Font Size
15px

Kembali ke sekitar gerbang depan kediaman Duke Louis, tempat Irene berada.

High Priest Julian yang baru saja terkena serangan Irene dengan telak langsung terhempas nghantam dinding bangunan yang berada tidak jauh di belakangnya.

*BUMMMM

Debu asap pun langsung bermunculan setelah High Priest Julian nghantam dinding bangunan tersebut. Debu asap itu langsung nyatu dengan debu asap yang sebelumnya telah muncul setelah golem raksasa buatan High Priest Julian jatuh nghantam jalanan.

Sentara itu, setelah Irene lancarkan serangan ke High Priest Julian, retakan pada rapier miliknya secara perlahan mulai bertambah banyak. Lalu tidak lama kemudian, rapier miliknya pun hancur berkeping-keping dan hanya nyisakan gagang rapier miliknya yang masih dia pegang saat ini. Setelah rapiernya itu hancur, Irene lalu ngangkat tangannya dan mperhatikan gagang rapier yang masih dia pegang.

"Setelah ngalami kerusakan akibat nahan pukulan golem raksasa itu, aku tahu kalau rapier ini sudah tidak bisa bertahan lama. Setiap serangan yang aku lakukan pun semakin mbebani rapier ini setelah rapier ini ngalami kerusakan. Dan puncaknya setelah nyerang High Priest itu, rapier ini pun njadi hancur,"

"Yah, lagipula rapier ini rupakan rapier yang diberikan oleh akademi. Kualitasnya tentu jauh berbeda dari rapier asli. ski begitu, rapier ini miliki cukup banyak kenangan karena selama ini aku selalu nggunakannya. Sangat disayangkan karena rapier ini malah hancur," pikir Irene.

Setelah itu, Irene naruh gagang rapier yang dia pegang itu di pinggangnya. Entah apa yang akan dia lakukan dengan gagang rapier itu. Lalu setelah naruh gagang rapier itu, Irene lalu berjalan perlahan ke depan untuk nghampiri High Priest Julian yang nghantam dinding. Debu asap yang pekat masih nyelimuti di sekitar tempat Irene berada, jadi untuk lihat kondisi High Priest Julian, Irene harus ndekat karena tidak bisa lihat dari jauh akibat adanya debu asap yang ngganggu penglihatannya.

Lalu setelah beberapa saat langkah, Irene lihat bayangan seseorang yang sedang duduk sambil bersandar di dinding sebuah bangunan. Irene lalu kembali berjalan untuk ndekati bayangan itu untuk lihat wujud aslinya. Wujud asli dari bayangan itu pun secara perlahan mulai terlihat seiring Irene yang terus langkah ke depan. Wujud asli dari bayangan itu adalah High Priest Julian. Dia saat ini sedang duduk bersandar di dinding bangunan yang saat ini ngalami kerusakan yang cukup parah akibat dihantam olehnya sendiri setelah terkena serangan Irene. Pada tubuh High Priest Julian, terdapat sebuah bongkahan es yang manjang akibat efek dari tebasan yang Irene lancarkan sebelumnya. Tubuh High Priest Julian pun saat ini sudah dipenuhi oleh banyak luka. Apalagi luka yang dia terima dari peluru yang dibuat oleh Nadine dan tebasan yang dilakukan oleh Irene saat dia masih berada di atas kepala golem raksasa miliknya terlihat masih ngeluarkan darah. Selain itu, High Priest Julian saat ini sedang duduk bersandar sambil jamkan matanya. Entah dia sudah mati atau hanya pingsan saja.

Lalu, setelah Irene lihat kondisi High Priest Julian secara langsung, Irene lalu berhenti langkah. Setelah berhenti langkah, Irene hanya berdiri saja sambil lihat High Priest Julian yang sedang duduk bersandar.

"Akhirnya selesai juga. Dengan ini, seharusnya penyerangan di kediaman ayahanda akan segera berakhir karena pemimpin dari penyerangan itu sudah aku kalahkan," ucap Irene.

Namun, setelah Irene ngatakan itu, tiba-tiba ada suara seseorang yang nanggapi perkataannya

"Apa yang baru saja kau katakan, putri Irene? Jangan kau kira kalau penyerangan ini akan berakhir," ucap suara seseorang yang terdengar seperti suara seorang pria.

Lalu setelah itu, dari samping Irene tiba-tiba muncul seorang pria yang terlihat cukup muda yang ngenakan seragam Priest. Pria itu langsung nyerang Irene dengan nggunakan sebuah belati. Pria itu berniat nyerang leher Irene dengan belati miliknya, tetapi Irene dapat dengan mudah nghindari serangan itu dengan nggerakkan kepalanya agar tidak terkena serangan belati itu. Namun, ski Irene sudah nghindari serangan pria itu, pria itu terus nyerang Irene dengan nggunakan belatinya. Irene pun terus bergerak untuk nghindari serangan belati dari pria itu. Tanpa Irene sadari, dia secara perlahan mulai njauh dari tempat High Priest Julian yang sedang duduk bersandar karena dia terus bergerak nghindari serangan pria itu.

Lalu, cukup lama Irene nghindari serangan pria itu, tiba-tiba pria itu berhenti untuk nyerang Irene. Entah karena dia sudah lelah akibat terus nyerang Irene tetapi tidak berhasil ngenainya atau karena suatu alasan yang mbuat dia berhenti nyerang Irene.

"Seperti yang diharapkan dari putri es sekaligus putri seorang Duke, kamu dapat dengan mudah nghindari serangan belatiku. Padahal aku rupakan salah satu dari Priest yang selalu bekerja di balik layar, kemampuanku dalam nggunakan belati pun diakui oleh tuan High Priest tetapi kamu dapat dengan mudahnya nghindari serangan-serangan yang aku lancarkan. Benar-benar luar biasa," ucap pria itu.

Sentara itu, Irene yang sebelumnya terus nghindari serangan pria itu, kini sedang berdiri dalam jarak yang cukup dekat dari pria itu. Irene berdiri sambil terus lihat dan mperhatikan pria itu.

"Siapa kamu?," tanya Irene.

"Ah benar juga, aku belum mperkenalkan diriku. Perkenalkan, namaku Edward. Seperti yang aku bilang sebelumnya, aku rupakan seorang Priest dari gereja Sancta Lux. Buktinya dapat dilihat dari seragam yang aku kenakan ini," ucap pria yang bernama Edward itu.

Diketahui dari namanya itu, pria itu sepertinya adalah orang yang sebelumnya berkomunikasi dengan Elsie lewat kristal komunikasi.

"Aku tidak nyangka kalau masih ada seorang Priest di sekitar sini. Aku pikir para Priest gereja Sancta Lux hanya berada di dekat gerbang depan kediaman ayahandaku. Seperti saat aku masih berada di dekat kedua kaki golem raksasa sebelum golem raksasa itu jatuh, aku masih diserang oleh beberapa Priest karena jarak dari kedua kaki golem raksasa itu dengan gerbang depan kediaman ayahandaku cukup dekat. Tetapi di tempat ini, jaraknya sudah cukup jauh dari gerbang depan kediaman ayahandaku. Kenapa kamu bisa ada disini? Apa selama ini kamu mang ada di sekitar sini dan tidak ikut berada di dekat gerbang kediaman ayahandaku untuk bertarung?," tanya Irene.

"Sesuai yang kamu katakan, putri Irene. Aku selama ini hanya berada di sekitar sini. Aku awalnya mang ikut bersama tuan High Priest dan beberapa Priest yang lain untuk ndatangi kediaman tuan Duke. Jadi aku ikut sampai ke depan gerbang kediaman tuan Duke. Tetapi setelah keributan terjadi, aku langsung mundur ke sekitar tempat ini. Aku bukan mundur atas keinginanku sendiri, lainkan atas perintah tuan High Priest. Aku ditugaskan untuk ngamati situasi dari tempat ini dan apabila tuan High Priest serta beberapa Priest yang lain sedang terdesak, maka aku diperintahkan untuk manggil bantuan ke para Priest yang awalnya tidak ikut nemani tuan High Priest untuk datang ke kediaman tuan Duke atau manggil bantuan ke cabang gereja Sancta Lux yang lain yang ada di tempat ini," ucap Edward.

Irene terlihat sedikit terkejut setelah ndengar perkataan Edward.

"manggil bantuan?," tanya Irene.

"Iya, karena sekarang posisi kami sedang terpojok, apalagi tuan High Priest saat ini sedang terluka parah akibat diserang olehmu, maka ini saat yang tepat untuk manggil bantuan," ucap Edward.

Setelah ndengar perkataan Edward, Irene langsung lesat ke arah Edward sambil mbuat sebuah rapier dari sihir es miliknya.

~Ice Magic : Ice Creation Magic - Ice Rapier~

Setelah Irene sudah selesai mbuat rapier dari sihir es miliknya, Irene langsung nebas Edward dengan rapier itu. Tetapi Edward dapat nghindari tebasan itu skipun dia tidak nghindari tebasan itu secara sempurna karena tubuhnya, tepatnya bagian dadanya tetap terkena tebasan itu skipun tidak nyebabkan luka yang parah.

"Barusan itu berbahaya sekali, jika aku telat sedikit saja untuk nghindari tebasan itu, aku pasti sudah mati. Sepertinya kamu berniat untuk mbunuhku agar aku tidak manggil bantuan karena kamu tadi ndengar kalau situasi kami saat ini rupakan saat yang tepat untuk manggil bantuan. Tetapi kamu salah, putri Irene. skipun kamu mbunuhku saat ini, bantuan akan tetap datang karena aku sudah manggil bantuan bahkan saat tuan High Priest masih berada di atas kepala golem raksasa buatannya sebelumnya. Bantuan itu akan segera datang sebentar lagi," ucap Edward.

Irene pun terdiam setelah ndengar perkataan Edward. Dia terdiam sambil gang rapier es yang sebelumnya dia buat. Irene pun juga terdiam sambil terus lihat Edward yang berbicara.

"Sebelumnya kamu bilang kalau penyerangan yang terjadi di depan kediaman tuan Duke akan segera berakhir karena kamu berhasil ngalahkan tuan High Priest. Hahahahaha, benar-benar lucu. Apa kamu pikir kalau penyerangan itu akan benar-benar berakhir apalagi setelah kamu dan para anak buahmu itu berani nentang gereja Sancta Lux? Tentu tidak, penyerangan tidak akan berakhir bahkan ski aku tidak manggil bantuan,"

"Tindakan yang sudah kalian lakukan terhadap gereja Sancta Lux, apalagi sampai mbuat seorang High Priest gereja Sancta Lux terluka parah benar-benar tidak bisa dimaafkan. Apabila gereja-gereja Sancta Lux yang lain ndengar tentang hal ini, reka semua akan langsung datang ke kediaman tuan Duke ski aku tidak minta bantuan reka. reka akan nyerang kediaman tuan Duke untuk mberi hukuman kepada kalian yang berani nentang gereja Sancta Lux,"

"Selain itu, ada alasan lain kenapa penyerangan yang terjadi di depan kediaman tuan Duke tidak akan berhenti. Itu karena kami sudah ngetahui kalau Rid Archie mang tinggal di kediaman tuan Duke," ucap Edward.

Irene terlihat sedikit terkejut setelah ndengar perkataan Edward.

"Apa yang baru saja kamu katakan? Rid tinggal di kediaman ayahanda? Kamu jangan ngada-ngada, Rid tidak tinggal di kediaman ayahanda," ucap Irene.

"Kamu tidak perlu terus berbohong, putri Irene. Aku ndapatkan informasi ini dari salah satu rekanku yang saat ini sedang ngejar Rid Archie. Rekanku ini sebelumnya ditugaskan untuk ngawasi gerbang belakang kediaman tuan Duke. Ketika sedang ngawasi, dia lihat Rid Archie yang keluar dari gerbang belakang. Setelah itu, dia dan orang-orang yang juga ditugaskan untuk ngawasi gerbang belakang langsung pergi untuk ngejar Rid Archie,"

l"Setelah ndengar informasi darinya kalau Rid Archie keluar dari gerbang belakang kediaman tuan Duke, itu nandakan kalau Rid Archie mang tinggal di kediaman tuan Duke. Kamu sudah tidak bisa berbohong lagi, putri Irene. Dan sekedar informasi, rekan yang mberikanku informasi itu rupakan bantuan yang aku hubungi untuk segera datang kesini. Setelah ngejar dan nangkap Rid Archie, reka akan langsung datang kesini untuk mbantu kami dalam mberi hukuman kepada kalian yang sudah nentang gereja Sancta Lux," ucap Edward.

Irene pun terdiam setelah ndengar perkataan Edward.

"Orang itu bilang kalau rekannya lihat Rid keluar dari gerbang belakang. Bukankah Rid pergi keluar dengan nggunakan jubah? Seharusnya begitu Rid keluar dari gerbang belakang, tidak mudah untuk ngetahui kalau orang yang keluar itu adalah Rid. Bagaimana rekan dari orang itu tahu? Apa awalnya rekan dari orang itu tidak ngetahui kalau orang yang ngenakan jubah adalah Rid, namun reka mutuskan untuk ngikuti Rid yang ngenakan jubah. Setelah ngikuti Rid, reka pun jadi tahu kalau orang yang ngenakan jubah itu adalah Rid. reka pun juga mutuskan untuk ngejar Rid. Aku tidak nyangka kalau ada sesuatu juga yang terjadi kepada Rid," pikir Irene.

Sentara itu, ketika Irene sedang terdiam, Edward pun lanjutkan perkataannya.

"Karena tempat Rid Archie berada sudah diketahui yaitu di kediaman tuan Duke, gereja Sancta Lux akan terus nghampiri kediaman tuan Duke untuk ndapatkan Rid Archie. Bahkan gereja Sancta Lux tidak akan segan-segan untuk nyerang siapapun yang nghalangi gereja Sancta Lux untuk ndapatkan Rid Archie. Jadi, kediaman tuan Duke akan selalu dihampiri dan diserang oleh gereja Sancta Lux karena alasan-alasan itu. Lucu sekali setelah ndengar perkataanmu yang bilang kalau penyerangannya akan segera berakhir," ucap Edward.

Setelah ndengar perkataan Edward barusan, Irene yang sebelumnya hanya terdiam pun langsung nanggapi perkataan Edward.

"Jika penyerangan di kediaman ayahanda tidak kunjung berakhir karena gereja Sancta Lux akan terus datang ke kediaman ayahanda, maka aku hanya perlu untuk terus lawan gereja Sancta Lux yang datang,"

"Selain itu, soal bantuan yang kamu bilang tadi. Kamu bilang kalau rekan yang mberikanmu informasi adalah orang yang kamu mintain bantuan untuk datang kemari. Tetapi sekarang orang itu masih ngejar Rid," ucap Irene sambil gang rapier es buatannya dengan erat.

"Iya, itu benar," ucap Edward.

"Itu berarti, rekanmu itu dan orang-orang yang bersamanya tidak akan datang kesini untuk mbantumu. Itu karena reka tidak akan bisa ngejar dan nangkap Rid," ucap Irene.

Setelah Irene ngatakan itu, Irene dengan cepat langsung lesat ke arah Edward untuk nyerangnya dengan nggunakan rapier es buatannya. Tetapi ketika Irene sedang lesat, dari bawah jalan tempatnya berada tiba-tiba muncul sebuah tangan berukuran besar yang terbuat dari lumpur. Irene pun terkejut ketika lihat tangan berukuran besar yang tiba-tiba muncul itu.

"Apa?!," ucap Irene.

Tangan berukuran besar itu langsung nangkap Irene yang berada tepat di atasnya. Irene yang lengah pun tertangkap oleh tangan berukuran besar itu.

"Aku lengah. Aku tidak nyadari kalau akan ada tangan berukuran besar yang tiba-tiba muncul di bawahku," pikir Irene.

Setelah ditangkap oleh tangan berukuran besar itu, Irene pun kini digenggam oleh tangan berukuran besar itu mulai dari bagian bawah lehernya hingga ke ujung kakinya. Jadi hanya bagian leher hingga ke kepala Irene saja yang terlihat karena bagian leher ke bawah hingga kakinya sedang berada dalam genggaman tangan berukuran besar itu.

"Aku tidak bisa nggerakkan tangan dan kakiku, bagaimana caranya agar aku bisa lepas dari genggaman tangan ini? Selain itu, tangan ini terlihat seperti terbuat dari lumpur, jangan bilang kalau yang nciptakan tangan ini adalah....," pikir Irene.

Sentara itu, ketika Irene sudah ditangkap oleh tangan berukuran besar itu, Edward pun juga terkejut dengan kemunculan tangan berukuran besar itu.

"Apa-apaan tangan berukuran besar itu? Siapa yang nciptakannya?," pikir Edward.

Setelah mikirkan itu, Edward lalu mulai lihat dan mperhatikan tangan berukuran besar itu.

"Tunggu sebentar, tangan itu terlihat terbuat dari lumpur. Seseorang yang aku kenal yang bisa nggunakan sihir lumpur hanyalah beliau. Jangan bilang....," pikir Edward.

Setelah itu, Edward tiba-tiba ndengar suara langkah kaki di belakangnya. Suara langkah kaki itu semakin terdengar jelas seolah suara langkah kaki itu seperti nghampiri Edward. Tidak lama kemudian, bersamaan dengan munculnya suara langkah kaki, terdengar pula suara seseorang.

"Terima kasih karena telah ngulur waktu untukku, Edward. Berkat kamu, aku jadi bisa mulihkan diriku," ucap suara itu.

Setelah ndengar suara itu, Edward lalu noleh ke belakang. Ketika dia sudah noleh ke belakang, dia lihat High Priest Julian yang sedang berjalan ndekatinya dari balik debu asap yang masih nyelimuti sekitar tempat itu. High Priest Julian terlihat sudah sedikit lebih baik daripada yang sebelumnya. Beberapa luka di tubuhnya terlihat sudah pulih, sentara sisa lukanya secara perlahan sedang dipulihkan dengan nggunakan sihir miliknya. Bongkahan es yang sebelumnya nempel di tubuhnya akibat efek dari serangan Irene pun juga telah nghilang. High Priest Julian saat ini sedang berjalan sambil gang tongkat sihir miliknya sekaligus sambil nggunakan sihir penyembuhan untuk mulihkan luka di tubuhnya.

"Sesuai dugaan saya, ternyata mang anda yang nciptakan tangan berukuran besar itu. Selamat datang kembali, tuan High Priest. Lalu, anda tidak perlu ngucapkan terima kasih karena ini sudah njadi tuga saya untuk mbantu anda," ucap Edward sambil sedikit nunduk.

"Hmm, baiklah kalau begitu," ucap High Priest Julian.

High Priest Julian lalu terus langkah untuk ndekati Edward dan juga Irene.

Sentara itu, Irene yang sedang digenggam oleh tangan berukuran besar yang diciptakan High Priest Julian kini sedang natap High Priest Julian yang kini sedang berjalan ndekatinya.

"Sesuai yang aku duga, High Priest itu lah yang nciptakan tangan ini. Aku tidak nyangka kalau High Priest itu masih bisa bangkit setelah terkena serangan yang aku lancarkan. Aku ngira kalau High Priest itu setidaknya sudah tidak sadarkan diri,"

"High Priest itu pun kini sudah kembali lagi dan dia sudah mulihkan sebagian luka di tubuhnya. Semua ini berkat Priest itu yang mbuatku njauh dari lokasi High Priest itu sebelumnya. Jika aku masih berada di lokasi High Priest itu, aku bisa ngawasi High Priest itu agar tidak mulihkan diri. Ini benar-benar gawat," pikir Irene.

Sentara itu, High Priest Julian yang sebelumnya berjalan untuk ndekati Irene dan Edward kini sudah sampai di tempat reka berdua. High Priest Julian pun langsung berhenti langkah setelah sampai di tempat yang dia tuju. High Priest Julian kini berada di samping Edward dan di hadapannya ada Irene yang sedang digenggam oleh tangan berukuran besar ciptaannya.

"Putri Irene, kamu sebelumnya benar-benar mbuatku babak belur. Padahal aku rupakan seorang High Priest dari gereja Sancta Lux tetapi berani sekali kamu lukaiku dan bahkan hampir mbunuhku. Kamu harus diberi hukuman," ucap High Priest Julian yang terlihat marah.

Sentara itu, Irene terlihat hanya diam saja sambil natap High Priest Julian yang marah.

Lalu, setelah High Priest Julian berbicara, Edward yang ada di sampingnya tiba-tiba mulai berbicara.

"Maaf kalau nyela, tuan High Priest. Saya ada informasi yang ingin saya beritahukan kepada anda," ucap Edward.

"Informasi apa itu?," tanya High Priest Julian sambil noleh ke arah Edward.

"Saya ndapatkan informasi dari Elsie dan dia bilang kalau Rid Archie ternyata mang tinggal di kediaman tuan Duke San Lucia saat ini. Saya awalnya berniat nghubungi dia untuk minta bantuan kepadanya dan orang-orang yang bersamanya untuk mbantu disini, tetapi aku tidak nyangka kalau dia mberikan informasi seperti itu. Dia juga bilang kalau saat ini dia sedang ngejar Rid Archie,"

"Karena lokasi tempat Rid Archie berada saat ini sudah diketahui, seharusnya kita tidak perlu lagi untuk nculik putri Irene, tuan High Priest. Lebih baik kita mbunuhnya saja karena dia secara terang-terangan berani nentang gereja Sancta Lux, apalagi dia juga berani lukai dan bahkan hampir mbunuh anda," ucap Edward.

Setelah ndengar perkataan Edward, High Priest Julian lalu ngarahkan tangan kanannya ke depan.

"Begitu ya, jadi lokasi tempat Rid Archie berada sudah diketahui. Baguslah kalau begitu, dengan ini aku dapat mbunuh putri Irene,"

"Tetapi tanpa kamu bilang begitu, aku sejak awal mang berniat untuk mbunuhnya. Bahkan sejak pertama kali dia lukaiku dengan nendangku," ucap High Priest Julian dengan suara yang cukup keras.

Setelah itu, High Priest Julian yang sebelumnya ngarahkan tangan kanannya ke depan, tiba-tiba mulai nggenggam tangan kanannya itu. Disaat yang bersamaan, tangan berukuran besar yang saat ini sedang nggenggam Irene juga langsung nggenggam Irene dengan sangat kuat. Irene pun langsung berteriak kesakitan setelah digenggam oleh tangan berukuran besar itu.

"*Aaarrggghhhh!!," teriak Irene.

ski begitu, High Priest Julian terus nggenggam tangan kanannya itu dan disaat yang bersamaan teriakan Irene pun terus terdengar.

"Inilah akibatnya kalau kamu berani nentang gereja Sancta Lux, apalagi sampai berani lukaiku. Sekarang rasakanlah hukumanmu ini, aku akan nggenggam dan remas tubuhmu sampai kau mati," ucap High Priest Julian.

High Priest Julian pun terus nggenggam tubuh Irene dengan nggunakan tangan berukuran besar ciptaannya. Namun, ketika tangan berukuran besar itu sedang terus nggenggam Irene, muncul seseorang yang lesat dengan sangat cepat di belakang tangan berukuran besar itu. Orang itu lesat dengan sangat cepat bahkan sampai nebas atau mbelah debu asap yang dilewatinya. Orang yang lesat dengan cepat itu lalu nghampiri tangan berukuran besar yang sedang nggenggam Irene.

~Lightning Sword Art : Lightning Speed Slash~

Orang itu lalu lesat ke arah tangan berukuran besar itu lalu lewatinya dan kemudian orang itu terus lesat ke arah High Priest Julian hingga lewatinya juga. Setelah orang itu sudah lewati High Priest Julian, tangan berukuran besar yang sebelumnya dilewati oleh orang itu tiba-tiba langsung terpotong njadi dua. Dan disaat yang bersamaan, tangan kanan High Priest Julian yang sedang nggenggam pun juga ikut terpotong.

High Priest Julian awalnya bersikap biasa saja saat tangan kanannya baru saja terpotong karena saat itu dia belum nyadarinya. Namun tidak lama kemudian, High Priest Julian pun langsung terkejut begitu dia sudah nyadari kalau tangan kanannya sudah terpotong. Dia pun langsung berteriak.

"*Arrrgghhhhh tanganku," teriak High Priest Julian sambil gangi tangan kanannya yang sudah terpotong dengan tangan kirinya.

Sentara itu, tangan berukuran besar yang terpotong itu pun langsung berubah njadi lumpur biasa. Irene yang sebelumnya digenggam oleh tangan itu pun jadi bisa terlepas dari tangan itu. Irene pun langsung terjatuh ke jalan yang ada di bawahnya setelah terlepas dari tangan itu. Saat terjatuh, Irene sempat lihat ke arah belakang High Priest Julian. Disana terlihat sosok seseorang yang sedang gang sebuah pedang yang dialiri oleh sebuah sihir yang terlihat seperti sihir listrik. Irene lalu nyebut nama dari orang tersebut.

"Rid.....," ucap Irene.

-Bersambung

You are reading Peace Hunter Chapter 450 : Memanggil Bantuan on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Dragon God Supreme cover
Similar genre

Dragon God Supreme

Seven Luan ·Action

Theordinaryyouthlackedtheexceptionaltalentsofhispeers,yethepossessedashockingheritage,bearingamysteriousbloodlineandharboringthespiritoftheEvilDrag...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.