Malam harinya, di kediaman Duke Louis.
Aku saat ini sedang berada di ruangan Duke Louis bersama dengan Duke Louis dan juga Duchess Arlet. Alasan aku berada di ruangan Duke Louis karena aku sedang mberitahu tentang pertemuanku dengan Ratu Kayana tadi siang kepada Duke Louis dan Duchess Arlet. reka berdua kelihatannya sangat penasaran tentang pertemuanku dengan Ratu Kayana. reka bahkan langsung nanyaiku tentang hal itu begitu aku kembali ke kediaman reka. Tetapi skipun reka penasaran, reka masih bisa nahan diri karena reka mpersilahkanku untuk istirahat sejenak terlebih dahulu karena aku baru saja kembali dari White Palace.
Lalu setelah aku selesai mberitahu dan njelaskan tentang pertemuanku dengan Ratu Kayana, reka berdua pun langsung nanggapi penjelasanku.
"Jadi pedang berwarna biru dan putih yang ada di pinggangmu itu rupakan pedang hadiah dari Yang Mulia Ratu atas kontribusimu dalam insiden penyerangan di akademi sebelumnya ya. Aku tidak nyangka kalau Yang Mulia Ratu akan mberikanmu sebuah pedang, bahkan pedang yang diberikan rupakan salah satu dari harta kerajaan San Fulgen," ucap Duke Louis.
"Aku sendiri juga tidak nyangka kalau aku akan diberikan pedang yang rupakan salah satu harta kerajaan, paman," ucapku.
"Padahal kami sudah berniat untuk mbuatkanmu sebuah pedang yang baru, Rid. Tetapi ternyata Yang Mulia Ratu malah sudah mberikanmu sebuah pedang yang baru. Sayang sekali," ucap Duchess Arlet.
"Iya, itu benar. Sayang sekali kami jadi tidak bisa mbuatkanmu sebuah pedang yang baru," ucap Duke Louis.
Aku sedikit terkejut karena ternyata Duke Louis dan Duchess Arlet berniat untuk mbuatkanku sebuah pedang yang baru. Karena aku sudah diberikan pedang oleh Ratu Kayana, reka pun batal untuk mbuatkanku sebuah pedang baru. skipun reka tetap mbuatkanku sebuah pedang yang baru, mungkin aku akan nolaknya karena aku khawatir pedang itu tidak akan kupakai. Saat ini aku sudah diberikan pedang oleh Yang Mulia Ratu. Selain itu, aku juga miliki 2 buah pedang yang rupakan pedang peninggalan orang tuaku. Jika aku ndapatkan sebuah pedang lagi, sudah pasti kalau pedang itu tidak akan kupakai.
Setelah ndengar perkataan reka berdua, aku mutuskan untuk minta maaf.
"Maafkan aku, paman Louis, bibi Arlet," ucapku sambil sedikit mbungkuk.
Aku minta maaf kepada reka berdua karena gara-gara aku yang nerima pedang dari Ratu Kayana, reka berdua jadi batal untuk mbuatkanku sebuah pedang. ski aku seharusnya tidak bersalah karena aku hanya nerima hadiah yang diberikan oleh Ratu Kayana tetapi entah kenapa aku berpikir kalau aku harus minta maaf.
Setelah ndengar permintaan maafku, Duke Louis dan Duchess Arlet pun nanggapi permintaan maafku dengan sedikit terkejut.
"Tidak apa-apa, Rid. Kamu tidak perlu minta maaf," ucap Duchess Arlet.
"Itu benar. Kamu tidak perlu minta maaf, Rid," ucap Duke Louis.
Setelah ndengar perkataan reka itu, aku njadi sedikit lega.
"Baiklah, paman Louis, bibi Arlet," ucapku.
"Daripada itu, aku tidak nyangka kalau Yang Mulia Ratu akan ndukungmu untuk wujudkan impianmu. Bahkan beliau akan nunjukmu sebagai komandan prajurit baru yang akan ditugaskan untuk mbangun hubungan baik antara kerajaan San Fulgen dengan kerajaan atau negara lain. Tugas komandan prajurit itu benar-benar sesuai dengan impian yang ingin kamu wujudkan," ucap Duke Louis.
"Iya, aku juga tidak nyangkanya. lihat Ratu Kayana yang selalu ndukungmu, entah kenapa Ratu Kayana jadi terlihat seperti ibumu," ucap Duchess Arlet.
"Bibi Arlet bisa saja. Aku sendiri pun juga tidak nyangka kalau Ratu Kayana akan ndukungku bahkan sampai nunjukku untuk njadi komandan prajurit baru yang tugasnya sesuai dengan impian yang aku wujudkan," ucapku.
"Karena kamu akan njadi komandan prajurit nanti, itu berarti akan miliki pasukanmu sendiri. Apa kamu sudah terpikirkan siapa orang-orang yang akan njadi anggota pasukanmu nanti?," tanya Duke Louis.
"Belum, paman Louis. Lagipula aku baru resmi ditunjuk sebagai komandan prajurit yang baru itu di tahun depan. Aku sudah mberitahu kepada Ratu Kayana kalau selama 1 tahun ini aku akan fokus untuk berlatih agar aku njadi lebih kuat. Jadi aku belum terpikirkan apa-apa soal posisi komandan prajurit baru itu dan juga pasukannya," ucapku.
"Hmmm begitu ya," ucap Duke Louis.
Setelah itu, aku lanjutkan pembicaraanku dengan Duke Louis dan Duchess Arlet. Hal-hal yang aku bicarakan dengan reka kebanyakan adalah tentang pertemuanku dengan Ratu Kayana di White Palace tadi. ski begitu, kami tetap mbicarakan hal lain seperti Duchess Arlet yang nanyakan kepadaku apakah aku sudah nanyakan kepada Ratu Kayana tentang cara ngendalikan tekanan aura. Soal itu, aku mberitahu kepada Duchess Arlet kalau aku lupa untuk nanyakan hal itu. Itu karena ketika lakukan pertemuan dengan Ratu Kayana, banyak hal ngejutkan yang terjadi seperti Ratu Kayana yang tiba-tiba nunjukku sebagai komandan prajurit yang baru. Tidak hanya itu, beliau yang mberikanku pedang yang rupakan harta kerajaan sebagai hadiah kontribusi juga mbuatku terkejut. Hal-hal ngejutkan itu yang mbuatku lupa untuk nanyakan soal itu kepada Ratu Kayana.
ski aku lupa untuk nanyakan soal itu saat pertemuan tadi, aku masih bisa nanyakan soal itu lewat kristal komunikasi. Aku hanya bisa berharap ketika aku nghubungi Ratu Kayana lewat kristal komunikasi, beliau sedang tidak sibuk.
Lalu sekitar 30 nit kemudian, karena pembicaraan antara aku dengan Duke Louis dan Duchess Arlet telah berakhir, aku mutuskan untuk ninggalkan ruangan itu.
"Kalau begitu aku permisi dulu, paman Louis, bibi Arlet. Selamat malam," ucapku.
"Selamat malam, Rid," ucap Duke Louis dan Duchess Arlet.
Setelah itu, aku langkahkan kakiku nuju pintu ruangan itu. Kemudian aku mbuka pintu itu dan segera pergi keluar dari ruangan itu.
Sentara itu, setelah Rid pergi ninggalkan ruangan itu, Duke Louis dan Duchess Arlet terlihat mbicarakan sesuatu.
"Jadi Rid akan ditunjuk sebagai komandan prajurit yang baru oleh Yang Mulia Ratu ya. Yang Mulia Ratu mang belum mberitahu soal itu, tetapi sebentar lagi beliau pasti akan mberitahunya. Tidak hanya mberitahuku saja, beliau pasti akan mberitahu Duke yang lain. Beliau kemudian akan mbicarakan dengan kami selaku para Duke tentang penunjukan Rid itu. Aku sendiri setuju dengan penunjukan Rid sebagai komandan prajurit yang baru. Aku yakin para Duke yang lain juga setuju apalagi Rid telah banyak berkontribusi di kerajaan ini," ucap Duke Louis.
"Iya, kamu benar. Para Duke yang lain pastinya akan setuju tentang penunjukan Rid njadi komandan prajurit yang baru," ucap Duchess Arlet.
"Iya. Daripada itu, Rid akan segera wujudkan impiannya tahun depan ya. Itu berarti di tahun depan Rid akan ninggalkan kerajaan ini untuk mulai perjalanannya dalam wujudkan impiannya," ucap Duke Louis.
"Iya. Tetapi skipun dia akan ninggalkan kerajaan ini untuk wujudkan impiannya, dia pasti akan kembali lagi, apalagi dia telah ditunjuk untuk njadi komandan prajurit yang baru oleh Yang Mulia Ratu. Tugasnya sebagai komandan prajurit yang baru mang untuk mbangun hubungan yang baik dengan kerajaan atau negara lain sehingga mbuatnya harus ninggalkan kerajaan ini. Karena tugasnya sebagai komandan prajurit yang baru itu, mungkin setiap dia selesai mbangun hubungan yang baik dengan 1 atau 2 kerajaan lain, dia akan kembali ke kerajaan ini untuk mberikan laporan kepada Yang Mulia Ratu," ucap Duchess Arlet.
"Kamu benar juga, pasti Rid akan sering-sering kembali kesini untuk mberikan laporan setelah nyelesaikan tugasnya itu. Setelah mbangun hubungan yang baik dengan 1 atau 2 kerajaan lain, dia tidak akan langsung pergi lagi ke kerajaan atau negara lainnya," ucap Duke Louis.
"Iya. Jika mang begitu, jika Irene mutuskan untuk ikut dengan Rid, mungkin aku-," ucap Duchess Arlet.
Duchess Arlet tiba-tiba berhenti berbicara karena tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.
*Tok *Tok *Tok
Suara ketukan itu berasal dari balik pintu ruangan tempat reka berada. Duke Louis dan Duchess Arlet pun langsung noleh ke arah pintu ruangan itu.
"Siapa?," tanya Duke Louis setelah noleh ke arah pintu ruangan itu.
"Ayahanda, ini aku. Boleh aku masuk?," tanya suara seorang wanita.
Dari suaranya itu, suara itu adalah Irene.
"Irene? Masuk saja, Irene," ucap Duke Louis.
Setelah itu, pintu ruangan itu pun terbuka. Setelah pintu itu terbuka, Irene yang sebelumnya berada di balik pintu itu pun langsung masuk ke dalam ruangan tempat Duke Louis dan Duchess Arlet berada. Irene lalu berjalan nghampiri Duke Louis dan Duchess Arlet.
"Ada apa, Irene?," tanya Duke Louis.
Irene yang sebelumnya berjalan kini telah berhenti karena dia kini sudah berada di hadapan Duke Louis dan Duchess Arlet.
"Ada yang ingin aku bicarakan dengan ayahanda dan ibunda," ucap Irene.
Duke Louis dan Duchess Arlet terlihat sedikit bingung dengan perkataan Irene.
"Ada yang ingin kamu bicarakan dengan kami?," tanya Duke Louis.
"Iya. Tetapi sebelum itu, aku ingin nanyakan sesuatu. Ketika ayahanda dan ibunda manggil Rid ke ruangan ini barusan, apakah Rid mberitahukan tentang hasil pertemuannya dengan Yang Mulia Ratu di White Palace?," tanya Irene.
Duke Louis tanpa basa-basi langsung njawabnya.
"Iya, Rid mberitahu soal itu," ucap Duke Louis.
"Begitu ya," ucap Irene.
Duchess Arlet yang sebelumnya hanya diam kini mulai ikut dalam percakapan reka berdua.
"mangnya ada apa, Irene? Apa kamu ingin tahu tentang pertemuan Rid dan Yang Mulia Ratu di White Palace?," tanya Duchess Arlet.
"Tidak, ibunda. Aku tidak ingin tahu karena aku sudah tahu lebih dulu. Rid telah mberitahuku lebih dulu ketika dia beristirahat sejenak di kamarnya setelah baru kembali dari White Palace. Aku kebetulan juga berada di kamar Rid saat dia sedang beristirahat disana," ucap Irene.
"Begitu ya. Jadi Rid telah mberitahumu lebih dahulu," ucap Duchess Arlet.
"Iya, ibunda,"
"Daripada itu, karena baik aku, ayahanda dan ibunda telah tahu tentang hasil pembicaraan Rid dengan Yang Mulia Ratu. Maka aku akan langsung ngatakan hal yang ingin kubicarakan sebelumnya. Aku ingin bergabung ke dalam pasukan Rid nanti untuk ikut bersamanya dalam mbangun hubungan baik dengan kerajaan dan negara lainnya. Singkatnya, aku akan ikut dengan Rid untuk wujudkan impiannya," ucap Irene.
Duke Louis dan Duchess Arlet terlihat sedikit terkejut dengan perkataan Irene. Duke Louis dan Duchess Arlet awalnya tahu kalau kemungkinan Irene akan ikut bersama Rid, apalagi Rid saat ini rupakan pacar atau kekasihnya. Tetapi ski reka tahu, reka tetap terkejut setelah ndengar langsung dari Irene.
"Apa kamu serius, Irene?," tanya Duke Louis.
"Iya, aku serius, ayahanda," ucap Irene.
"Seharusnya kamu tahu kalau impian Rid itu sulit untuk diwujudkan. Apalagi perjalanan dalam wujudkan impiannya itu akan dipenuhi oleh banyak bahaya. Kamu mungkin akan terlibat konflik dengan kerajaan atau negara lain. Kamu juga mungkin akan terjebak konflik dengan ras lain, apalagi karena impian Rid adalah untuk nyatukan dunia ini, kamu mungkin akan terlibat konflik dengan ras terkuat yang ada di dunia ini yaitu ras malaikat dan ras iblis. Apa kamu masih ingin tetap ikut dengan Rid?," tanya Duke Louis.
Irene tanpa basa-basi langsung njawabnya.
"Iya, aku tetap ingin ikut dengan Rid," ucap Irene.
"Jika kamu ingin tetap ikut dengan Rid, apabila kamu terlihat dalam konflik berbahaya atau berada dalam situasi yang berbahaya, apa kamu yang sekarang akan dapat ngatasinya?,"
"Lebih baik kamu tetap di kerajaan ini saja dan tidak perlu ikut dengan Rid. Lagipula Rid pasti akan sering-sering kembali kesini. Dia pergi ke kerajaan atau negara lain bukan hanya untuk wujudkan impiannya saja, lainkan untuk laksanakan tugasnya sebagai komandan prajurit yang ditugaskan untuk mbangun hubungan yang baik dengan kerajaan atau negara lain. Begitu dia selesai laksanakan tugasnya, dia pasti akan kembali kesini untuk laporkannya kepada Yang Mulia Ratu,"
"Jadi lebih baik kamu disini saja, Irene. Kami tidak ingin kamu terlibat atau berada dalam situasi yang berbahaya," ucap Duke Louis.
Lagi-lagi, Irene langsung nanggapi perkataan Duke Louis tanpa basa-basi.
"Tidak, aku akan tetap ikut dengan Rid," ucap Irene.
ndengar itu, Duke Louis tampak sedikit kesal.
"Irene!," ucap Duke Louis.
lihat Duke Louis yang sedikit kesal, Duchess Arlet langsung nenangkannya dengan gang pundaknya. Duke Louis pun secara perlahan mulai tenang.
Setelah itu, Irene mulai berbicara kembali.
"Aku tahu ayahanda dan ibunda khawatir denganku, makanya kalian ingin agar aku tetap berada disini. Tetapi aku tetap ingin ikut dengan Rid. Aku ingin lihat secara langsung bagaimana dia wujudkan impiannya itu," ucap Irene.
Duke Louis dan Duchess Arlet pun terdiam setelah ndengar perkataan Irene. ski reka berdua terdiam, Irene terus lanjutkan perkataannya.
"Aku tahu kalau saat ini aku masihlah lemah. ski begitu, aku akan terus latihan agar aku bisa bertambah kuat skipun hanya sedikit,"
"Rid akan mulai perjalanannya dalam wujudkan impiannya 1 tahun lagi. Sampai dia mulai perjalanannya, dia akan fokus berlatih selama setahun untuk njadi semakin kuat. Aku pun juga, selama setahun ini aku akan fokus berlatih untuk njadi semakin kuat,"
"Aku setiap hari sudah minta Rid untuk latih dan ngajariku teknik atau sihir yang baru sebelum dia pergi untuk berlatih sendiri secara rahasia. Aku juga mintanya untuk berlatih tanding setelah dia ngajariku. ski begitu, aku tahu kalau ini belum cukup untuk mbuatku njadi semakin kuat. Oleh karena itu.....," ucap Irene.
Setelah itu, Irene tiba-tiba mbungkuk ke arah Duke Louis dan Duchess Arlet.
"....Ayahanda, ibunda, tolong latih aku agar aku bisa njadi semakin kuat," ucap Irene.
Duke Louis dan Duchess Arlet pun terkejut setelah lihat Irene mbungkuk dan ngatakan hal itu.
"Irene....," ucap Duke Louis.
"Ayahanda dan ibunda adalah salah satu dari orang terkuat di keluarga San Lucia. Aku ingin njadi kuat seperti kalian. Tidak, aku ingin njadi lebih kuat dari kalian. Oleh karena itu, tolong latih dan ajari aku, ayahanda, ibunda," ucap Duchess Arlet.
Duke Louis dan Duchess Arlet pun terdiam setelah ndengar perkataan Irene. Sentara Irene masih terus mbungkuk di depan reka berdua.
Lalu tidak lama kemudian, Duchess Arlet tiba-tiba mulai berbicara kembali.
"Ayahmu tidak akan bisa latihmu karena dia akan sibuk dengan pekerjaannya sebagai Duke, Irene. Sebagai ganti ayahmu, aku sendiri yang akan latihmu dan ngajarimu," ucap Duchess Arlet.
Duke Louis pun terkejut setelah ndengar perkataan Duchess Arlet. Sentara Irene tidak terlihat terkejut sama sekali. Dia kemudian langsung berhenti mbungkuk setelah ndengar perkataan Duchess Arlet.
"Apa kamu serius, sayang!?," tanya Duke Louis.
"Iya. skipun aku adalah seorang Duchess, tetapi pekerjaanku tidak sebanyak kamu, sayang. Aku bisa luangkan waktuku setiap harinya untuk berlatih dan ngajari, Irene," ucap Duchess Arlet.
"Jika kamu setuju untuk latih dan ngajari Irene, itu berarti kamu ingin Irene njadi kuat?," tanya Duke Louis.
"Iya, aku akan mbuat Irene njadi kuat. Aku akan latih dan ngajari Irene semua teknik keluarga San Lucia," ucap Duchess Arlet.
"Jika kamu ingin Irene njadi kuat, apa itu berarti kamu ngizinkan Irene untuk ikut pergi dengan Rid?," tanya Duke Louis.
Duchess Arlet pun terdiam sesaat setelah ndengar perkataan Duke Louis. Tidak lama kemudian, dia mulai berbicara kembali.
"Aku tidak akan langsung ngizinkannya. Aku akan mberikan syarat kepada Irene apabila dia mau ikut pergi dengan Rid," ucap Duchess Arlet.
Duke Louis terlihat sedikit bingung setelah ndengar perkataan Duchess Arlet.
"Syarat?," tanya Duke Louis.
"Iya," ucap Duchess Arlet.
Setelah itu, Duchess Arlet lihat ke arah Irene yang sudah berdiri tegak setelah sebelumnya mbungkuk.
"Mulai besok, aku akan latih dan ngajarimu, Irene. Aku akan latih dan ngajarimu di waktu Rid telah selesai latih dan ngajarimu. Aku akan latih dan ngajarimu semua teknik keluarga San Lucia, baik itu teknik rahasianya ataupun teknik terlarangnya," ucap Duchess Arlet.
Duke Louis pun kembali terkejut setelah ndengar perkataan Duchess Arlet.
"Apa kamu yakin, sayang?! Kamu akan ngajari Irene semua teknik keluarga San Lucia bahkan teknik terlarangnya?," tanya Duke Louis.
Setelah ndengar pertanyaan Duke Louis, Duchess Arlet lalu noleh dan lihat ke arah Duke Louis.
"Iya. Aku pikir ini sudah waktunya bagi Irene untuk warisi dan nguasai semua teknik keluarga San Lucia. Kamu tenang saja, skipun nanti aku ngajari Irene teknik terlarang keluarga San Lucia, aku pastikan aku tidak akan mbahayakan Irene," ucap Duchess Arlet.
"Baiklah jika kamu bilang begitu," ucap Duke Louis.
"Syukurlah kalau kamu ngerti," ucap Duchess Arlet.
Setelah itu, Duchess Arlet kembali lihat ke arah Irene.
"Jadi, Irene, kamu harus bersiap untuk besok," ucap Duchess Arlet.
"Baik, ibunda. Lalu, terima kasih karena sudah mau latih dan ngajariku," ucap Irene sambil sedikit mbungkuk.
"Iya. Ngomong-ngomong, aku tidak hanya latih atau ngajarimu saja. Sama seperti Rid, aku juga akan berlatih tanding denganmu. Saat latih tanding itu, aku akan mberikanmu syarat yang harus kamu lakukan agar aku ngizinkanmu untuk ikut pergi dengan Rid,"
"Syaratnya adalah....," ucap Duchess Arlet.
-
Keesokan paginya, di tempat yang berada di sebelah utara kota San Lucia, sebuah tempat yang dekat dengan pegunungan Orokho.
Saat ini, aku baru saja telah ngalahkan beberapa hewan buas dan monster yang ada di tempat itu dengan nggunakan pedang yang diberikan oleh Ratu Kayana. Setelah ngalahkan reka semua, aku lalu lihat dan mperhatikan pedangku itu.
Pedang yang aku gunakan ini ternyata benar-benar berkualitas. Tidak salah kalau pedang ini termasuk salah satu pedang harta kerajaan. Apalagi pedang itu katanya rupakan pedang rampasan dari ’Great Holy War’. Pemilik pedang ini sebelumnya mungkin adalah orang yang hebat saat ’Great Holy War’.
Aku penasaran dengan nama pedang ini. Yang Mulia Ratu sendiri bahkan tidak tahu nama pedang ini. Aku bisa saja mberikan nama baru untuk pedang ini, tetapi aku mutuskan untuk tidak mberikannya nama baru. Biarlah pedang ini terikat dengan nama aslinya skipun aku belum tahu nama asli dari pedang ini.
Setelah lihat dan mperhatikan pedangku itu, aku kembali lihat ke sekelilingku. Ketika lihat ke sekelilingku, aku ternyata sudah dikepung kembali oleh beberapa monster seperti Ice Yeti dan Ice Lizard serta beberapa hewan buas.
"Kalian terus saja berdatangan. Tetapi itu bagus, aku bisa nggunakan kalian sebagai sarana latihanku. Aku sudah cukup untuk berlatih dengan nggunakan pedang ini. Sekarang saatnya berlatih dengan nggunakan pedangku yang lain," ucapku.
Aku lalu mbuka ~Storage~. Kemudian aku naruh pedang yang aku pedang itu ke dalam ~Storage~. Setelah sudah naruh pedang itu, aku kemudian ngambil pedangku yang lain di dalam ~Storage~. Aku ngambil sebuah pedang berwarna dominan putih dengan campuran sedikit warna emas. Pedang itu adalah pedang yang aku gunakan ketika aku lawan Duke Remy.
Setelah aku sudah ngambil pedang itu, aku lalu narik pedang itu keluar dari sarung pedang yang mbalutnya. Setelah pedang itu aku tarik keluar, sebuah cahaya yang terang tiba-tiba muncul dari pedang yang baru saja aku tarik itu. Saking terangnya cahaya itu, para monster dan hewan buas yang saat ini sedang ngelilingiku pun tidak mampu untuk lihat cahaya itu.
Setelah itu, aku lalu bersiap untuk nyerang para monster dan hewan buas itu dengan nggunakan pedangku itu.
"Sekarang waktunya untuk berlatih dengan nggunakan pedang ini sekaligus latih ~Light Magic~ku," ucapku.
-
Disaat yang sama, di tempat latihan yang berada di kediaman Duke Louis.
Irene terlihat sedang bersiap untuk nyerang seseorang yang ada di hadapannya dengan nggunakan rapier miliknya. Orang yang ada di hadapannya itu ternyata adalah Duchess Arlet. Duchess Arlet saat ini tidak ngenakan gaun bangsawan seperti yang biasanya dia kenakan. Dia saat ini ngenakan pakaian yang lain yang digunakan khusus untuk bertarung. Duchess Arlet saat ini juga sedang bersiap untuk nyerang Irene yang ada di hadapannya dengan rapier miliknya.
"Kamu sudah tahu syaratnya kan, Irene? Jika kamu keberatan dengan syarat itu, kamu bisa milih untuk tidak nyetujuinya. Tetapi jika kamu tidak setuju, aku tidak akan pernah ngizinkanmu untuk ikut pergi dengan Rid," ucap Duchess Arlet.
"Tidak, aku tidak keberatan sama sekali. Aku pasti akan ngalahkanmu, ibunda. ski aku tidak bisa ngalahkanmu sekarang, selama 1 tahun ini sebelum Rid mulai perjalanannya, aku pasti akan ngalahkanmu saat kita lakukan latih tanding,"
"Aku akan ngalahkanmu dan mbuatmu ngizinkanku untuk ikut pergi dengan Rid, ibunda," ucap Irene.
-Bersambung
Reviews
All reviews (0)