka kalau para prajurit yang sebelumnya milih untuk tidak ikut, kini milih untuk ikut kembali. Duke Louis dan Duchess Arlet yang terkejut pun tidak bisa berkata-kata. reka pun terdiam.

Tidak lama kemudian, Duke Louis lalu noleh ke arah Duchess Arlet.

"Sayang, ini....," ucap Duke Louis.

Saat ini, wajah Duke Louis terlihat sedikit senang.

"Iya. Jika reka semua mutuskan untuk ikut, itu berarti jumlah prajurit yang ikut kali ini lebih banyak daripada ekspedisi-ekspedisi sebelumnya,"

"Mungkin saja, kali ini kita bisa nyelesaikan ekspedisi ini dan ngakhirinya untuk selamanya," ucap Duchess Arlet.

Setelah ngatakan itu kepada Duke Louis, Duchess Arlet lalu berbicara kepada para prajurit yang ada di hadapannya.

"Aku terkejut sekaligus terharu. Aku tidak nyangka kalau semua prajurit yang terpilih untuk ikut dalam ekspedisi di pegunungan Orokho sudah yakin untuk ikut dalam ekspedisi tersebut. Tidak ada satupun dari prajurit yang terpilih yang milih untuk tidak ikut,"

"Terima kasih. Aku benar-benar berterima kasih kepada kalian karena telah milih untuk ikut ski kalian sudah tahu betapa berbahayanya ekspedisi ini," ucap Duchess Arlet sambil sedikit mbungkuk.

Para prajurit, tepatnya para prajurit dari Storm Leopard dan prajurit yang bertugas di ibukota San Estella terlihat terkejut ketika lihat Duchess Arlet sedikit mbungkuk. reka sepertinya tidak nyangka kalau bangsawan tingkat tinggi seperti Duchess Arlet sampai mau mbungkuk ke arah reka. Sentara para prajurit Duke San Lucia terlihat hanya bersikap biasa saja. reka tentu sudah terbiasa dengan sikap Duke Louis dan Duchess Arlet.

Setelah berterima kasih kepada para prajurit yang ada di hadapannya, Duchess Arlet kembali ngatakan sesuatu kepada para prajurit tersebut.

"Tentang ekspedisi di pegunungan Orokho yang akan dilaksanakan 2 hari lagi, apa kalian masih ada pertanyaan tentang ekspedisi tersebut?," tanya Duchess Arlet.

Para prajurit itu pun terdiam yang nandakan kalau tidak ada yang ingin reka tanyakan.

"Tidak ada ya. Baiklah, karena sudah tidak ada hal lain yang ingin aku dan suamiku sampaikan, maka kami berdua ingin undur diri dulu. Setelah ini, kalian semua boleh bubar dan berisitirahat, apalagi ada di antara kalian yang baru saja tiba di kediaman ini seperti para prajurit Storm Leopard dan para prajurit dari ibukota San Estella,"

"Itu saja yang ingin kami sampaikan, sekarang kalian boleh bubar," ucap Duchess Arlet.

Setelah itu, orang-orang yang berkumpul di halaman depan kediaman Duke Louis seperti para anggota keluarga San Lucia, para prajurit, dan para pelayan pun langsung mbubarkan diri. Duke Louis dan Duchess Arlet pun ikut mbubarkan diri. reka berdua langsung pergi ke dalam kediaman reka.

Irene, Leandra dan Lily yang juga ikut berkumpul terlihat juga ikut mbubarkan diri.

"Ayo kita kembali ke tempat latihan, Leandra, Lily," ucap Irene.

"Baik, nona," ucap Leandra dan Lily.

reka bertiga mutuskan untuk kembali ke tempat latihan untuk berlatih. Ketika reka sedang berjalan nuju tempat latihan, tiba-tiba komandan Asier datang nghampiri reka.

"Irene," ucap komandan Asier.

Irene pun langsung mberhentikan langkahnya dan noleh ke arah komandan Asier yang manggilnya.

"Kak Asier? Kakak baru tiba ya?," tanya Irene.

"Iya, aku baru tiba tepat sekitar 10-15 nit sebelum semua orang telah berkumpul disini, jadi aku tidak sempat untuk nyapa semuanya tadi," ucap komandan Asier.

"Begitu ya. Bagaimana kondisi kakak? Apa kakak dalam kondisi fit untuk ikut dalam ekspedisi kali ini?," tanya komandan Asier.

"Aku sekarang dalam kondisi fit, bahkan sangat fit. Aku sangat siap untuk ngikuti ekspedisi itu. Bagaimana denganmu? Semalam aku dengar dari ibunda kalau kamu akan ikut," ucap komandan Asier.

"Aku juga dalam kondisi fit," ucap Irene.

"Begitu ya. Kalian berdua gimana, Leandra, Lily? Karena Irene mutuskan untuk ikut dalam ekspedisi di pegunungan Orokho, apa kalian juga mutuskan untuk ikut?," tanya komandan Asier.

"Iya, tuan muda. Kami mutuskan untuk juga ikut dalam ekspedisi di pegunungan Orokho," ucap Leandra.

"Sesuai perkataan Lea, tuan muda," ucap Lily.

"Begitu ya. Jika situasi di pegunungan Orokho nanti njadi berbahaya, kalian segera lah pergi ninggalkan pegunungan Orokho. Karena seperti yang ibunda tadi bilang, lawan kita di pegunungan Orokho nanti kemungkinan adalah sosok Roh tingkat tinggi. reka adalah makhluk yang sangat berbahaya," ucap komandan Asier.

"Baik, tuan muda. Kami juga akan mbawa nona Irene bersama kami nanti," ucap Leandra.

"Aku ngandalkan kalian," ucap komandan Asier.

"Tunggu, aku tidak akan pergi dari pegunungan itu skipun kalian mbawaku," ucap Irene.

Setelah itu, komandan Asier kembali berbicara. Tetapi dia mbicarakan hal lain yang berbeda dengan pembicaraan barusan.

"Ngomong-ngomong, Irene, aku tidak lihat Rid tadi. Apa dia sedang berlatih di perbatasan pegunungan Orokho?," tanya komandan Asier.

"Iya, kakak," ucap Irene.

"Padahal 2 hari lagi kita semua juga akan pergi ke pegunungan itu, tetapi dia masih saja berlatih di perbatasan pegunungan itu. Kapan biasanya dia selesai latihan?," tanya komandan Asier.

"Paling cepat sore hari dia sudah kembali kesini," ucap Irene.

"Jadi paling lama malam hari ya. Itu berarti hari ini sepertinya aku tidak bisa ngajaknya latih tanding. Aku ingin sekali ncoba berlatih tanding dengannya," ucap komandan Asier.

"Aku juga ingin ncoba berlatih tanding dengan Rid," ucap suara seorang wanita.

Komandan Asier, Irene, Leandra dan Lily langsung noleh ke asal suara wanita tersebut. Ketika reka semua telah noleh, reka lihat komandan Ivana yang sedang berjalan ndekati reka.

"Kak Ivana," ucap Irene.

"Kamu juga ingin berlatih tanding dengan Rid, kak Ivana?," tanya komandan Asier.

"Iya. Aku penasaran ingin nguji seberapa kuat orang yang telah ngalahkan tuan Remy," ucap komandan Ivana.

"Aku pun juga sama. Kalau begitu besok kamu berlatih dengan Rid setelah aku, kak Ivana. Karena aku yang akan lebih dulu berlatih tanding dengannya," ucap komandan Asier.

"Tidak, aku yang lebih dulu, Asier," ucap komandan Ivana.

reka berdua pun saling berdebat untuk nentukan siapa yang akan berlatih tanding dengan Rid lebih dulu. Sentara Irene hanya diam saja sambil lihat reka berdua yang terus berdebat.

-

Malam harinya, di kamar Rid.

Setelah selesai mandi dan berganti pakaian di kamar mandi, aku lalu keluar dari kamar mandi. Setelah keluar, aku lihat Irene yang sedang berbaring di kasur tempatku tidur sambil mbaca buku milikku.

"Aku sudah selesai mandi. Ayo pergi makan malam, Irene," ucapku.

"Iya," ucap Irene.

Setelah itu, Irene pun beranjak dari kasurku. Saat Irene sudah berdiri, Irene kembali berbicara kepadaku.

"Ngomong-ngomong, Rid, saat kamu pulang tadi, apa kamu bertemu dengan kak Asier dan kak Ivana?," tanya Irene.

"Tidak, mangnya ada apa?," tanyaku.

"Kak Asier dan kak Ivana kelihatannya ingin latihan tanding denganmu. Besok reka berdua sepertinya akan ngajakmu untuk berlatih tanding," ucap Irene.

"Kak Asier dan kak Ivana akan ngajakku untuk berlatih tanding besok?," tanyaku.

"Iya. Apa kamu akan nerimanya apabila reka berdua ngajakmu untuk berlatih tanding?," tanya Irene.

"Tentu saja, ini kesempatan yang langka untuk bisa berlatih tanding dengan 2 komandan prajurit. Latih tanding dengan reka akan berguna untuk ngukur kekuatanku saat ini. Aku nantikannya," ucapku.

-

Keesokan harinya, di tempat latihan kediaman Duke San Lucia.

Aku baru saja selesai berlatih tanding di tempat latihan itu. Di dekatku, ada Irene dengan tubuh yang terdapat beberapa luka. Irene saat ini sedang terduduk sambil gang rapiernya sebagai pijakan agar dia tidak terjatuh. Tidak hanya Irene saja, ada juga Leandra dan Lily yang saat ini sudah tergeletak dengan kondisi tubuh yang dipenuhi beberapa luka. reka bertiga dalam kondisi tersebut karena ulahku. Aku baru saja ngalahkan reka bertiga sekaligus dalam 1 latihan tanding.

Setelah itu, aku pun langsung nyembuhkan reka bertiga.

~Full Healing~

reka bertiga pun langsung pulih total setelah aku sembuhkan. Setelah nyembuhkan reka bertiga, aku ndengar suara seseorang yang sedang berbicara kepadaku.

"Kelihatannya kamu sudah selesai berlatih tanding dengan reka, Rid," ucap suara itu.

Aku kenal dengan suara itu. Suara itu adalah suara komandan Asier. Setelah ndengar suara itu, aku pun langsung noleh ke asal suara itu dan benar kalau suara itu adalah suara komandan Asier. Komandan Asier saat ini ngenakan pakaian atau seragam yang dikhususkan untuk berlatih. Dia tidak ngenakan seragam komandan yang biasa dia kenakan.

"Kak Asier," ucap

"Karena kamu sudah selesai dengan reka, sekarang adalah giliranku," ucap komandan Asier.

"Tidak, sekarang adalah giliranku, Asier," ucap seorang wanita.

Aku kenal dengan suara wanita tersebut. Suara tersebut adalah suara komandan Ivana. Ketika aku noleh ke asal suara tersebut, ternyata benar kalau suara tersebut rupakan suara komandan Ivana. Komandan Ivana ngenakan pakaian yang dikhususkan untuk berlatih sama seperti yang dikenakan komandan Asier.

"Kak Ivana, bukannya kemarin aku sudah bilang kalau aku yang lebih dulu berlatih dengan Rid?," tanya komandan Asier.

"mang kamu bilang begitu, tetapi aku tidak nyetujuinya. Aku yang lebih dulu berlatih dengan Rid," ucap komandan Ivana.

reka berdua pun mulai berdebat. Beberapa nit kemudian, karena perdebatan reka tidak kunjung selesai, aku pun langsung berbicara dengan reka.

"Kak Asier, kak Ivana, jika kalian berdua masih berdebat tentang siapa yang lebih dulu berlatih tanding denganku, bagaimana jika kalian berdua berlatih tanding sekaligus denganku? Jadi, aku akan lawan kalian berdua sekaligus," ucapku.

-Bersambung

You are reading Peace Hunter Chapter 508 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho part on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Dragon God Supreme cover
Similar genre

Dragon God Supreme

Seven Luan ·Action

Theordinaryyouthlackedtheexceptionaltalentsofhispeers,yethepossessedashockingheritage,bearingamysteriousbloodlineandharboringthespiritoftheEvilDrag...

Top-tier Unruly Master cover
Trending now

Top-tier Unruly Master

Be Qin Sanchi ·Other

WhenDingFanopenedhiseyesagain,everythingbeforehimhadchanged.ACultivatorrebornonEarth,hefoundhimselfinthedespisedbodyofadisgracedheir.Fistsstrikinga...

Tycoon War God cover
Trending now

Tycoon War God

Once Young ·Other

Inhispreviouslife,LinMuwasthetopassassinonEarth.HeaccidentallytraversedtotheEternalImmortalRealm,where,overthespanofeighthundredyears,hecultivatedf...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.