Font Size
15px

"Aku minta tolong kepadamu untuk ikut dalam ekspedisi di pegunungan Orokho kali ini," ucap Duke Louis.

Aku sedikit terkejut dengan perkataan Duke Louis. Aku tidak nyangka kalau aku akan dimintai tolong untuk ikut ekspedisi di pegunungan Orokho. Dulu saat aku masih njadi murid tahun pertama di akademi, aku pernah ditawari untuk ikut ekspedisi di pegunungan Orokho oleh komandan Asier. Komandan Asier lihat aku bisa nggunakan teknik pembunuh naga jadi dia ngajakku untuk mbunuh naga yang asli di pegunungan Orokho.

Komandan Asier waktu itu nyebut ’naga es’ yang tinggal di pegunungan Orokho, bukan ’makhluk yang nyerupai naga es’ seperti yang dikatakan oleh Duke Louis dan Duchess Arlet beberapa waktu yang lalu. Saat itu, sepertinya komandan Asier hanya mpercayai rumor-rumor yang beredar kalau ’naga es’ tinggal di pegunungan Orokho. Dia belum pernah pergi ke pegunungan Orokho jadi dia tidak tahu sebenarnya disana ada apa.

Sentara Duchess Arlet, beliau pernah pergi kesana. Beliau tentu tahu makhluk apa yang sebenarnya tinggal disana. Maka dari itu beliau tidak segan-segan langsung nyebut makhluk itu sebagai ’makhluk yang nyerupai naga es’ bukan ’naga es’. Itu berarti sosok makhluk itu rupakan makhluk dari ras atau entitas lain yang mirip dengan naga es.

Sentara itu, setelah Duke Louis minta tolong kepadaku, kini giliran Duchess Arlet yang minta tolong kepadaku.

"Aku juga minta tolong kepadamu, Rid. Tolong ikut dalam ekspedisi kali ini. Kami mbutuhkan kekuatanmu untuk ngalahkan ’makhluk’ yang tinggal di pegunungan Orokho,"

"Dalam ekspedisi kali ini, selain riksa apa yang sebenarnya terjadi di pegunungan Orokho sehingga mbuat banyak hewan buas dan monster yang turun, kami juga berniat untuk ngalahkan ’makhluk’ itu. Aku ingin mbalaskan dendamku terhadap ’makhluk’ itu karena telah ngalahkanku dan mbantai orang-orang yang ikut dalam ekspedisi saat itu. Tetapi aku sadar diri, aku tidak cukup kuat untuk ngalahkan ’makhluk’ itu. Bahkan, ski seluruh anggota San Lucia bergabung dan ikut dalam ekspedisi ini, aku yakin kalau itu masih tidak cukup untuk bisa ngalahkan ’makhluk’ itu. Karena itu, kami butuh kekuatanmu, Rid. Kamu yang sebelumnya pernah lawan tuan Remy yang kami semua tidak bisa lawan, pasti bisa ngalahkan makhluk itu," ucap Duchess Arlet.

Aku hanya terdiam setelah ndengar perkataan Duchess Arlet. ski Duchess Arlet mujiku seperti itu, aku tidak langsung nanggapi perkataannya. Aku tidak langsung nanggapi perkataan Duchess Arlet karena aku sedang mikirkan perkataan Duchess Arlet barusan. Duchess Arlet lagi-lagi nekankan kata ’makhluk’ kepada sosok yang tinggal di pegunungan Orokho dan bukan makai kata ’naga’ ataupun ’naga es’. Semakin mbuktikan kalau ’makhluk’ yang tinggal di pegunungan Orokho itu bukanlah ’naga es’ asli lainkan sosok ras atau entitas lain yang wujudnya nyerupai naga es.

Tetapi itu hanya opiniku saja, untuk lebih jelasnya alangkah baiknya aku bertanya langsung tentang ’makhluk’ itu kepada Duchess Arlet dan Duke Louis. Sebelumnya, ketika aku ndapat peringatan dari Duke Louis dan Duchess Arlet soal larangan untuk pergi ke pegunungan Orokho karena ada ’makhluk yang nyerupai naga es’ itu, aku milih untuk tidak bertanya lebih lanjut skipun aku sendiri penasaran. Tetapi sekarang, karena aku dimintai tolong untuk ikut dalam ekspedisi di pegunungan Orokho untuk ngalahkan ’makhluk itu’, sepertinya tidak ada salahnya jika aku minta penjelasan detail soal ’makhluk’ itu kepada Duke Louis dan Duchess Arlet.

Tetapi sebelum aku minta penjelasan detailnya, aku milih untuk nerima permintaan reka terlebih dahulu.

"Baiklah, paman Louis, bibi Arlet, aku akan ikut dalam ekspedisi di pegunungan Orokho," ucapku.

Duke Louis dan Duchess Arlet nampak senang setelah ndengar perkataanku.

"Terima kasih karena telah nerima permintaan kami, Rid," ucap Duke Louis.

"Terima kasih, Rid," ucap Duchess Arlet.

"Sama-sama, paman Louis, bibi Arlet," ucapku.

Alasanku nerima permintaan Duke Louis dan Duchess Arlet karena selama ini aku selalu diperlakukan dengan baik oleh Duke Louis, Duchess Arlet dan seluruh keluarga San Lucia lainnya. Jika reka minta tolong kepadaku, sudah pasti aku akan mbantu reka. Tidak peduli permintaan apapun itu, aku pasti akan mbantu reka apabila aku sanggup. Ikut dalam ekspedisi ke pegunungan Orokho rupakan permintaan yang bisa aku sanggupi. Aku bisa njadikan ekspedisi ini sebagai latihan terakhir sebelum nanti aku dilantik njadi komandan prajurit yang baru dan berpergian ke kerajaan atau negara lain.

Selain itu, dulu aku juga pernah berjanji kepada Irene untuk mbantunya ngalahkan ’naga es’ yang telah ngalahkan Duchess Arlet. ski sekarang bisa dibilang kalau sosok yang ngalahkan Duchess Arlet bukanlah ’naga es’ lainkan makhluk lain, janji tetaplah janji. Aku akan mbantu ngalahkan makhluk itu, maka dari itu aku nyetujui untuk ikut dalam ekspedisi di pegunungan Orokho.

Setelah nerima permintaan Duke Louis dan Duchess Arlet, selanjutnya aku ingin minta penjelasan detail soal ’makhluk yang nyerupai naga es’ yang ada di pegunungan Orokho yang sebelumnya pernah disebut oleh Duke Louis dan Duchess Arlet. Tetapi ketika aku ingin berbicara untuk minta penjelasan itu, tiba-tiba Irene telah lebih dulu berbicara.

"Ayahanda, ibunda, aku juga ingin ikut dalam ekspedisi ke pegunungan Orokho. Jika Rid ikut dalam ekspedisi itu, maka aku ingin ikut juga," ucap Irene.

Duke Louis dan Duchess Arlet nampak terkejut setelah ndengar perkataan Irene, sentara aku hanya bersikap biasa saja karena aku mang sudah tahu kalau jika ada ekspedisi ke pegunungan Orokho kembali, Irene akan ikut dalam ekspedisi itu.

"Apa!? Kamu ingin ikut dalam ekspedisi ke pegunungan Orokho?!," tanya Duke Louis yang masih terkejut.

"Iya," ucap Irene.

"Apa kamu tidak tahu kalau ekspedisi ke pegunungan Orokho rupakan ekspedisi yang berbahaya?," tanya Duke Louis.

"Aku tahu, ayahanda. Aku tahu betapa berbahayanya ekspedisi itu. Aku tahu berapa banyak korban yang sudah tewas karena ekspedisi itu, salah satunya adalah orang-orang yang ikut dalam ekspedisi bersama ibunda, reka semua tewas dengan kondisi yang ngenaskan. Bahkan ibunda sendiri terluka parah dan ngalami ’Frozen Sleep’ karena ekspedisi itu,"

"Aku tahu betapa berbahayanya ekspedisi itu, ayahanda. Tetapi aku tetap ingin ikut dalam ekspedisi itu," ucap Irene.

Setelah ndengar perkataan Irene, Duke Louis nampak tidak ingin nyetujui keinginan Irene itu. Itu semua terlihat dari wajahnya.

"Aku tidak bisa, aku tidak bisa ngizink-,"

Sebelum Duke Louis nyelesaikan perkataannya, Duchess Arlet tiba-tiba motong perkataan Duke Louis.

"Tunggu sebentar, sayang. Biar aku saja yang berbicara dengan Irene," ucap Duchess Arlet.

Duke Louis pun terdiam sambil nganggukkan kepalanya tanda setuju dengan Duchess Arlet. Setelah itu, Duchess Arlet pun mulai berbicara dengan Irene.

"Irene, kamu bilang kamu ingin ikut dalam ekspedisi ke pegunungan Orokho?," tanya Duchess Arlet.

"Iya, ibunda," ucap Irene.

"Apa alasannya?," tanya Duchess Arlet lagi.

"Aku ingin ngalahkan ’makhluk’ yang telah ngalahkan ibunda sebelumnya sekaligus yang telah mbuat iklim di pegunungan Orokho serta di wilayah San Lucia njadi dingin. Aku ingin ngalahkan ’makhluk’ itu dan mbuat iklim di wilayah San Lucia kembali seperti semula karena itu rupakan impianku," ucap Irene.

Duke Louis dan Duchess Arlet kembali terkejut setelah ndengar perkataan Irene. Sentara aku justru penasaran dengan pemilihan kata yang digunakan Irene. Dulu, Irene nggunakan kata ’naga es’ untuk sosok yang tinggal di pegunungan Orokho, tetapi sekarang dia nggunakan kata ’makhluk’. Sepertinya Irene sudah tahu tentang sosok sebenarnya yang tinggal di pegunungan Orokho. Mungkin Duke Louis dan Duchess Arlet sudah mberitahukannya soal itu kepada Irene. Tetapi Irene tidak pernah mbahas tentang hal itu kepadaku.

"Kamu ingin ngalahkan makhluk yang ada di pegunungan Orokho itu?," tanya Duke Louis yang masih terkejut.

"Iya," ucap Irene.

"Itu mustahil, Irene. Mustahil kamu bisa ngalahkan makhluk itu. Ibumu saja yang rupakan anggota keluarga San Lucia terkuat saja tidak mampu ngalahkannya. Bahkan ski dia sudah nggunakan teknik terlarang keluarga San Lucia, dia masih tidak bisa ngalahkan makhluk itu. Jadi mustahil bagimu untuk bisa ngalahkan makhluk itu, Irene," ucap Duke Louis yang terlihat masih tidak ingin Irene ikut dalam ekspedisi ke pegunungan Orokho.

"ski begitu, aku tetap ingin ikut ekspedisi itu, ayahanda," ucap Irene.

"Irene!!," ucap Duke Louis.

Duke Louis terlihat mulai marah kepada Irene karena Irene terus maksa untuk ikut dalam ekspedisi ke pegunungan Orokho. Sentara itu, disaat Duke Louis mulai marah, Duchess Arlet langsung nenangkan Duke Louis.

"Tenanglah, sayang. Aku tahu kamu tidak mau Irene ikut karena kamu tidak mau terjadi apa-apa kepada Irene. ski begitu, bukan berarti kamu harus marahi Irene agar dia tidak mau ikut," ucap Duchess Arlet.

Duke Louis pun terdiam setelah ndengar perkataan Duchess Arlet. Duke Louis pun juga terlihat sudah kembali tenang dan tidak marah lagi.

"Kamu terlalu protektif kepada Irene, sayang. Tetapi aku pikir itu wajar karena kamu yang paling lama njaga dan rawat Irene, apalagi ketika aku masih tertidur karena efek ’Frozen Sleep’,"

"Namun saat ini Irene sudah dewasa, kasian Irene jika kamu masih terlalu protektif kepadanya. Biarlah Irene nentukan pilihannya sendiri, seperti sebelumnya ketika dia ingin ikut bersama Rid dalam wujudkan impiannya. Yah ski aku mberikan syarat kepada Irene agar dia bisa ikut dengan Rid, tetapi aku akan mperbolehkannya apabila syarat itu terpenuhi,"

"Saat ini pun juga sama, biarlah Irene yang nentukan pilihannya sendiri. Biarkan saja jika dia ingin ikut dalam ekspedisi ke pegunungan Orokho. Aku tahu kalau kamu khawatir dengannya karena kamu rupakan ayahnya, aku sebagai ibunya pun juga khawatir. Tetapi kita tidak bisa selalu larang Irene yang sudah nentukan pilihannya itu, apalagi sekarang dia sudah dewasa. Dia berhak nentukan pilihannya sendiri," ucap Duchess Arlet.

Duke Louis hanya terdiam saja setelah ndengar perkataan Duchess Arlet. Wajahnya terlihat kecewa, entah itu kecewa pada diri dia sendiri karena terlalu protektif kepada Irene atau karena hal lain. Sentara itu, setelah mberikan penjelasan kepada Duke Louis, Duchess Arlet lalu noleh ke Irene.

"Irene," ucap Duchess Arlet.

Irene pun langsung noleh ke arah Duchess Arlet setelah ndengar namanya disebut.

"Aku terkesan dengan impianmu itu, Irene. Aku terkesan kamu ingin ngalahkan makhluk yang telah ngalahkanku. Rasanya seperti kamu ingin mbalas dendam untukku. Tetapi..... makhluk yang ada di pegunungan Orokho itu bukan makhluk yang bisa dikalahkan dengan mudah. Makhluk itu adalah monster yang bisa ngendalikan wilayah pegunungan Orokho sesuka hatinya," ucap Duchess Arlet.

Aku dan Irene pun terkejut setelah ndengar perkataan Duchess Arlet. Sebelumnya aku hanya ngetahui kalau makhluk yang ada di pegunungan Orokho adalah ’makhluk yang nyerupai naga es’, tetapi sekarang aku ndapatkan informasi tambahan kalau makhluk itu bisa ngendalikan wilayah pegunungan Orokho sesuka hatinya.

Lalu, ketika aku lihat Irene yang juga terkejut, sepertinya dia juga baru ngetahui soal ini. Dia mungkin sudah tahu soal ’makhluk yang nyerupai naga es’ yang tinggal di pegunungan Orokho tetapi dia belum ngetahui secara detail soal itu sama sepertiku.

"Monster yang bisa ngendalikan wilayah pegunungan Orokho sesuka hatinya? Sebenarnya makhluk apa yang tinggal di pegunungan Orokho itu? Sebelumnya aku hanya ndengar rumor kalau ada naga es yang tinggal di pegunungan Orokho, tetapi kemudian aku ndapatkan informasi dari bibi Arlet dan paman Louis kalau yang tinggal di pegunungan Orokho rupakan ’makhluk yang nyerupai naga es’. Saat ndengar tentang informasi itu, aku mutuskan untuk tidak ncari tahu lebih detail. Tetapi karena sekarang aku akan ikut dalam ekspedisi ke pegunungan Orokho, aku jadi penasaran tentang informasi detailnya. Apalagi kita pasti akan lawan makhluk itu di ekspedisi nanti,"

"Bibi Arlet, paman Louis, tolong ceritakan dengan detail soal makhluk apa yang tinggal di pegunungan Orokho itu," ucapku.

Karena pembicaraan antara Duchess Arlet dengan Irene ngarah ke sosok yang tinggal di pegunungan Orokho itu, aku jadi punya kesempatan untuk minta penjelasan detail soal sosok itu ke Duke Louis dan Duchess Arlet.

"Aku juga penasaran soal itu, ibunda. Sebelumnya ibunda hanya nceritakan saja kalau yang ibunda lawan rupakan ’makhluk yang nyerupai naga es’ tetapi ibunda tidak pernah nceritakan dengan detail soal hal itu," ucap Irene.

Setelah ndengar perkataan Irene, baik Duke Louis dan Duchess Arlet pun terdiam. Tetapi tidak lama kemudian, Duchess Arlet mulai berbicara.

"Biar aku saja yang njelaskannya, sayang, apalagi aku sendiri yang bertarung dengan makhluk itu," ucap Duchess Arlet kepada Duke Louis.

Duke Louis pun ngangguk setuju. Setelah itu, Duchess Arlet pun mulai berbicara kembali.

"Rid, tadi kamu bilang kalau sebelumnya kamu hanya ndengar rumor kalau ada ’naga es’ di pegunungan Orokho. Irene pasti juga sama, awalnya kamu pasti hanya ndengar rumor soal ini," ucap Duchess Arlet.

Aku dan Irene pun ngangguk setuju.

"Aku pun juga sama. Tidak hanya aku saja, suamiku dan seluruh keluarga San Lucia percaya kalau yang tinggal di pegunungan Orokho adalah sosok ’naga es’. Ketika aku dan pasukan ekspedisi yang bersamaku tiba di pegunungan Orokho, kami dihampiri dan diserang oleh banyak ’naga es’ baik itu yang berukuran kecil hingga yang berukuran besar. Mungkin besarnya sama seperti 2 naga es yang kamu kalahkan diperbatasan tadi," ucap Duchess Arlet.

Aku hanya terdiam setelah ndengar perkataan Duchess Arlet, sentara Duchess Arlet terus lanjutkan penjelasannya.

"Saat itu, kami terkejut lihat banyaknya naga es itu. Kami terkejut karena saat itu kami nganggap kalau yang tinggal di pegunungan Orokho adalah pemimpin naga es yang masih tersisa saja, tetapi malah ada banyak naga es yang nghampiri dan nyerang kami. ski sempat terkejut, aku nyadari adanya keanehan pada tubuh para naga es itu. Tubuh naga es itu terlihat seperti naga buatan yang terbuat dari sihir es. Setelah mbuktikannya dengan ngalahkan salah satu naga es itu, ternyata benar kalau para naga itu rupakan naga buatan, bukan naga yang sesungguhnya,"

"Saat itu, aku berpikir kalau sosok pemimpin naga es itulah yang nciptakan reka semua. Lalu, setelah kami yang tersisa sudah ngalahkan semua naga es itu baik itu naga es berukuran kecil hingga yang besar, aku mutuskan untuk ngakhiri ekspedisi di pegunungan Orokho saat itu. Hal itu dikarenakan ada 11 dari para prajurit ekspedisi yang telah tewas karena serangan naga es itu. Tidak mungkin kami lanjutkan ekspedisi dalam kondisi seperti itu. Jadi aku mutuskan untuk kembali dengan para prajurit yang tersisa sambil mbawa jasad 11 prajurit yang telah tewas itu,"

"Tetapi saat kami ingin kembali ke kota San Lucia, tiba-tiba kami didatangi oleh seorang wanita yang mirip dengan manusia tetapi dia miliki tanduk, sayap dan ekor yang mirip seperti tanduk dan ekor naga. Matanya pun juga mirip seperti mata naga," ucap Duchess Arlet.

Aku dan Irene pun kembali terkejut setelah ndengar perkataan Duchess Arlet. Aku pernah mbaca buku yang mbahas soal ras naga. Naga tingkat tinggi atau naga yang lebih unggul dari naga lainnya entah itu dari kekuatan, status dan lainnya, mpunyai kemampuan untuk berubah wujud ke wujud humanoid reka yaitu wujud yang mirip dengan manusia tetapi tidak nghilangkan karakteristik ras reka. Contohnya ski reka berubah wujud njadi mirip manusia, reka mpunyai mata, tanduk dan ekor, bahkan sayap yang nyerupai naga.

Setelah ndengar kalau Duchess Arlet dihampiri oleh wanita yang berwujud seperti wujud humanoid naga, aku ngira kalau wanita itu rupakan naga tingkat tinggi. Setidaknya begitu sampai aku ndengar lanjutan penjelasan dari Duchess Arlet.

"Wanita itu nganggap kalau dia pemimpin naga es yang tinggal di pegunungan Orokho. Aku langsung mpercayai begitu saja ucapan wanita itu, apalagi setelah lihat wujudnya yang mirip dengan wujud humanoid naga tingkat tinggi. Tetapi begitu aku bertarung dengannya secara langsung, aku nyadari kalau wanita itu sepertinya bukanlah naga,"

"Wanita itu bisa nggunakan sihir es dengan baik. Sihir es yang digunakannya ski terlihat sebagai sihir es yang sepele tetapi dampak dari serangan sihir esnya itu sangat berbahaya karena bisa langsung nyebabkan kematian. Sebagian dari prajurit ekspedisi yang tersisa tewas karena serangan sihir es dari wanita itu. Lalu, wanita itu juga bisa ngendalikan seluruh wilayah pegunungan Orokho sesuka hatinya. Sebagian lagi dari prajurit ekspedisi yang tersisa tewas karena tempat reka berpijak tiba-tiba berubah njadi duri berukuran besar yang tajam. Padahal jarak reka dengan wanita itu sudah jauh tetapi wanita itu bisa ngendalikan tempat para prajurit itu berada karena para prajurit itu masih berada di wilayah pegunungan Orokho,"

"Selain itu, wanita itu juga tidak bisa terluka. Hal itu yang mbuatku yakin kalau wanita itu bukanlah naga skipun wujudnya nyerupai naga," ucap Duchess Arlet.

Aku dan Irene kembali terkejut setelah ndengar perkataan Duchess Arlet.

"Tidak bisa terluka!?," ucap Irene.

"Apa tubuh wanita itu sama sekali tidak bisa tergores oleh serangan anda?," tanyaku.

"Tidak, aku justru bisa nggores tubuh wanita itu. Aku bisa nyerang tubuhnya seperti nusuknya, bahkan aku sempat motong-motong tubuhnya njadi beberapa bagian dengan seranganku. Tetapi, setiap aku berpaling dan nganggap kalau aku sudah nang lawannya, tiba-tiba tubuhnya sudah pulih kembali. Tubuhnya yang sebelumnya sudah terpotong-potong telah kembali njadi utuh lagi," ucap Duchess Arlet.

"Tubuhnya bisa pulih kembali skipun sudah terpotong-potong? Apa mungkin tubuh itu adalah sebuah clone?," tanya Irene yang masih terkejut.

"Tidak, entah kenapa aku rasa kalau yang aku lawan saaf itu bukanlah sebuah clone lainkan mang tubuh aslinya. Aku juga rasa kalau itu bukanlah sebuah ilusi. Lalu aku sempat berpikir kalau dia nggunakan sihir pemulihan untuk mulihkan tubuhnya tetapi bagaimana bisa dia nggunakan sihir penyembuhan ketika tubuhnya sudah terpotong-potong? Ketika tubuhnya sudah terpotong-potong seharusnya dia sudah mati," ucap Duchess Arlet.

Aku dan Irene pun terdiam setelah ndengar perkataan Duchess Arlet. Apa yang dikatakan oleh Duchess Arlet itu masuk akal. Aku yang bisa nggunakan sihir penyembuhan tidak akan bisa nggunakan sihir penyembuhan saat tubuhku sudah terpotong-potong. Jika hanya 1 atau 2 anggota tubuhku yang terpotong kecuali kepala, aku mungkin masih bisa nggunakan sihir penyembuhan karena aku pasti masih tersadar. Tetapi jika tubuhku sudah terpotong-potong njadi beberapa bagian, jangankan tersadar, saat itu terjadi aku pasti sudah mati jadi mustahil aku bisa nggunakan sihir penyembuhan ketika aku sudah mati.

Hal itu mbuatku bingung dan bertanya-tanya tentang makhluk yang dilawan Duchess Arlet. Makhluk itu bisa mulihkan tubuhnya lagi ski tubuhnya sudah terpotong-potong njadi beberapa bagian.

"Sebenarnya makhluk apa yang dilawan oleh bibi Arlet di pegunungan Orokho?," pikirku.

Saat aku mikirkan hal itu, tiba-tiba dipikiranku terlintas suatu ras yang kemampuannya sama seperti yang diceritakan oleh Duchess Arlet. Aku pernah mbaca buku yang mbahas tentang ras lain jadi aku sedikit tahu tentang kemampuan ras lain selain manusia.

"Makhluk yang dilawan bibi Arlet itu, jangan-jangan.....," pikirku.

Saat aku sedang mikirkan itu, Duchess Arlet tiba-tiba kembali lanjutkan penjelasannya.

"ski makhluk itu ngklaim sebagai pemimpin naga es, apalagi wujudnya juga mirip dengan wujud humanoid naga, tetapi aku yakin kalau makhluk itu sebenarnya bukanlah naga,"

"lihat kemampuan sihir esnya yang luar biasa, kemampuannya dalam ngendalikan wilayah pegunungan Orokho baik itu dannya atau iklimnya, kemampuan pemulihannya skipun tubuhnya sudah terpotong-potong dan penampilannya yang ngambil wujud wanita, hal itu mbuatku ndapatkan kesimpulan tentang wujud sebenarnya wanita itu,"

"Wanita itu sepertinya rupakan salah satu Roh tingkat tinggi. Salah satu dari Divine Elental Spirits yang rupakan ratu atau pemimpin dari segala Roh es, Divine Ice Elental Spirits," ucap Duchess Arlet.

-Bersambung

*Note dari Author :

Halo para pembaca Peace Hunter. Saya mau nginformasikan kalau novel Peace Hunter akan update lebih lambat di platform ini. Hal ini dikarenakan saya ingin fokus update di platform dimana saya mbuat bab berbayar untuk novel ini. Di platform ini, novel Peace Hunter tidak ndapatkan kontrak sehingga saya tidak bisa mbuat bab berbayar pada novel ini. Ini dibuktikan dengan tidak adanya bab berbayar dari Chapter 1 sampai Chapter terbaru sehingga kalian bisa mbacanya secara gratis.

Jika kalian ingin mbaca di platform yang updatenya cepat, kalian bisa mbaca di aplikasi Joyread, Novelah, Hinovel dan Funread. Di aplikasi tersebut, novel Peace Hunter sudah ncapai Chapter 511.

Tetapi jika kalian masih tetap ingin mbaca di platform ini, saya tidak akan mpermasalahkannya tetapi saya minta kalian untuk maklumi apabila update bab terbaru di platform ini lebih lambat.

Itu saja yang ingin saya sampaikan, terima kasih atas perhatiannya.

You are reading Peace Hunter Chapter 504 : Persiapan Ekspedisi di Pegunungan Orokho on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Elven Invasion cover
Similar genre

Elven Invasion

Respro ·Action

MagicvsScience HumanvsElves EarthvsForestia MortalvsGod ThisisataleinwhichGoddessLunainordertosaveherplanetandcivilizationstartsainvasiononEarth,Wi...

Top-tier Unruly Master cover
Trending now

Top-tier Unruly Master

Be Qin Sanchi ·Other

WhenDingFanopenedhiseyesagain,everythingbeforehimhadchanged.ACultivatorrebornonEarth,hefoundhimselfinthedespisedbodyofadisgracedheir.Fistsstrikinga...

Tycoon War God cover
Trending now

Tycoon War God

Once Young ·Other

Inhispreviouslife,LinMuwasthetopassassinonEarth.HeaccidentallytraversedtotheEternalImmortalRealm,where,overthespanofeighthundredyears,hecultivatedf...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.