Setelah aku nebas leher 2 naga es itu hingga kepala reka terpisah dari leher reka, kepala reka lalu jatuh ke tanah yang dipenuhi oleh salju. Kepala reka pun langsung hancur berkeping-keping njadi pecahan-pecahan es kecil begitu nyentuh tanah. Sentara kedua tubuh reka yang sudah kehilangan kepalanya secara perlahan mulai retak dan kemudian ikut hancur njadi pecahan-pecahan es berukuran kecil dan besar.
Sentara itu, setelah nebas leher 2 naga es itu, aku lalu kembali naruh pedangku di pinggangku sambil lesat turun ke tanah setelah sebelumnya aku berada di udara untuk nebas 2 naga es itu. Setelah aku sudah turun dan berpijak di tanah, aku lalu berbalik untuk nghampiri wakil komandan Agneta dan beberapa anggota Storm Leopard yang bersamanya. Saat aku sedang nghampiri reka, reka nampak masih terkejut dengan apa yang baru saja terjadi.
"Nona Agneta dan para prajurit sekalian, apa kalian semua tidak apa-apa?," tanyaku.
Wakil komandan Agneta dan para prajurit itu hanya terdiam. Wajah reka nampak masih terkejut. Tetapi tidak lama kemudian, nona Agneta mulai berbicara untuk njawab pertanyaanku. Dia baru berbicara mungkin karena baru nyadari kalau aku barusan sedang bertanya kepadanya.
"I-iya, kami semua tidak apa-apa," ucap wakil komandan Agneta sambil lihat ke para prajurit yang bersamanya satu-persatu.
Setelah dipastikan kalau semua prajurit itu baik-baik saja, wakil komandan Agneta lalu kembali berbicara kepadaku.
"Terima kasih karena telah lindungi dan nyelamatkan kami semua, Rid Archie," ucap wakil komandan Agneta sambil sedikit mbungkuk.
Tidak hanya wakil komandan Agneta, para prajurit Storm Leopard yang lain juga berterima kasih kepadaku.
"Sama-sama," ucapku.
Setelah itu, wakil komandan Agneta tiba-tiba mujiku.
"Kamu luar biasa sekali, Rid Archie. Kamu bisa nebas semburan dari naga es yang besar itu njadi 2 dan nghilangkannya dalam 1 kali serangan. Tidak hanya itu, kamu juga bisa ngalahkan 2 naga es itu dalam 1 serangan juga," ucap wakil komandan Agneta.
"Aku bisa ngalahkan 2 naga es itu karena 2 naga es itu bukanlah naga asli, lainkan naga yang tercipta dari sihir es. Ini dibuktikan dari leher reka yang tidak ngeluarkan darah setelah aku tebas. Selain itu, tubuh reka pun juga langsung hancur setelah aku kalahkan persis seperti makhluk ciptaan yang terbuat dari sihir lainnya apabila dikalahkan,"
"Jika yang aku lawan adalah naga asli, aku tidak tahu apakah aku bisa ngalahkannya atau tidak," ucapku.
Setelah aku ngatakan itu, wakil komandan Agneta tiba-tiba terdiam sambil lihat ke arah bongkahan-bongkahan es yang berasal dari tubuh 2 naga es yang hancur itu.
"Mungkin benar, kamu bisa ngalahkan 2 naga es itu dengan mudah karena 2 naga es itu bukanlah naga asli. Namun, ski hanya ngalahkan 2 naga es yang tercipta dari sihir, kamu tetaplah luar biasa karena bisa ngalahkan reka dalam sekali serang. Aku saja belum tentu bisa ngalahkan 2 naga es itu dalam sekali serang. Pokoknya kamu benar-benar luar biasa, Rid Archie," ucap wakil komandan Agneta.
Aku punya firasat yang tidak enak karena sejak tadi wakil komandan Agneta terus nerus mujiku.
"Hei, Rid Archie, apa kamu mau bergabung dengan pasukan Storm Leopard?," tanya wakil komandan Agneta.
Ternyata firasat tidak enak yang aku rasakan tidaklah salah. Alasan wakil komandan Agneta terus mujiku karena dia ingin rekrutku untuk bergabung dengan pasukan Storm Leopard.
ski wakil komandan Agneta sudah berusaha rekrutku, tetapi aku dengan berat hati harus nolaknya.
"Maaf, nona Agneta. Aku tidak bisa bergabung dengan pasukan Storm Leopard," ucapku.
"Kenapa? Bukankah kamu saat ini belum bergabung dengan pasukan manapun? Kamu juga belum bergabung dengan pasukan prajurit tuan Duke Louis kan?," tanya wakilomandan Agneta.
"Iya, aku saat ini mang belum bergabung di pasukan manapun termasuk di pasukan prajurit tuan Duke Louis," ucapku.
"Kalau kamu belum bergabung dengan pasukan manapun, kenapa kamu nolak tawaranku untuk bergabung dengan pasukan Storm Leopard?," tanya wakil komandan Agneta.
"Aku punya alasan tersendiri. Aku minta maaf kalau aku tidak bisa mberitahu alasanku itu," ucapku.
Alasan aku nolak untuk bergabung dengan pasukan Storm Leopard karena sebentar lagi aku akan dilantik njadi komandan prajurit kerajaan San Fulgen yang baru yang ditugaskan untuk mbangun hubungan yang baik dengan kerajaan lain. Hari ini, sudah tepat 1 tahun sejak aku bilang kepada Ratu Kayana untuk mberi waktu 1 tahun untuk aku berlatih agar njadi lebih kuat sebelum njadi komandan prajurit yang baru. Sebentar lagi, Ratu Kayana pasti akan nghubungi untuk mbahas tentang pelantikanku njadi komandan prajurit yang baru itu. Mungkin sekarang Ratu Kayana sudah nghubungi Duke Louis atau Duchess Arlet karena beliau tidak bisa nghubungi secara langsung saat aku sedang latihan di perbatasan pegunungan Orokho.
Aku tidak bisa mberitahu kalau aku akan dilantik njadi komandan prajurit yang baru kepada wakil komandan Agneta karena itu masih dirahasiakan. Hal itu baru bisa diumumkan setelah aku dilantik nanti. Jadi aku hanya bisa nolak tawaran wakil komandan Agneta dengan alasan yang rahasia.
"Hmmm begitu ya. Ya sudah jika kamu nolaknya," ucap wakil komandan Agneta.
"Aku minta maaf, nona Agneta," ucapku.
"Kamu tidak perlu minta maaf, lagipula wajar jika ada penolakan saat rekrut seseorang. Sebelumnya kami pun juga sering ditolak saat ingin rekrut seseorang untuk njadi bagian dari pasukan kami. Yah ski sangat disayangkan kalau orang sekuat dirimu tidak njadi bagian dari pasukan kami," ucap wakil komandan Agneta.
Aku pun hanya bisa terdiam setelah ndengar perkataan wakil komandan Agneta.
"Yah sekarang lebih baik kita berhenti mbahas hal itu dan beralih mbahas hal yang lain," ucap wakil komandan Agneta.
Setelah itu, wakil komandan Agneta tiba-tiba berjalan nuju bongkahan-bongkahan es yang tercipta dari tubuh 2 naga es yang hancur itu. Wakil komandan Agneta lalu gang salah satu dari bongkahan es itu. Bongkahan es yang dipegangnya itu berukuran sama dengan tangannya.
"Siapa yang telah nciptakan 2 naga es berukuran besar ini?," tanya wakil komandan Agneta dengan wajah yang serius.
Aku pun terdiam sambil mikirkan sesuatu. Para prajurit Storm Leopard yang datang bersama wakil komandan Agneta juga terdiam. Tetapi reka terdiam bukan karena mikirkan sesuatu, tetapi reka terdiam karena sepertinya sedang ngingat tentang 2 naga es yang nyerang reka barusan. Wajah reka terlihat terkejut dan beberapa juga terlihat ketakutan.
"Aku kenal beberapa orang yang bisa nggunakan sihir penciptaan dari sihir elen, di antara reka ada juga yang bisa mbuat naga dari sihir elen. Naga buatan reka berukuran cukup besar, tetapi 2 naga es yang barusan itu ukurannya jauh lebih besar dari naga buatan reka. Ini pertama kalinya aku lihat Naga yang berukuran sangat besar sepert itu," ucap wakil komandan Agneta.
Sama seperti wakil komandan Agneta, aku juga baru pertama kali lihat Naga yang tercipta dari sihir elen miliki ukuran yang sangat besar. Bahkan naga buatanku saja ukurannya tidak sebesar itu.
"Sebenarnya siapa yang telah nciptakan 2 naga es ini?," tanya wakil komandan Agneta.
Ketika aku sedang terdiam, aku teringat pesan dari Duke Louis dan Duchess Arlet. Sebelumnya, ketika aku mberitahu reka kalau tempat latihanku sudah berpindah tepat di perbatasan antara pegunungan Orokho dan wilayah San Lucia dari yang sebelumnya hanya di bagian utara wilayah San Lucia yang dekat dengan perbatasan saja, reka berdua langsung terkejut. reka tidak nyangka kalau aku akan nggunakan wilayah perbatasan itu sebagai tempat latihan. reka lalu berusaha mberitahu dan larangku agar aku tidak berlatih di tempat itu lagi. Tetapi aku mberitahu reka berdua kalau aku rlukan ’bahan latihan’ yang tangguh dan kuat agar aku bisa njadi lebih kuat. reka berdua lalu akhirnya paham dan mperbolehkanku latihan di perbatasan pegunungan Orokho.
Tetapi reka mberi pesan dan mperingatiku untuk tidak masuki wilayah pegunungan Orokho karena pegunungan Orokho rupakan wilayah yang sangat berbahaya saat ini. Selain karena suhu pegunungan Orokho yang sangatlah dingin, para monster atau hewan buas yang tinggal di pegunungan Orokho juga sangat banyak, mungkin lebihi yang tinggal di perbatasan. Di sana juga ada monster atau hewan buas yang lebih buas dan berbahaya dari yang ada di perbatasan. Selain itu, Duke Louis dan Duchess Arlet juga bilang kalau di pegunungan Orokho ada ’makhluk yang nyerupai naga es’ yang masih tinggal disana.
"Paman Louis dan bibi Arlet mberitahu kalau di pegunungan Orokho ada ’makhluk yang nyerupai naga es’. Paman Louis dan bibi Arlet tidak nyebut ’naga es’ lainkan ’makhluk yang nyerupai naga es’. Itu berarti makhluk itu bukanlah naga lainkan makhluk lain yang nyerupainya. Apa mungkin makhluk itu yang telah nciptakan 2 naga es ini? Selain itu, apa mungkin di pegunungan Orokho sebenarnya tidak ada naga es seperti yang dikatakan orang-orang, lainkan hanya ada ’makhluk yang nyerupai naga es’ seperti yang dikatakan Duke Louis dan Duchess Arlet?," pikirku.
Aku ingin nyampaikan pemikiranku ini kepada wakil komandan Agneta tetapi aku tidak tahu apakah informasi tentang ini sudah disebarluaskan atau tidak. Selama ini, orang-orang hanya ngetahui kalau di pegunungan Orokho ada naga es bukan ’makhluk yang nyerupai naga es’ seperti yang diberitahu oleh Duke Louis dan Duchess Arlet. Aku tidak tahu apakah para prajurit Storm Leopard sudah ngetahui hal ini atau belum. Aku tidak bisa asal mberitahukan informasi ini apabila informasi ini belum disebarluaskan.
"Aku tidak tahu siapa yang nciptakan 2 naga es itu tetapi yang jelas 2 naga es itu berasal dari pegunungan Orokho. Itu berarti yang nciptakannya ada di pegunungan Orokho," ucapku njawab pertanyaan wakil komandan Agneta.
"Pegunungan Orokho....., disana dikabarkan ada naga es dan keluarga San Lucia sebelumnya sering lakukan ekspedisi di pegunungan itu untuk ngalahkan naga es itu. Aku tidak tahu apakah benar ada naga es di pegunungan itu atau tidak karena aku belum pernah lihat sendiri tetapi keluarga San Lucia bilang kalau disana mang ada naga es jadi itu pasti benar. Apalagi sebelumnya nona Duchess Arlet sempat tertidur dalam waktu yang lama karena bertarung dengan naga es itu pegunungan itu," ucap wakil komandan Agneta.
ndengar wakil komandan Agneta mbicarakan tentang naga es di pegunungan Orokho berarti bisa dipastikan kalau dia belum ngetahui tentang ’makhluk yang nyerupai naga es’ yang tinggal di pegunungan Orokho. Itu berarti informasi tentang hal itu masih dirahasiakan.
"Tetapi jika mang ada naga es di pegunungan itu, kenapa bukan naga es itu sendiri yang datang kemari? Malah hanya naga yang tercipta dari sihir es yang datang kemari. Apa mungkin seekor naga es bisa nciptakan naga es yang lain dari sihir?," tanya wakil komandan Agneta.
"Itu mungkin saja karena dari sebuah buku yang pernah aku baca, naga juga bisa nggunakan sihir. Tidak ngherankan apabila reka juga bisa nggunakan sihir penciptaan," ucapku.
"Tetapi ini tetap saja aneh. Naga es yang nciptakan rasnya sendiri dari sihir, bukankah ini terasa aneh?," tanya wakil komandan Agneta.
"Ini sama seperti manusia yang nciptakan manusia lainnya dari sihir, tidak ada yang aneh akan hal itu. Mungkin anda berkata seperti itu karena anda belum pernah lihat ras lain nciptakan makhluk yang sama dengan ras reka dengan nggunakan sihir," ucapku.
"Iya, mungkin seperti itu. Aku sendiri juga belum pernah sama sekali lihat naga yang asli, apalagi lihat reka nggunakan sihir," ucap wakil komandan Agneta.
"Daripada itu, soal 2 naga es ini, aku akan mberitahunya kepada tuan Duke dan nona Duchess. Mungkin reka tahu sesuatu soal naga es ini dan siapa yang nciptakannya. Aku akan mberitahu kepada reka nanti setelah aku selesai berkeliling," ucapku.
"Aku juga akan mberitahu komandan tentang hal ini. Aku akan langsung mberitahunya sekarang jadi ini waktunya kita berpisah, Rid Archie. Sayang sekali, padahal aku dan para prajurit yang bersamaku ingin ikut berkeliling denganmu di wilayah perbatasan ini," ucap wakil komandan Agneta.
"Hal itu bisa dilakukan lain kali, nona Agneta. Lagipula saat ini situasinya sedang ndesak karena kemunculan 2 naga es ini," ucapku.
"Iya, kamu benar. Ya sudah kalau begitu aku pergi dulu untuk laporkan tentang hal ini kepada komandan Allister. Sampai jumpa, Rid Archie," ucap wakil komandan Agneta.
"Iya, sampai jumpa, nona Agneta," ucapku.
Setelah itu, wakil komandan Agneta dan para prajurit Storm Leopard yang bersamanya mulai pergi ninggalkan tempatku berada. reka pergi njauhi wilayah perbatasan untuk nuju ke kota San Lucia. Aku terus lihat ke arah reka yang secara perlahan mulai pergi njauh dariku sambil mikirkan sesuatu.
"Jadi wakil komandan Agneta dan para prajurit yang nemaninya itu ingin ikut berkeliling denganku di perbatasan ini ya. Untungnya reka tidak jadi ikut karena kemunculan 2 naga es itu. Aku rasa tidak nyaman apabila reka ikut karena aku nanti jadi tidak bisa berlatih dengan serius soalnya reka pasti akan lihat dan mperhatikanku. Aku juga jadi tidak bisa berlatih dengan nggunakan ~Light Magic~ dan ~Dark Magic~ apabila reka ikut denganku,"
"Untungnya reka tidak jadi ikut, semua ini berkat kemunculan 2 naga es itu. Tetapi kalaupun 2 naga es itu tidak muncul, aku mungkin akan langsung nolak reka yang ingin ikut denganku," pikirku.
Setelah mikirkan itu, aku yang kini masih lihat ke arah wakil komandan Agneta dan para prajurit Storm Leopard yang sudah njauh, lalu noleh ke arah pegunungan Orokho yang berada di arah sebaliknya. Aku lalu natap pegunungan itu dengan tajam.
"Pegunungan Orokho....," ucapku.
Setelah cukup lama natap pegunungan itu, aku lalu kembali lanjutkan langkahku untuk pergi ke area perbatasan lain yang belum aku datangi.
-
Sentara itu, di sebuah gua yang berada di pegunungan Orokho.
Wanita naga yang sedang tertidur di kursi singgasananya itu tiba-tiba terbangun. Dia terbangun dengan ekspresi yang sedikit terkejut.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Kedua naga es yang baru aku kirim tiba-tiba sudah dikalahkan?," tanya wanita itu.
Dia masih terkejut sekaligus bingung tentang 2 naga es berukuran besar yang belum lama dia perintahkan untuk mbunuh orang yang telah ngganggu waktu istirahatnya.
"Siapa sebenarnya orang yang telah ngalahkan 2 naga es ciptaanku dengan cepat itu," pikir wanita itu.
Saat wanita naga itu sedang mikirkan tentang orang yang telah ngalahkan 2 naga es ciptaannya, wanita naga itu tiba-tiba kembali terkejut karena dia rasakan sesuatu.
"Tunggu, hawa keberadaan ini.....Kenapa dia bisa ada di pegunungan ini?," tanya wanita naga itu.
-
Malam harinya di kediaman Duke Louis.
Saat ini, aku sedang berada di dalam ruang kerja Duke Louis untuk mberitahu soal 2 naga es yang aku kalahkan di perbatasan pegunungan Orokho. Di ruangan ini saat ini hanya ada aku, Duke Louis, Duchess Arlet dan Irene. Irene sejak awal sudah berada di ruangan ini saat aku datang ke ruangan ini setelah pulang berlatih di wilayah perbatasan.
Saat aku mberitahu Duke Louis dan Duchess Arlet tentang 2 naga es itu, reka berdua nampak tidak terkejut. Mungkin karena reka sudah ndengarnya dari komandan Allister yang juga ndengar informasi itu dari wakil komandan Agneta. Sentara Irene terlihat sedikit terkejut setelah ndengar hal itu.
"Komandan Allister juga mberitahu hal yang sama. Jadi kamu dan beberapa prajurit Storm Leopard yang dipimpin oleh wakil komandan Agneta tiba-tiba didatangi dan diserang oleh 2 naga es berukuran sangat besar yang tercipta dari sihir es ya. Dan kamu berhasil ngalahkan 2 naga es itu," ucap Duke Louis.
"Iya, paman," ucapku.
"2 naga es berukuran besar yang tercipta dari sihir es. Tidak salah lagi, pasti ’dia’ yang nciptakan naga es itu," ucap Duchess Arlet.
Tubuh Duchess Arlet terlihat sedikit getar saat ngatakan itu. Saat nyadari kalau tubuh Duchess Arlet sedikit getar saat ngatakan itu, aku nyimpulkan kalau ’dia’ yang dimaksud oleh Duchess Arlet rupakan ’makhluk yang nyerupai naga es’ yang disebut oleh Duchess Arlet dan Duke Louis sebelumnya. Makhluk itu seperti adalah makhluk yang dihadapi oleh Duchess Arlet sampai mbuatnya harus nggunakan teknik terlarang keluarga San Lucia yang mbuat beliau tertidur dalam waktu yang lama.
Setelah itu, Duchess Arlet pun kembali berbicara.
"Situasi di perbatasan pegunungan Orokho saat ini sudah semakin ngkhawatirkan, sayang. Monster dan hewan buas dari pegunungan Orokho yang turun ke wilayah perbatasan sampai saat ini belum berkurang sedikitpun skipun setiap hari selalu dikalahkan oleh para prajurit Storm Leopard dan juga oleh Rid. Ditambah sekarang ’dia’ juga nggerakkan naga es ciptaannya hingga ke wilayah perbatasan. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di pegunungan Orokho sampai mbuat wilayah perbatasan terkena dampaknya. Padahal sebelumnya situasinya aman-aman saja. Sebelumnya, skipun di wilayah perbatasan muncul monster dan hewan buas yang berasal dari pegunungan Orokho, tetapi jumlahnya tidak sebanyak seperti akhir-akhir ini,"
"Kita harus secepatnya lakukan ekspedisi kembali di pegunungan Orokho untuk ncari tahu apa yang sebenarnya terjadi di pegunungan tersebut dan ngatasi hal yang sudah terjadi ini," ucap Duchess Arlet.
Tubuhnya terlihat sudah tidak getar lagi ketika ngatakan itu.
"Iya, kamu benar. Kita harus secepatnya lakukan ekspedisi di pegunungan Orokho," ucap Duke Louis.
Setelah ngatakan itu, Duke Louis tiba-tiba lihat tepat ke arahku dan kemudian mulai berbicara.
"Rid, seperti yang kamu dengar barusan, aku dan Arlet berencana untuk kembali lakukan ekspedisi di pegunungan Orokho,"
"Untuk itu, aku punya permintaan untukmu. Sebelum kamu mulai perjalananmu untuk wujudkan impianmu, aku minta tolong kepadamu untuk ikut dalam ekspedisi di pegunungan Orokho kali ini," ucap Duke Louis.
-Bersambung
Reviews
All reviews (0)