Beberapa nit kemudian, di sebuah lorong yang ada White Palace.
Karena pembicaraan yang kami lakukan sebelumnya telah selesai, kini aku, Ratu Kayana, nona Karina dan komandan Oliver sedang berjalan di lorong itu untuk nuju ruangan penyimpanan harta kerajaan San Fulgen. Sesuai janji Ratu Kayana sebelumnya, beliau akan mberikan sebuah pedang kepadaku sebagai hadiah kontribusi. skipun aku masih tidak nyangka kalau pedang yang akan diberikan kepadaku adalah salah satu harta kerajaan.
"Ngomong-ngomong, nona, apa tidak apa-apa anda ikut bersama kami? Bukankah saat ini anda rupakan orang asing bagi keluarga kerajaan? Bagaimana jika anda nanti dicurigai karena ikut masuk ke ruangan penyimpanan harta kerajaan?," tanyaku kepada nona Karina sambil terus berjalan nyusuri lorong itu.
Alasan aku nanyakan itu karena aku penasaran kenapa nona Karina yang saat ini rupakan seorang kepala akademi dan tidak miliki hubungan dengan keluarga kerajaan juga ikut pergi nuju ruangan penyimpanan harta kerajaan.
"Santai saja. Kalau ada prajurit atau orang-orang di kerajaan ini yang lihatku ikut masuk ke ruangan penyimpanan harta kerajaan, reka paling berpikir kalau aku ikut masuk karena diundang oleh kakak. Jadi tidak akan ada masalah," ucap nona Karina.
"Begitu ya," ucapku.
Setelah itu, kami terus langkahkan kaki kami nyusuri lorong itu. Tidak lama kemudian, kami pun sampai di depan pintu sebuah ruangan yang berukuran cukup besar. Di depan pintu itu, ada 2 orang prajurit yang sedang berjaga. 2 orang prajurit itu nampak bingung dan heran ketika lihat kami khususnya Ratu Kayana tiba-tiba berhenti langkah di depan pintu yang sedang reka jaga.
"Kalian berdua," ucap Ratu Kayana kepada 2 orang prajurit yang berjaga di depan pintu itu.
2 orang prajurit itu pun dengan cepat langsung nanggapi perkataan Ratu Kayana.
"Siap!. Ada perlu apa, Yang Mulia Ratu?," tanya 2 orang prajurit.
"Aku ingin masuk ke dalam ruangan ini, bisakah kalian mbuka kunci pintu ruangan ini?," tanya Ratu Kayana.
"Baik, Yang Mulia Ratu," ucap 2 orang prajurit itu.
Setelah itu, salah satu dari 2 orang prajurit itu lalu ngambil sebuah kunci dari saku seragam yang dia kenakan. Dia lalu mbuka kunci pintu ruangan itu dengan kunci yang baru saja dia ambil. Setelah kunci pintu itu telah dibuka, 2 orang prajurit itu lalu mbuka pintu ruangan itu.
"Silahkan masuk, Yang Mulia Ratu," ucap 2 orang prajurit itu setelah mbuka pintu ruangan itu.
"Terima kasih,"
"Ayo kita masuk," ucap Ratu Kayana.
Ratu Kayana lalu ngajak aku, komandan Oliver dan nona Karina untuk masuk ke dalam ruangan itu.
Ketika Ratu Kayana berjalan lewati 2 orang itu, Ratu Kayana lalu ngatakan sesuatu kepada 2 orang itu.
"Kalian berdua tolong tetap berjaga disini. Jangan biarkan orang lain masuk selagi kami masih berada di dalam ruangan ini," ucap Ratu Kayana.
"Baik, Yang Mulia Ratu," ucap 2 orang prajurit itu.
Setelah itu, kami pun lanjutkan langkah kami untuk masuki ruangan itu. Ketika kami sudah berada di dalam ruangan itu, aku sedikit terkejut karena ruangan itu ternyata sangatlah luas. Di dalam ruangan itu ada banyak sekali barang. Ada banyak buku dan gulungan kertas yang tersusun rapi di sebuah rak. Lalu, ada banyak barang yang terbuat dari material yang berharga seperti perak, emas bahkan berlian di dalam ruangan itu. lihat banyaknya barang-barang berharga di ruangan ini, tidak salah lagi kalau ruangan ini rupakan ruangan penyimpanan harta kerajaan San Fulgen.
"Ruangan ini rupakan ruangan penyimpanan harta kerajaan San Fulgen. Di ruangan ini tidak hanya nyimpan senjata atau barang-barang berharga saja, di ruangan ini juga nyimpan buku atau dokun yang nilainya setara dengan barang-barang berharga di ruangan ini," ucap Ratu Kayana.
ski kami sudah berada di dalam ruangan itu, kami terus berjalan nyusuri ruangan itu sampai akhirnya kami sampai di ujung ruangan itu. Di ujung ruangan itu, ada banyak senjata yang telah tertata dengan rapi. Ada pedang, pedang besar, busur panah, belati, tongkat sihir, tombak dan lainnya. Beberapa senjata itu terlihat terbuat dari material atau bahan yang berharga.
Setelah kami sampai di ujung ruangan itu, kami pun langsung berhenti langkahkan kaki kami.
"Kita sudah sampai di bagian penyimpanan senjata. Nah sekarang, silahkan pilih pedang yang kamu mau, Rid," ucap Ratu Kayana.
Setelah ndengar perkataan Ratu Kayana, aku pun langsung nanggapinya.
"Apa aku benar-benar boleh milih salah satu pedang yang ada disini, Yang Mulia Ratu? Bagaimana jika aku milih pedang yang paling berharga di ruangan ini?," tanyaku.
"Iya, kamu boleh milih salah satu pedang yang ada disini, pedang apapun itu. Soal pedang yang paling berharga, pedang yang paling berharga yang rupakan harta kerajaan San Fulgen sudah njadi milik Karina. Jadi kamu tidak perlu ngkhawatirkan itu. Kamu bebas milih pedang apapun di ruangan ini," ucap Ratu Kayana.
"Baiklah, Yang Mulia Ratu," ucapku.
Setelah itu, aku lalu lihat pedang-pedang yang tertata dengan rapi di hadapanku itu. Ukuran pedang-pedang itu bervariasi, ada yang berukuran lebih pendek dari pedang pada umumnya dan ada juga yang berukuran lebih panjang dari pedang pada umumnya. Pedang-pedang itu pun juga miliki warna yang bermacam-macam, tetapi pedang-pedang itu tidak ada yang miliki warna yang ncolok seperti pedang milik kedua orang tuaku.
"Yang Mulia Ratu, bolehkah aku nyentuh dan gang pedang-pedang ini?," tanyaku.
"Boleh, Rid," ucap Ratu Kayana.
Aku pun lalu mulai nyentuh dan gang pedang-pedang itu satu persatu karena aku tidak puas hanya lihat dan mperhatikannya saja. Saat nyentuh dan gang pedang-pedang itu satu persatu, aku sambil berbicara dengan Ratu Kayana.
"Ngomong-ngomong, Yang Mulia Ratu, jadi pedang yang dimiliki oleh nona Karina rupakan pedang paling berharga di antara pedang-pedang yang rupakan harta kerajaan. Aku sudah pernah lihat pedang yang dimiliki oleh nona Karina. Pedang itu berwarna putih dengan beberapa corak berwarna emas. Kalau boleh tahu, sebenarnya pedang apa itu sampai mbuat pedang itu disebut sebagai pedang paling berharga di antara pedang-pedang yang rupakan harta kerajaan?," tanyaku.
"Pedang yang dimiliki oleh Karina rupakan pedang milik ndiang nenek buyut kami yang rupakan mantan Ratu kerajaan ini. Pedang itu bernama ’Sword of the Queen Ruler’. Pedang itu digunakan beliau untuk berperang ketika ’Great Holy War’ berlangsung,"
"Setelah nenek buyut kami ninggal, pedang itu terus diturunkan ke keturunannya. Pertama ke nenek kami, lalu ke ibu kami, dan sekarang pedang itu njadi milik Karina. Seharusnya pedang itu njadi milikku karena pedang itu seharusnya njadi milik dari Ratu kerajaan San Fulgen. Tetapi keahlian berpedangku tidak sehebat Karina, maka dari itu aku mberikan pedang itu kepada Karina. Lagipula Karina juga rupakan keturunan dari nenek buyut kami," ucap Ratu Kayana.
"Begitu ya. Pantas saja pedang itu disebut sebagai pedang paling berharga diantara pedang-pedang yang rupakan harta kerajaan," ucapku.
"Iya, apalagi pedang itu juga rupakan pedang atau senjata asli milik kerajaan ini. Tidak semua senjata yang ada di ruangan ini rupakan senjata asli kerajaan ini, ada juga senjata yang berasal dari kerajaan atau negara lain yang diberikan sebagai hadiah. Dan ada juga senjata yang direbut atau diambil paksa sebagai rampasan perang. Senjata rampasan perang itu kebanyakan berasal dari ’Great Holy War’," ucap Ratu Kayana.
"Begitu ya," ucapku.
Setelah itu, aku lalu noleh ke arah nona Karina.
"Aku tidak nyangka kalau pedang milik anda rupakan pedang paling berharga di kerajaan ini, nona Karina. Padahal anda sudah mutuskan untuk keluar dari keluarga anda yang rupakan keluarga bangsawan, tetapi bisa-bisanya anda miliki pedang yang seharusnya dimiliki oleh Ratu kerajaan ini. Apa anda tidak khawatir identitas anda yang sebenarnya diketahui oleh orang lain karena anda miliki pedang itu? Bagaimana jika ada orang lain yang ngetahui tentang pedang itu lihat anda yang sedang gang pedang itu?," tanyaku.
"Tidak perlu khawatir, lagipula aku jarang ngeluarkan dan makai pedang itu. Aku hanya makai pedang itu disaat keadaan ndesak saja. Selain itu, ski pedang itu rupakan pedang paling berharga di kerajaan ini, tidak banyak orang yang tahu tentang pedang itu. Itu karena skipun ndiang ibunda kami dan ndiang nenek kami juga pemilik pedang ini sebelumnya, reka juga jarang ngeluarkan atau nggunakan pedang ini, jadi tidak banyak orang yang ngetahuinya," ucap nona Karina.
"Begitu ya," ucapku.
Setelah itu, aku kembali terus nyentuh dan ncoba pedang-pedang itu satu persatu. Beberapa nit kemudian, aku pun telah selesai nyentuh dan ncoba pedang-pedang itu. Setelah sudah selesai, aku pun terdiam sambil mikirkan sesuatu.
Ketika aku sedang terdiam, Ratu Kayana tiba-tiba nanyakan sesuatu kepadaku.
"Bagaimana, Rid, apa kamu sudah nentukan pedang mana yang cocok untuk kamu ambil?," tanya Ratu Kayana.
Setelah Ratu Kayana nanyakan itu, aku yang sebelumnya terdiam lalu ngambil salah satu pedang. Kemudian, aku nunjukkan dan mperlihatkan pedang yang aku ambil itu ke Ratu Kayana.
"Aku milih pedang ini, Yang Mulia Ratu," ucapku.
Pedang yang aku ambil ini miliki ukuran normal seperti pedang pada umumnya. Pedang ini miliki warna dominan biru dengan campuran warna putih. Pedang ini juga miliki sarung pedang dengan warna yang sama.
Setelah aku nunjukkan pedang itu ke Ratu Kayana, Ratu Kayana lalu lihat dan mperhatikan pedang itu.
"Hmmmm pedang itu ya. Aku tidak tahu nama pedang itu karena pedang itu rupakan salah satu pedang rampasan yang didapatkan saat ’Great Holy War’. Jika kamu nginginkan pedang itu, silahkan ambil, Rid," ucap Ratu Kayana.
"Terima kasih, Yang Mulia Ratu," ucapku.
"Karena pedang itu rupakan pedang rampasan, seharusnya pemilik sebelumnya dari pedang itu sudah tewas, jadi kamu bisa nggunakan pedang itu sesuka hati tanpa peduli dengan ’kontrak’ dari pemilik sebelumnya,"
"Lalu, karena pedang itu sekarang adalah milikmu, kamu harus mbuat kontrak dengan pedang itu agar pedang itu njadi milikmu dan apabila pedang itu dicuri atau diambil, orang yang ncuri atau ngambil pedang itu tidak bisa nggunakan pedang itu dengan sesuka hatinya. Kamu tahu kan cara mbuat kontraknya, Rid?," tanya Ratu Kayana.
"Tahu, Yang Mulia Ratu. Yaitu dengan neteskan sedikit darah dari penggunanya ke ujung pedang dan gagang pedangnya. Ini juga berlaku pada senjata yang lainnya, yaitu dengan neteskan sedikit darah dari penggunanya ke bagian atas dan bagian bawah senjatanya," ucapku.
"Benar. Ya sudah kalau kamu sudah tahu sekarang kamu lebih baik segera mbuat kontraknya," ucap Ratu Kayana.
"Baik, Yang Mulia Ratu," ucapku.
Setelah itu, aku gang pedang itu dengan tangan kananku. Kemudian, aku lukai ibu jari tangan kiriku dengan nggunakan gigiku. Lalu, darah yang berasal dari luka yang terdapat pada ibu jariku itu aku teteskan di ujung pedang dan gagang pedang itu. Setelah aku sudah neteskan darahku di pegang itu, pedang itu tiba-tiba diselimuti aura yang berwarna seperti warna pedang itu. Tidak lama kemudian, aura pada pedang itu pun nghilang.
"Kelihatannya kontraknya sudah selesai," ucap Ratu Kayana yang sejak tadi terus lihatku yang sedang mbuat kontrak dengan pedang itu.
"Iya, Yang Mulia Ratu," ucapku.
"Karena kontraknya telah selesai, pedang itu kini telah sepenuhnya njadi milikmu, Rid," ucap Ratu Kayana.
"Iya. Terima kasih karena telah mberikan pedang ini, Yang Mulia Ratu," ucap Ratu Kayana.
"Iya, sama-sama, Rid,"
"Karena aku sudah selesai berdiskusi denganmu dan aku pun juga telah mberikan hadiah kontribusi kepadamu berupa pedang itu, maka urusanku denganmu saat ini sudah selesai, Rid. Setelah ini, kamu boleh langsung kembali ke kediaman tuan Louis," ucap Ratu Kayana.
"Baik, Yang Mulia Ratu. Tetapi sebelum aku kembali, aku ingin lihat Charles dan Chloe yang sedang berlatih terlebih dahulu, Yang Mulia Ratu," ucapku.
"Baiklah. reka biasanya berlatih di tempat latihan utama yang ada di istana ini. Jika kamu ingin kesana, kamu bisa minta tolong kepada prajurit atau pelayan yang ada di istana kediaman ini untuk ngantarkanmu kesana,"
"Aku minta maaf karena tidak bisa ngantarkanmu kesana, Rid. Aku harus segera kembali ke ruanganku karena setelah ini ada hal penting yang harus aku lakukan," ucap Ratu Kayana.
"Tidak apa-apa, Yang Mulia Ratu. Anda tidak perlu minta maaf. Aku awalnya mang berniat untuk pergi ke tempat latihan itu sendiri tanpa diantar oleh anda," ucapku.
"Baiklah kalau begitu. Karena urusan kita di ruangan ini sudah selesai, ayo kita segera tinggalkan ruangan ini," ucap Ratu Kayana.
"Baik, Yang Mulia Ratu," ucapku.
Kemudian, kami semua pun langsung ninggalkan ruangan penyimpanan harta kerajaan itu. Setelah kami sudah ninggalkan ruangan itu, 2 orang prajurit yang berjaga di depan pintu ruangan itu pun langsung ngunci kembali pintu ruangan itu.
Setelah kami semua sudah keluar dari ruangan itu, kami pun berbincang sejenak di depan pintu ruangan itu.
"Jika kamu ingin ke tempat latihan untuk lihat Charles dan Chloe, pergilah ke arah sana, Rid," ucap Ratu Kayana sambil nunjuk jarinya ke lorong sebelah kanan dari pintu masuk ruangan tempat penyimpanan harta kerajaan.
"Kamu terus saja jalan lurus nyusuri lorong ini sampai ke ujung lorong. Begitu kamu ndekati atau sudah sampai di ujung lorong itu, apabila kamu bertemu dengan prajurit atau pelayan, kamu bisa minta tolong kepada reka untuk ngantarkanmu ke lokasi tempat latihan itu," lanjut Ratu Kayana.
"Baik, Yang Mulia Ratu. Kalau begitu, aku pergi dulu. Sampai nanti, Yang Mulia Ratu, komandan Oliver dan nona Karina," ucapku.
"Iya," ucap Ratu Kayana.
"Sampai nanti, Rid," ucap nona Karina.
"Sampai nanti, tuan muda Rid," ucap komandan Oliver.
Setelah itu, aku pun terus berjalan nyusuri lorong itu untuk nuju ke ujung lorong itu.
Sentara itu, Ratu Kayana, komandan Oliver, dan nona Karina yang sebelumnya sedang lihat Rid, kini berbalik dan berjalan nyusuri lorong yang berbeda dengan Rid. Ketika sedang nyusuri lorong itu, nona Karina tiba-tiba ngatakan sesuatu kepada Ratu Kayana.
"Setelah ini, apa kamu benar-benar akan lakukan itu, kakak? Apa kamu benar-benar akan nyerahkan jasad tuan Remy kepada ’reka’?," tanya nona Karina.
"Iya. Tuan Remy selama ini njadi dalang utama dari tewasnya banyak Elf yang jasadnya ditemukan di wilayah San Lucia. Jasad Elf itu ditemukan dengan kondisi jantung yang sudah tidak ada. Jantung itulah yang njadi bahan eksperin tuan Remy untuk mbuat ’subjek’. Gara-gara itu hubungan kerajaan ini dengan kerajaan reka njadi renggang,"
"Untuk mperbaiki hubungan dengan kerajaan reka, aku akan nyerahkan jasad tuan Remy beserta bukti-bukti yang nguatkan tentang tuan Remy yang rupakan dalang dari tewasnya banyak Elf itu,"
"Aku akan nyerahkan semua itu kepada kerajaan Elf, Seleria," ucap Ratu Kayana.
-
Sentara itu, di sebuah lorong sebuah bangunan.
Lorong itu berukuran cukup besar dan luas. Bahkan saking luasnya, di bagian samping lorong itu terdapat beberapa tiang penyangga langit-langit. Lorong itu saat ini dalam keadaan gelap, hanya ada sedikit cahaya yang nyinari lorong itu. Cahaya yang nyinari lorong itu berasal dari cahaya yang masuk dari jendela yang ada di dinding lorong itu. Lalu, di dekat ujung lorong itu, terlihat ada beberapa anak tangga. Dan di ujung lorong itu ada sebuah pintu berukuran sangat besar. Bagi orang yang ingin nuju pintu itu harus naiki beberapa anak tangga itu.
Sentara itu, di lorong itu terlihat ada seorang wanita yang sedang berjalan nuju anak tangga itu. Wanita itu adalah Leirion, salah satu dari ’Demon Sovereign Commanders’. Leirion nampaknya ingin masuki ruangan yang ada di balik pintu berukuran besar itu. Namun, ketika Leirion sedang berjalan nuju pintu itu, tiba-tiba terdengar suara seseorang yang mbuatnya nghentikan langkahnya.
"Jadi kamu juga datang ya, Leirion," ucap seseorang.
Suara itu terdengar seperti suara seorang pria. Leirion yang ndengar suara itu lalu noleh ke asal suara itu. Suara itu berasal dari salah satu tiang penyangga yang ada di samping lorong itu. Ketika Leirion sudah noleh ke salah satu tiang penyangga itu, dia lihat ada seorang pria yang sedang berdiri sambil bersandar di salah satu tiang penyangga itu. Pria itu terlihat seperti seorang remaja, wajahnya pun juga terlihat seperti seorang remaja. Pria itu miliki 2 buah tanduk berwarna hitam di kepalanya. Pria itu juga miliki telinga yang runcing, tetapi tidak seruncing telinga Elf. Selain itu, pria itu juga miliki ekor berwarna hitam yang bersisik. Pria itu saat ini sedang jamkan kedua matanya sambil bersandar di tiang penyangga itu.
"Tuan Firnen," ucap Leirion sambil lihat ke arah pria itu.
Setelah Leirion manggil namanya, pria itu lalu mbuka kedua matanya. Pria itu miliki bola mata berwarna hitam pekat dan pupil mata berwarna rah. Pupil mata pria itu terlihat seperti pupil mata yang biasanya dimiliki oleh hewan reptil.
Nama pria itu adalah Firnen, Firnen Valkoin von Eragon. Sama seperti Leirion, Firnen juga rupakan salah satu dari ’Demon Sovereign Commanders’.
Lalu, setelah Firnen mbuka matanya, dia lalu berjalan ndekati Leirion.
"Aku terkesan kamu masih bisa datang kesini, padahal dari yang aku dengar, kamu sudah gagal dalam njalankan tugas yang diberikan oleh Yang Mulia Raja Iblis. Padahal kamu hanya ditugaskan untuk rebut kerajaan yang lemah, tetapi kamu masih tetap gagal. Benar-benar malukan," ucap Firnen sambil berjalan ndekati Leirion.
Setelah ndengar perkataan Firnen, Leirion langsung nanggapinya.
"Saya akui, saya mang telah gagal dalam njalankan tugas yang diberikan oleh Yang Mulia Raja Iblis. Tetapi sebagai salah satu ’Demon Sovereign Commanders’, saya harus tetap datang kesini untuk nuhi panggilan Yang Mulia Raja Iblis," ucap Leirion.
Firnen tiba-tiba tertawa setelah ndengar perkataan Leirion
"Hahahaha, sebagai salah satu ’Demon Sovereign Commanders’ katamu? Kamu dipilih njadi ’Demon Sovereign Commanders’ hanya sebagai pengganti dari ’Pangeran’ yang sedang diberi hukuman. skipun hanya sebagai pengganti, kamu aslinya tidak cocok njadi ’Demon Sovereign Commanders’ karena kamu sangatlah lemah dibandingkan dengan ’Demon Sovereign Commanders’ yang ada saat ini. Jika ’pria itu’ yang rupakan bawahan terkuat ’Pangeran’ tidak nghilang, dia pasti yang akan ditugaskan untuk njadi ’Demon Sovereign Commanders’ pengganti, bukan kamu," ucap Firnen.
Leirion pun terdiam setelah ndengar perkataan Firnen. Dia tidak berusaha untuk nanggapi perkataan Firnen sama sekali. ski Leirion terdiam, Firnen terus lanjutkan perkataannya.
"Ngomong-ngomong, bagaimana kabar ’Pangeran’ yang rupakan komandanmu sebelumnya? Apa dia baik-baik saja? Kapan masa tahanannya akan berakhir? Lebih baik kamu berharap agar ’Pangeran’ terus ditahan agar kamu bisa terus njadi ’Demon Sovereign Commanders’,"
"’Pangeran’ ditahan karena telah gagal dalam njalankan tugas yang diberikan oleh Yang Mulia Raja Iblis. Selain itu, dia juga telah langgar perintah Yang Mulia Raja Iblis. Dia rumornya miliki hubungan dengan seorang malaikat. Jika benar begitu, masa tahanannya seharusnya sangatlah lama. Bahkan bisa saja dia ditahan seumur hidupnya,"
"Baik komandan dan bawahannya sama saja, sama-sama gagal njalankan tugas. malukan sekali," ucap Firnen.
ndengar itu, Leirion tampak marah.
"Saya tidak peduli apabila anda njelek-jelekkan saya, tetapi saya tidak terima apabila anda njelek-jelekkan ’Tuan Muda’, tuan Firnen," ucap Leirion.
Firnen pun kembali tertawa setelah ndengar perkataan Leirion.
"Hahahaha, terus kalau kamu tidak terima, kamu mau apa? Apa kamu mau lawanku? Kamu pikir kamu bisa nang lawanku?," tanya Firnen.
Leirion pun terdiam setelah ndengar perkataan Firnen. ski begitu, Leirion masih natap Firnen dengan tatapan marah.
Setelah itu, suara seorang wanita tiba-tiba terdengar di lorong itu.
"Jika kalian berdua sudah ada disini, seharusnya kalian berdua langsung masuk ke dalam," ucap suara wanita itu.
Leirion dan Firnen langsung terkejut setelah ndengar suara wanita itu. Tidak hanya terkejut, reka berdua juga terlihat takut setelah ndengar suara wanita itu. reka berdua lalu noleh ke arah asal suara tersebut. Suara tersebut berasal dari pintu yang ada di ujung lorong tempat reka berada. Benar saja, setelah reka noleh ke pintu tersebut, reka lihat seorang wanita yang sedang berdiri di depan pintu itu. Wanita itu terlihat ngenakan gaun panjang berwarna hitam. Selain itu, wanita itu terlihat mbawa sebuah pedang yang dibalut dengan sarung pedang berwarna hitam pekat di pinggangnya. Wanita itu terlihat mirip dengan wanita yang sebelumnya telah mbantai para penduduk di sebuah desa sekaligus nghancurkan desa tersebut. Wajah wanita itu tidak terlihat jelas karena di bagian depan pintu tersebut sangatlah gelap.
Setelah noleh dan lihat ke arah wanita itu, Leirion dan Firnen lalu ngatakan sesuatu sambil ketakutan.
"S-saya minta maaf, putri," ucap Leirion.
"S-saya juga minta maaf, putri," ucap Firnen.
Wanita itu hanya terdiam setelah ndengar permintaan maaf reka berdua. Wanita itu awalnya lihat ke arah reka berdua yaitu Firnen dan Leirion. Tetapi setelah itu, wanita itu noleh dan hanya lihat ke arah Firnen.
"Firnen," ucap wanita itu.
Firnen pun terkejut karena namanya tiba-tiba disebut oleh wanita itu.
"I-iya, putri," ucap Firnen.
"Barusan aku ndengar kalau kamu telah njelek-jelekkan kakakku," ucap wanita itu.
Firnen pun kembali terkejut. Wajahnya terlihat semakin ketakutan.
"T-tidak, putri. S-saya tidak njelek-jelekkan ’Pangeran’. M-mungkin anda salah dengar," ucap Firnen.
"Begitu ya. Jadi maksudmu aku telah salah ndengar perkataanmu," ucap wanita itu.
Setelah ngatakan itu, wanita itu tiba-tiba gang pedang miliknya yang ada di pinggangnya. Wanita itu lalu narik sedikit pedang miliknya dari sarung pedangnya. Setelah itu, Firnen tiba-tiba ndapatkan luka yang cukup parah di badannya. Luka yang didapatkannya itu mirip seperti luka tebasan senjata tajam. Tidak hanya itu, kedua tangannya pun tiba-tiba telah terpotong. Bagian tangannya yang telah terpotong itu tiba-tiba sudah ada di lantai. Kemudian, darah langsung ngucur deras dari kedua tangannya yang telah terpotong itu. Firnen pun langsung berteriak kesakitan.
*AAAAHHHHHHH
Teriakan itu nggema di seluruh lorong itu. Leirion terlihat terkejut sekaligus ketakutan ketika lihat Firnen yang sedang terduduk sambil berteriak kesakitan. Dia tidak nyangka kalau Firnen telah terluka sangat parah hanya dalam sekejap. Sentara itu, wanita itu yang sebelumnya sedang gang pedang miliknya, kini tidak lagi gang pedang miliknya.
"Ini hukumanmu karena telah njelekkan kakakku. skipun kakakku saat ini sedang ditahan atas perbuatannya, bukan berarti iblis rendahan sepertimu bisa seenaknya njelekkan kakakku. Apa kamu paham?," tanya wanita itu.
Firnen yang sebelumnya berteriak kesakitan kini berusaha untuk nanggapi perkataan wanita itu.
"S-saya paham. S-saya minta maaf, putri Riena," ucap Firnen.
Wanita yang baru saja lukai dan motong kedua lengan Firnen adalah putri Riena, salah satu putri dari Raja Iblis.
"Jika nanti aku ndengar kamu njelek-jelekkan kakakku lagi, bukan hanya kedua tanganmu saja yang akan terpotong nanti, lainkan kepalamu juga," ucap putri Riena.
"B-baik, putri. S-saya berjanji untuk tidak njelek-jelekkan ’Pangeran’ lagi," ucap Firnen.
"Baguslah kalau kamu ngerti,"
"Daruntia, cepat pulihkan Firnen," ucap putri Riena.
Setelah itu, di dekat Leirion dan Firnen tiba-tiba muncul sebuah pohon berukuran cukup besar. Tinggi pohon yang tiba-tiba muncul itu hampir ncapai tinggi langit-langit lorong itu. Lalu, setelah pohon itu tiba-tiba muncul, dari dalam pohon itu tiba-tiba muncul seorang wanita. Leirion dan Firnen terlihat tidak terkejut sama sekali dengan kemunculan pohon itu dan juga wanita itu.
Wanita itu ngenakan sebuah gaun berwarna perpaduan hijau dan hitam. Terlihat ada sebuah batang pohon berukuran sedang beserta daun-daunnya yang lingkar di tubuh wanita itu layaknya seperti sebuah selendang. Selain itu, wanita itu juga miliki bola mata berwarna hitam pekat dengan pupil mata berwarna rah. Pupil mata wanita itu berbentuk seperti sehelai daun.
Wanita itu bernama Daruntia. Sama seperti Leirion dan Firnen, dia juga rupakan salah satu dari ’Demon Sovereign Commanders’.
Setelah Daruntia keluar dari pohon yang tiba-tiba muncul itu, dia lalu nanggapi perkataan putri Riena.
"Baik, putri," ucap Daruntia.
Setelah itu, Daruntia mulai mulihkan tubuh Firnen.
"Aku serahkan Firnen kepadamu. Jika kamu sudah selesai mulihkannya, segera lah masuk ke dalam," ucap putri Riena.
"Baik, putri," ucap Daruntia.
Setelah itu, putri Riena lalu noleh ke arah Leirion.
"Leirion, ayo kita masuk ke dalam. Yang Mulia Raja Iblis dan ’Demon Sovereign Commanders’ yang lainnya sudah nunggu," ucap Leirion.
Leirion awalnya terkejut karena namanya tiba-tiba disebut oleh putri Riena. Namun tidak lama kemudian, dia pun mulai nanggapi perkataan putri Riena.
"B-baik, putri," ucap Leirion.
Setelah itu, Leirion berjalan ninggalkan Firnen yang sedang dipulihkan oleh Daruntia untuk nghampiri putri Riena yang sedang berdiri di depan pintu berukuran besar itu. Tidak lama kemudian, Leirion pun kini sudah nghampiri dan berada dekat dengan putri Riena. Setelah itu, putri Riena lalu mbuka pintu berukuran besar itu.
Ketika pintu berukuran besar itu telah terbuka, di dalamnya terlihat sebuah ruangan yang sangat besar. Ruangan itu terlihat sangat gelap, hanya ada sedikit cahaya saja yang nyinari ruangan itu. Lalu, di beberapa titik ruangan itu terlihat ada 4 orang. 4 orang itu tidak terlihat dengan jelas karena ruangan yang gelap. ski begitu, dari siluet 4 orang itu, 4 orang itu terdiri dari 2 orang pria dan 2 orang wanita.
Sentara di ujung dari ruangan itu, terlihat ada sebuah singgasana yang berukuran cukup besar. Di singgasana tersebut terlihat ada seorang pria yang sedang duduk. Pria itu kini sedang lihat ke arah putri Riena dan Leirion.
Setelah itu, pintu ruangan tempat reka berada tiba-tiba mulai tertutup secara perlahan.
-Bersambung
Reviews
All reviews (0)