"Aku sendiri lah yang akan mberikan hukuman kepada kalian," ucap High Priest Julian.
Setelah ngatakan itu, High Priest Julian lihat ke arah Irene yang ada tepat di bawah golem raksasa buatannya.
"Pertama-tama aku mulai darimu, putri Irene," ucap High Priest Julian.
Setelah itu, golem raksasa buatan High Priest Julian tiba-tiba ngangkat kaki kanannya. Setelah ngangkat kaki kanannya, kaki kanannya itu kemudian diturunkan kembali namun kaki kanannya itu diturunkan tepat di tempat dimana Irene berada. High Priest Julian berniat untuk nginjak Irene dengan nggunakan golem raksasa buatannya. Tetapi sebelum kaki kanannya itu jatuh ngenai jalan tempat Irene berada, Irene dengan cepat langsung nghindar dengan bergerak ke belakang.
*BUMMMMMM
Tepat setelah Irene pergi dari tempatnya sebelumnya, kaki kanan golem raksasa itu langsung nginjak permukaan jalan itu dengan sangat keras. Dampak dari injakan kaki kanan golem raksasa itu cukup dahsyat karena mbuat jalan di sekitar tempat terinjaknya kaki golem raksasa itu retak dan ngalami kerusakan yang cukup parah. Debu asap pun juga bermunculan di sekitar tempat itu setelah Golem raksasa itu nginjakkan kaki kanannya ke jalan itu. Selain itu, efek dari injakan kaki golem raksasa itu juga nimbulkan getaran yang cukup dahsyat. Para prajurit Duke San Lucia terlihat sangat terkejut lihat dampak injakan kaki golem raksasa itu.
"nghadapi golem yang berukuran biasa saja sudah mbuat kita kesulitan. Sekarang kita juga harus nghadapi golem raksasa itu ? Lihat ukurannya itu, apa mungkin bagi kita untuk nghadapi golem itu ?,"
"Tidak hanya ukurannya, serangan yang dilancarkan golem itu pun juga sangat berbahaya. Hanya dengan satu injakannya sudah cukup untuk jalanan sekitar tempat yang dia injak njadi hancur. Selain itu getaran yang muncul akibat efek injakannya juga dapat mbuat bangunan yang ada di sekitar lama-kelamaan akan njadi rusak,"
"Injakan dari golem itu tidak hanya nimbulkan getaran, lainkan juga debu asap. Lihat debu asap yang berada di sekeliling kita ini. Debu asap ini mbuat penglihatan kita njadi terganggu. Kita harus hati-hati dengan golem berukuran biasa dan juga orang-orang dari gereja Sancta Lux yang mungkin akan nyerang kita disaat penglihatan kita sedang terganggu,"
"Daripada itu, bagaimana dengan putri Irene? Apa beliau baik-baik saja?,"
"Entahlah, dengan debu asap ini, sulit bagi kita untuk lihat dan ncari putri Irene. Tetapi sepertinya beliau baik-baik saja karena sebelumnya aku lihat beliau sempat nghindar sebelum diinjak oleh golem raksasa itu,"
"ski begitu, belum tentu putri Irene akan aman. Dengan adanya debu asap yang ngganggu penglihatan ini, beliau bisa saja tiba-tiba diserang lagi,"
"Jadi bagaimana? Apa kita harus ncari putri Irene dan mastikannya aman ?,"
"Iya, ski saat ini di sekitar tempat ini sedang ada debu asap yang ngganggu penglihatan kita, kita harus tetap ncari putri Irene dan mastikannya aman," ucap para prajurit Duke San Lucia.
Sentara itu, Nadine yang berada di belakang para prajurit Duke San Lucia terlihat sedang ngamati para prajurit itu. Nadine lihat beberapa prajurit itu sedang bergerak ke depan dengan terburu-buru.
"Beberapa dari reka tiba-tiba bergerak ke depan dengan terburu-buru? Apa yang terjadi? Apa ada sesuatu di depan reka? Aku tidak bisa lihat dengan jelas karena adanya debu asap ini," pikir Nadine.
Debu asap itu juga sedikit ngganggu penglihatan Nadine karena dia hanya bisa lihat beberapa prajurit Duke San Lucia yang ada di depannya sentara sisanya tidak terlihat. Karena Nadine berada cukup jauh dari golem raksasa yang dibuat oleh High Priest Julian, debu asap yang ada di sekitar tempat Nadine pun tidak terlalu tebal dan pekat. Debu asap yang tebal dan pekat hanya muncul di sekitar atau di dekat tempat golem raksasa itu berada. Beberapa prajurit yang dilihatnya itu sedang bergerak ke depan ke tempat yang debu asapnya pekat.
Setelah mikirkan alasan kenapa reka bergerak ke depan sambil terus mperhatikan reka, Nadine sepertinya mulai tahu apa alasannya.
"Jangan bilang alasannya karena Irene," pikir Nadine.
Setelah mikirkan itu, Nadine tiba-tiba langsung berteriak.
"Kalian semua, segera kembali!!!," teriak Nadine.
Para prajurit yang berada di dekat Nadine pun terkejut setelah ndengar Nadine yang berteriak. reka tidak nyangka kalau Nadine akan berteriak karena nurut reka Nadine adalah tipe orang yang tidak suka berteriak. Tidak hanya para prajurit di dekat Nadine saja yang terkejut, para prajurit yang sedang bergerak ke depan pun juga ikut terkejut. reka pun langsung nghentikan langkah reka setelah ndengar teriakan Nadine.
"Nona Nadine?," ucap para prajurit yang terkejut itu.
"Untuk apa kalian bergerak ke depan? Cepat kalian kembali!," teriak Nadine lagi.
Setelah ndengar teriakan Nadine lagi, salah satu dari prajurit yang bergerak ke depan pun langsung ngatakan sesuatu untuk nanggapi teriakan Nadine.
"Kami semua ingin ncari putri Irene yang sedang berada di dekat golem raksasa itu, nona Nadine. Kami khawatir kepadanya sedangkan kami tidak tahu kondisinya akibat debu asap yang tiba-tiba muncul ini," ucap salah satu prajurit itu.
"Kalian tidak perlu ngkhawatirkan Irene. Aku yakin dia akan baik-baik saja. Daripada mikirkan soal Irene, lebih baik kalian khawatirkan diri kalian sendiri. Debu asap yang tiba-tiba muncul akibat serangan Golem raksasa itu mbuat penglihatan kita terganggu. Lebih baik kalian waspada karena masih ada golem-golem yang lain dan juga para Priest gereja Sancta Lux yang mungkin akan nyerang kita secara tiba-tiba," ucap Nadine.
Setelah Nadine ngatakan itu, benar saja, beberapa golem berukuran biasa tiba-tiba ndekati para prajurit yang hendak pergi nghampiri Irene. Para prajurit itu pun terkejut ketika lihat golem-golem itu sudah ndekati reka karena reka tidak nyadari akan kehadiran golem-golem itu akibat debu asap yang ngganggu penglihatan reka. Nadine pun juga terkejut lihat golem-golem itu sudah ndekati para prajurit itu. Golem-golem itu pun lalu bersiap untuk nyerang para prajurit itu.
"Kalian semua, nghindar!!," teriak Nadine.
Para prajurit itu pun berusaha untuk nghindari serangan golem-golem itu, tetapi reka sedikit telat bereaksi karena pada awalnya reka tidak nyadari kalau golem-golem itu sudah ndekati reka. skipun reka berusaha nghindar, reka tetap akan terkena serangan golem-golem itu. Serangan dari golem-golem itu pun sudah ndekat untuk ngenai reka. Tetapi.....
~Electric Magic : Electric Strike~
Sebelum para prajurit itu terkena serangan golem-golem itu, sebuah sihir listrik tiba-tiba nyambar beberapa golem yang ingin nyerang para prajurit itu. Golem-golem itu pun langsung tumbang setelah terkena sihir listrik itu.
Para prajurit itu pun terkejut setelah lihat golem-golem itu tumbang setelah terkena sihir listrik itu. Sentara itu, di sisi kiri para prajurit itu, terlihat ada sebuah bayangan yang sedang berjalan ndekati reka.
"Seperti yang dikatakan oleh nona Nadine, kalian tidak perlu ngkhawatirkan nona Irene. Lebih baik kalian khawatirkan diri kalian sendiri. Bukan begitu, Lily?," tanya sosok bayangan yang ndekati ke arah para prajurit itu.
Para prajurit itu pun lalu nengok ke arah sosok bayangan yang ndekati reka. Tidak lama kemudian, seiring sosok bayangan semakin ndekati para prajurit itu, sosok bayangan itu pun secara perlahan mulai terlihat jelas. Sosok bayangan itu adalah Leandra.
"Leandra?!," ucap para prajurit itu.
Ketika para prajurit itu sedang fokus untuk lihat ke arah Leandra, beberapa golem tiba-tiba ndekat lagi ke arah reka. Para prajurit itu pun kembali terkejut dengan datangnya golem-golem itu. reka tidak sempat bereaksi akan datangnya golem-golem itu, sentara golem-golem yang tiba-tiba datang itu pun langsung bersiap untuk nyerang reka. Namun.....
~Electric Magic : Electric Fox Claw Dance~
Lily tiba-tiba datang dan langsung nyerang semua Golem yang hendak nyerang para prajurit itu dengan nggunakan cakar tangannya yang sudah dialiri oleh sihir listrik. Golem-golem itu pun langsung tumbang setelah diserang oleh Lily Para prajurit itu pun kembali terkejut dengan datangnya Lily.
"Lily?!," ucap para prajurit itu.
Setelah ngalahkan golem-golem itu, Lily pun langsung noleh ke arah para prajurit itu dan kemudian nghampiri reka.
"Benar kata Leandra, lebih baik kalian khawatirkan diri kalian sendiri. Yah aku dan Leandra pastinya juga khawatir dengan nona Irene tetapi kami pikir di situasi seperti ini nona Irene bisa njaga dirinya sendiri. Dia itu bukanlah wanita lemah yang harus terus dilindungi. Justru lebih baik kita fokus ngkhawatirkan diri kita sendiri. Jika kita terluka atau kemungkinan terburuknya tewas karena lengah akan situasi ini, kita mungkin akan mbuat nona Irene rasa bersalah," ucap Lily.
Para prajurit itu pun terdiam setelah ndengar perkataan Lily. Namun tidak lama kemudian, para prajurit itu pun mulai berbicara kembali.
"Kalian berdua benar, kami mungkin ngkhawatirkan putri Irene tetapi kekhawatiran kami justru bisa mbuat kami celaka. Jika kami celaka, malah putri Irene yang akan khawatir,"
"Iya, lebih baik sekarang ini kita tetap tenang dan fokus karena serangan yang dilakukan oleh para Priest dan juga High Priest itu masih belum berakhir. Para Priest dan golem-golem buatan Priest itu bisa kapan saja nyerang kita di dalam debu asap yang masih bermunculan ini," ucap para prajurit itu.
"Baguslah kalau kalian semua sudah ngerti," ucap Leandra.
Ketika Leandra, Lily dan para prajurit itu sedang berbicara, Nadine yang sebelumnya berada di belakang tiba-tiba berlari untuk nghampiri reka.
"Leandra, Lily, kalian berdua baik-baik saja? Saat debu asap di tempat ini pertama kali muncul, aku sama sekali tidak bisa lihat kalian berdua karena kalian berada cukup jauh di depan. Apa ada sesuatu yang terjadi ketika debu asap ini pertama kali muncul?," tanya Nadine.
"Tidak ada sesuatu yang terjadi, nona Nadine. Ketika debu asap ini pertama kali muncul, aku dan Lily diserang secara tiba-tiba oleh beberapa Priest dan beberapa golem tetapi kami berdua bisa ngatasinya. Yah skipun kami berdua juga ngalami luka karena kami terkena serangan reka. Tetapi nona Nadine tidak perlu khawatir karena luka pada tubuh kami hanyalah luka-luka kecil," ucap Leandra.
Sesuai perkataan Leandra, saat ini di tubuh Leandra dan Lily terdapat beberapa luka seperti luka goresan yang tidak terlalu parah.
"Yah itu benar. Sesuai perkataan Leandra, nona Nadine tidak perlu khawatir," ucap Lily.
"Begitu ya. Ya sudah jika luka pada kalian berdua tidak terlalu parah. Tetapi setelah penyerangan ini selesai, kalian harus langsung nyembuhkan luka-luka itu," ucap Nadine.
"Baik, nona Nadine," ucap Leandra dan Lily.
"Untuk sekarang lebih baik kita fokus dan siaga. Para Priest dan golem-golem itu mungkin akan nyerang kita lagi," ucap Nadine.
Setelah Nadine ngatakan itu, telinga Lily tiba-tiba bergerak-gerak seperti ndengar sesuatu.
"Nona Nadine, sepertinya reka sudah bergerak untuk nyerang kita lagi. Jarak reka sudah hampir dekat dengan kita," ucap Lily.
"Kalau begitu kalian semua, bersiap untuk nyerang," ucap Nadine.
Setelah ndengar perkataan Nadine, para prajurit, Leandra dan Lily pun bersiap dalam posisi nyerang. Nadine pun juga bersiap nyerang dengan nggunakan senapannya. Tidak lama kemudian, beberapa sosok bayangan terlihat mulai ndekat ke arah reka. Tidak lama kemudian, beberapa sosok bayangan itu pun mulai terlihat jelas dan sosok itu rupakan beberapa golem buatan High Priest Julian. Beberapa golem itu ndekat sambil bersiap untuk nyerang. lihat beberapa golem itu sudah ndekat, Nadine langsung rintahkan para prajurit itu untuk nyerang.
"Kalian semua, serang!," ucap Nadine.
Para prajurit Duke San Lucia, Leandra, Lily dan Nadine pun bersiap untuk nyerang golem-golem yang ndekati reka. Namun....
~Ice Magic : Full Frost~
Golem-golem yang ndekati reka itu tiba-tiba langsung mbeku. Seluruh bagian tubuh golem-golem itu mbeku sepenuhnya dan mbuat reka langsung berhenti bergerak. Tidak hanya golem-golem itu saja, permukaan jalan tempat reka berada dan sekitarnya juga ikut mbeku. reka pun langsung terkejut begitu lihat golem-golem itu tiba-tiba mbeku.
"Para golem itu tiba-tiba mbeku. Sihir ini, aku yakin dia yang lakukannya," ucap Nadine.
Setelah Nadine ngatakan itu, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki seseorang yang ndekat ke arah reka. Nadine yang ndengar suara langkah kaki itu langsung noleh ke arah suara itu berasal.
"Ternyata mang benar, kamu yang mbekukan reka, Irene," ucap Nadine setelah noleh ke arah suara itu berasal.
Suara langkah kaki itu berasal dari Irene yang sedang ndekati reka. Irene ndekati reka sambil gang rapier miliknya. Para prajurit Duke San Lucia, Leandra dan Lily pun langsung noleh ke arah Irene. reka terlihat lega karena sebelumnya reka ngkhawatirkan Irene.
"Nona Irene, kamu tidak apa-apa ?," tanya Leandra.
"Iya, seperti yang kamu lihat. Aku tidak apa-apa dan aku juga tidak terluka sedikitpun," ucap Irene.
Setelah ngatakan itu, Irene lalu lihat dan mperhatikan Leandra, Lily, Nadine dan para prajurit yang ada di hadapannya.
"Hmmmm, sepertinya kamu, Lily dan beberapa prajurit yang lainnya sudah ndapatkan beberapa luka," ucap Irene.
"Iya, kami terluka karena terkena serangan para Priest dan golem-golem yang nyerang kami. Tetapi kamu tidak perlu khawatir, nona Irene, luka yang kami dapatkan tidak terlalu parah. Namun, ski luka yang kamu dapatkan tidak terlalu parah, ada beberapa dari kami yang sudah tumbang dan tergeletak di jalan," ucap Leandra.
"Hmm begitu ya," ucap Irene.
Irene ngatakan itu sambil sedikit nundukkan kepalanya. Setelah ngatakan itu, Irene kembali ngangkat kepalanya.
"Sekarang lebih baik kalian mbawa para prajurit yang tergeletak dan segera mundur ke dekat gerbang kediaman ayahandaku karena di sekitar tempat ini sangat berbahaya untuk kalian," ucap Irene.
Setelah Irene ngatakan itu, tiba-tiba Irene berbalik dan langsung bersiap untuk lakukan serangan. Setelah Irene bersiap untuk lakukan serangan, sebuah tangan kanan golem raksasa tiba-tiba muncul dari balik debu asap yang pekat. Tangan golem raksasa itu muncul dalam kondisi yang sedang dikepal. Sepertinya golem raksasa itu ingin mukul Irene dan orang-orang yang ada di dekatnya. Leandra, Lily, Nadine dan para prajurit Duke San Lucia yang berada di dekat Irene terlihat terkejut dengan munculnya tangan kanan golem raksasa itu secara tiba-tiba. Wajar bagi reka untuk terkejut karena reka tidak nyadari atangnya tangan golem raksasa itu akibat debu asap yang sangat pekat. reka pun juga tidak sempat bereaksi terhadap tangan golem raksasa itu. Apapun yang akan reka lakukan baik itu nghindar ataupun nahan tangan golem raksasa itu, reka tidak akan sempat. reka akan terkena serangan tangan golem raksasa itu dengan telak. Tetapi tidak untuk Irene, Irene nyadari datangnya tangan golem raksasa itu dan langsung berniat untuk nahannya. Ketika tangan golem raksasa itu sudah berada dalam jarak yang dekat untuk ngenai reka, Irene langsung berniat untuk nahan tangan kanan raksasa itu dengan rapiernya.
~Frozen Rapier~
~San Lucia Art : Advanced Freezing Air Slash~
Irene lalu nyerang tangan golem raksasa itu dengan serangannya. Irene dan tangan golem raksasa itu pun saling beradu. Adu serangan yang reka lakukan pun mbuat debu asap yang muncul di tempat itu tiba-tiba langsung nghilang.
Sentara itu, para prajurit Duke San Lucia terlihat terkejut ketika lihat Irene berhasil nahan tangan golem raksasa itu dengan rapiernya. Leandra, Lily dan Nadine awalnya juga terkejut, tetapi reka teringat dengan perkataan Irene sebelumnya.
"Kalian semua, cepat pergi dari tempat ini. Sesuai apa yang Irene katakan tadi, kita harus mbawa para prajurit yang tergeletak lalu mundur ke belakang," ucap Nadine.
"Jika kita mundur, bagaimana dengan putri Irene, nona Nadine ?," tanya salah satu prajurit.
"Tenang saja, aku yakin Irene akan dapat ngatasinya. Benarkan, Irene?," tanya Nadine.
Irene yang sedang nahan tangan golem raksasa itu dengan rapiernya pun langsung njawab pertanyaan Nadine.
"Iya. Biar aku yang ngurus High Priest itu, kalian lebih baik ngurus para prajurit yang tergeletak sekaligus ngurus para Priest dan golem-golem yang masih ada di sekitar," ucap Irene.
Setelah ndengar perkataan Irene, Nadine lalu noleh ke arah para prajurit Duke San Lucia yang ada dekatnya.
"Seperti yang kalian dengar barusan, ayo kita segera mundur dan lakukan tugas kita. Disini biar Irene yang ngurusnya," ucap Nadine.
Para prajurit itu awalnya enggan, tetapi setelah ndengar langsung dari Irene, reka pun langsung nuruti perkataan Irene.
"Baik, nona Nadine. Ayo semua, kita lakukan tugas yang diberikan oleh putri Irene," ucap salah satu prajurit.
"Iya," ucap para prajurit lainnya.
Setelah itu, para prajurit Duke San Lucia pun langsung mundur ke belakang. Nadine, Leandra dan Lily pun juga ikut mundur ke belakang. Ketika sedang mundur ke belakang, Leandra tiba-tiba ngajak Nadine untuk berbicara.
"Nona Nadine, apa tidak apa-apa mbiarkan nona Irene ngatasi High Priest itu sendirian ?," tanya Leandra.
"Jika Irene sendiri yang bilang begitu maka apa boleh buat. Tetapi kamu tenang saja, aku akan mbantu Irene dengan nggunakan senapanku dari jauh," ucap Nadine.
"ski begitu aku tetap khawatir. Apa tidak sebaiknya kita nghubungi Rid yang sedang latihan untuk segera kembali kesini ? Jika Rid datang kesini, ngalahkan reka semua akan njadi lebih mudah," ucap Leandra.
"mang jika Rid ada disini, ngalahkan reka akan njadi lebih mudah. Tetapi aku yakin Irene tidak akan setuju untuk nghubungi Rid agar datang kesini. Tujuan gereja Sancta Lux datang kesini adalah untuk rekrut Rid. Irene pastinya tidak mau mpertemukan gereja Sancta Lux dengan Rid jadi dia tidak akan setuju dengan idemu itu," ucap Nadine.
"Kamu ada benarnya, nona Nadine," ucap Leandra.
"Tanpa Rid pun kita tidak begitu kesulitan untuk lawan reka. Mungkin yang repotkan adalah High Priest itu tetapi untuk sekarang kita serahkan saja High Priest itu kepada Irene. Lagipula sekarang ini Irene sudah njadi lebih kuat daripada sebelumnya. Ini berkat latihan yang dia lakukan dengan Rid setiap hari.
Sentara itu, disaat Leandra, Lily, Nadine dan para prajurit Duke San Lucia sudah mundur, Irene terlihat masih beradu kekuatan dengan tangan golem raksasa itu. Irene terus nahan tangan golem raksasa itu dengan rapiernya. Ketika Irene sedang nahan tangan golem raksasa itu, terlihat bagian jari-jari dari tangan golem raksasa itu mulai mbeku. Pembekuan itu pun secara perlahan mulai nyebar hingga ke pergelangan tangan golem raksasa itu. Setelah seluruh pergelangan tangan golem raksasa itu sudah mbeku, Irene lalu ningkatkan kekuatan pada rapiernya. Irene kemudian nggerakkan rapiernya itu seperti sedang lakukan sebuah tebasan. Setelah itu, pergelangan tangan golem raksasa yang mbeku itu secara perlahan mulai retak dan hancur. High Priest Julian yang berdiri di atas golem raksasa buatannya terlihat sedikit terkejut setelah lihat tangan golem raksasa buatannya telah mbeku dan hancur.
"Yang benar saja?! Dia berhasil nahan tangan golem raksasaku dengan sebuah rapier dan kemudian nghancurkannya?!," ucap High Priest Julian.
Sentara itu, setelah nghancurkan tangan golem raksasa itu, Irene lalu ngangkat rapiernya dan kemudian mulai lihat dan mperhatikan rapiernya itu. Saat Irene sedang lihat rapiernya itu, terlihat ada beberapa retakan pada rapiernya itu. Retakan itu nandakan kalau rapiernya sudah mulai rusak.
"skipun terbuat dari lumpur, aku tidak nyangka kalau golem raksasa itu cukup keras. Jika aku nahan serangan yang sama satu kali lagi, rapierku ini pasti akan langsung hancur. Aku juga tidak bisa nyerang golem raksasa itu secara langsung jika tidak mau rapierku ini hancur,"
"Untuk ngalahkan High Priest itu, sepertinya aku harus nyerang High Priest itu secara langsung sambil nghindari serangan-serangan yang dilancarkan golem raksasa itu dan tidak boleh nahan serangan-serangan itu dengan nggunakan rapierku lagi," pikir Irene.
-
Sentara itu, di saat yang sama, di halaman White Palace.
Terlihat Ratu Kayana, para Duke dan Duchess, para komandan prajurit, para prajurit serta para bangsawan lainnya telah kembali dari pemakaman San Fulgen. Itu berarti proses pemakaman para bangsawan yang telah tewas akibat penyerangan yang terjadi di kerajaan San Fulgen telah selesai. Saat ini, Ratu Kayana sedang berjalan untuk masuki White Palace, diikuti dengan para Duke, para Duchess dan para komandan prajurit di belakangnya.
Sentara itu, Duke Louis dan Duchess Arlet yang tepat berada di belakang Ratu Kayana terlihat seperti sedang khawatir akan sesuatu.
"Sayang, entah kenapa aku rasakan firasat yang tidak enak. Apa kamu juga rasakannya?," tanya Duke Louis.
"Aku juga rasakannya, tetapi aku tidak tahu firasat apa ini. Semoga bukan firasat buruk," ucap Duchess Arlet.
"Iya, semoga saja," ucap Duke Louis.
Sentara itu, Ratu Kayana yang berada di depan Duke Louis dan Duchess Arlet nyadari kalau Duke Louis dan Duchess Arlet sedang rasa khawatir.
"Ada apa kalian berdua? kalian sepertinya sedang khawatir," ucap Ratu Kayana.
"Tidak apa-apa, Yang Mulia Ratu. Mungkin kami hanya sedikit khawatir tentang apa yang terjadi kemarin dimana High Priest gereja Sancta Lux kota San Lucia ngunjungi kediaman saya untuk nemui Rid. Karena saat ini kami sedang ninggalkan kediaman, kami khawatir apakah High Priest itu akan ngunjungi kediaman kami lagi," ucap Duke Louis.
"Apa anda tidak mberikan pesan kepada prajurit atau pelayan anda untuk nghubungi anda apabila High Priest itu datang kembali ?," tanya Ratu Kayana.
"Sudah, Yang Mulia Ratu. Saya sudah berpesan kepada reka untuk nghubungi saya lewat kristal komunikasi apabila High Priest itu datang lagi. Tetapi saat ini saya ninggalkan kristal komunikasi saya di dalam kediaman anda karena saya khawatir apabila saya dihubungi saat proses pemakaman, hal itu malah akan ngganggu proses pemakamannya. Maka dari itu saya tidak mbawa kristal komunikasi saya di acara pemakaman agar tidak ngganggu," ucap Duke Louis.
"Begitu ya. Ya sudah nanti anda periksa saja kristal komunikasi anda, apakah ada yang nghubungi anda atau tidak," ucap Ratu Kayana.
"Baik, Yang Mulia Ratu," ucap Duke Louis.
Setelah itu, Ratu Kayana, para Duke, para Duchess dan para komandan prajurit pun terus lanjutkan langkah reka untuk nuju White Palace. Namun ketika reka sedang berjalan, Ratu Kayana tiba-tiba berhenti berjalan. Duke Louis dan Duchess terlihat bingung ketika lihat Ratu Kayana tiba-tiba berhenti berjalan.
"Ada apa Yang Mulia Ratu ? Kenapa anda berhenti ?," tanya Duke Louis.
Tidak hanya Duke Louis dan Duchess Arlet saja yang bingung, para Duke dan Duchess lainnya serta para komandan prajurit juga bingung. Sentara itu, setelah Ratu Kayana berhenti berjalan, Ratu Kayana lalu berbalik. Ratu Kayana lalu lihat ke arah para Duke, para Duchess dan para komandan prajurit yang ada di depannya.
"Kalian semua, apa kalian semua mpunyai waktu luang setelah ini ? Soalnya ada yang ingin aku bahas dengan kalian semua. Karena kebetulan para Duke, para Duchess dan para komandan prajurit sedang ada disini, aku ingin mbahas tentang penyerangan yang terjadi di kerajaan ini 2 hari yang lalu. Aku juga ingin mberitahukan tentang rahasia yang masih aku sembunyikan tentang penyerangan ini," ucap Ratu Kayana.
-Bersambung
~Note dari Author : Halo para pembaca Peace Hunter. Saya ingin nyampaikan permintaan maaf tentang update dari bab terbaru pada novel Peace Hunter yang tidak nentu. Alasannya karena beberapa waktu ini saya sedang sibuk. Selain itu saya juga sempat sakit dalam waktu yang cukup lama dan sering kambuh jadi ini mbuat saya kesulitan dalam mbuat bab terbaru. Sekali lagi, saya minta maaf karena telah mbuat pembaca kecewa akibat tidak nentunya jadwal rilis bab terbaru pada novel Peace Hunter.
Reviews
All reviews (0)