Sentara itu, di tempat Leandra, Lily dan Nadine berada.
reka bertiga yang awalnya sedang berlari untuk nghampiri Irene setelah ndengar suara teriakan Irene, kini sedang berhenti dan terdiam sambil gangi leher reka. reka sedang gangi leher reka karena reka juga tidak bisa bernafas akibat tekanan udara yang tiba-tiba njadi lebih berat.
"Apa-apaan ini?....aku tidak bisa bernafas," ucap Lily.
"Darimana.....datangnya tekanan udara.....yang berat ini? Padahal.....sebelumnya tekanan.....udara di sekitar tempat ini....terasa biasa saja," ucap Leandra.
Leandra dan Lily berbicara sambil gangi leher reka dengan tangan reka masing-masing, sentara Nadine terlihat sedang mandang ke depan. skipun di sekitar tempat reka berada saat ini masih diselimuti oleh debu asap yang cukup pekat, Nadine terus lihat ke depan skipun Nadine tidak bisa lihat apa yang ada di depannya akibat debu asap yang masih nyelimuti tempat reka berada.
"Aku rasakan tekanan ini berasal dari depan sana. Tekanan ini, sepertinya ini adalah tekanan aura. Aku pernah ndengar beberapa informasi tentang tekanan aura ini. Kabarnya orang yang bisa ngeluarkan tekanan aura hanyalah orang-orang yang miliki banyak Mana di tubuh reka. Mana yang ada di tubuh reka akan dialirkan keluar dan mbuat udara seperti ditekan yang pada akhirnya mbuat tekanan udara di sekitar njadi berat. Inilah kenapa jika ada orang yang ngeluarkan tekanan aura maka tekanan udara yang ada di sekitar orang yang ngeluarkan tekanan aura itu njadi lebih berat,"
"Lalu, tekanan aura biasanya digunakan untuk ngintimidasi atau nakuti lawan. Jika tekanan aura yang terasa ini digunakan untuk ngintimidasi lawan, siapakah lawan yang dituju oleh orang yang ngeluarkan tekanan aura ini? Selain itu, siapa sebenarnya orang yang ngeluarkan tekanan aura ini?," pikir Nadine.
Tidak hanya Nadine, Leandra dan Lily saja yang tidak bisa bernafas sekaligus tidak bisa bergerak, para prajurit Duke San Lucia yang berada cukup jauh di belakang reka juga ngalami hal yang sama. reka semua terlihat sedang gangi leher reka karena reka tidak bisa bernafas akibat tekanan udara yang njadi berat. Beberapa dari reka bahkan sudah tumbang dan tidak sadarkan diri.
-
Kembali ke tempat Rid berada.
Setelah mbanting kepala Edward ke permukaan jalan yang ada di bawahku, aku lalu lepaskan cengkeraman tanganku dari kepalanya. Setelah lepaskan cengkraman tanganku, aku lalu lihat dan mperhatikan tangan kananku yang sebelumnya digunakan untuk ncengkeram kepala Edward. Terlihat tangan kananku sudah dilumuri oleh cukup banyak darah.
Setelah lihat dan mperhatikan tangan kananku, aku lalu lihat ke arah Edward yang sudah tergeletak di hadapanku setelah sebelumnya aku banting. Edward tergeletak dengan kondisi kepala yang terluka dengan ngeluarkan cukup banyak darah. Edward terlihat sudah tidak bergerak lagi setelah aku banting. Aku tidak tahu apakah dia sudah tewas atau belum.
Lalu, setelah lihat ke arah Edward, aku lalu mulai berjalan untuk nghampiri orang yang berada tidak jauh dari posisi Edward yang tergeletak. Orang itu rupakan High Priest Julian. High Priest Julian saat ini sedang terduduk sambil gangi lehernya dengan tangan kirinya. Sentara bagian lengan kanannya yang sebelumnya aku potong terlihat masih ngeluarkan cukup banyak darah.
Aku terus berjalan hingga akhirnya aku kini sudah berada di hadapan High Priest Julian sekaligus mbelakangi Irene karena posisi High Priest Julian saat ini jika nghadap ke depan maka dia akan lihat ke arah Irene. Tetapi ski Irene ada di depan High Priest Julian, ketika aku berjalan untuk nghampiri High Priest Julian, aku sama sekali tidak lihat ke arah Irene hingga aku tiba di hadapan High Priest Julian.
Setelah aku tiba di hadapan High Priest Julian, High Priest Julian pun secara perlahan mulai ngangkat kepalanya untuk lihatku. Dia ngangkat kepalanya karena dia sedang dalam posisi terduduk sentara aku sedang dalam posisi berdiri. Lalu setelah High Priest Julian ngangkat kepalanya untuk lihatku, kami berdua pun akhirnya saling bertatapan. Ini pertama kalinya aku lihat wajah High Priest Julian. High Priest Julian terlihat seperti seorang pria paruh baya yang berumur kisaran 40-50 tahun.
Lalu setelah mata kami saling bertatapan, aku kemudian mulai berbicara dengan High Priest Julian.
"Jadi anda High Priest yang dibicarakan itu. Saya dengar selama ini anda ingin bertemu dengan saya. Saya sudah tahu alasan kenapa anda ingin bertemu dengan saya, tetapi saya ingin ndengar alasannya dari mulut anda sendiri yang rupakan seorang High Priest atau pemimpin para Priest dari gereja Sancta Lux kota San Lucia yang anda pimpin," ucapku.
Setelah aku ngatakan itu, High Priest Julian tidak langsung nanggapi perkataanku. Dia masih terus gangi lehernya dengan tangan kirinya. Aku tidak tahu kenapa dia terus gangi lehernya itu.
"Kenapa anda tidak mau njawab pertanyaan saya?," tanyaku.
Aku nanyakan itu karena High Priest Julian tidak kunjung njawab pertanyaanku. Kemudian, setelah aku nanyakan itu, High Priest Julian secara perlahan mulai njawab pertanyaanku.
"Untuk apa.....aku njawab pertanyaanmu. Kamu sendiri.....pastinya sudah tahu apa.....alasanku ingin bertemu denganmu," ucap High Priest Julian dengan terbata-bata.
Aku tidak tahu kenapa dia njawab pertanyaanku dengan terbata-bata, tetapi aku tidak terlalu peduli karena yang terpenting dia harus njawab pertanyaanku.
"Bukankah saya sudah bilang sebelumnya? Saya ingin ndengar alasannya dari mulut anda sendiri, jadi cepat jawab," ucapku.
High Priest Julian pun kembali terdiam setelah ndengar perkataanku. lihat High Priest Julian yang terdiam, aku lalu ngangkat kaki kananku dan kemudian langsung nginjak kaki kanan High Priest Julian, tepatnya di bagian betisnya.
"Cepat jawab," ucapku sambil nginjak kaki kanan High Priest Julian.
High Priest Julian pun langsung berteriak setelah aku nginjak kaki kanannya.
"Aaaaahhhhhhh," teriak High Priest Julian.
"Saya sebelumnya masih bertanya dengan baik-baik, tetapi anda milih untuk tidak njawab pertanyaan saya. Jadi saya pikir mungkin anda lebih suka ditanyai dengan cara yang kasar," ucapku.
Setelah nginjak kaki kanan High Priest Julian, aku lalu ngangkat kaki kananku dari kaki kanannya. High Priest Julian terlihat masih ngeluh kesakitan skipun aku sudah ngangkat kaki kananku dari kaki kanannya.
Lalu setelah beberapa saat ngeluh kesakitan, High Priest Julian pun mulai berbicara kembali.
"Keparat.....beraninya kau lakukan....ini kepadaku. Kau tahu kan....kalau aku ini rupakan.....seorang High Priest dari gereja Sancta Lux?," tanya High Priest Julian.
Setelah ndengar pertanyaan High Priest Julian, aku kembali ngangkat kaki kananku dan kemudian langsung nginjak kaki kirinya. High Priest Julian pun kembali berteriak setelah aku nginjak kaki kirinya.
"Aaaaaahhhhhhhh," teriak High Priest Julian.
"mangnya kenapa kalau anda rupakan seorang High Priest dari gereja Sancta Lux? Apa anda pikir saya akan takut dan gentar hanya karena hal itu? Saya tidak peduli mau anda seorang High Priest dari gereja Sancta Lux, seorang pemimpin negara atau kerajaan dan apapun, jika anda berani macam-macam dengan orang-orang terdekat saya, maka saya tidak takut sedikitpun kepada anda," ucapku sambil terus nginjak kaki kiri High Priest Julian.
High Priest Julian pun terus nerus berteriak seiring aku yang terus nginjak kaki kirinya.
"Sekarang cepat jawab sebelum saya mbuat anda tidak bisa berjalan lagi," ucapku.
Setelah ndengar perkataanku, High Priest Julian tiba-tiba gangi lehernya dengan semakin kuat dengan nggunakan tangan kirinya. Dari reaksinya yang gangi lehernya itu, High Priest Julian sepertinya sedang ngalami kesulitan untuk bernafas. Tetapi aku tidak tahu apa penyebab dia tidak bisa bernafas.
Lalu, skipun High Priest Julian sedang gangi lehernya dengan kuat, High Priest Julian secara perlahan mulai berbicara kembali.
"B-baiklah....aku akan mberitahumu alasannya. Alasan....aku ingin bertemu denganmu.....karena aku ingin rekrutmu.....untuk njadi Priest gereja...Sancta Lux," ucap High Priest Julian dengan terbata-bata.
Setelah ndengar perkataan High Priest Julian, aku lalu ngangkat kaki kananku yang sebelumnya terus nginjak kaki kiri High Priest Julian.
"Sejak tadi seharusnya anda langsung njawab pertanyaan saya, jadi anda tidak perlu nderita lagi seperti ini," ucapku.
skipun aku sudah ngangkat kaki kananku dari kaki kiri High Priest Julian, High Priest Julian masih ngeluh kesakitan sambil lihat ke kaki kirinya. Lalu, tidak lama kemudian, High Priest Julian kembali natap dan lihat ke arahku.
"Jadi....bagaimana, Rid Archie? Setelah ndengar alasanku,.....maukah kamu njadi.....Priest gereja Sancta Lux? Jika kamu mau,...aku akan ngabaikan tindakan.....yang kamu lakukan....terhadapku, termasuk dengan tindakanmu.....yang telah motong tangan kananku. Tidak hanya.....kamu saja, aku juga.....akan ngabaikan tindakan.....yang dilakukan oleh putri Irene.....dan orang-orang dari kediaman tuan.....Duke San Lucia," ucap High Priest Julian.
Setelah ndengar perkataan High Priest Julian, aku tanpa ragu-ragu langsung nanggapinya.
"Anda masih mau rekrut saya yang telah lukai dan bahkan motong tangan kanan anda? Saya benar-benar tidak nyangka," ucapku.
"Sebenarnya.....bukan hanya aku saja....yang nginginkanmu untuk....njadi Priest gereja Sancta Lux, tuan.....High Priest Theodor yang.....rupakan High Priest dari gereja.....Sancta Lux di ibukota.....San Estella juga nginginkanmu. Jika kamu.....mau njadi Priest gereja Sancta Lux, aku.....tidak akan laporkan tindakan yang.....kamu, putri Irene dan orang-orang.....dari kediaman tuan Duke San Lucia kepada kami. Dengan begitu,.....kalian akan terbebas dari hukuman yang....diberikan oleh gereja Sancta Lux," ucap High Priest.
"Begitu ya. Jadi bukan anda saja yang ingin agar saya njadi Priest gereja Sancta Lux, lainkan High Priest dari gereja Sancta Lux ibukota San Estella juga nginginkannya. ndengar anda manggilnya dengan sebutan ’tuan’, sepertinya High Priest itu adalah pemimpin anda. Pantas saja anda masih mau rekrut saya skipun saya sudah lakukan tindakan yang kasar kepada anda, itu karena pemimpin anda masih nginginkan saya untuk njadi seorang Priest," ucapku.
"Iya,.....itu benar. skipun kamu....telah lakukan tindakan yang tidak.....pantas terhadapku, aku....masih harus rekrutmu....sesuai dengan keinginan.....tuan High Priest Theodor. Jadi,.....bagaimana Rid Archie? Kamu...mau kan njadi Priest....gereja Sancta Lux?," tanya High Priest Julian.
"Bagaimana jika saya njawab ’tidak’? Apa yang akan anda atau High Priest ibukota San Estella itu lakukan terhadap saya?," tanyaku.
High Priest Julian pun terdiam sejenak setelah ndengar pertanyaanku. Tidak lama kemudian, dia mulai berbicara kembali.
"Lebih baik....kamu tidak nolak.....tawaranku ini, Rid Archie," ucap High Priest Julian.
"Sepertinya kalian akan lakukan sesuatu apabila saya nolak untuk bergabung njadi Priest gereja Sancta Lux. Kalian sepertinya akan ncoba untuk rekrut saya secara paksa agar saya njadi seorang Priest. Saya dengar beberapa Priest gereja Sancta Lux yang ada saat ini rupakan Priest yang direkrut secara paksa oleh kalian," ucapku.
High Priest Julian terlihat terkejut setelah ndengar perkataanku.
"Bagaimana bisa....kau?," tanya High Priest Julian.
Setelah ndengar pertanyaan High Priest Julian itu, aku milih untuk tidak njawab pertanyaannya dan milih untuk lanjutkan perkataanku sebelumnya.
"Entah kalian akan rekrut secara paksa dengan datang langsung kepada saya atau ngincar orang-orang terdekat saya. Jika kalian milih untuk datang langsung kepada saya, maka saya akan ladeni kalian secara langsung. Tetapi jika kalian milih untuk ngincar orang-orang terdekat saya, saya tidak akan segan-segan untuk nghabisi kalian," ucapku.
High Priest Julian kembali gangi lehernya dengan kuat setelah ndengar perkataanku. Sambil gangi lehernya itu, secara perlahan dia mulai berbicara kembali.
"nghabisi kami? Apa....kau sedang bercanda,....Rid Archie? Apa kau pikir bisa nghabisi.....semua orang dari gereja Sancta Lux?," tanya High Priest Julian.
"Tentu saya bisa, tetapi saya hanya akan nghabisi orang-orang dari gereja Sancta Lux yang ngincar orang-orang terdekat saya, saya tidak akan lakukan sesuatu kepada orang-orang dari gereja Sancta Lux yang tidak lakukan apa-apa karena saya tahu ada beberapa orang yang bergabung dengan gereja Sancta Lux dalam keadaan terpaksa," ucapku.
High Priest Julian terlihat terkejut kembali setelah aku ngatakan itu.
"Sepertinya anda tidak percaya kalau saya bisa lakukan itu. Padahal sebelumnya saya telah mbanting kepala dari Priest yang bersama anda. Sebelumnya juga saya telah mbunuh orang-orang yang ncoba ngejar saya dan setelah saya cari tahu ternyata orang-orang itu rupakan orang-orang suruhan anda. Anda nyuruh orang-orang itu untuk ngejar dan nangkap saya agar saya mau njadi Priest gereja Sancta Lux,"
High Priest Julian kembali terkejut setelah ndengar perkataanku. ski begitu, dia tidak berbicara sama sekali.
"Jika anda masih tidak percaya kalau saya bisa lakukan itu, bagaimana jika saya mbuktikannya kepada anda?," tanyaku sambil gang pedang milikku di tangan kananku.
Setelah itu, aku lalu ngangkat tangan kananku seperti mau nebas dengan nggunakan pedangku itu. High Priest Julian pun kembali terkejut saat lihatku yang sedang ingin nebasnya.
"Apa yang mau.....kau lakukan? Apa kau.....ingin mbunuhku?," tanya High Priest Julian.
"Bukankah anda tidak percaya kalau saya bisa nghabisi kalian, orang-orang dari gereja Sancta Lux termasuk anda sendiri? Maka dari itu, saya akan mbuktikannya sendiri kepada anda," ucapku.
"Berhenti,.....Rid Archie. Apa kau tidak tau.....resiko apa yang akan kau...terima jika kau mbunuhku.....yang rupakan seorang...High Priest?," tanya High Priest Julian.
High Priest Julian terlihat getar saat dia nanyakan itu.
"Tentu saya tahu resiko apabila saya mbunuh anda, tetapi itu bukanlah masalah. Bukankah saya tadi sudah bilang kalau saya akan nghabisi orang-orang yang ngincar orang-orang terdekat saya? Apa anda lupa kalau sebelumnya anda berniat untuk mbunuh Irene? Apa anda pikir saya akan mbiarkan anda setelah anda berniat untuk mbunuh Irene?," tanyaku.
High Priest Julian terlihat semakin getar setelah ndengar pertanyaanku. Tidak hanya itu, dia terlihat gangi lehernya dengan semakin kuat. Bahkan saking kuatnya, High Priest Julian terlihat seperti bukan sedang gangi lehernya, lainkan seperti sedang ncekik lehernya sendiri.
Selain itu, setelah ndengar pertanyaanku, High Priest Julian secara perlahan mulai bergerak mundur ke belakang sambil tetap terduduk.
"Tidak hanya berniat untuk mbunuh Irene saja, anda rupakan orang yang mimpin penyerangan di kediaman tuan Duke Louis. Untuk sekarang saya belum tahu dampak penyerangan yang anda lakukan seperti apa, tetapi yang pasti anda berniat untuk lukai atau bahkan mbunuh orang-orang di kediaman tuan Duke Louis. Apa anda pikir saya akan mbiarkan anda?," tanyaku.
Aku nanyakan itu sambil berjalan perlahan ndekati HIgh Priest Julian, sentara High Priest Julian terus bergerak mundur untuk njauhiku.
"Aku sarankan....kau untuk ngurungkan...niatmu. Jika kau tetap bersikeras...untuk mbunuhku, kau.....akan diincar oleh tuan High Priest Theodor....dan seluruh orang-orang gereja...Sancta Lux yang ada.....di kerajaan ini," ucap High Priest Julian sambil terus bergerak mundur.
"Saya tidak peduli," ucapku sambil terus berjalan ndekati High Priest Julian.
"Tidak hanya...tuan High Priest Theodor.....dan seluruh orang-orang...gereja Sancta Lux yang ada di.....kerajaan ini saja.....yang ngincarmu, gereja Sancta Lux...di seluruh benua Utara ini juga akan.....ngincarmu," ucap High Priest Julian sambil terus bergerak mundur.
"Saya tidak peduli," ucapku sambil terus berjalan ndekati High Priest Julian.
"Tidak hanya itu saja,.....gereja Angelica Castitat.....yang rupakan pusat gereja.....Sancta Lux yang.....berada di Holy Kingdom...juga akan ngincarmu. Holy Kingdom...dan para Holy Knights.....pun juga akan ngincarmu. Apa.....kamu yakin akan tetap....mbunuhku?," tanya High Priest Julian sambil tetap bergerak mundur.
Setelah ndengar perkataan High Priest Julian, aku pun langsung terdiam. Aku juga berhenti langkah untuk ndekati High Priest Julian yang terus bergerak mundur. Aku terdiam lalu secara perlahan mulai jamkan kedua mataku.
Tidak lama kemudian, aku pun mulai berbicara kembali.
"Bukankah saya sudah bilang kalau saya tidak peduli?," tanyaku.
Setelah itu, aku secara perlahan mulai mbuka kedua mataku.
"Saya tidak peduli mau itu gereja Sancta Lux, Holy Knights, Holy Kingdom ataupun ras Malaikat dan ras Iblis sekalipun, jika reka ngincar dan lakukan sesuatu kepada orang-orang terdekat saya, maka saya tidak akan ragu-ragu untuk lawan serta nghabisi reka apapun resikonya," ucapku.
Setelah ndengar perkataanku, High Priest Julian tiba-tiba terdiam dan berhenti bergerak mundur lagi. Dia terdiam sambil lihat dan natap ke arahku. High Priest Julian lihat ke arahku dengan ekspresi yang sangat terkejut.
"M-mata itu,....anda.....," ucap High Priest Julian.
lihat High Priest Julian yang berhenti bergerak, aku lalu kembali berjalan untuk ndekati High Priest Julian. Tidak lama kemudian, aku pun telah berada di hadapan High Priest Julian yang sedang terduduk.
"Apakah sekarang anda sudah paham? Tidak peduli apapun resikonya, saya tetap akan mbunuh anda karena anda sudah nyakiti dan bahkan berniat untuk mbunuh orang-orang terdekat saya yang ada di kediaman tuan Duke Louis," ucapku.
Setelah itu, aku lalu ngangkat tangan kananku yang sedang gang pedang. Ketika aku sudah ngangkat tangan kananku, High Priest Julian tidak berbicara sama sekali. Dia terlihat masih natapku dengan tubuh yang sangat getar. Dia natapku dengan ekspresi yang terkejut sekaligus ketakutan.
"Kalau begitu, selamat tinggal, tuan High Priest," ucapku.
Setelah itu, aku lalu bersiap untuk nebas High Priest Julian dengan nggunakan pedangku. Lalu, aku pun mulai nggerakkan tanganku untuk nebas High Priest Julian. Pedang yang aku pegang pun saat ini sedang bergerak untuk nebas High Priest Julian.
Lalu, ketika pedangku sedang bergerak untuk nebas High Priest Julian, High Priest Julian tiba-tiba mulai berbicara.
"Tolong.....ampuni hamba...," ucap High Priest Julian.
Tepat setelah High Priest Julian ngatakan itu, pedang yang aku gerakkan ke High Priest Julian pun langsung nebas lehernya dan misahkan kepala High Priest Julian dari tubuhnya.
-Bersambung
Reviews
All reviews (0)