Font Size
15px

Kembali ke tempat Rid, Irene dan yang lainnya berada.

Setelah ndengar perkataan senior Nadine sebelumnya, beberapa prajurit yang sebelumnya nyalahkanku karena aku yang telah mbuat gereja Sancta Lux nyerang kediaman paman Louis pun mulai minta maaf kepadamu.

"Rid Archie, aku minta maaf karena telah nyalahkanmu,"

"Aku juga minta maaf, padahal kamu telah banyak mbantu keluarga San Lucia yang aku layani, tetapi aku malah nyalahkanmu dan berniat untuk mintamu pergi agar kediaman tuan Duke tidak diserang lagi oleh gereja Sancta Lux,"

"Aku juga minta maaf karena telah nyalahkanmu, Rid Archie," ucap beberapa prajurit itu.

Setelah ndengar permintaan maaf reka, aku pun langsung nanggapi permintaan maaf reka.

"Sudah, tidak apa-apa. Lagipula perkataan kalian tidak salah, aku sendiri pun berpikir kalau mang aku lah yang nyebabkan kediaman paman Louis diserang oleh gereja Sancta Lux karena aku saat ini tinggal di kediaman paman Louis. Justru aku lah yang seharusnya minta maaf karena telah nimbulkan banyak masalah kepada kalian setelah aku tinggal di kediaman paman Louis," ucapku.

Beberapa prajurit yang sebelumnya minta maaf kepadaku pun terdiam setelah ndengar perkataanku. Sentara Irene yang juga ndengar perkataanku langsung nanggapi perkataanku.

"Kamu tidak nimbulkan masalah sama sekali, Rid, jadi kamu tidak perlu minta maaf. Lalu kamu juga tidak perlu rasa bersalah, bukan kamu lah yang nyebabkan kediaman ayahandaku diserang. Satu-satunya yang harus disalahkan adalah gereja Sancta Lux, karena cara reka dalam rekrut seseorang untuk njadi bagian dari gereja Sancta Lux terlalu kasar. reka tidak segan-segan untuk lakukan penyerangan atau tindakan kasar lainnya agar orang yang reka incar mau njadi bagian dari gereja Sancta Lux," ucap Irene.

"Seperti perkataan Irene, gereja Sancta Lux lah yang bersalah untuk masalah ini. Jadi lebih baik kamu tidak perlu terlalu mikirkan tentang masalah ini, Rid," ucap senior Nadine.

"Baiklah jika kalian berdua bilang begitu," ucapku.

Setelah itu, senior Nadine noleh ke arah beberapa prajurit yang sebelumnya minta maaf kepadaku.

"Karena kalian telah minta maaf kepada Rid, apa itu berarti kalian masih mau untuk tetap njadi prajurit Duke San Lucia?," tanya senior Nadine.

Beberapa prajurit itu lalu kompak njawab pertanyaan senior Nadine.

"Benar, nona Nadine. Kami masih mau njadi prajurit Duke San Lucia," ucap beberapa prajurit itu.

"Baiklah. Karena kalian masih mau njadi prajurit Duke San Lucia, sekarang lakukanlah tugas kalian. Sekarang karena kondisi Irene baik-baik saja, kalian segera kembali ke gerbang depan kediaman paman Louis untuk mbantu rekan-rekan kalian yang terluka atau yang sudah tumbang. Bawa dan kumpulkan reka semua ke halaman depan kediaman paman Louis,"

"Tidak hanya rekan kalian saja, bawa juga para Priest yang terluka ataupun yang sudah tumbang ke halaman depan," ucap senior Nadine.

Beberapa prajurit itu terlihat bingung setelah ndengar perkataan senior Nadine yang bilang untuk mbawa para Priest yang terluka juga.

"Kenapa kami juga harus mbawa para Priest gereja Sancta Lux yang telah nyerang kami, nona Nadine?," tanya salah satu prajurit.

"Untuk sekarang bawa saja reka dulu, kita akan nentukan apa yang harus kita lakukan ke reka nanti," ucap senior Nadine.

"Baik, nona Nadine," ucap prajurit itu.

"Lalu bawa juga jasad High Priest Julian beserta Priest yang telah tumbang di dekatnya ke halaman depan," ucap senior Nadine.

"Baik, nona Nadine," ucap prajurit itu.

Setelah itu, senior Nadine noleh ke arah beberapa prajurit yang sebelumnya setuju dengan perkataannya.

"Kalian juga, lakukanlah tugas kalian bersama reka," ucap senior Nadine.

Beberapa prajurit itu pun langsung nanggapi perkataan senior Nadine.

"Baik, nona Nadine," ucap beberapa prajurit itu.

Para prajurit yang sebelumnya terpisah kubu itu kemudian berkumpul.

"Ayo semua kita lakukan tugas yang diberikan oleh nona Nadine. Pertama beberapa orang tolong bawa jasad High Priest Julian beserta Priest yang tergeletak di dekatnya itu. Lalu sisanya segera kembali ke gerbang depan kediaman tuan Duke. Ketika kembali, kalian jangan lupa untuk mbawa rekan-rekan kita yang sebelumnya telah tumbang akibat tekanan udara yang tiba-tiba njadi berat," ucap salah satu prajurit.

"Benar juga, kita sebelumnya terlalu fokus mikirkan putri Irene sampai lupa tentang reka yang telah tumbang,"

"Sebelumnya aku juga hampir tumbang karena tekanan udara yang tiba-tiba njadi berat itu,"

"Aku juga, sebenarnya apa penyebab tekanan udara yang tiba-tiba njadi berat itu?," ucap prajurit yang lainnya.

Senior Nadine yang ndengar perkataan para prajurit itu pun baru ngingat kalau dia juga sebelumnya rasakan tekanan udara yang berat itu.

"Benar juga, aku terlalu fokus dengan Irene dan tewasnya High Priest Julian sampai aku lupa akan hal itu," pikir senior Nadine.

Setelah itu, tiba-tiba senior Nadine noleh ke arahku dan Irene.

"Rid, Irene, apa sebelumnya kalian rasakan kalau tekanan udara yang ada di sekitar njadi berat?," tanya senior Nadine.

Setelah ndengar pertanyaan senior Nadine, aku pun langsung njawabnya.

"Aku tidak rasakan kalau tekanan udara di sekitar njadi berat sebelumnya. Tidak ada yang berubah dari tekanan udara di sekitar tempat ini. Udaranya sama seperti sekarang," ucapku.

"...Aku juga tidak rasakannya," ucap Irene.

Setelah ndengar perkataanku dan Irene, senior Nadine pun langsung terdiam.

"Ini aneh. Sebelumnya, jelas-jelas kalau aku rasakan tekanan udara yang berat yang berasal dari tekanan aura milik seseorang berasal dari tempat reka berada yaitu tempat ini. Tetapi kenapa reka berdua tidak rasakannya? Apakah reka berbohong tentang hal ini?,"

"Sebelumnya di tempat ini hanya ada Rid, Irene, High Priest Julian dan satu Priest yang bersama High Priest Julian. Itu berarti orang yang nggunakan tekanan aura adalah salah satu di antara reka. Aku ragu kalau priest yang bersama High Priest Julian bisa ngeluarkan tekanan aura. Sentara untuk High Priest Julian, dia bisa saja nggunakannya, tetapi ada yang janggal jika mang dia bisa nggunakannya. Jika dia mang bisa nggunakannya, seharusnya dia nggunakannya dari awal saat pertama kali dia datang ke kediaman paman Louis untuk ngintimidasi kami, tetapi dia malah tidak nggunakannya. Jadi sepertinya bukan High Priest Julian yang ngeluarkan tekanan aura,"

"Itu berarti yang ngeluarkan tekanan aura sebelumnya antara Irene atau Rid. Tetapi jika lihat kekuatan reka masing-masing, kemungkinan besar yang ngeluarkan tekanan aura adalah Rid karena dia miliki kapasitas Mana yang sangat banyak. Aku bisa berpikiran begitu karena aku tidak pernah lihat dia kelelahan setelah nggunakan banyak sihir. Jika dia miliki banyak Mana, tidak ngherankan kalau dia bisa ngeluarkan tekanan Aura. Jika benar Rid yang ngeluarkan tekanan aura itu, kenapa Irene tidak rasakannya? Apa mungkin Irene berbohong soal itu? ," pikir senior Nadine.

-

Sentara itu, di ruangan tempat Ratu Kayana, para Duke, para Duchess dan para komandan prajurit berkumpul.

Orang-orang yang ada di ruangan itu selain Ratu Kayana, nona Violetta dan nona Karina terlihat terkejut setelah ndengar penjelasan Ratu Kayana.

"Jadi orang yang telah mbunuh tuan Remy adalah seorang iblis berdarah murni, selain itu iblis itu rupakan salah satu dari komandan pasukan iblis. Aku tidak nyangka ini, tetapi bila itu mang benar maka itu masuk akal kenapa tuan Remy bisa berubah njadi iblis dan rubah orang-orang njadi iblis karena dia ndapatkan darah iblis dari komandan iblis itu," ucap Duke Louis.

"Saya tidak nyangka kalau tuan Remy bisa bekerja sama dengan komandan iblis itu untuk mbunuh anda dan rebut kerajaan ini, Yang Mulia Ratu. skipun pada akhirnya tuan Remy sendiri lah yang dibunuh oleh komandan iblis itu karena beliau telah mancing kedatangan para Malaikat. Hal itu bertolak belakang dengan keinginan komandan iblis itu yang ingin rebut kerajaan ini secara diam-diam," ucap komandan Asier.

"Selain hal itu, saya tidak nyangka kalau ras iblis yang tinggal di benua Selatan, benua yang berbeda dari benua yang kita tinggali ini berniat untuk rebut kerajaan ini. reka berniat untuk njadikan kerajaan ini sebagai tambahan kekuatan untuk berperang kembali dengan ras Malaikat," komandan Ivana.

"Saya pikir ’Great Holy War’ yang terjadi lebih dari 100 tahun yang lalu telah selesai dan ras Iblis serta ras Malaikat pun telah lakukan gencatan senjata dengan mbagi 2 benua sebagai tempat yang masing-masing reka pimpin. Tetapi ras Iblis berniat untuk ndeklarasikan perang besar itu lagi dengan lawan ras Malaikat. Jika ras Malaikat tahu soal ini, hanya tinggal nunggu waktu saja sampai perang besar itu benar-benar terjadi," ucap Komandan Oliver.

"Jika perang besar itu terjadi lagi, kerajaan ini akan terkena dampaknya juga. Tidak hanya kerajaan ini, lainkan seluruh dunia. Aku tidak nyangka kalau kita akan ndapatkan informasi yang sangat ngejutkan ini dari terbunuhnya tuan Remy," ucap Duchess Arlet.

"Maka dari itu, sebelumnya aku bilang kepada kalian untuk rahasiakan tentang hal ini. Jika kita nyebarkan tentang hal ini, seluruh kerajaan ini akan heboh dan gempar. Kerajaan ini masih belum pulih sepenuhnya setelah terjadinya penyerangan yang didalangi oleh tuan Remy, aku tidak mau mbuat kerajaan ini dilanda kepanikan lagi akibat tersebarnya informasi ini," ucap Ratu Kayana.

"Anda tenang saja, Yang Mulia Ratu. Kami berjanji untuk tidak nyebarkan informasi ini," ucap Duke Louis.

Semua orang yang ada di ruangan itu selain Duke Louis dan Ratu Kayana pun ngangguk setuju dengan perkataan Duke Louis.

"Terima kasih atas kerja sama kalian. Karena aku sudah mberitahu rahasia tentang penyerangan yang dilakukan oleh tuan Remy kepada kalian, sekarang mari kita mbahas tentang rencana pemulihan setelah terjadinya penyerangan itu," ucap Ratu Kayana.

"Baik, Yang Mulia Ratu," ucap semua orang selain Ratu Kayana.

Ketika semua orang yang ada di ruangan itu mulai mbahas tentang rencana yang dikatakan oleh Ratu Kayana, tiba-tiba dari saku pakaian Duke Louis muncul sebuah cahaya yang cukup terang. Semua orang yang ada di ruangan itu pun langsung terfokus ke arah cahaya yang muncul dari saku pakaian Duke Louis.

"Maaf, Yang Mulia Ratu, sepertinya ada seseorang yang mau nghubungi saya lewat kristal komunikasi. Bolehkah saya njawab panggilannya terlebih dahulu?," tanya Duke Louis.

"Silahkan, tuan Louis. Kelihatannya anda sudah naruh kembali kristal komunikasi yang sebelumnya anda tinggalkan ketika nghadiri pemakaman," ucap Ratu Kayana.

"Iya, Yang Mulia Ratu. Saya khawatir akan ada yang nghubungi saya, makanya saya taruh di saku pakaian saya lagi. Kalau begitu, saya mau njawab panggilannya dulu," ucap Duke Louis.

"Iya," ucap Ratu Kayana.

Duke Louis lalu ngambil kristal komunikasi yang ada di saku pakaiannya. Setelah ngambil kristal komunikasi itu, Duke Louis lalu mulai berbicara dengan orang yang nghubunginya.

"Halo," ucap Duke Louis.

"H-halo, tuan Duke. I-ini saya Hertha yang rupakan salah satu pelayan anda," ucap suara perempuan dari kristal komunikasi itu.

Perempuan itu mberitahu kalau namanya adalah Hertha.

"Ada apa, Hertha?!," ucap Duke Louis.

"S-saya ingin mberitahu anda sesuatu, tuan Duke. S-sebelumnya saya sempat nghubungi anda beberapa kali tetapi anda tidak njawab panggilan saya," ucap Hertha.

"Maaf, sepertinya ketika kamu mberitahuku sebelumnya, aku sedang berada di pemakaman untuk nghadiri acara pemakaman. Ketika aku berada disana, aku tidak mbawa kristal komunikasiku agar tidak ngganggu," ucap Duke Louis.

"A-anda tidak perlu minta maaf, tuan Duke," ucap Hertha.

"Baiklah. Jadi sesuatu apa yang ingin kamu beritahu, Hertha? Lalu, kenapa kamu kedengarannya seperti sedang panik?," tanya Duke Louis.

"A-ah itu, saya ingin mberitahu anda kalau kediaman anda saat ini sedang diserang oleh gereja Sancta Lux yang dipimpin oleh High Priest Julian," ucap Hertha.

Duke Louis yang ndengar hal itu pun langsung terkejut. Tidak hanya Duke Louis saja, semua orang yang ada di ruangan itu pun juga terkejut setelah ndengar perkataan Hertha. Alasan perkataan Hertha bisa didengar oleh reka karena Duke Louis mbiarkan suara yang berasal dari kristal komunikasinya juga terdengar oleh orang lain, bukan hanya dia saja.

"Kenapa High Priest Julian nyerang kediamanku? Apa alasannya?," tanya Duke Louis sambil terkejut.

"H-High Priest Julian nyerang kediaman anda untuk nculik putri Irene yang akan dijadikan umpan untuk mancing Rid Archie agar mau nemuinya," ucap Hertha.

"Apa katamu barusan? Yang benar saja!!!," ucap Duke Louis yang mulai terlihat marah.

"S-saat ini, putri Irene, nona Nadine dan beberapa prajurit anda sedang lawan reka di gerbang depan kediaman anda. Saya tidak tahu kondisinya sekarang karena saya sedang berada di dalam kediaman anda bersama para pelayan yang lain," ucap Hertha.

"Begitu ya. Baiklah, kalian semua terus saja diam di dalam kediamanku. Aku dan Arlet akan segera kembali," ucap Duke Louis.

"B-baik, tuan Duke," ucap Hertha.

Setelah itu, Duke Louis ngakhiri panggilan dari kristal komunikasi itu. Dia lalu naruh kembali kristal komunikasi itu di saku pakaiannya.

"Maaf, Yang Mulia Ratu. Seperti yang anda dengar barusan, kediaman saya sedang diserang oleh High Priest Julian yang rupakan High Priest gereja Sancta Lux kota San Lucia. reka berniat untuk nculik putri saya agar bisa mancing Rid. Saya dan Arlet harus segera kembali untuk mbantu," ucap Duke Louis.

"Baiklah, tuan Louis. Aku akan ngutus beberapa prajurit untuk ikut mbantu anda," ucap Ratu Kayana.

"Terima kasih, Yang Mulia Ratu. Ayo kita segera kembali, sayang," ucap Duke Louis sambil noleh ke arah Duchess Arlet.

"Iya," ucap Duchess Arlet.

Duke Louis dan Duchess Arlet kemudian mulai berdiri dan bersiap untuk ninggalkan ruangan itu. lihat Duke Louis dan Duchess Arlet bersiap ninggalkan ruangan itu, komandan Asier pun juga ikut berdiri.

"Tunggu ayahanda, ibunda. Izinkan aku untuk ikut bersama kalian," ucap komandan Asier.

Duke Louis dan Duchess Arlet yang bersiap untuk ninggalkan ruangan itu pun lalu noleh ke arah komandan Asier.

"Ikut bersama kami? Tetapi Asier, kamu itu komandan yang njaga wilayah lain," ucap Duke Louis.

"Tidak masalah, aku ngizinkannya apabila Asier mau ikut," ucap Ratu Kayana yang tiba-tiba motong obrolan reka.

"Yang Mulia Ratu?!," ucap Duke Louis yang terkejut setelah ndengar perkataan Ratu Kayana.

"Terima kasih, Yang Mulia Ratu," ucap komandan Asier.

"Sekarang, cepat kalian kembali ke kediaman kalian. Orang-orang di kediaman kalian sedang butuh bantuan kalian secepatnya," ucap Ratu Kayana.

"Baik, Yang Mulia Ratu," ucap Duke Louis, Duchess Arlet dan komandan Asier.

Setelah itu, reka bertiga pun bersiap untuk ninggalkan ruangan itu. reka lalu bergegas nuju pintu keluar ruangan itu. Tetapi sebelum reka sampai ke pintu keluar itu, tiba-tiba pintu keluar itu terbuka. Orang-orang yang ada di ruangan itu pun terkejut ketika lihat pintu keluar itu tiba-tiba terbuka. Setelah pintu keluar itu terbuka, di depan pintu itu terlihat ada 4 orang yang ngenakan seragam seperti seragam Priest gereja Sancta Lux, tetapi 4 orang itu ngenakan tudung kepala yang mbuat kepala serta wajah reka tidak terlihat.

"Permisi, maaf karena telah ngganggu waktu kalian semua," ucap salah satu dari 4 orang itu.

Suara orang itu terdengar seperti suara seorang wanita. Semua orang yang ada di ruangan itu pun terkejut setelah lihat 4 orang itu. Duke Louis, Duchess Arlet dan komandan Asier yang sebelumnya bersiap untuk ninggalkan ruangan itu pun langsung berhenti setelah lihat 4 orang itu.

Lalu setelah mbuka pintu itu, 4 orang itu mulai masuk ke dalam ruangan itu dengan dipimpin oleh wanita yang berbicara sebelumnya. lihat 4 orang itu mulai masuk ke dalam ruangan itu, komandan Oliver yang sebelumnya sedang duduk pun langsung berdiri. Dia berdiri sambil gang pedangnya yang ada di pinggangnya.

"Siapa kalian? Seragam yang kalian kenakan terlihat seperti Priest gereja Sancta Lux, tetapi ski kalian berasal dari gereja Sancta Lux, kalian tidak bisa seenaknya masuk ke ruangan ini tanpa izin," ucap komandan Oliver.

"Saya minta maaf karena telah masuk ke ruangan ini seenaknya. Alasan saya masuk ke ruangan ini karena saya miliki keperluan dengan para pemimpin di kerajaan ini," ucap wanita yang berbicara sebelumnya.

Wanita itu berbicara sambil terus berjalan masuk ke dalam ruangan bersama dengan 3 orang lainnya.

"Berhenti sampai disitu, jangan coba-coba kalian untuk ndekat lagi," ucap komandan Oliver sambil bersiap untuk nyerang.

Para komandan yang lain seperti komandan Keira, komandan Ivana, komandan Allister dan bahkan komandan Asier yang sudah berdiri pun juga terlihat bersiap untuk nyerang. Tetapi ski komandan Oliver sudah mperingati keempat orang itu, keempat orang itu tetap berjalan ndekat. lihat keempat orang itu tetap berjalan, komandan Oliver dengan cepat langsung lesat ke arah reka.

"Aku sudah bilang pada kalian untuk berhenti!," ucap komandan Oliver.

~Lightning Sword Art : Lightning Speed Slash~

Komandan Oliver lalu nyerang wanita itu dengan nggunakan pedangnya. lihat wanita yang berada di depan akan diserang oleh komandan Oliver, 2 orang yang berada di belakangnya pun langsung bersuara untuk mperingati wanita itu.

"Nona!," ucap 2 orang yang ada di belakang wanita itu.

Suara 2 orang yang ada di belakang wanita itu juga terdengar seperti suara wanita. Lalu, ketika pedang komandan Oliver sudah hampir ngenai tubuh wanita itu, wanita itu tiba-tiba nggerakkan tangan kanannya dengan sangat cepat untuk nahan serangan komandan Oliver. Lalu....

*CLANK

Serangan komandan Oliver pun berhasil ditahan oleh wanita itu. Komandan Oliver terlihat terkejut begitu ngetahui serangan yang dia lesatkan dapat ditahan oleh wanita itu. Yang lebih mbuatnya terkejut adalah wanita itu dapat nahan serangan komandan Oliver hanya dengan nggunakan telapak tangan kanan miliknya.

"A-apa,?!," ucap komandan Oliver yang terkejut.

Tidak hanya komandan Oliver saja yang terkejut, semua orang yang ada di ruangan itu pun juga terkejut.

"Serangan tuan Oliver ditahan?!," ucap Duke Dylan.

"Yang benar saja, dia bisa nahan serangan tuan Oliver?! Apalagi dia nahan serangan tuan Oliver hanya dengan nggunakan telapak tangannya saja?!," ucap Duke Neil.

Tetapi setelah dilihat dari dekat, wanita itu tidak nahan serangan komandan Oliver hanya dengan telapak tangan biasa, telapak tangannya terlihat diselimuti oleh sebuah air yang tipis. Jadi tangannya itu seolah seperti sedang nggunakan sarung tangan tipis yang terbuat dari air.

Lalu, pedang komandan Oliver dan telapak tangan kanan wanita itu pun terus beradu. Efek benturan yang dilakukan reka mbuat hembusan angin tercipta dan mbuat seluruh ruangan itu terkena hembusan angin itu. Hembusan angin itu bahkan mbuat tudung kepala yang dikenakan wanita itu terbuka. Setelah tudung kepala wanita itu terbuka, kepala dan wajah dari wanita itu pun terlihat dengan jelas. Komandan Oliver yang berada di hadapan wanita itu pun terkejut ketika lihat wajah wanita itu. Tidak hanya, komandan Oliver saja, semua orang yang ada di ruangan itu, khususnya nona Violetta terlihat terkejut setelah lihat wanita itu.

Tepat setelah tudung kepala wanita itu terbuka, komandan Oliver langsung mundur beberapa langkah setelah sebelumnya sempat beradu dengan wanita itu. Lalu setelah komandan Oliver mundur, wanita itu lalu ngangkat tangan kanannya. Air yang nyelimuti tangan kanannya secara perlahan mulai nghilang. Setelah air yang nyelimuti tangan kanannya nghilang, terlihat jelas wujud telapak tangannya. Orang-orang yang ada di ruangan itu pun kembali terkejut ketika lihat telapak tangan kanan wanita itu. Itu karena wanita itu miliki telapak tangan yang berselaput. Selain itu, wanita itu juga miliki telinga panjang yang berbentuk seperti sirip ikan.

"Telinga panjang yang berbentuk seperti sirip ikan dan juga telapak tangan yang berselaput, bukankah itu ciri-ciri dari ras Siren?!," tanya Ratu Kayana yang terkejut.

"Ras Siren, ras langka yang jarang ditemui di permukaan karena reka hidup di dalam laut. Kenapa seseorang dari ras Siren datang kesini?!," tanya komandan Oliver yang terkejut.

"Sesuai yang saya katakan sebelumnya, alasan saya datang kesini karena saya miliki keperluan dengan para pemimpin di kerajaan ini," ucap wanita itu.

Sentara itu, nona Violetta yang sebelumnya sangat terkejut begitu lihat wajah wanita itu, kini mulai berbicara.

"N-nona Laviena?!," ucap nona Violetta.

Setelah ndengar perkataan nona Violetta, orang-orang yang ada di ruangan itu lalu noleh ke arah nona Violetta.

"Kamu ngenal wanita itu dari ras Siren itu, Violetta?," tanya Ratu Kayana.

"I-iya, saya ngenalnya. B-beliau rupakan salah satu dari komandan Holy Knights yang berasal dari Holy Kingdom," ucap nona Violetta.

Semua orang yang berada di ruangan itu pun langsung terkejut setelah ndengar perkataan nona Violetta.

"Apa?! Salah satu komandan Holy Knights?! Kamu serius, Violetta?," tanya Ratu Kayana yang terkejut.

"Saya serius, Yang Mulia Ratu. Yang Mulia Ratu tentu tahu kalau sebelum saya kembali kesini, saya rupakan anggota dari Holy Knights. Maka dari itu saya ngenal beliau," ucap nona Violetta.

Ratu Kayana pun terdiam setelah ndengar perkataan nona Violetta. Dia terlihat masih tidak percaya dengan yang dikatakan oleh nona Violetta. Disaat situasi di tempat itu njadi sunyi karena reka semua masih terkejut dengan yang dikatakan oleh nona Violetta, nona Laviena tiba-tiba mulai berbicara.

"Saya minta maaf karena saya belum mperkenalkan diri saya. Nama saya adalah Laviena Aria Eldoris, seperti yang dikatakan oleh Violetta, saya rupakan salah satu dari Holy Knights yang berasal dari Holy Kingdom, Svetais. Alasan saya datang ke kerajaan ini adalah karena saya harus nyelesaikan tugas yang diberikan oleh nona Maiden," ucap nona Laviena sambil tersenyum.

-Bersambung

You are reading Peace Hunter Chapter 455 : Tamu Tak Diundang on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.