Sentara itu, beberapa saat sebelumnya, di halaman depan kediaman Duke Louis.
Aku baru saja selesai nyembuhkan para prajurit Duke San Lucia yang terluka akibat insiden penyerangan yang dipimpin oleh High Priest Julian. Para prajurit yang terluka itu pun ngucapkan terima kasih kepadaku setelah aku sembuhkan.
"Terima kasih, Rid Archie," ucap para prajurit itu.
"Iya, sama-sama," ucapku.
Sentara itu, Irene yang berada di dekatku mulai berbicara kepada para prajurit itu setelah aku selesai nyembuhkan reka.
"Aku minta maaf karena harus minta hal ini kepada kalian padahal kalian baru saja disembuhkan. Aku minta tolong kepada kalian untuk pergi ke gerbang depan kediaman untuk ngendalikan situasi disana. Setelah insiden penyerangan yang dilakukan oleh High Priest Julian telah berakhir, para warga yang tinggal di dekat kediaman ini atau orang-orang yang sedang berada di dekat kediaman ini kini mulai ndekat untuk ncari tahu lebih detail tentang penyerangan itu. Bahkan katanya ada orang-orang dari Diganta yang berada di antara kerumunan orang-orang itu. Aku minta tolong kepada kalian untuk nahan orang-orang itu dan sebisa mungkin jangan biarkan reka untuk masuk ke halaman kediaman ini," ucap Irene.
"Baik, putri Irene. Selain itu, anda tidak perlu minta maaf," ucap salah satu prajurit.
"Itu benar, lagipula sekarang kami sudah pulih sepenuhnya,"
"Iya, kami sekarang sudah siap kembali untuk njalankan perintah apa saja," ucap prajurit lainnya.
"Baiklah jika kalian bilang begitu. Sekarang, cepat kalian pergi ke gerbang depan kediaman ini," ucap Irene.
"Baik, putri Irene," ucap para prajurit itu.
Setelah itu, para prajurit yang baru saja disembuhkan itu pun langsung bergegas pergi untuk nuju ke gerbang depan kediaman nyusul para prajurit yang sudah berada disana sebelumnya. Saat ini, para prajurit Duke San Lucia kebanyakan sedang berada di gerbang depan kediaman untuk ngendalikan situasi disana karena disana sedang ada banyak kerumunan orang yang penasaran terhadap insiden penyerangan yang sebelumnya terjadi. Sentara sisanya berada di halaman depan kediaman Duke Louis. reka yang berada di halaman depan kediaman bertugas untuk njaga area di sekitar halaman depan, njaga para Priest yang terluka agar tidak larikan diri serta njaga jasad-jasad dari para Priest yang sudah tewas.
Jasad para Priest yang sudah tewas itu kini telah ditutup oleh sebuah kain besar yang nutupi seluruh tubuh reka. Jasad High Priest Julian pun juga telah ditutup oleh kain besar. Tidak hanya jasad para Priest saja, jasad dari beberapa prajurit Duke San Lucia yang telah tewas pun juga ditutup oleh kain besar itu.
Saat ini, setelah nyembuhkan para prajurit yang terluka itu, aku noleh dan lihat ke arah jasad-jasad para prajurit yang sudah berjejer rapi yang jaraknya cukup jauh dari tempatku berada. Beberapa prajurit terlihat sedang berdiri sambil lihat ke arah para prajurit itu. Ada sebagian dari reka yang sedang berjongkok dan juga ratapi para jasad prajurit itu. lihat reka yang sedang ratapi jasad para prajurit itu mbuatku berpikir kembali kalau tewasnya reka mungkin karena kesalahanku.
Tetapi ketika aku sedang mikirkan hal itu, Irene yang berada di sampingku tiba-tibaku berbicara.
"Semua ini bukan kesalahanmu, Rid. reka tewas pun juga bukan karena kesalahanmu, jadi kamu tidak perlu lagi mikirkan hal itu," ucap Irene.
Setelah ndengar Irene ngatakan itu, aku pun langsung noleh dan lihat ke arah Irene. Kemudian, aku lihat Irene juga lihat ke arah yang sama dengan yang aku lihat sebelumnya, yaitu ke arah jasad para prajurit yang telah tewas. Aku tidak nyangka kalau Irene ngatakan itu disaat aku mikirkan tentang hal itu sebelumnya. Aku rasa Irene seperti bisa mbaca pikiranku.
Lalu setelah lihat ke arah Irene, aku lalu lihat kembali ke arah jasad para prajurit itu. Setelah itu aku pun berbicara kembali untuk nanggapi perkataan Irene sebelumnya.
"Iya," ucapku.
Setelah ngatakan itu, aku lalu kembali noleh ke arah samping. Tetapi aku bukan noleh ke arah Irene karena Irene saat ini berada di sebelah kananku, sentara aku sekarang noleh ke arah kiri. Di sebelah kiriku saat ini ada seseorang yang tidak kuduga akan datang ke tempat ini. Orang itu adalah nona Elsie, Priest gereja Sancta Lux yang aku bebaskan sebelumnya.
"Jadi, sampai kapan kamu mau berada di tempat ini, nona Elsie?," tanyaku.
Sebelumnya, ketika aku dan yang lainnya sampai di depan gerbang kediaman Duke Louis setelah sebelumnya kami berada di tempat yang cukup jauh dari gerbang kediaman itu, aku lihat nona Elsie sedang dikelilingi oleh beberapa prajurit Duke San Lucia. Aku pun langsung nghampiri reka dan nanyakan kenapa reka ngelilingi nona Elsie. Alasan reka ngelilingi nona Elsie karena nona Elsie dianggap sebagai orang ncurigakan. Untungnya nona Elsie tidak lakukan apa-apa dan hanya diam saja sehingga beberapa prajurit Duke San Lucia yang ngelilinginya pun juga tidak lakukan apa-apa.
Setelah itu, aku pun mberitahu kepada para prajurit itu kalau nona Elsie rupakan orang yang aku kenal. Setelah aku mberitahu itu, para prajurit itu pun tidak lagi ngelilingi nona Elsie dan reka kembali untuk lakukan tugas lain seperti berjaga di sekitar gerbang depan kediaman paman Louis.
Sentara itu, Irene yang kebetulan juga ngikutiku pun terlihat sedikit terkejut begitu lihat nona Elsie. Irene tahu kalau nona Elsie rupakan salah satu Priest gereja Sancta Lux karena Irene pernah lihat nona Elsie disaat nona Elsie sedang nguping pembicaraanku dan yang lainnya di gereja Sancta Lux kota San Lucia. Karena itu, Irene langsung waspada ketika lihat nona Elsie di depan gerbang kediaman Duke Louis. Namun setelah itu, aku njelaskan situasi nona Elsie kepada Irene, Irene pun ngerti tentang situasi nona Elsie dan dia pun nurunkan kewaspadaannya.
Sentara itu, setelah sebelumnya aku bertanya kepada nona Elsie, nona Elsie pun langsung njawab pertanyaanku.
"Entahlah, tergantung situasinya," ucap nona Elsie.
"Bukankah sebelumnya aku sudah bilang agar kamu segera pergi ke tempat orang tuamu tinggal dan jangan ngikutiku kesini? Namun kamu malah tetap datang kesini," ucapku.
"Setelah ndengar kalau kamu akan lawan orang-orang dari gereja Sancta Lux yang dipimpin oleh tuan High Priest Julian yang nyerang kediaman tuan Duke, mana mungkin aku tidak penasaran dan hanya diam saja. Aku awalnya tidak percaya kalau kamu akan lakukan itu. Aku berpikir kalau mungkin itu hanya gertakanmu saja. Tetapi setelah aku datang kesini, aku sangat terkejut. Aku tidak nyangka kalau kamu benar-benar lawan reka. Kamu bahkan telah mbunuh tuan High Priest Julian,"
"Jika tuan High Priest Theodor yang rupakan High Priest gereja Sancta Lux ibukota San Estella ngetahui tentang hal ini, beliau pasti tidak akan diam saja. Beliau pasti akan rintahkan seluruh gereja Sancta Lux yang ada di kerajaan ini untuk kembali nyerang kediaman ini dan nghukummu. Tidak hanya itu saja, jika Holy Kingdom ndengar tentang hal ini, reka pasti akan ngirimkan para Holy Knights untuk datang ke kerajaan ini dan ngincarmu," ucap nona Elsie.
"Aku tidak peduli. Seperti yang aku katakan sebelumnya, aku tidak peduli siapa itu, aku akan lawan reka semua yang berniat lakukan sesuatu kepada orang yang berharga bagiku," ucapku.
Nona Elsie pun terdiam setelah ndengar perkataanku. lihat nona Elsie yang terdiam, aku pun lanjutkan perkataanku.
"Lebih baik kamu segera pergi sini, nona Elsie. Seperti yang kamu bilang tadi, jika High Priest Theodor itu tahu kalau High Priest Julian telah tewas, dia mungkin akan rintahkan seluruh gereja Sancta Lux di kerajaan ini untuk datang kesini. Situasi di tempat ini akan njadi lebih kacau dibanding sebelumnya,"
"Selain itu, kamu rupakan seorang mantan Priest gereja Sancta Lux. Jika orang-orang gereja Sancta Lux yang akan datang nanti lihat dan ngenalimu, kamu mungkin tidak akan bisa kabur dengan aman lagi karena reka akan nandaimu," ucapku.
Setelah ndengar perkataanku, nona Elsie yang sebelumnya terdiam pun mulai berbicara.
"Ya, kamu ada benarnya. Mungkin aku akan segera pergi dari tempat ini dan pergi ke tempat orang tuaku tinggal. Tetapi bagaimana denganmu, Rid? Apa kamu akan lawan orang-orang gereja Sancta Lux yang akan datang lagi nanti?," tanya nona Elsie.
"Tentu saja. Lagipula reka mang ada perlu denganku, maka aku sendiri yang harus ladeni reka," ucapku.
"Begitu ya. Kalau begitu semoga beruntung, Rid," ucap nona Elsie.
"Iya," ucapku.
Setelah itu, nona Elsie pun kembali berbicara denganku.
"Aku akan segera pergi dari tempat ini, tetapi sebelum itu aku ingin mastikan sesuatu kepada para Priest yang terluka itu," ucap nona Elsie.
"mastikan sesuatu? Apa itu?," tanyaku.
"Para Priest itu atau sebagian dari Priest itu, mungkin miliki kesamaan denganku. reka mungkin njadi Priest karena direkrut secara paksa. Jika mang ada dari reka yang direkrut secara paksa, maka aku akan mbujuk reka untuk ninggalkan gereja Sancta Lux. Apalagi, situasi saat ini sangat mungkinkan untuk reka agar bisa pergi ninggalkan gereja Sancta Lux. Maka dari itu, aku ingin mastikan terlebih dahulu apa ada dari reka yang rupakan orang yang direkrut secara paksa oleh gereja Sancta Lux," ucap nona Elsie.
"Begitu ya, kamu ingin mbujuk reka untuk ninggalkan gereja Sancta Lux," ucapku.
"Iya. Apa boleh, Rid?," tanya nona Elsie.
"Aku sendiri tidak keberatan, tetapi seharusnya kamu bertanya kepada Irene bukan kepadaku. Karena para Priest yang terluka itu semuanya telah dikalahkan oleh para prajurit Duke San Lucia yang saat ini dipimpin oleh Irene. Jadi Irene yang nentukan nasib dari para Priest itu," ucapku.
Setelah aku ngatakan itu, nona Elsie lalu noleh dan lihat ke arah Irene.
"Apa boleh aku lakukan itu, putri Irene?," tanya nona Elsie.
"Jika Rid tidak keberatan, maka aku pun juga tidak keberatan," ucap Irene.
Setelah ndengar perkataan Irene, nona Elsie tampak tersenyum senang.
"Terima kasih, putri Irene," ucap nona Elsie.
"Iya,"
"Leandra, Lily, segera kemari. Aku minta tolong kalian untuk nemani nona Elsie," ucap Irene sambil noleh ke belakang.
Cukup jauh di belakang Irene, terlihat Leandra dan Lily sedang ngawasi sekitar halaman kediaman Duke Louis. Setelah ndengar perkataan Irene, reka pun langsung nanggapinya.
"Baik, nona," ucap Leandra dan Lily.
Setelah itu, Leandra dan Lily pun langsung bergegas nghampiri kami.
"Kalau begitu, aku akan segera pergi untuk nghampiri para prajurit yang terluka itu. Setelah aku berhasil mbujuk reka, aku ingin minta bantuanmu lagi, Rid. Aku ingin minta bantuanmu untuk lepaskan gelang yang ada di lengan reka agar ketika reka sudah larikan diri, reka tidak akan bisa dideteksi keberadaannya," ucap nona Elsie.
"Baiklah, tetapi mungkin reka nanti akan terkejut jika reka ngetahui caraku untuk lepaskan gelang itu," ucapku.
"Tenang saja, reka mungkin hanya terkejut di awal saja, sama sepertiku. Ya sudah, kalau begitu aku pergi ke tempat reka dulu," ucap nona Elsie.
"Iya," ucapku.
Setelah itu, nona Elsie pun pergi ke tempat para Priest yang terluka itu sambil ditemani oleh Leandra dan Lily. Aku pun terus lihat ke arah reka yang sedang nuju ke tempat itu.
Lalu beberapa saat kemudian, ketika aku sedang lihat reka, tiba-tiba aku lihat sebuah cahaya yang bersinar cukup terang tiba-tiba muncul dari tempat jasad para Priest. Tempat jasad para Priest dengan tempat para Priest yang terluka terletak bersebelahan, jadi ketika aku lihat ke arah nona Elsie, Leandra dan Lily yang sedang nuju ke arah tempat para Priest yang terluka, secara tidak langsung pandanganku juga lihat ke arah tempat jasad para Priest.
Ketika cahaya yang bersinar cukup terang itu tiba-tiba muncul, beberapa prajurit yang njaga tempat jasad para Priest itu tiba-tiba terkejut.
"Cahaya apa itu?!,"
"Cahaya itu berasal dari jasad High Priest Julian," ucap beberapa prajurit itu.
Setelah itu, salah satu dari prajurit yang berjaga di tempat itu tiba-tiba manggilku dan Irene.
"Rid Archie, putri Irene, ada sebuah cahaya yang tiba-tiba muncul dari jasad High Priest Julian," ucap prajurit itu.
Prajurit itu ngatakan itu dengan nada yang cukup keras agar dapat terdengar oleh kami berdua.
"Ada sebuah cahaya yang tiba-tiba muncul dari jasad High Priest Julian? Apa mungkin cahaya itu berasal dari kristal komunikasi?," tanyaku.
"Ayo kita periksa, Rid," ucap Irene.
"Iya," ucapku.
Setelah itu, aku dan Irene pun langsung bergegas ke tempat jasad para Priest itu.
Tidak lama kemudian, kami pun sampai di tempat itu. Ketika kami sampai di tempat itu, beberapa prajurit yang berjaga di tempat itu tengah fokus lihat ke cahaya yang tiba-tiba muncul itu. Sesuai yang dikatakan oleh prajurit sebelumnya, cahaya itu muncul dari jasad High Priest Julian yang telah ditutup oleh kain.
Tidak hanya beberapa prajurit itu saja, nona Elsie, Leandra dan Lily sekarang juga sedang berada di tempat kami berada dan sedang lihat ke arah cahaya itu. reka yang sebelumnya berniat untuk pergi ke tempat para Priest yang terluka milih untuk datang ke tempat jasad para Priest karena tertarik dengan cahaya itu.
"Cahaya itu, sepertinya itu berasal dari kristal komunikasi," ucap nona Elsie.
"Iya, aku sebelumnya juga berpikir begitu," ucapku.
"Jika mang begitu, itu berarti ada seseorang yang ingin nghubungi tuan High Priest Julian. Apa mungkin itu tuan High Priest Theodor?," tanya nona Elsie.
"Sebelum itu, aku akan riksanya terlebih dahulu," ucapku.
Setelah itu, aku lalu nghampiri jasad High Priest Julian yang telah ditutup oleh kain. Aku lalu mbuka kain yang nutupi jasad High Priest Julian. Setelah kain itu terbuka, terlihat cahaya itu berasal dari dalam pakaian yang dikenakan oleh High Priest Julian. Aku pun lalu riksa ke dalam pakaian yang dikenakan oleh High Priest Julian dan akhirnya aku ndapatkan sesuatu. Setelah sesuatu itu berhasil aku dapatkan, aku pun langsung ngambilnya dari dalam pakaian High Priest Julian. Setelah sudah berhasil ku ambil, aku lalu mperlihatkan sesuatu itu kepada orang-orang yang ada di tempat ini. Seperti yang sebelumnya aku pikirkan, cahaya yang tiba-tiba muncul dari jasad High Priest Julian rupakan sebuah kristal komunikasi yang saat ini sedang aku pegang. Kristal komunikasi yang aku pegang ini masih bercahaya. Itu berarti ada seseorang yang masih terus berusaha untuk nghubungi High Priest Julian.
Setelah mperlihatkan kristal komunikasi itu, nona Elsie lalu bertanya kepadaku.
"Apa yang kamu lakukan kepada kristal komunikasi itu? Apa kamu mau responnya atau kamu mau ndiamkannya saja?," tanya nona Elsie.
"Aku akan responnya, karena mungkin orang yang sedang berusaha nghubungi High Priest Julian ini adalah orang yang rintahnya untuk nyerang kediaman Duke Louis," ucapku.
"Ya sudah jika itu maumu," ucap nona Elsie.
Setelah itu, aku bertanya kepada orang-orang yang ada di sekitarku.
"Kalian tidak keberatan apabila aku respon kristal komunikasi ini, kan?," tanyaku.
"Aku tidak keberatan," ucap Irene.
Leandra, Lily dan para prajurit yang ada di sekitarku pun ngangguk.
"Baiklah jika kalian setuju, aku akan langsung respon panggilannya," ucapku.
Setelah itu, aku pun langsung njawab panggilan yang ada di kristal komunikasi itu.
"Halo?," ucapku.
Setelah ngatakan itu, aku langsung ndengar suara dari orang yang berusaha nghubungi High Priest Julian lewat kristal komunikasi itu.
"Suara ini, kau bukanlah tuan Julian. Siapa kau?!," tanya High Priest Theodor.
-
Sentara itu, di ruangan tempat Ratu Kayana dan yang lainnya berada.
Setelah nanyakan tentang siapa orang yang ada di balik kristal komunikasi, orang di balik kristal komunikasi itu pun lalu mberikan tanggapan.
"Iya, saya mang bukanlah High Priest Julian," ucap orang dibalik kristal komunikasi itu.
High Priest Theodor terlihat terkejut begitu ndengar tanggapan dari orang dibalik kristal komunikasi itu. Sentara beberapa orang yang ada di ruangan itu seperti nona Karina, Ratu Kayana, Duke Louis, Duchess Arlet dan beberapa orang lagi terlihat terkejut begitu ndengar suara orang di balik kristal komunikasi itu. Itu karena suara orang itu terasa familiar.
"Suara ini, jangan-jangan....," pikir Ratu Kayana.
Sentara itu, High Priest Theodor kembali nanyakan sesuatu kepada orang yang berada dibalik kristal komunikasi itu.
"Jika kau bukan tuan Julian, lalu kau siapa? Apa kau rupakan Priest bawahan tuan Julian?," tanya High Priest Theodor.
"Saya juga bukan Priest bawahan High Priest Julian," ucap orang dibalik kristal komunikasi itu.
"Lalu siapa kau?!," ucap High Priest Theodor dengan nada yang terdengar sedikit kesal.
"Saya akan mberitahu siapa saya, tetapi sebelum itu beritahu dulu siapa anda," ucap orang itu.
"Aku adalah Theodor, High Priest yang berasal dari gereja Sancta Lux ibukota San Estella. Aku sudah mberitahu siapa diriku, sekarang cepat beritahu siapa kau," ucap High Priest Theodor.
"Begitu ya, jadi anda rupakan High Priest Theodor. Anda rupakan pimpinan dari High Priest Julian. Itu berarti apa anda juga yang telah rintah High Priest Julian untuk nyerang kediaman Duke Louis dan nculik Irene sebagai umpan untuk rekrut saya?," ucap orang itu.
High Priest Theodor yang ndengar hal itu pun terlihat terkejut.
"Apa yang baru saja kau katakan? Kau bilang ’rekrut saya’?, Jangan bilang kalau kau ini.....," ucap High Priest Theodor.
"Itu benar, saya adalah Rid Archie, orang yang diincar oleh High Priest Julian sekaligus oleh anda agar bergabung dengan gereja Sancta Lux," ucap Rid dari balik kristal komunikasi.
High Priest Theodor pun sangat terkejut setelah ndengar perkataan Rid. Tidak hanya High Priest Julian saja, lainkan semua orang di ruangan itu pun terkejut, tidak terkecuali nona Laviena. reka terkejut karena reka tidak nyangka kalau Rid lah yang akan muncul dari balik kristal komunikasi itu.
"Rid Archie?," ucap nona Laviena.
Sentara itu, High Priest Theodor yang sebelumnya terkejut, mulai nanggapi perkataan Rid sebelumnya.
"Rid Archie?!?! Bagaimana bisa kamu tiba-tiba njawab panggilanku?! Aku seharusnya sedang nghubungi kristal komunikasi milik tuan Julian, yang berarti seharusnya yang njawab adalah tuan Julian sendiri atau setidaknya Priest yang njadi bawahannya. Kenapa kamu bisa njawab panggilanku?!," tanya High Priest Theodor.
"Saya bisa njawab panggilan ini karena saya sekarang sedang gang kristal komunikasi milik High Priest Julian yang saya ambil darinya," ucap Rid.
"Bagaimana bisa kau ngambil kristal komunikasi milik tuan Julian?! Tidak mungkin kau bisa ngambilnya semudah itu, pasti kau telah lakukan sesuatu kepada tuan Julian sehingga kau bisa ngambil kristal komunikasi miliknya. Apa yang telah kau lakukan kepada tuan Julian, Rid Archie?!?!," tanya High Priest Theodor.
"Soal itu, saya telah mbunuh High Priest Julian, jadi saya bisa ngambil kristal komunikasi miliknya dengan mudah," ucap Rid dari balik kristal komunikasi yang dipegang High Priest Theodor.
Setelah ndengar perkataan Rid, High Priest Theodor terlihat sangat terkejut.
"A-apa katamu?!?!," ucap High Priest Theodor.
-Bersambung
Reviews
All reviews (0)