Font Size
15px

Kembali ke salah satu ruangan yang ada di kediaman Duke San Lucia, tempat Duke Louis dan Duchess Arlet berada.

Duke Louis dan Duchess Arlet terlihat sedang duduk sambil nunduk lesuh.

"Aku rasa bersalah kepada Rid. Seharusnya aku tidak berkata kalau impiannya itu adalah hal yang mustahil. skipun aku tahu kalau impiannya itu adalah hal yang mustahil, tidak seharusnya aku ngatakannya secara langsung kepadanya. Aku secara tidak sengaja ngatakannya secara langsung karena aku tidak nyangka kalau Rid miliki impian yang seperti itu. Jika seperti ini, aku tidak ada bedanya dengan orang yang nertawai dan ncemooh impian Rid," ucap Duke Louis.

"Aku juga rasa bersalah kepada Rid. Aku pun juga secara tidak sengaja ngatakan secara langsung kalau impiannya itu adalah hal yang mustahil,"

"Di akhir pembicaraan kita tadi, aku rasakan kalau Rid sedikit marah atau kecewa kepada kita. Tetapi dia tidak ngungkapkannya secara langsung karena dia masih nghormati kita. Kita harus minta maaf lagi kepadanya nanti," ucap Duchess Arlet.

"Iya, kamu benar," ucap Duke Louis.

Setelah itu, reka berdua pun terdiam karena sudah tidak ada lagi yang ingin reka bicarakan. Tetapi reka terdiam hanya sebentar saja karena tidak lama kemudian Duke Louis mulai berbicara untuk mbahas sesuatu yang lain.

"Daripada itu, apa perkataanmu yang sebelumnya itu sungguhan, sayang? Kamu bilang kamu tidak akan mbiarkan Irene untuk ikut bersama Rid yang ingin wujudkan impiannya," ucap Duke Louis.

"Sebelumnya aku mang bilang kalau aku tidak akan mbiarkan Irene, tetapi sekarang aku jadi bimbang dengan perkataanku itu,"

"Di satu sisi, aku sebagai ibunya Irene tidak ingin Irene berada dalam bahaya. wujudkan impian Rid itu tentu harus lewati jalan yang berbahaya, apalagi nantinya reka pasti akan bertemu dengan 2 ras terkuat di dunia ini yaitu ras Malaikat dan ras Iblis. Aku tidak ingin Irene lalui jalan yang berbahaya itu. Tetapi di sisi lain, aku ingin Irene lakukan apa yang dia inginkan. Jika Irene sendiri yang mutuskan untuk ikut bersama Rid, maka aku tidak berhak untuk larangnya," ucap Duchess Arlet.

"Kamu benar, aku pun juga sama. Kita sebagai orang tua dari Irene tidak mau Irene berada dalam bahaya, tetapi kita juga ingin Irene lakukan apa yang dia inginkan," ucap Duke Louis.

Setelah itu, reka pun kembali terdiam. reka terdiam karena reka sedang mikirkan tentang apa yang reka katakan barusan. Tidak lama kemudian, Duchess Arlet yang sebelumnya terdiam, mulai berbicara kembali.

"Aku pusing mikirkan ini," ucap Duchess Arlet.

"Lebih baik kita jangan terlalu mikirkan ini dulu, sayang. Lagipula kita juga belum bertanya kepada Irene tentang apakah dia mau ikut bersama Rid untuk wujudkan impiannya atau tidak. Selain itu, Rid bilang dia juga tidak terburu-buru untuk wujudkan impiannya itu karena dia mau mpersiapkan diri terlebih dahulu. Jadi lebih baik kita mikirkan tentang ini nanti saja," ucap Duke Louis.

"Iya, kamu ada benarnya," ucap Duchess Arlet.

"Daripada itu, aku masih tidak nyangka kalau impian Rid adalah nyatukan dunia ini dan mbuat dunia ini njadi damai. Jika saja impiannya bukan itu, mungkin beberapa tahun ke depan aku akan rekondasikannya njadi salah satu komandan prajurit kerajaan San Fulgen yang baru. Tetapi karena impiannya itu mbuatnya harus pergi dari kerajaan ini, tidak mungkin aku rekondasikannya njadi salah satu komandan prajurit yang baru," ucap Duke Louis.

"Aku juga berpikiran hal yang sama. Malah aku berpikir untuk segera rekrut Rid untuk njadi prajurit kita setelah dia lulus nanti. Setelah dia njadi prajurit kita, beberapa tahun ke depan bukan tidak mungkin kalau dia akan njadi komandan prajurit kita yang baru nggantikan Mina. Tetapi sayang sekali kalau impiannya itu mbuatnya tidak bisa netap di kerajaan ini," ucap Duchess Arlet.

"Iya," ucap Duke Louis.

"Soal impian Rid, haruskah kita mberitahunya kepada Yang Mulia Ratu? Yang Mulia Ratu pastinya ingin Rid tetap tinggal di kerajaan ini, tetapi karena impiannya itu, Rid tidak akan bisa terus tinggal di kerajaan ini. Kita harus mberitahu Yang Mulia Ratu soal ini. Aku yakin Rid belum mberitahu tentang impiannya itu kepada Yang Mulia Ratu," ucap Duchess Arlet.

"Lebih baik kita tidak perlu mberitahunya kepada Yang Mulia Ratu. Yang Mulia Ratu bilang kalau nanti dia akan lakukan pembicaraan dengan Rid. Rid sendiri pun juga ingin lakukan pembicaraan soal cara ngendalikan tekanan aura dengan Yang Mulia Ratu. Aku yakin Rid sendiri akan mberitahu Yang Mulia Ratu soal impiannya saat pembicaraan di antara reka sedang berlangsung," ucap Duke Louis.

-

Sentara itu, beberapa nit kemudian di tempat nona Leirion berada.

Nona Leirion saat ini sedang lihat ke arah hutan yang berada tidak jauh di depannya. Hutan itu saat ini terlihat sudah ngalami kerusakan yang cukup parah. Sebagian besar pohon yang ada di hutan itu telah rusak, hancur dan terpotong. Pada potongan pohon yang telah terpotong, terlihat ada sisa-sisa sihir kegelapan yang masih nempel di bekas potongan pohon itu. Hampir semua pohon yang telah terpotong masih miliki sisa-sisa sihir kegelapan di bekas potongannya. Namun tidak semua pohon yang terpotong itu masih miliki sisa-sisa sihir kegelapan, ada juga yang miliki sisa-sisa dari sihir berwarna putih keemasan yaitu sihir cahaya. Beberapa pohon yang rusak dan telah hancur di hutan itu pun terlihat masih miliki sisa-sisa dari sihir cahaya. Semua pohon yang telah rusak itu terlihat miliki banyak lubang. Lubang pada pohon itu seperti diakibatkan oleh sebuah peluru senapan. Selain itu, ada juga beberapa pohon yang sedang terbakar oleh api berwarna putih keemasan. Kondisi di hutan itu saat ini benar-benar ngkhawatirkan.

Nona Leirion hanya diam saja sambil terus lihat ke arah hutan itu. Sentara para iblis yang ada di sekitarnya terlihat sedang ngurus para iblis yang sebelumnya telah tewas setelah terkena serangan Nexus. ski reka sedang ngurus para iblis yang sedang tewas itu, reka tidak bisa fokus karena saat ini reka sedang ndengar suara dentuman, ledakan atau suara senjata yang beradu dari dalam hutan itu. Bahkan tanah tempat reka berada saat ini sesekali bergetar. Semua itu dikarenakan dari efek pertarungan yang terjadi antara Nexus dan Agaris yang masih berlangsung di dalam hutan itu.

"Seharusnya kapten Agaris bisa ngalahkan manusia itu dengan mudah, tetapi dari suaranya sepertinya kapten Agaris masih bertarung dengan manusia itu,"

"Iya, sepertinya manusia itu lebih tangguh dari yang kita kira," ucap para iblis itu.

Sentara itu, nona Leirion yang sedang lihat ke arah hutan itu, tiba-tiba mulai berjalan secara perlahan ke arah hutan itu. Para iblis yang ada di dekatnya pun sedikit terkejut lihat nona Leirion yang tiba-tiba berjalan nuju ke arah hutan itu.

"Anda mau kemana, Yang Mulia Ratu?,"

"Kenapa anda berjalan nuju hutan itu?," tanya para iblis itu.

Setelah ndengar pertanyaan para iblis itu, nona Leirion pun langsung njawabnya.

"Kalian diam disini saja dan jangan ngikutiku. Ini perintah," ucap nona Leirion.

Setelah ndengar perkataan nona Leirion, para iblis itu pun langsung terdiam. Ekspresi reka terlihat seperti sedikit ketakutan setelah ndengar perkataan nona Leirion. reka pun hanya terdiam saja dan bahkan reka tidak berbicara sedikitpun untuk nanggapi perkataan nona Leirion itu.

Lalu, setelah nona Leirion ngatakan itu, nona Leirion pun terus berjalan untuk masuki hutan itu.

-

Sentara itu, di dalam hutan tempat pertarungan Agaris dan Nexus.

Suara senjata yang beradu masih terdengar di dalam hutan itu. Lalu tidak lama kemudian, suara senjata yang beradu itu pun berhenti diikuti dengan potongan sebuah lengan kanan yang sedang layang di udara. Potongan lengan kanan itu terlihat sedang gang pedang. Potongan lengan kanan itu beserta pedang yang dipegangnya terlihat sedang diselimuti oleh sihir kegelapan. Potongan lengan kanan itu adalah milik Agaris.

Potongan lengan kanan yang layang di udara itu lalu jatuh ke tanah. Potongan lengan kanan itu jatuh tepat di samping Agaris yang sedang berdiri sambil gang lengan kanannya yang telah terpotong dengan tangan kirinya. Darah terlihat terus ngalir keluar dari lengan kanannya yang telah terpotong itu.

Sentara untuk Agaris sendiri, seluruh tubuhnya terlihat sudah ndapatkan luka yang cukup banyak. Sihir kegelapan yang sebelumnya nyelimuti seluruh tubuhnya, kini hanya nyelimuti sebagian kecil dari seluruh tubuhnya itu. Bahkan seluruh wajahnya saat ini sudah tidak diselimuti oleh sihir kegelapan seperti sebelumnya. Agaris pun juga terlihat sudah kelelahan, nafasnya pun terengah-engah.

"Haaah...Haaaahhh.....aku tidak nyangka kalau manusia sepertimu bisa ngalahkanku seperti ini," ucap Agaris sambil lihat ke depan.

Tidak jauh di depan Agaris, terlihat Nexus yang sedang berjalan secara perlahan untuk ndekati Agaris. Nexus saat ini sedang gang satu senapan kecil miliknya yang sudah dialiri oleh sihir cahaya di tangan kirinya. Sentara satu senapan kecil sisanya terlihat sudah ditaruh kembali di pinggangnya. Lalu di tangan kanannya, Nexus terlihat sedang gangi pedang miliknya yang juga sudah dialiri oleh sihir cahaya. Nexus terlihat tidak ngalami luka sedikitpun pada tubuhnya.

"Sebelumnya kamu berkata dengan percaya dirinya kalau kamu bisa mbunuhku, tetapi lihatlah dirimu sekarang. Benar-benar ngecewakan, apa hanya segini saja kemampuan dari ras iblis?," tanya Nexus.

Setelah ndengar perkataan Nexus, Agaris pun tersenyum.

"Aku mungkin berhasil dikalahkan olehmu, tetapi bukan berarti ras iblis itu lemah. Aku ngakui kalau kamu adalah manusia yang kuat, tetapi kamu masih lemah jika dibandingkan dengan Yang Mulia Ratu. Jika Yang Mulia Ratu turun sendiri untuk lawanmu, kamu pasti akan langsung mati," ucap Agaris.

"Nona Iblis itu ya. Aku tahu kalau dia itu kuat, aku sendiri pun juga rasakannya. Tetapi kamu terlalu berlebihan dengan berkata kalau aku langsung mati jika lawannya. Kamu sepertinya sangat rehkanku," ucap Nexus.

"Aku tidak rehkanmu, aku hanya berbicara sesuai fakta yang ada," ucap Agaris.

"Yah terserah kamu saja. Setelah ini, aku akan nghadapi nona iblis itu karena tujuanku mang untuk mbunuhnya dan ngambil jasadnya. Tetapi sebelum itu, aku akan mbunuhmu terlebih dahulu. ski kamu tidak sekuat nona iblis itu, tetapi kamu lebih kuat dari para iblis biasa yang miliki akal. Darah dan jasadmu pasti akan berguna untuk ningkatkan kekuatan organisasi kami," ucap Nexus.

Setelah itu, Nexus tiba-tiba langsung lesat dengan cepat ke arah Agaris yang masih gangi lengan kanannya yang telah terpotong dengan tangan kirinya. Nexus pun kini sudah berada di hadapan Agaris. Agaris terlihat tidak terkejut sedikitpun ketika lihat Nexus yang sudah ada di hadapannya. Sepertinya dia sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi kepadanya.

Lalu, Nexus pun langsung nyerang Agaris dengan nggunakan pedangnya. Tetapi, sebelum pedangnya ngenai Agaris, dari bawah tanah tempat reka berada tiba-tiba muncul beberapa tangkai bunga berukuran besar dan berwarna hitam. Tangkai-tangkai bunga itu miliki ujung yang tajam dan tangkai-tangkai bunga itu pun saat ini sedang bergerak dengan cepat ke arah Nexus untuk nusuknya.

Nexus sempat terkejut ketika lihat tangkai-tangkai bunga itu tiba-tiba muncul dari bawah tanah. ski sempat terkejut, namun Nexus berhasil nghindari tangkai-tangkai bunga yang ingin nusuknya itu. Nexus pun lalu njaga jarak dari tempat munculnya tangkai-tangkai bunga itu sekaligus dari tempat Agaris berada saat ini. Agaris pun terselamatkan oleh tangkai-tangkai bunga yang tiba-tiba muncul itu.

Setelah Nexus sudah njaga jarak dari tempat munculnya tangkai-tangkai bunga itu, Nexus lalu mperhatikan tangkai-tangkai bunga itu. Beberapa tangkai bunga itu yang sebelumnya gagal untuk nusuk Nexus kini sedang nusuk batang-batang pohon yang ada di sekitarnya. Tidak lama kemudian, batang-batang pohon yang ditusuk oleh beberapa tangkai bunga itu pun langsung ngering dan layu. Lalu setelah batang-batang pohon itu ngering dan layu, tiba-tiba muncul beberapa bunga Lily berwarna rah seperti darah dari tangkai-tangkai bunga yang baru saja nusuk batang-batang pohon yang telah ngering dan layu tersebut. Hal itu narik perhatian Nexus.

"Batang-batang pohon itu langsung ngering dan layu setelah ditusuk oleh tangkai bunga itu. Apa tangkai bunga itu ngambil daya hidup dari makhluk yang ditusuknya? Jika aku tertusuk oleh tangkai bunga itu tadi, mungkin aku akan bernasib sama seperti batang-batang pohon itu," pikir Nexus.

Setelah Nexus lihat dan mperhatikan tangkai-tangkai bunga itu, Nexus lalu noleh dan lihat ke arah Agaris lagi. Ketika Nexus sudah lihat ke arah Agaris, Nexus pun langsung terkejut. Itu karena di hadapan Agaris saat ini sudah ada nona Leirion yang sedang berdiri sambil natap ke arah Nexus.

"Sejak kapan nona iblis itu ada disana? Aku sama sekali tidak rasakannya," pikir Nexus.

Sentara itu, Agaris tidak terlihat terkejut ketika lihat nona Leirion yang ada di hadapannya. Sepertinya dia sudah tahu kalau nona Leirion akan datang setelah lihat tangkai-tangkai bunga yang tiba-tiba muncul sebelumnya.

"Yang Mulia Ratu, kenapa anda datang kesini?," tanya Agaris.

"Alasan aku datang kesini adalah karena aku tidak ingin kehilangan salah satu anak buah elitku," ucap nona Leirion.

Agaris terlihat sedikit terkejut setelah ndengar perkataan nona Leirion.

"Maafkan saya karena telah mbuat anda repot sampai anda harus datang kesini. Padahal saya sebelumnya sudah berjanji kepada anda untuk mbalas serangan yang dilakukan manusia itu kepada anda sekaligus mbalas kematian para anak buahku, tetapi saya malah berakhir begini. Saya benar-benar minta maaf, Yang Mulia Ratu," ucap Agaris.

"Tidak apa-apa. Aku juga tidak nyangka kalau kamu akan babak belur seperti ini. Kelihatannya manusia itu benar-benar kuat," ucap nona Leirion.

"Saya malu ngakuinya tetapi manusia itu lebih kuat daripada saya, Yang Mulia Ratu," ucap Agaris.

"Hmmm begitu ya," ucap nona Leirion.

Setelah itu nona Leirion pun terdiam. Saat nona Leirion terdiam, dari belakang Agaris tiba-tiba muncul 2 buah tangkai bunga berukuran besar dan berwarna hitam. 1 buah tangkai bunga lilit tubuh Agaris, sentara 1 sisanya lilit potongan lengan kanan Agaris yang tergeletak tidak jauh dari tempatnya berada. Agaris terlihat terkejut begitu ngetahui kalau dirinya saat ini sedang dililit oleh tangkai bunga itu.

"Sekarang lebih baik kamu pergi. Aku yang akan lawan manusia itu," ucap nona Leirion.

Setelah itu, tanpa mbiarkan Agaris ngatakan sepatah kata pun, tangkai bunga yang lilit Agaris dan potongan lengan kanannya pun langsung bergerak pergi ninggalkan tempat itu.

Setelah Agaris pergi, nona Leirion terus lihat dan natap ke arah Nexus. Tidak lama kemudian, nona Leirion secara perlahan mulai jamkan kedua matanya. Sentara Nexus yang sebelumnya terkejut ketika lihat nona Leirion yang tiba-tiba muncul, kini kembali bersikap biasa. Dia pun lalu mulai ngatakan sesuatu kepada nona Leirion.

"Padahal aku ingin mbunuh iblis yang tadi terlebih dahulu, tetapi kamu malah nghentikanku. ski begitu, aku tidak kecewa sedikitpun, itu karena buruan utamaku kini sudah muncul kembali di hadapanku. Aku sebelumnya berniat untuk pergi ke tempatmu setelah aku mbunuh iblis yang tadi. Tetapi aku tidak nyangka kalau kamu sendiri yang akan datang kesini,"

"Aku akan mbunuhmu dengan cepat agar aku bisa segera mbawa jasadmu dan mberikannya kepada tuan Rav-," ucap Nexus.

Saat Nexus sedang berbicara, tiba-tiba di sekitar tempat Nexus berada muncul banyak tangkai bunga berukuran besar dan berwarna hitam. Tangkai-tangkai bunga itu tidak hanya muncul di sekitar tempat Nexus berada saja, lainkan juga di sekitar tempat nona Leirion berada. Tidak, lebih tepatnya tangkai-tangkai bunga itu muncul di seluruh area hutan tempat reka berada saat ini. Tangkai-tangkai bunga itu saat ini sedang liuk-liuk, nunggu kapan waktunya untuk nyerang. Sentara Nexus terlihat terkejut ketika lihat di sekelilingnya saat ini sudah dipenuhi oleh tangkai-tangkai bunga berwarna hitam.

"Buruan utama? mbunuhku? Kelihatannya kamu sangat rehkanku," ucap nona Leirion.

Setelah ngatakan itu, nona Leirion lalu mbuka kedua matanya secara perlahan. Bola mata nona Leirion yang berwarna rah beserta pupil matanya yang berbentuk seperti bunga Lily terlihat njadi lebih terang setelah nona Leirion mbuka matanya.

"Aku akan mperlihatkanmu kekuatan dari salah satu ’Demon Sovereign Commanders’," ucap nona Leirion.

-Bersambung

You are reading Peace Hunter Chapter 476 : Kebimbangan Duchess Arlet on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Data-Driven Daoist cover
Similar genre

Data-Driven Daoist

CatVI ·Action

Theycalledhimtrash—untilhestartedtreatingtheDaolikeaDataset.Whendemonsslaughterhisnewfamily,computerscientistJohan—nowrebornasYuHan—survivesbypurew...

Grasping the Evil cover
Similar genre

Grasping the Evil

I'm Ink我是墨水 ·Action

Mastersaid,thewomanIheldinmyhands,ImustprotectfortherestofmylifeMastersaid,it’shardtocultivateasaDemon,andonceyouentertheDemonDao,youshouldneverloo...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.