Setelah ndengar perkataan Duchess Arlet, Irene terlihat sangat terkejut.
"Divine Ice Elental Spirits!?," ucap Irene.
Tidak hanya Irene saja, aku pun juga terkejut. Tetapi aku tidak terlalu terkejut karena sebelumnya aku sudah nduga identitas sebenarnya dari makhluk itu. Aku terkejut karena ternyata dugaanku benar.
"Ternyata dugaanku benar. Makhluk yang dilawan bibi Arlet itu ternyata rupakan salah satu Divine Elental Spirits. Divine Elental Spirits, Roh tingkat tinggi yang rupakan roh terkuat setelah pemimpin reka yaitu Spirit Queen,"
"Dari buku tentang para Roh yang aku baca, tempat tinggal para Roh berada di negeri Roh, ’Geestenland’ yang letaknya berada di tengah hutan besar yang bernama ’Himnaskogur’ yang letaknya di bagian barat laut benua utara ini. Kenapa makhluk seperti itu bisa ada di pegunungan Orokho yang berada di bagian timur benua utara ini? Jarak antara hutan ’Himnaskogur’ dengan pegunungan Orokho sangatlah jauh," pikirku.
Disaat aku sedang mikirkan itu, aku ndengar Duchess Arlet kembali berbicara.
"Tetapi apa yang barusan aku bilang hanyalah kesimpulan yang aku pikirkan saja. Aku tidak tahu apakah makhluk itu benar-benar adalah Divine Ice Elental Spirits atau bukan karena aku belum mastikannya sendiri. Aku hanya nebak dari wujud dan kekuatannya saja," ucap Duchess Arlet.
Setelah ngatakan itu, Duchess Arlet lalu noleh ke arahku dan mulai berbicara kembali.
"Rid, jika makhluk itu benar rupakan Divine Ice Elental Spirits, apa kamu bisa ngalahkannya?," tanya Duchess Arlet.
Aku tidak langsung njawab pertanyaan Duchess Arlet dan milih untuk diam sejenak. Tetapi tidak lama kemudian, aku mulai njawab pertanyaan Duchess Arlet.
"Aku tidak tahu, bibi Arlet. Selama ini, aku belum pernah ngalahkan Roh sekalipun baik itu Roh tingkat rendah maupun Roh tingkat tinggi. Tetapi setidaknya aku tahu cara ngalahkan Roh,"
"Dari buku yang mbahas tentang para ras lain yang pernah aku baca, Roh miliki ’Spirit Core’ yang rupakan jantung reka. Apabila ’Spirit Core’ pada sebuah Roh dihancurkan atau diambil, Roh tersebut akan mulai lemah. Selain itu, ’Spirit Core’ juga berperan penting untuk bisa ngalahkan para Roh. Keistiwaan para Roh adalah reka dapat mbentuk tubuh reka kembali apabila tubuh reka dipotong, dihancurkan atau diserang dengan tode apapun. Tetapi jika ’Spirit Core’ reka dihancurkan atau diambil lebih dulu, reka tidak akan bisa mbentuk tubuh reka kembali setelah reka diserang. Apabila tubuh reka hancur seutuhnya setelah ’Spirit Core’ reka dihancurkan atau diambil, reka akan langsung mati,"
"Namun, ski reka miliki kelemahan yaitu ’Spirit Core’, ’Spirit Core’ tidak bisa dilihat oleh semua orang. Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa lihat ’Spirit Core’ dalam tubuh para Roh. Aku tidak tahu apakah aku termasuk dalam orang-orang itu atau tidak karena aku belum pernah bertemu dengan Roh jadi aku tidak tahu apakah aku bisa lihat ’Spirit Core’ atau tidak," ucapku.
Duke Louis, Duchess Arlet dan Irene terlihat hanya diam saja sambil fokus ndengar perkataanku. Sentara itu, aku terus lanjutkan perkataanku.
"Baik itu Roh tingkat rendah, Roh tingkat nengah dan Roh tingkat tinggi seperti Divine Elental Spirits, reka sudah pasti dapat dikalahkan apabila ’Spirit Core’ reka dihancurkan atau diambil dari tubuh reka. Tetapi untuk para Roh tingkat tinggi seperti Divine Elental Spirits, nurut buku yang aku baca, ’Spirit Core’ reka miliki karakteristik yang berbeda dengan ’Spirit Core’ yang dimiliki oleh Roh tingkat rendah dan Roh tingkat nengah. Tetapi aku tidak tahu apa yang mbedakannya. Buku itu hanya bilang kalau ’Spirit Core’ reka berbeda tetapi tidak mberi tahu apa perbedaannya,"
"Selain nghancurkan atau ngambil ’Spirit Core’, ada satu cara lain untuk bisa ngalahkan Roh yaitu dengan nunggu reka kehabisan Mana dan reka akan lemah dengan sendirinya. Tentu cara yang ini rupakan cara tersulit apalagi untuk lawan Roh tingkat tinggi karena sulit ngetahui kapan reka akan kehabisan Mana. Roh tingkat tinggi miliki kapasitas Mana yang lebih besar dari Roh yang tingkatnya berada di bawah reka. Jadi sulit ngetahui kapan reka akan kehabisan Mana disaat kita sedang bertarung lawan reka," ucapku.
Setelah aku selesai berbicara, Duchess Arlet pun mulai berbicara kembali untuk nanggapi perkataanku.
"Cara ngalahkan Roh yang barusan kamu jelaskan kurang lebih sama dengan yang aku tahu. Jadi, karena kamu sudah tahu cara ngalahkan Roh, karena kamu sudah ngetahui kelemahan reka, apa kamu bisa ngalahkannya apabila makhluk yang tinggal di pegunungan Orokho itu rupakan Divine Ice Elental Spirits?," tanya Duchess Arlet.
Aku pun langsung njawab pertanyaan Duchess Arlet.
"Sama seperti yang aku katakan sebelumnya, bibi Arlet. Aku tidak tahu apakah aku bisa ngalahkannya karena selama ini aku belum pernah ngalahkan Roh sekalipun. ski begitu, aku akan ncobanya. Aku akan ncoba untuk ngalahkan makhluk itu skipun makhluk itu rupakan salah satu dari Divine Elental Spirits,"
"Jika aku bisa ngalahkan makhluk itu, itu nandakan kalau aku sudah semakin kuat. Itu juga nandakan kalau aku sudah bisa bertarung atau lawan orang-orang atau para makhluk kuat yang ada di dunia ini. Selain Divine Elental Spirits yang rupakan Roh terkuat, di dunia ini masih ada orang atau makhluk yang lebih kuat dari reka," ucapku.
Saat aku ngatakan itu, tiba-tiba aku teringat pertarunganku dengan nona Leirion di Akademi. Saat itu, aku benar-benar dikalahkan dengan telak olehnya. Aku bahkan tidak bisa nyerangnya sekalipun. Saat itu, aku nyadari kalau perbedaan kekuatanku dengannya terlampau sangat jauh. Entah sekarang jika aku lawannya lagi, apakah aku sudah bisa lawannya dengan seimbang atau belum.
"Untuk bisa wujudkan impianku yaitu mbuat seluruh dunia ini njadi damai, aku pasti akan nghadapi orang-orang atau para makhluk kuat di dunia ini yang tidak setuju dengan impianku. Jika aku tidak bisa nghadapi dan lawan reka, maka aku tidak akan bisa wujudkan impianku,"
"Hal ini berlaku juga untuk makhluk yang tinggal di pegunungan Orokho. Aku tidak tahu apakah makhluk itu benar-benar Divine Ice Elental Spirits atau bukan, tetapi yang jelas apabila aku tidak bisa ngalahkan makhluk itu, aku tidak akan bisa wujudkan impianku. Itu karena jika aku tidak bisa ngalahkan makhluk itu, maka aku pastinya juga tidak akan bisa ngalahkan orang-orang atau para makhluk kuat di dunia ini yang tidak setuju dengan impianku,"
"Jadi aku akan ngalahkan makhluk itu, bibi Arlet. Jika makhluk itu benar Divine Ice Elental Spirits, ski aku belum pernah ngalahkan Roh, aku akan ncoba ngalahkan makhluk itu. Aku akan ngalahkan makhluk itu untuk mbuktikan kalau aku bisa wujudkan impianku," ucapku.
Setelah aku ngatakan itu, Duke Louis, Duchess Arlet dan Irene terlihat terkejut. Tidak lama kemudian, Duchess Arlet tiba-tiba tersenyum.
"Begitu ya. Itu legakan ndengar kamu akan ncoba dan berusaha untuk ngalahkan makhluk itu. Kamu nampak sangat percaya diri ketika ngatakan itu. Tidak salah kami mpercayakanmu untuk ngalahkan makhluk itu, Rid," ucap Duchess Arlet sambil tersenyum.
"Serahkan padaku, bibi Arlet. Aku akan berusaha sebaik mungkin untuk bisa ngalahkan makhluk itu," ucapku.
"Iya, aku serahkan padamu nanti," ucap Duchess Arlet.
Setelah ngatakan itu, Duchess Arlet lalu noleh ke arah Irene dan mulai berbicara.
"Bagaimana, Irene? Setelah ndengar dan ngetahui kalau makhluk yang tinggal di pegunungan Orokho itu kemungkinan adalah Divine Ice Elental Spirits, apa kamu masih ingin ikut dalam ekspedisi ke pegunungan Orokho untuk ngalahkan makhluk itu?," tanya Duchess Arlet.
Tanpa basa-basi, Irene langsung njawabnya.
"Aku tetap ingin ikut, ibunda. Tidak peduli apapun wujud sebenarnya makhluk itu, aku tetap ingin ikut dalam ekspedisi di pegunungan Orokho,"
"Jika makhluk itu benar rupakan Divine Ice Elental Spirits, lawannya mungkin akan njadi pengalaman yang berharga sebelum aku ikut dengan Rid untuk wujudkan impiannya. Seperti yang barusan Rid bilang, untuk wujudkan impiannya, dia pasti akan nghadapi orang-orang atau para makhluk kuat yang tidak setuju dengan impiannya. Aku yang ikut dengannya juga pasti akan lawan reka,"
"Jika aku lawan dan bertarung dengan Divine Ice Elental Spirits itu, mungkin hal itu dapat mbantuku agar aku terbiasa nghadapi lawan-lawan yang sangat kuat nanti disaat aku ikut pergi dengan Rid," ucap Irene.
Duke Louis terlihat hanya diam saja setelah ndengar perkataan Irene, sentara Duchess Arlet terlihat tersenyum.
"Begitu ya. Jadi kamu ingin tetap ikut dalam ekspedisi ke pegunungan Orokho," ucap Duchess Arlet.
"Iya, ibunda," ucap Irene.
Setelah itu, Duchess Arlet pun terdiam sejenak. Tidak lama kemudian, dia pun mulai berbicara lagi.
"Baiklah. Kamu boleh ikut, Irene," ucap Duchess Arlet.
Irene terlihat sedikit tidak percaya setelah ndengar perkataan Duchess Arlet.
"Benarkah, ibunda?," tanya Irene.
"Iya. Aku mperbolehkankanmu untuk ikut dalam ekspedisi di pegunungan Orokho," ucap Duchess Arlet.
Setelah mastikan lagi kalau dia benar-benar boleh ikut, Irene lalu ngucapkan terima kasih kepada Duchess Arlet karena telah mperbolehkannya untuk ikut dalam ekspedisi.
"Terima kasih, ibunda," ucap Irene.
"Iya," ucap Duchess Arlet.
Sentara itu, Duke Louis terlihat hanya diam saja dan tidak bereaksi apa-apa. Padahal sebelumnya Duke Louis nentang Irene untuk ikut dalam ekspedisi.
Setelah itu, kami pun terus mbahas tentang ekspedisi di pegunungan Orokho.
"Ngomong-ngomong, bibi Arlet, kapan rencananya ekspedisi itu akan dilaksanakan?," tanyaku.
"Kami berencana untuk laksanakan ekspedisinya 3 hari lagi. Mulai besok dan lusa kami akan fokus untuk mpersiapkan segala hal yang dibutuhkan untuk ekspedisi yang akan dilaksanakan di hari selanjutnya,"
"Kami harus ndata para prajurit yang akan ikut. Selain prajurit milik kami, kami juga harus ndata para prajurit kerajaan San Fulgen dan para prajurit Storm Leopard yang akan ikut. Tadi kami sudah mbicarakan rencana kami untuk lakukan ekspedisi di pegunungan Orokho dengan Yang Mulia Ratu. Yang Mulia Ratu bilang kalau beliau akan mberikan bantuan dengan ngutus beberapa prajuritnya yang bertugas di Ibukota San Estella dan beberapa prajurit Storm Leopard milik komandan Allister. Saat kami mbicarakannya dengan komandan Allister tadi ketika dia mberikan laporan tentang 2 naga es itu, komandan Allister nyetujui bantuan Yang Mulia Ratu dan akan ngutus beberapa prajuritnya. Jadi para prajurit yang akan ikut dalam ekspedisi nanti terdiri dari para prajurit milik kami, prajurit Storm Leopard dan prajurit milik Yang Mulia Ratu yang bertugas di ibukota," ucap Duchess Arlet.
Setelah ndengar perkataan Duchess Arlet, aku lalu mberikan tanggapanku.
"Jika beberapa prajurit Storm Leopard dan prajurit milik Yang Mulia Ratu juga ikut, bukankah itu berarti akan ada banyak orang yang ikut dalam ekspedisi nanti?," tanyaku.
"Seharusnya iya, tetapi kami berencana untuk njelaskan tentang makhluk yang akan kita semua hadapi di pegunungan Orokho nanti kepada para prajurit entah itu prajurit milik kami, prajurit Storm Leopard dan prajurit milik Yang Mulia Ratu. Kami tidak ingin nutupi atau mbohongi reka jadi kami akan njelaskan semuanya dengan jujur kepada reka. Kami juga akan njelaskan tentang bahaya yang akan reka hadapi nanti ketika lakukan ekspedisi di pegunungan Orokho,"
"Setelah njelaskan kepada reka, kami mpersilahkan reka untuk milih apakah reka ingin tetap ikut atau tidak. nurutku, setelah reka ngetahui apa yang akan reka lawan nanti dan bahayanya, mungkin hanya sedikit saja dari reka yang akan tetap ikut," ucap Duchess Arlet.
Aku dan Irene pun terdiam setelah ndengar perkataan Duchess Arlet. Aku tidak tahu bagaimana harus nanggapi perkataan Duchess Arlet tetapi nurutku, apa yang akan Duchess Arlet dan Duke Louis lakukan itu sangat baik. reka njelaskan terlebih dahulu tentang apa yang akan para prajurit itu lawan di pegunungan Orokho dan seberapa besar bahayanya. reka tidak mau para prajurit itu terkejut nanti saat sampai di pegunungan Orokho apabila reka tidak njelaskannya lebih dulu. Apalagi, reka juga mpersilahkan para prajurit itu untuk milih apakah para prajurit itu ingin tetap ikut dalam ekspedisi atau tidak.
Aku ingin ngatakan hal itu kepada Duchess Arlet tetapi sepertinya saat ini lebih baik aku diam saja.
"Lalu, setelah ndata para prajurit yang akan ikut, kami kemudian harus mpersiapkan perbekalan yang ncukupi untuk semua orang yang ikut dalam ekspedisi di pegunungan Orokho nanti. Pokoknya selama 2 hari ke depan, kami akan benar-benar sibuk untuk mpersiapkan ekspedisi itu," ucap Duchess Arlet.
Setelah ndengar perkataan Duchess Arlet, aku berinisiatif untuk nawarkan bantuan kepada reka.
"Apa ada yang bisa aku bantu, bibi Arlet? Karena bibi Arlet dan paman Louis akan sibuk nanti, mungkin ada sesuatu yang bisa aku bantu," ucapku.
"Aku juga ingin mbantu. Jika ada yang bisa aku bantu, katakan saja, ibunda," ucap Irene yang juga berinisiatif nawarkan bantuan.
"Kalian tidak perlu lakukan apa-apa sampai dilaksanakannya ekspedisi nanti. Kalian fokus saja untuk berlatih dan mpersiapkan diri," ucap Duchess Arlet.
"Baiklah, bibi Arlet," ucapku.
"Baik, ibunda," ucap Irene.
Sepertinya tidak ada yang bisa aku dan Irene lakukan untuk mbantu reka.
"Oh iya soal berlatih, karena aku akan sibuk mulai besok sampai dilaksanakannya ekspedisi nanti, aku jadi tidak bisa latihmu dan berlatih tanding denganmu untuk sentara waktu, Irene. Aku minta maaf," ucap Duchess Arlet.
"Tidak apa-apa, ibunda. Ibunda tidak perlu minta maaf," ucap Irene.
"Baiklah. ski begitu aku tetap rasa tidak enak. Sebagai gantinya, setelah kita semua berhasil ngalahkan makhluk yang tinggal di pegunungan Orokho itu, aku berjanji akan ngizinkanmu untuk pergi bersama Rid dalam wujudkan impiannya," ucap Duchess Arlet.
Irene terlihat sedikit terkejut setelah ndengar perkataan Duchess Arlet. Namun ski sempat terkejut, Irene kemudian langsung nanggapi perkataan Duchess Arlet.
"Tidak, ibunda. skipun kita berhasil ngalahkan makhluk itu, tetapi jika aku masih belum bisa ngalahkanmu, maka aku tidak bisa pergi. Sesuai syarat yang kita sepakati sebelumnya, ibunda, aku baru bisa pergi setelah aku berhasil ngalahkanmu. Jadi aku akan ngalahkanmu terlebih dahulu sebelum aku pergi bersama Rid, ibunda," ucap Irene.
Duchess Arlet pun terkejut setelah ndengar perkataan Irene. Tetapi tidak lama kemudian dia pun tersenyum.
"Baiklah. Kalau begitu kita tetap pakai syarat yang kita sepakati sebelumnya," ucap Duchess Arlet.
"Iya, ibunda," ucap Irene.
"Baiklah. Itu saja yang ingin aku sampaikan, apa ada dari kalian yang ingin nanyakan sesuatu terkait ekspedisi nanti?," tanya Duchess Arlet.
"Tidak, bibi Arlet," ucapku.
"Tidak, ibunda," ucap Irene.
Baik aku dan Irene tidak miliki pertanyaan untuk ditanyakan.
"Ya sudah kalau begitu. Sayang, apa ada yang ingin kamu sampaikan lagi?," tanya Duchess Arlet kepada Duke Louis.
"Tidak ada," ucap Duke Louis.
Duke Louis yang sebelumnya hanya diam, kini mulai berbicara lagi.
"Ya sudah, karena sudah tidak ada yang ingin ditanyakan atau disampaikan, kalian berdua boleh kembali ke kamar kalian masing-masing," ucap Duchess Arlet.
"Baik, bibi Arlet," ucapku.
"Baik, ibunda," ucap Irene.
Setelah itu, aku dan Irene lalu bergegas untuk pergi ninggalkan ruangan itu. Lalu, saat aku sudah mbuka pintu dan hendak keluar dari ruangan itu, Duchess Arlet tiba-tiba ngatakan sesuatu kepadaku.
"Rid, aku ngucapkan terima kasih atas laporanmu tentang 2 naga es itu dan aku ngucapkan terima kasih lagi karena kamu telah bersedia untuk ikut dalam ekspedisi di pegunungan Orokho kali ini," ucap Duchess Arlet.
Setelah ndengar perkataan Duchess Arlet, aku lalu langsung nanggapinya.
"Sama-sama, bibi Arlet. Kalau begitu aku pergi dulu. Selamat malam, bibi Arlet, paman Louis," ucapku.
"Iya, selamat malam," ucap Duchess Arlet.
"Selamat malam, Rid," ucap Duke Louis.
Kemudian, aku berjalan keluar dari ruangan itu, nutup pintu itu kembali lalu segera berjalan pergi nuju ke kamarku.
Sentara itu, setelah Rid dan Irene pergi dari ruangan itu, Duchess Arlet lalu mbicarakan sesuatu dengan Duke Louis.
"Saat aku mperbolehkan Irene untuk ikut dalam ekspedisi di pegunungan Orokho, kamu hanya diam saja dan tidak nolak. Apa kamu sekarang sudah nyetujuinya, sayang?," tanya Duchess Arlet.
Duke Louis pun terdiam sejenak. Tetapi tidak lama kemudian dia mulai berbicara untuk njawab pertanyaan Duchess Arlet.
"Iya, aku nyetujuinya. Perkataanmu yang sebelumnya benar, aku sampai sekarang masih terlalu protektif kepada Irene. Aku baru sadar kalau Irene saat ini sudah dewasa. Dia berhak untuk nentukan pilihannya sendiri," ucap Duke Louis.
"Baguslah kalau kamu sekarang sudah ngerti. 1 tahun yang lalu, ketika Irene bilang kalau dia ingin ikut dengan Rid untuk wujudkan impian Rid, aku juga sempat nolak dan larang Irene untuk ikut. Tetapi saat itu juga aku sadar kalau Irene sudah dewasa, dia berhak untuk nentukan pilihannya sendiri. Kita sebagai orang tuanya wajar untuk khawatir, tetapi kita tidak berhak untuk ngatur-ngatur Irene lagi. Biarlah dia sendiri yang nentukan pilihannya," ucap Duchess Arlet.
"Iya, kamu benar," ucap Duchess Arlet.
Setelah itu, sebuah kristal komunikasi yang kebetulan sudah ada di atas ja kerja Duke Louis tiba-tiba ngeluarkan cahaya. Duke Louis dan Duchess Arlet terlihat sedikit terkejut ketika ngetahui kalau kristal komunikasi itu tiba-tiba bercahaya.
"Sepertinya ada yang ingin nghubungimu, sayang," ucap Duchess Arlet.
"Mungkin itu Yang Mulia Ratu," ucap Duke Louis.
Setelah itu, Duke Louis ngambil kristal komunikasi itu dan njawab panggilannya.
"Halo?," ucap Duke Louis.
"Tuan Louis, ini aku," ucap suara dari kristal komunikasi itu.
"Ada apa, Yang Mulia Ratu?," tanya Duke Louis.
Sesuai perkataan Duke Louis barusan, ternyata yang nghubunginya mang Ratu Kayana.
"Aku ingin nginformasikan kalau aku akan mberikan tambahan bantuan kepada anda yang ingin lakukan ekspedisi ke pegunungan Orokho. Sebelumnya, aku bilang kalau aku akan ngutus beberapa prajuritku untuk ikut dalam ekspedisi itu. Beberapa prajuritku itu akan aku utus untuk datang ke kediaman anda besok. Aku juga akan mberikan bantuan seperti bantuan perbekalan atau logistik," ucap Ratu Kayana.
Duke Louis terlihat terkejut setelah ndengar perkataan Ratu Kayana. Tidak hanya Duke Louis saja, Duchess Arlet yang ndengar pembicaraan reka pun juga terkejut.
"Itu terlalu banyak, Yang Mulia Ratu. Bantuan prajurit saja sudah cukup, Yang Mulia Ratu. Kami tidak mau terlalu repotkan anda," ucap Duke Louis.
"Ini tidak repotkan, tuan Louis. Sebelumnya aku sudah bilang kalau aku akan mbantu anda apabila anda ingin lakukan ekspedisi di pegunungan Orokho lagi. Ini bantuan yang bisa aku berikan,"
"Mungkin bantuan yang bisa aku berikan ini terlalu sedikit jadi aku minta maaf," ucap Ratu Kayana.
"Tidak, Yang Mulia Ratu. Justru bantuan ini lebih dari cukup, malah nurut saya bantuan ini terlalu berlebihan," ucap Duke Louis.
"Justru nurutku bantuan yang bisa aku berikan ini terlalu sedikit. Oleh karena itu aku akan mberikan bantuan tambahan. Aku akan ngizinkan Asier dan juga Ivana untuk ikut dalam ekspedisi itu," ucap Ratu Kayana.
Duke Louis dan Duchess Arlet pun kembali terkejut setelah ndengar perkataan Ratu Kayana.
-
Sentara itu, di sebuah gua yang ada di pegunungan Orokho.
Wanita berwujud humanoid naga yang tinggal di gua itu terlihat sedang lihat dan natap tajam dari kursi singgasananya. Wanita itu sedang natap tajam ke arah seseorang yang saat ini sedang berada tidak jauh di depannya. 100 ekor naga es dan 3 naga es berukuran sangat besar yang ada di belakang singgasana wanita itu juga terlihat sedang natap ke sosok seseorang itu. Sosok yang ada di depan wanita berwujud humanoid naga itu adalah seorang wanita manusia yang ngenakan pakaian perpaduan warna putih dan biru tua. Wanita itu miliki rambut dan kedua bola mata yang sama-sama berwarna biru tua.
Wanita itu adalah Undine, ’Rebelles Commanders’ kedua dari Engill Forstorelse sekaligus rupakan Divine Water Elental Spirits.
"Untuk apa kamu datang kemari, Undine?," tanya wanita naga itu sambil terus natap tajam ke arah Undine.
-Bersambung
Reviews
All reviews (0)