Peace Hunter Chapter 451 : Suara Teriakan

Novel: Peace Hunter Author: Rizdhan Updated:
Font Size
15px

Beberapa saat sebelumnya, di depan gerbang kediaman Duke Louis.

Debu asap yang berada di sekitar tempat itu terlihat sudah mulai nipis dan secara perlahan mulai nghilang. Para prajurit Duke San Lucia yang berada di sekitar tempat itu pun sudah bisa lihat ke sekitar reka dengan sedikit lebih jelas. Tentu ini sangat mbantu bagi reka karena reka saat ini masih terus lawan golem-golem ciptaan High Priest Julian. Dengan penglihatan yang sudah njadi sedikit lebih jelas, reka bisa lihat datangnya para golem yang ingin nyerang reka. reka pun juga dapat bereaksi dengan cepat terhadap golem yang nyerang reka ketika penglihatan reka sudah njadi sedikit lebih jelas.

Saat ini hanya golem-golem ciptaan High Priest Julian saja yang terus nyerang reka. Sentara hanya tersisa sedikit dari Priest gereja Sancta Lux yang masih nyerang reka, sisanya sudah dikalahkan oleh reka.

Sentara itu, di posisi paling belakang yang berada tepat di gerbang depan kediaman Duke Louis, Nadine terus nembaki golem-golem ciptaan High Priest Julian dari posisi itu.

"Golem-golem itu masih saja terus bermunculan. Apa High Priest itu masih belum dikalahkan oleh Irene?," pikir Nadine.

Nadine tidak bisa lihat atau ngetahui kalau Irene sudah ngalahkan High Priest Julian atau belum karena di sekitar tempat Irene berada masih diselimuti oleh debu asap yang cukup pekat. Debu asap yang cukup pekat itu ngganggu penglihatannya untuk lihat ke tempat Irene berada.

Lalu, beberapa saat kemudian, ketika Nadine sedang nembaki golem-golem yang ada di sekitar tempat itu, tiba-tiba terdengar suara teriakan wanita dari tempat Irene berada.

*Aaaahhhhh

Suara itu terdengar pelan di sekitar tempat Nadine berada, namun yang pasti suara teriakan itu terdengar jelas skipun pelan. Nadine pun terkejut setelah ndengar suara teriakan itu. Tidak hanya Nadine saja, Leandra dan Lily yang berada di sekitar tempat itu pun juga terkejut. reka terkejut karena reka tahu siapa pemilik suara teriakan itu.

"Suara teriakan ini....., ini suara Irene," ucap Nadine.

"Nona Irene," ucap Leandra dan Lily secara berbarengan.

Leandra dan Lily pun langsung noleh ke asal suara tersebut. Kemudian, reka berdua pun langsung berlari ke asal suara tersebut yang berada di balik debu asap yang cukup pekat. Sentara Nadine yang lihat Leandra dan Lily sedang berlari juga ikut berlari untuk ngejar reka. Para prajurit Duke San Lucia yang berada di sekitar tempat itu pun bingung ketika lihat Leandra, Lily dan Nadine tiba-tiba berlari nuju tempat yang masih diselimuti debu asap yang cukup pekat.

"Tunggu nona Nadine, kenapa anda tiba-tiba berlari kesana? Disana debu asapnya masih cukup pekat dan juga bukankah sebelumnya anda rintahkan kami untuk tetap berada di sekitar gerbang depan kediaman tuan Duke?," tanya salah satu prajurit yang lihat Nadine sedang berlari.

"Apa kalian tidak ndengar suara teriakan barusan?," tanya Nadine sambil berlari.

Prajurit itu lalu noleh satu persatu ke para prajurit yang ada di sekitarnya. Para prajurit yang ada di sekitarnya pun ngangguk pertanda kalau reka juga ndengar suara teriakan yang ditanyakan oleh Nadine.

"Kami ndengarnya, nona Nadine," ucap prajurit itu.

"Lalu apa kalian tidak nyadari suara teriakan sialan itu? Suara teriakan itu adalah suara teriakan Irene. Jika Irene berteriak, berarti ada sesuatu yang terjadi dengan Irene. Maka dari itu aku, Leandra, dan Lily mutuskan untuk berlari ke asal suara teriakan itu. Dan disaat kami bertiga langsung bergegas nuju kesana, kalian hanya diam saja disini dan bertanya apa alasan kami bertiga berlari?," tanya Nadine dengan nada suara yang sedikit marah.

Prajurit itu pun sontak terkejut setelah ndengar perkataan Nadine.

"Maaf, nona Nadine, kami tidak nyadari kalau suara teriakan itu adalah suara teriakan putri Irene. Kami benar-benar lalai sebagai prajurit yang njaganya," ucap prajurit itu sambil nundukkan kepalanya.

Para prajurit yang ada di sekitar prajurit itu pun juga nundukkan kepalanya. Sentara Nadine tidak nanggapi perkataan prajurit itu dan milih untuk terus berlari ke tempat Irene.

Lalu, prajurit yang sebelumnya nunduk itu secara perlahan mulai ngangkat kepalanya lagi.

"Ayo semuanya, kita pergi juga ke tempat suara teriakan itu berasal. Kita juga harus nghampiri putri Irene, sepertinya ada sesuatu yang terjadi dengannya. Kita harus mbantunya," ucap prajurit itu.

"Iya," ucap para prajurit yang lainnya.

Para prajurit itu pun lalu ikut berlari ngikuti Nadine, Leandra dan Lily untuk nuju ke tempat terdengarnya suara teriakan yang reka dengar. Tidak semua prajurit Duke San Lucia yang ikut berlari karena beberapa dari reka terlihat masih lawan golem-golem buatan High Priest Julian.

Sentara itu, Leandra dan Lily yang berada di posisi paling depan sudah mau masuki debu asap yang cukup pekat yang masih nyelimuti tempat Irene berada. Namun ketika reka mau masuki debu asap itu, ada sesuatu yang terbang lesat dengan cepat di atas reka. Sesuatu itu ndahului reka yang ingin masuk ke tempat yang masih diselimuti debu asap itu. reka berdua pun terkejut ketika lihat sesuatu yang terbang lesat dengan cepat itu. Saking terkejutnya, reka berdua pun sampai berhenti berlari.

"Apa itu? Barusan ada sesuatu yang terbang lesat dengan cepat dan masuk ke kumpulan debu asap itu. Apa kamu lihatnya, Lily?," tanya Leandra.

"Iya, aku lihatnya. Tetapi aku tidak tahu apa yang terbang lesat itu karena sesuatu itu lesat dengan sangat cepat," ucap Lily.

Sentara itu, Nadine yang sebelumnya juga ikut berlari kini berhasil nyusul Leandra dan Lily yang sedang berhenti.

"Kalian berdua, apa kalian juga lihat sesuatu yang terbang lesat dengan cepat itu?," tanya Nadine.

Dari perkataannya Nadine, sepertinya dia juga lihat sesuatu itu.

"Iya, kami juga lihatnya, nona Nadine. Tetapi kami tidak tahu apa itu," ucap Leandra.

"Aku juga tidak tahu apa itu. Lebih baik kita sekarang bergegas untuk masuk ke dalam kepulan debu asap itu untuk lihat apa yang baru saja terbang lesat itu, sekaligus lihat kondisi Irene," ucap Nadine.

"Baik, nona Nadine," ucap Leandra dan Lily.

Setelah itu, reka bertiga pun kembali berlari untuk masuki kepulan asap yang ada di hadapan reka.

-

Kembali ke saat ini, di tempat Irene berada.

Aku yang baru saja nebas tangan berukuran besar yang nggenggam Irene sekaligus nebas lengan kanan seseorang yang ada dekatnya lalu langsung berbalik badan nghadap ke arah Irene kembali. Setelah berbalik badan, aku lihat Irene yang sudah terbebas dari genggaman tangan berukuran besar itu kini sedang terjatuh ke bawah. lihat itu, aku lalu ngarahkan tangan kananku ke arah Irene dan nciptakan sebuah matras yang terbuat dari sihir air.

~Water Magic : Water Creation Magic - Water Sli Mattress~

Setelah itu, Irene pun lalu jatuh ke matras itu. ski matras itu terbuat dari air, tetapi matras itu tidak mbasahi Irene karena matras itu berbentuk kenyal seperti sebuah sli atau jelly. Setelah terjatuh di matras itu, Irene pun langsung terbaring di matras itu.

Setelah lihat Irene yang terbaring di matras itu, aku lalu lihat kedua orang yang berada di hadapanku. Satu orang yang berpakaian seperti Priest sedang berdiri sambil gang pundak orang yang satu lagi yang berada di sampingnya. Orang yang berada di samping orang berpakaian Priest itu terlihat ngenakan pakaian yang mirip dengan Priest gereja Sancta Lux, hanya saja pakaian itu terlihat sedikit wah dari pakaian Priest gereja Sancta Lux yang biasanya.

"Orang itu, sepertinya orang itu adalah High Priest yang disebut oleh nona Elsie, High Priest Julian ya," pikirku.

High Priest Julian saat ini tengah terduduk sambil gangi lengan kanannya yang telah terpotong. Dia terus berteriak sambil gangi lengan kanannya itu dengan tangan kirinya.

"Arrrrghhhhh lenganku," ucap High Priest Julian.

Sentara itu, orang yang berada di samping High Priest Julian kini langsung noleh ke arahku setelah sebelumnya gangi pundak High Priest Julian yang sedang terduduk.

"Kau, apa yang kau lakukan terhadap tuan High Priest?!," tanya orang itu dengan nada yang keras.

Orang itu awalnya lihatku dengan tatapan marah. Namun tidak lama kemudian, secara perlahan tatapan orang itu njadi seperti orang yang sedang terkejut.

"K-kau..., b-bukannya kau adalah Rid Archie? Kenapa kau bisa ada disini? Bukannya kau sedang dikejar oleh Elsie dan orang-orang yang bersamanya?," tanya orang itu sambil terkejut.

Setelah ndengar perkataan orang itu, aku lalu lihat ke arah orang itu dan mperhatikannya.

"Barusan dia bilang kalau aku sedang dikejar oleh nona Elsie dan orang-orang yang bersamanya. Itu berarti orang itu adalah orang yang sebelumnya nghubungi nona Elsie dengan nggunakan kristal komunikasi. Kalau tidak salah namanya adalah Edward," pikirku.

Setelah mikirkan itu, aku lalu nanggapi perkataan orang bernama Edward itu.

"Ah, maksudmu wanita dan orang-orang yang datang ngejarku itu ya. reka semua saat ini sudah mati, karena itu aku bisa datang kesini," ucapku.

Sebenarnya tidak semua orang yang ngejarku itu mati karena Elsie masih hidup. Tetapi aku sengaja bilang kalau reka semua mati agar Edward ngira kalau Elsie juga ikut mati. Ini aku lakukan agar tidak ada yang curiga kalau Elsie sebenarnya masih hidup dah Elsie pun bisa ninggalkan gereja Sancta Lux dengan sedikit lebih aman.

Lalu, setelah ndengar perkataanku, Edward pun langsung terkejut.

"Apa? reka semua sudah mati? Kau pasti bercanda kan?," tanya Edward.

"Aku sedang tidak bercanda. Jika kamu tidak percaya, kamu pergi saja ke wilayah utara dari kota ini. Disana mungkin kamu akan lihat anggota-anggota tubuh dari orang-orang yang ngejarku. Yah itu pun kalau anggota-anggota tubuh reka masih ada dan tidak dimakan oleh monster atau hewan buas yang tinggal disana," ucapku.

"Yang benar saja? Apa kau yang mbunuh reka semua?!," tanya Edward.

"Iya, aku yang mbunuh reka semua," ucapku.

Setelah ndengar perkataanku, Edward tiba-tiba langsung lesat ke arahku sambil gang sebuah belati di tangan kanannya.

"Kurang ajar kau, Rid Archie! Bisa-bisanya kau mbunuh reka semua. Apa kau tidak tahu kalau di antara orang-orang yang ngejarmu itu beberapa di antaranya adalah seorang Priest? Kau harus diberi hukuman karena telah mbunuh Priest dari gereja Sancta Lux,"

"ski tuan High Priest ingin rekrutmu untuk njadi bagian dari gereja Sancta Lux, kamu tetap harus diberi hukuman karena telah mbunuh Priest gereja Sancta Lux," ucap ucap Edward.

Setelah itu, Edward berusaha nusukku dengan belati yang dipegangnya itu. Tetapi aku dapat dengan mudah nghindari serangan yang dia lancarkan kepadaku. Namun, ski aku berhasil nghindari serangannya itu, Edward lalu berusaha nyerangku kembali dengan belati miliknya. Tetapi sebelum dia berusaha untuk nyerangku kembali, aku langsung ngarahkan tangan kananku ke wajahnya lalu ngcengkeramnya. Edward pun berhenti untuk nyerangku dan dia langsung berteriak setelah wajahnya aku cengkeram.

"Arrrgghhhhh," teriak Edward.

Setelah itu, aku lalu ngangkat tangan kananku setinggi yang aku bisa. Edward yang wajahnya sedang aku cengkeram pun juga ikut terangkat. Ketika aku sedang ngangkatnya, Edward berusaha lepaskan cengkraman tangan kananku dari wajahnya dengan nggunakan kedua tangannya. Dia berusaha untuk ncakar atau mukul tangan kananku agar aku lepaskan cengkraman tanganku. Tetapi apapun yang dia lakukan itu tidak mbuatku lepaskan cengkraman tanganku.

"Jika kamu ingin nyalahkan seseorang, salahkan reka yang ngejarku. Jika saja reka tidak ngejarku, mungkin reka saat ini masih hidup. Apa yang aku lakukan dengan mbunuh reka hanyalah sebagai bentuk perlindungan diri. Tidak ada yang salah dengan hal itu,"

"Apa hanya karena kalian berasal dari gereja Sancta Lux, aku tidak boleh lindungi diriku sendiri dari kalian? Apa pengaruh kalian di benua ini sangatlah besar sampai orang pun tidak berani macam-macam dengan kalian? Bahkan jika lakukan perlindungan diri dari tindakan yang dilakukan oleh kalian pun tetap akan ndapatkan hukuman. Apa kalian nganggap kalau kalian itu adalah Dewa yang mana orang-orang harus patuh dan nuruti apapun perkataan kalian?," tanyaku sambil terus ncengkeram wajah Edward.

Semakin aku ncengkeram wajah Edward, semakin kencang pula Edward berteriak.

"Arrrrgghhhhh," teriak Edward.

Sentara itu, Irene yang sebelumnya sedang terbaring di matras yang diciptakan oleh Rid, kini secara perlahan mulai terbangun. ski begitu, setelah terbangun, Irene tidak langsung berdiri lainkan milih untuk duduk di matras itu.

Setelah terbangun dan duduk di matras itu, tiba-tiba Irene langsung gangi lehernya dengan tangan kanannya.

"Tekanan udara di sekitar tempat ini tiba-tiba njadi sangat berat. Aku jadi tidak bisa bernafas. Sensasi ini, aku pernah rasakannya dulu," pikir Irene.

Sambil gangi lehernya dengan tangan kanannya, Irene kemudian secara perlahan mulai lihat ke depan. Tidak jauh di depannya, terlihat High Priest Julian yang sedang terduduk sambil gangi lehernya dengan tangan kirinya. Kelihatannya High Priest Julian juga rasakan tekanan udara yang njadi berat dan mbuatnya juga tidak bisa bernafas.

Lalu di belakang High Priest Julian, terlihat Rid yang sedang ncengkeram wajah Edward sambil ngangkat tubuh Edward sedikit ke atas.

"Tekanan udara yang berat ini pernah aku rasakan saat di desa Aston yang rupakan kampung halaman Rid dan juga di akademi saat tuan Remy nyerang akademi. Tekanan udara yang berat ini, tidak salah lagi kalau ini berasal dari Rid," pikir Irene sambil lihat ke arah Rid.

Sentara itu, aku terus ncengkeram wajah Edward sambil berbicara kepadanya.

"Aku tidak peduli kalian itu berasal dari gereja Sancta Lux atau apalah, aku tidak akan maafkan kalian yang telah lakukan sesuatu kepada orang-orang terdekatku. Sekarang lebih baik kamu nyingkir...," ucapku.

Setelah itu, aku yang sedang ncengkram wajah Edward sambil ngangkat tubuhnya kemudian dengan cepat langsung mbanting kepala serta tubuh Edward ke permukaan jalan yang ada di bawahnya.

"...karena aku sudah tidak punya urusan lagi denganmu. Sekarang, urusanku adalah dengan pemimpin kalian, orang yang mimpin penyerangan di tempat ini," ucapku.

-Bersambung

You are reading Peace Hunter Chapter 451 : Suara Teriakan on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Supreme Magus cover
Similar genre

Supreme Magus

Legion20 ·Action

DerekMcCoywasamanthatsincefromyoungagehadtofacemanyadversities.Oftenforcedtosettlewithsurvivingratherthaliving,hadfinallyfoundhisplaceintheworld,un...

On the Path to the Great Dao cover
Trending now

On the Path to the Great Dao

Pig Nerd ·Action

【Fromtheauthorof''!】Mygrandfatherisverypeculiar.Everyday,helightsincenseforhimselfandeatscandlesinfrontofhisownancestraltablet.Thevillagersareallte...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.