Font Size
15px

Kembali ke bagian depan kediaman Duke Louis.

Para prajurit Duke San Lucia kini sudah berkumpul di gerbang depan kediaman Duke Louis sesuai yang diperintahkan oleh Irene. Beberapa dari reka kini sedang nyerang para Priest dan golem-golem buatan High Priest Julian yang ndekat ke arah reka dan nyerang reka, sentara sisanya terlihat sedang rawat beberapa prajurit Duke San Lucia yang ngalami luka cukup parah ataupun yang sebelumnya tergeletak di jalan.

Untuk para prajurit Duke San Lucia yang nyerang Priest atau golem-golem buatan High Priest Julian, reka hanya nyerang Priest dan golem-golem itu di dekat gerbang depan kediaman Duke Louis, reka sama sekali tidak beranjak atau pergi njauh dari tempat itu skipun para Priest dan golem-golem yang tersisa tidak hanya berada di sekitar gerbang depan kediaman Duke Louis saja. reka juga berada di sekitar Irene yang sedang fokus untuk lawan High Priest Julian dan golem raksasa buatannya. reka pun berusaha nyerang Irene tetapi Nadine dan para prajurit Duke San Lucia yang nggunakan sihir atau senjata jarak jauh langsung mbantu Irene begitu lihat Irene ingin diserang oleh reka. Karena debu asap yang tiba-tiba muncul di tempat itu sebelumnya telah nghilang akibat adu serangan yang terjadi antara Irene dengan golem raksasa itu, Nadine dan yang lainnya pun jadi bisa lihat sekitar tempat itu dengan jelas. reka pun jadi bisa mbantu Irene untuk ngalahkan Priest dan golem-golem yang ingin nyerangnya.

"Irene, kamu fokus saja untuk lawan High Priest itu. Kami akan mbantumu untuk ngalahkan Priest atau golem-golem yang ingin nyerangmu," ucap Nadine dengan suara yang cukup keras.

Irene yang baru saja ndengar perkataan Nadine pun langsung noleh ke arah Nadine sambil ngangguk. Setelah itu, Irene berlari ndekati kedua kaki golem raksasa buatan High Priest Julian. Ketika Irene sedang berlari ndekati kaki golem raksasa itu, beberapa Priest dan golem-golem berukuran biasa langsung ndekati Irene dan nyerangnya, tetapi Nadine dan beberapa prajurit Duke San Lucia langsung numbangkan reka yang ingin nyerang Irene. Leandra juga ikut mbantu untuk ngalahkan Priest atau Golem yang ingin nyerang Irene karena dia bisa nggunakan sihir jarak jauh.

Setelah beberapa Priest dan golem-golem yang ndekati Irene sudah dikalahkan, Irene yang kini sudah berada di dekat kedua kaki golem raksasa buatan High Priest Julian lalu lompat ke atas. Setelah lompat ke atas, Irene lalu mbuat sebuah pijakan es yang tipis di udara dengan nggunakan sihir esnya. Pijakan es itu lalu diinjaknya dan Irene kembali lompat ke atas. Irene terus mbuat pijakan es yang baru dan terus lompati pijakan es itu untuk ndekati High Priest Julian yang berada di bagian kepala golem raksasa miliknya.

High Priest Julian yang lihat Irene berusaha ndekatinya tentu tidak diam saja. Dia lalu rintahkan golem raksasa buatannya itu untuk nyerang Irene.

"Serang dia, jangan biarkan dia ndekatiku," ucap High Priest Julian.

Golem raksasa itu pun kemudian nggerakkan lengan kanannya. Bagian pergelangan tangan kanan golem raksasa itu terlihat masih hancur akibat beradu serangan dengan Irene sebelumnya. Namun ketika lengan kanan golem raksasa itu secara perlahan mulai bergerak, bagian pergelangan tangannya pun secara perlahan mulai pulih kembali.

"Bagian pergelangan tangan golem itu secara perlahan mulai pulih kembali. Yah tidak heran, lagipula golem itu rupakan makhluk buatan yang tercipta dari sihir High Priest itu. Karena itu makhluk buatan dari sihir, sudah jelas dia bisa pulih kembali asalkan orang yang mbuatnya masih miliki cukup banyak Mana untuk mulihkannya,"

"ladeni golem raksasa ini hanya akan mbuang waktu karena High Priest itu sudah pasti akan dapat terus mulihkannya. Untuk ngakhiri ini, aku harus segera ngalahkan High Priest itu," pikir Irene sambil lihat bagian pergelangan tangan golem raksasa yang secara perlahan mulai pulih.

Tidak lama kemudian, pergelangan tangan kanan golem raksasa itu pun telah pulih. Setelah pergelangan tangan golem raksasa itu sudah pulih, golem raksasa itu lalu ngangkat lengan kanannya ke atas. Golem raksasa itu pun juga ngepalkan tangannya seperti ingin mukul. Golem raksasa itu mang ingin mukul, dia ingin mukul Irene yang saat ini sedang terus lompati pijakan-pijakan es yang dibuatnya agar dia bisa terus lompat nuju High Priest Julian. Ketika Irene sedang lompati pijakan-pijakan es itu, golem raksasa itu lalu nurunkan lengannya dan bersiap untuk mukul Irene dari atas ke bawah.

Sentara itu, Nadine yang sebelumnya telah nembaki beberapa Priest dan golem-golem yang ingin nyerang Irene, kini terlihat sedang mbuat beberapa peluru baru untuk senapannya.

"Leandra, Lily, tolong lindungi aku apabila ada Priest atau golem-golem yang ingin nyerangku. Karena debu asap yang sebelumnya nyelimuti tempat ini sudah hilang, pandanganku pun sudah tidak terganggu lagi. Aku akan ncoba untuk nembak High Priest itu dari sini," ucap Nadine kepada Leandra dan Lily yang ada di dekatnya.

"Baik, nona Nadine," ucap Leandra dan Lily.

Leandra dan Lily lalu bersiap di samping Nadine, sentara Nadine terus mbuat beberapa peluru baru. Setelah selesai mbuat beberapa peluru baru, Nadine lalu masukkan peluru-peluru itu ke senapan panjang miliknya. Setelah itu, Nadine lalu mulai mbidik nggunakan senapannya itu. Dia mulai mbidik ke arah High Priest Julian yang ada di atas kepala golem raksasa buatannya.

~Frozen Paralyze Bullets~

Nadine lalu mulai nembakkan peluru-peluru itu dari senapannya.

*Dor

*Dor

*Dor

*Dor

*Dor

5 peluru pun ditembakkan oleh Nadine dari senapannya. 5 peluru itu pun lesat dengan cepat ke arah High Priest Julian.

Sentara itu, beberapa saat sebelum Nadine nembakkan senapannya.

Irene saat ini masih terus lompati pijakan-pijakan es buatannya. Irene terus lompati pijakan es itu sambil lihat ke atas dimana lengan kanan golem raksasa yang ada di atasnya terlihat sudah mau turun ke bawah untuk mukulnya.

"Golem itu berniat untuk mukulku lagi. Aku harus nghindari pukulan golem itu. Aku tidak boleh nahannya dengan nggunakan rapierku lagi karena jika aku nahannya lagi, rapierku pasti akan langsung hancur," pikir Irene.

Irene kemudian bersiap untuk nghindari pukulan golem raksasa itu dengan mbuat pijakan-pijakan es di udara yang tidak berada di jalur pukulan golem raksasa itu. Setelah selesai mbuat pijakan-pijakan es itu, Irene lalu bersiap untuk lompat ke pijakan-pijakan es yang baru dibuatnya itu. Tetapi saat dia mau lompat, dia ndengar suara 5 buah tembakan senapan dari bawahnya. Tetapi Irene sama sekali tidak nghiraukan suara tembakan senapan itu karena dia nganggap suara tembakan senapan itu berasal dari Nadine atau prajurit San Lucia yang nggunakan senapan yang sedang bertarung dengan beberapa Priest dan golem-golem di bawahnya. Irene pun milih untuk lanjut lompat ke pijakan-pijakan es yang baru dibuat untuk nghindari pukulan golem raksasa itu.

Namun ketika Irene sedang lompati pijakan-pijakan es itu, tiba-tiba dia ndengar suara teriakan seperti orang yang sedang kesakitan.

"Arrrrrghhh,"

Suara teriakan itu berasal dari bagian kepala golem raksasa yang ada di hadapannya. Irene pun langsung lihat ke arah bagian kepala golem raksasa itu untuk lihat penyebab dari suara teriakan yang baru saja dia dengar. Setelah lihat ke bagian kepala golem raksasa itu, Irene sedikit terkejut ketika lihat High Priest Julian yang sedang berdiri dengan beberapa luka pada tubuhnya. Luka-lukanya itu terletak di paha kanan, kaki kiri, bahu kiri, lengan kanan dan perut bagian kanan. Ada 5 buah luka di tubuhnya dan luka pada tubuhnya itu seperti disebabkan oleh sebuah peluru dari senapan.

"Luka-luka itu terlihat seperti luka akibat tembakan peluru. Apa mungkin suara tembakan senapan yang aku dengar sebelumnya rupakan suara tembakan senapan yang ditujukan ke High Priest itu? Jika iya, siapa yang lakukannya?," pikir Irene.

Ketika Irene sedang mikirkan itu, tiba-tiba dia ndengar suara teriakan dari bawahnya.

"Irene, aku telah mbuat High Priest itu tidak bisa bergerak untuk sentara dengan peluru buatanku. Sekarang kesempatanmu untuk ngalahkan High Priest itu!!," ucap suara teriakan itu.

Irene yang ndengar suara teriakan itu, nyadari siapa pemilik suara teriakan itu.

"Suara itu....., Nadine ya. Kali ini aku sudah ndengar teriakannya beberapa kali. ndengar dia berteriak, seperti bukan dirinya yang biasanya. Yah itu wajar, karena kami saat ini sedang diserang dan masing-masing dari kami tidak mbawa kristal komunikasi, satu-satunya cara untuk berkomunikasi jika jarak kami jauh adalah dengan berteriak,"

"Jadi Nadine ya yang nembak High Priest itu. Nadine bilang kalau dia telah mbuat High Priest itu tidak bisa bergerak untuk sentara, apa dia nembak High Priest itu dengan peluru pelumpuh? Yah apapun itu, aku berterima kasih padamu, Nadine. Aku tidak akan sia-siakan kesempatan ini," pikir Irene.

Setelah itu, lengan kanan golem raksasa itu pun sudah berada dalam jarak yang dekat untuk mukul Irene. Tetapi Irene dengan cepat lompat ke pijakan es yang lain dan terhindar dari pukulan golem raksasa itu. Lengan kanan golem raksasa itu pun terus lesat ke bawah hingga akhirnya mukul jalan yang ada di bawah. Debu asap pun kembali bermunculan setelah golem raksasa itu mukul jalan.

-

Sentara itu, di tempat Nadine berada.

Nadine yang sebelumnya berhasil nembak High Priest Julian kini kembali sedang mbuat beberapa peluru. Debu asap yang muncul akibat pukulan golem raksasa itu kini sudah ncapai tempat Nadine berada.

"Debu asapnya kembali muncul setelah golem raksasa itu kembali mukul jalan yang ada di bawahnya. Dengan adanya debu asap ini, aku tidak bisa nembak High Priest itu lagi. Tetapi untungnya sebelumnya aku sempat nembak High Priest itu sebelum munculnya debu asap ini. Dengan tembakan itu, seharusnya sudah cukup untuk mbantu Irene. Sisanya aku serahkan kepadamu, Irene," pikir Nadine.

Nadine pun kini telah selesai mbuat beberapa peluru dan dia pun langsung masukkan peluru-peluru itu ke senapannya.

"Kalian semua, tetap siaga dengan kembali munculnya debu asap ini. Kalian tetaplah di tempat kalian masing-masing dan jangan pergi njauh dari tempat ini ataupun dari rekan-rekan yang ada di dekat kalian," ucap Nadine dengan suara yang cukup keras.

"Baik, nona Nadine," ucap para prajurit Duke San Lucia.

-

Sentara itu, kembali ke tempat Irene.

Irene yang baru saja nghindari pukulan golem raksasa itu, kini terus lompat ke atas dengan nggunakan pijakan es yang dibuatnya. ski saat ini Irene sedang berada di udara, debu asap yang tercipta akibat golem raksasa itu juga ncapai tempat Irene berada saat ini. Debu asap yang ada di sekitar tempat Irene pun sangat tebal dan pekat sehingga sangat ngganggu penglihatan. Maka dari itu, Irene pun lompat pijakan-pijakan es yang dibuatnya dengan hati-hati karena dia juga cukup kesulitan untuk lihat pijakan es yang dibuatnya sendiri.

"Debu asap di tempat ini cukup pekat karena debu asap ini muncul tepat di bawahku. ski begitu, aku tidak boleh terganggu akan adanya debu asap ini, aku harus segera ngalahkan High Priest itu," ucap Irene.

Irene terus lompat ke atas dengan nggunakan pijakan es yang dibuatnya. Dia terus lompat sambil gang rapier miliknya. Irene terlihat sedang ngalirkan sebuah sihir seperti sihir es ke rapier yang dipegangnya itu.

Lalu, setelah beberapa saat terus lompat di udara, Irene pun kini berhenti lompat dan hanya berdiri di pijakan es yang dibuatnya. Irene berhenti sambil lihat ke arah depannya dimana terdapat debu asap yang sangat pekat.

"Sebelumnya aku sempat lihat posisi golem raksasa itu sebelum tempat ini dipenuhi debu asap. ski saat ini penglihatanku terganggu akibat debu asap ini, namun aku yakin golem raksasa itu kini tepat di depanku. Posisiku berada saat ini pun juga sudah pas untuk nyerang High Priest itu," pikir Irene.

Setelah itu, Irene lalu ngangkat rapiernya ke atas dengan kedua tangannya. Sihir es yang ngalir di rapiernya itu terlihat cukup pekat. Irene ngangkat rapiernya itu ke atas dalam beberapa detik.

Lalu beberapa detik kemudian, Irene lalu ngayunkan rapiernya itu dari atas ke bawah.

~Ice Sword Art : Great Ice Slash~

Irene kemudian lancarkan sebuah tebasan es berukuran besar dari rapiernya itu. Tebasan es itu pun lesat ke depan dengan cepat sambil nebas debu asap yang dilewati oleh tebasan es itu.

-

Sentara itu, beberapa saat sebelum Irene lancarkan tebasan es dari rapiernya. High Priest Julian terlihat terus berdiri dengan 5 buah luka yang ada pada tubuhnya.

"Apa-apaan ini? Aku baru saja ditembak dengan nggunakan senapan oleh seseorang? Siapa yang nembakku? Apa mungkin gadis keluarga San Lucia yang mbawa senapan itu yang nembakku? Jika benar, keluarga San Lucia, reka benar-benar kurang ajar. Bahkan putri keluarga reka juga sudah kurang aja karena sebelumnya telah nyerangku. Lihat saja nanti, aku pasti akan mberi kalian hukuman,"

"Tetapi untuk sekarang, aku harus lakukan sesuatu terhadap tubuhku. Aku sama sekali tidak bisa bergerak setelah terkena tembakan senapan. Bahkan aku juga tidak bisa berbicara. Apa-apaan ini? Apa ini efek dari peluru yang ditembakkan itu?," pikir High Priest Julian.

High Priest Julian pun berusaha untuk nggerakkan tubuhnya namun tidak bisa karena efek dari peluru yang ditembakkan Nadine. ski tidak bisa bergerak, dia tidak berhenti untuk ncoba nggerakkan tubuhnya.

Ketika High Priest Julian sedang ncoba untuk nggerakkan tubuhnya, sebuah tebasan es berukuran besar tiba-tiba muncul dari balik debu asap yang ada di depannya. High Priest Julian pun terkejut ketika lihat munculnya tebasan es itu, namun dia tidak bisa bereaksi atau lakukan apa-apa kepada tebasan es itu karena tubuhnya saat ini tidak bisa digerakkan. Tebasan es berukuran besar itu pun lalu nghantam bagian bawah dada hingga bagian atas kepala golem raksasa buatan High Priest Julian. High Priest Julian yang berdiri di atas kepala golem raksasa itu pun juga terkena tebasan es berukuran besar itu. Tebasan es itu ngenai bagian bahu kiri hingga perut kiri High Priest Julian. Bagian tubuh yang dikenai tebasan es itu pun langsung ngeluarkan darah. High Priest Julian pun langsung mbuka mulutnya seolah ingin berteriak karena kesakitan tetapi tidak ada suara yang keluar dari mulutnya.

"Sakit sekali, bahkan sekarang aku tidak bisa berteriak. Siapa yang berani nyerangku dengan tebasan itu? Apa itu putri Irene?," pikir High Priest Julian.

Ketika High Priest Julian sedang mikirkan itu, High Priest Julian tiba-tiba terasa seperti akan jatuh ke belakang.

"Ada apa ini? Kenapa rasanya aku seperti ingin jatuh?," pikir High Priest Julian.

High Priest Julian ingin lihat sekitar untuk ncari tahu kenapa dia seperti ingin jatuh tetapi dia tidak bisa nggerakkan kepalanya untuk lihat-lihat ke sekitar.

"Sial, aku masih tidak bisa nggerakkan tubuhku," pikir High Priest Julian.

High Priest Julian masih berusaha untuk nggerakkan tubuhnya dan disaat yang sama tubuh High Priest Julian secara perlahan mulai jatuh ke belakang. Sesuai yang dirasakan oleh High Priest Julian, dia mang rasakan ingin jatuh karena golem raksasa yang dia naiki kini secara perlahan mulai jatuh ke belakang setelah terkena tebasan es yang dilancarkan Irene. Tebasan es yang dilancarkan oleh Irene mang tidak bisa nebas atau mbelah golem raksasa itu, tetapi tebasan es itu mampu untuk ndorong golem raksasa itu sehingga mbuatnya mulai terjatuh. Karena golem raksasa itu mulai jatuh ke belakang, High Priest Julian yang berada di atas kepala golem raksasa itu pun juga ikut jatuh.

"Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba aku jatuh ke belakang?!," pikir High Priest Julian.

Golem raksasa itu pun kini sudah jatuh ke belakang dan langsung nghantam jalanan yang ada di bawahnya.

*BUMMMMM

Suara benturan terdengar sangat keras setelah Golem raksasa itu terjatuh. Debu asap pun kembali bermunculan di sekitar tempat itu. Debu asap yang muncul itu pun lebih pekat dari sebelumnya karena tercipta dari jatuhnya golem raksasa itu.

Para prajurit San Lucia, Leandra, Lily dan Nadine yang berada cukup jauh dari golem raksasa itu terlihat terkejut dan bingung setelah ndengar suara dentuman yang cukup keras.

"Suara apa itu? Suaranya keras sekali,"

"Iya, bahkan suaranya lebih keras dari pukulan golem raksasa itu ketika nghantam jalanan,"

"Karena debu asap ini, kita jadi tidak bisa lihat apa yang sedang terjadi. Selain itu, entah kenapa debu asapnya juga njadi lebih tebal dan pekat daripada sebelumnya,"

"Iya, kamu benar. Debu asap ini jadi semakin pekat," ucap para prajurit San Lucia.

Sentara Nadine setelah ndengar suara dentuman itu terus lihat ke arah depan, tepatnya ke arah golem raksasa itu berada.

"Suara dentuman lebih keras dari sebelumnya. Sepertinya ada sesuatu yang terjadi dengan golem raksasa itu," ucap Nadine.

Lalu, di tempat golem raksasa itu berada, tempat itu kini sudah diselimuti oleh debu asap yang sangat tebal dan pekat. Jalanan di tempat itu terlihat sudah hancur dan beberapa terlihat rusak parah setelah ditimpa oleh golem raksasa yang jatuh itu. Untungnya Golem raksasa itu hanya nimpa jalanan yang di bawahnya, golem raksasa itu tidak nimpa bangunan yang ada di bawahnya. ski begitu, golem raksasa itu hampir saja nimpa bangunan karena posisi kepala dari golem raksasa yang sudah jatuh itu hanya berjarak beberapa ter dari bangunan yang ada di belakang golem raksasa itu. ski tidak nghancurkan bangunan itu, tetapi dinding bangunan itu terlihat ngalami beberapa keretakan akibat efek dari jatuhnya golem raksasa itu.

Lalu di antara kepala golem raksasa dan dinding bangunan itu, terlihat High Priest Julian yang sedang terbaring setelah jatuh dari ketinggian yang cukup tinggi. Darah terlihat terus ngalir dari luka tebasan yang dilancarkan Irene maupun dari luka tembakan senapan yang ditembakkan Nadine. Darah yang ngalir dari luka-luka itu terlihat ngalir cukup deras daripada sebelumnya. Mungkin efek jatuh dari ketinggian mbuat luka-luka itu bertambah cukup parah sehingga darah yang ngalir keluar dari luka itu juga njadi cukup deras.

"Sialan, aku tidak nyangka kalau golem raksasa buatanku akan jatuh. Aku pun juga ikut jatuh karena hal itu. Sialnya aku sedang tidak bisa bergerak saat sedang jatuh jadi aku hanya bisa pasrah saja karena aku tidak bisa lakukan apa-apa," pikir High Priest Julian.

Setelah mikirkan itu, High Priest Julian yang sejak tadi hanya terbaring, kini berusaha untuk bergerak dan bangkit kembali. High Priest Julian awalnya kesulitan tetapi dia akhirnya bisa bergerak dan bangkit kembali secara perlahan.

"Akhirnya aku bisa bergerak...kembali. Aku juga sudah...bisa berbicara kembali," ucap High Priest Julian dengan terbata-bata

Setelah sudah bisa bergerak, High Priest Julian lalu mulai raba dan mperhatikan luka-luka yang ada di tubuhnya.

"Luka-luka pada tubuhku.....ini sudah cukup parah. Luka ini.....juga sakit sekali. Aku harus...segera nyembuhkan luka ini," ucap High Priest Julian.

High Priest Julian lalu bergerak secara perlahan untuk ngambil tongkat sihirnya yang tergeletak tidak jauh dari tempat dia tergeletak sebelumnya. Setelah sampai di tempat tongkat sihir itu tergeletak, High Priest Julian lalu ngambil tongkat sihir itu secara perlahan. Setelah ngambil tongkat sihir itu, High Priest Julian lalu gang tongkat sihir itu lalu bersiap untuk nyembuhkan tubuhnya kembali dengan sihir pemulihan.

"Putri Irene, kamu.....benar-benar kurang ajar. Beraninya...kamu nyerangku lagi dan mbuatku jatuh....dari golem raksasa buatanku. Lihat saja, setelah....aku mulihkan diri, aku akan.....benar-benar nghukummu," ucap High Priest Julian.

"Aku tidak akan mbiarkan itu terjadi," ucap suara seseorang.

Setelah High Priest Julian ngatakan itu, Irene tiba-tiba muncul dari balik debu asap yang ada di hadapan High Priest Julian. High Priest Julian pun langsung terkejut setelah lihat Irene tiba-tiba ada di hadapannya.

"Putri Irene?!," ucap High Priest Julian yang terkejut.

Setelah itu, Irene lalu langsung lesat ke arah High Priest Julian sambil bersiap untuk nyerang dengan nggunakan rapiernya. Terlihat rapier milik Irene sudah ngalami keretakan yang cukup parah.

"Saya tahu kalau serangan yang saya lakukan sebelumnya belum cukup untuk ngalahkan anda skipun anda juga jatuh dari ketinggian setelah terkena serangan yang saya lakukan. Maka dari itu saya langsung datang kemari untuk benar-benar ngalahkan anda," ucap Irene.

High Priest Julian yang awalnya berniat ingin nyembuhkan dirinya kini langsung ngarahkan tongkat sihirnya itu ke arah Irene untuk nyerangnya.

"Keparat kau, bisa-bisanya.....kau ngatakan kalau kau.....akan ngalahkanku yang.....rupakan seorang High Priest. Terimalah...hukuman dariku," ucap High Priest Julian.

High Priest Julian lalu lancarkan sebuah sihir dengan nggunakan tongkat sihirnya.

~Mud Magic : Mud Thorn~

High Priest Julian ngeluarkan sebuah duri berukuran cukup besar dari tongkat sihirnya itu. Duri itu lalu lesat dengan sangat cepat nuju ke kepala Irene. Namun Irene dapat nghindari serangan itu dengan nggerakkan kepalanya ke kanan. Tetapi serangan itu sangat cepat sehingga mbuat Irene tidak bisa nghindari serangan itu sepenuhnya. Pipi kiri Irene pun terkena serangan itu. Darah langsung ngalir keluar dari pipi kiri Irene. ski begitu, Irene tidak berhenti dan langsung lesat dengan cepat ke arah High Priest Julian. Irene pun kini sudah berada di depan High Priest Julian. Irene lalu langsung nyerang High Priest Julian dengan rapiernya.

~Frozen Rapier~

~San Lucia Art : Freezing Air Slash~

High Priest Julian yang masih lemah setelah terkena serangan dari Irene dan Nadine sebelumnya pun tidak bisa bereaksi terhadap serangan Irene itu. Serangan Irene itu pun berhasil ngenai High Priest Julian dengan telak.

-Bersambung

You are reading Peace Hunter Chapter 448 : Irene vs High Priest Julian on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Dragon God Supreme cover
Similar genre

Dragon God Supreme

Seven Luan ·Action

Theordinaryyouthlackedtheexceptionaltalentsofhispeers,yethepossessedashockingheritage,bearingamysteriousbloodlineandharboringthespiritoftheEvilDrag...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.