Font Size
15px

Keesokan harinya, pukul 7 pagi, di gerbang depan kediaman Duke Louis.

Aku dan Irene saat ini sedang berada di gerbang depan kediaman Duke Louis untuk ngantarkan Duke Louis dan Duchess Arlet yang akan pergi nuju ibukota San Estella, tepatnya nuju istana kediaman Ratu Kayana. Tidak hanya aku dan Irene saja yang ngantar kepergian Duke Louis dan Duchess Arlet, para pelayan, prajurit dan anggota keluarga San Lucia lainnya juga ikut ngantar kepergian reka berdua.

"Hati-hati di jalan, ayahanda, ibunda," ucap Irene.

"Hati-hati di jalan, paman Louis, bibi Arlet," ucapku.

"Iya, kalian berdua juga hati-hati karena skipun kalian berada di kediaman ini, bisa saja ada yang nyerang kediaman ini ketika kami berdua pergi. Terutama kamu, Rid, karena kamu nanti akan pergi kembali ke tempat itu, kamu harus hati-hati dan waspada," ucap Duke Louis.

"Baik, paman," ucapku.

"Hati-hati ya kalian berdua. Kalau begitu kami berdua pergi dulu," ucap Duchess Arlet.

"Iya, ibunda," ucap Irene.

"Kalian semua, kami pergi dulu. Tolong jaga kediaman ini baik-baik selagi kami berdua pergi. Selain itu, tolong laporkan apabila ada sesuatu yang ncurigakan di sekitar kediaman ini atau di seluruh kota San Lucia," ucap Duke Louis.

"Baik, tuan Duke," ucap para pelayan dan para prajurit yang ikut ngantar reka berdua.

Setelah itu, Duke Louis dan Duchess Arlet pun mbalikkan badan reka dan reka pun mulai berjalan ke kereta kuda yang ada di depan reka. Di depan reka ada 3 buah kereta kuda. Duke Louis dan Duchess Arlet milih untuk ndekati kereta kuda yang berada di tengah. Setelah Duke Louis dan Duchess Arlet sudah berada di samping kereta kuda itu, komandan Mina yang juga sedang berada di samping kereta kuda itu langsung mbukakan pintu kereta kuda itu. Setelah pintu itu terbuka, Duchess Arlet pun langsung masuk ke dalam kereta kuda itu lalu disusul dengan Duke Louis.

"Ayo kita segera berangkat, Mina," ucap Duke Louis yang sudah berada di dalam kereta kuda itu.

"Baik, tuan Duke," ucap komandan Mina.

Setelah itu, komandan Mina pun juga ikut masuk ke dalam kereta kuda itu dan kemudian pintu kereta kuda itu pun ditutup. Setelah pintu kereta kuda itu sudah ditutup, ketiga kereta kuda itu secara perlahan mulai bergerak pergi ninggalkan gerbang depan kediaman Duke Louis. Beberapa saat kemudian, ketiga kereta kuda itu pun sudah pergi njauh dari kediaman Duke Louis. Setelah ketiga kereta kuda itu sudah pergi njauh, para pelayan dan penjaga yang sebelumnya ngantarkan kepergian Duke Louis dan Duchess Arlet pun mulai kembali untuk ngerjakan pekerjaan reka masing-masing. Aku dan Irene pun juga mutuskan untuk kembali ke dalam kediaman Duke Louis.

"Rid, kamu akan pergi berlatih di tempat itu jam berapa ?," tanya Irene.

"Mungkin jam 9, sama seperti kemarin. mangnya ada apa, Irene ?," tanyaku.

"Sebelum kamu berlatih di tempat itu, bisakah kamu berlatih denganku terlebih dahulu ? Aku tidak akan ikut denganmu untuk latihan di tempat itu karena tempat itu rupakan tempat latihan rahasia untuk latih teknik dan sihir rahasia milikmu. Kamu bilang kalau kamu belum bisa mberitahu teknik dan sihir rahasiamu itu jadi pastinya aku tidak diperbolehkan untuk ikut berlatih di tempat latihan itu. Jadi saat ini, sebelum kamu pergi ke tempat itu, aku pikir ini waktu yang tepat bagiku untuk mintamu berlatih denganku," ucap Irene.

"Baiklah. Mulai sekarang, sebelum aku berlatih di tempat itu, aku akan berlatih denganmu terlebih dahulu," ucapku.

"Terima kasih, Rid," ucap Irene.

"Iya, sama-sama, Irene," ucapku.

Setelah itu, aku dan Irene pun langsung bergegas masuk ke kediaman Duke Louis. Setelah sudah berada di dalam kediaman Duke Louis, kami lalu bergegas pergi ke kamar kami masing-masing untuk ngambil senjata kami. Setelah kami sudah ngambil senjata kami, kami berdua pun langsung pergi ke tempat latihan prajurit Duke San Lucia untuk berlatih bersama.

-

Pukul 9 pagi.

Saat ini, aku sudah berada di gerbang belakang kediaman Duke Louis setelah sebelumnya aku berlatih bersama dengan Irene terlebih dahulu. Aku saat ini sudah ngenakan jubah yang sama dengan yang kemarin aku pakai. Aku pun juga sudah mbawa senjata milikku. Alasan aku berada di gerbang belakang kediaman Duke Louis saat ini adalah karena aku mau bersiap untuk kembali pergi ke tempat latihan rahasia milikku.

Saat ini, di gerbang belakang kediaman Duke Louis tidak hanya ada aku dan para prajurit yang njaga gerbang itu saja, Irene juga ada di gerbang itu. Tetapi Irene ada disitu bukan untuk ikut pergi denganku nuju tempat latihan rahasia milikku, lainkan Irene hanya ngantarkan kepergianku saja.

"Kamu nanti akan pulang jam berapa, Rid ?," tanya Irene.

"Mungkin seperti kemarin. Aku akan pulang pada sore njelang malam hari," ucapku.

"Baiklah. Karena aku sudah tahu tempat latihan rahasiamu, apabila kamu tidak pulang tepat waktu, aku akan pergi nyusulmu ke tempat latihanmu. Aku khawatir kalau ada sesuatu yang terjadi kepadamu apabila kamu pulang tidak tepat waktu," ucap Irene.

"Kamu tenang saja, Irene, aku akan pulang tepat waktu. Aku tidak akan mbiarkanmu untuk nyusulku karena tempat latihanku itu cukup berbahaya. Aku nanti akan khawatir kepadamu apabila kamu nyusul ke tempat itu," ucapku.

"Baiklah, pokoknya kamu harus pulang tepat waktu," ucap Irene.

"Iya, aku janji. Kalau begitu, aku pergi dulu," ucapku.

"Iya. Hati-hati, Rid," ucap Irene.

"Iya," ucapku.

Setelah itu, aku pun pergi nghampiri para prajurit yang njaga gerbang belakang kediaman Duke Louis, sentara Irene hanya diam saja sambil lihatku yang berjalan pergi. Setelah aku sudah nghampiri para prajurit itu, aku pun langsung berbicara dengan para prajurit itu.

"Tuan prajurit, aku minta tolong untuk mbuka kan gerbangnya lagi. Aku ingin pergi lagi," ucapku.

"Baik, Ri-," ucap prajurit itu.

Tetapi sebelum prajurit itu nyelesaikan perkataannya, aku langsung ndekatkan jari telunjuk tangan kananku ke bibirku sebagai kode untuk diam. Prajurit itu pun langsung diam setelah ngetahui kode yang aku tunjukan. Setelah prajurit itu diam, aku pun mulai berbicara lagi.

"Aku minta maaf tuan prajurit, tetapi ke depannya aku minta tolong untuk tidak nyebutkan namaku lagi ketika aku minta untuk mbukakan gerbang ini. Aku khawatir kalau ada orang di luar gerbang belakang ini yang ndengar perkataan kalian yang sedang nyebut namaku," ucapku.

"Baiklah. Kami minta maaf karena sebelumnya telah nyebut namamu," ucap prajurit itu.

"Tidak apa-apa, kalian tidak perlu minta maaf," ucapku.

"Baiklah jika kamu bicara begitu. Kami akan segera mbukakan gerbangnya," ucap prajurit itu.

Setelah itu prajurit itu pun mbukakan gerbang itu.

"Terima kasih karena telah mbukakan gerbang ini, tuan prajurit," ucapku.

"Sama-sama," ucap prajurit itu.

"Kalau begitu, aku izin pergi dulu. Sampai nanti, tuan prajurit sekalian," ucapku.

"Iya, sampai nanti dan juga hati-hati," ucap prajurit itu.

Setelah itu, aku pun langsung pergi ninggalkan gerbang belakang kediaman Duke Louis. Namun, baru beberapa langkah aku pergi ninggalkan gerbang belakang kediaman Duke Louis, aku lihat beberapa orang yang terlihat familiar di sekitar gerbang belakang kediaman Duke Louis. Orang-orang itu adalah orang-orang yang sama yang kemarin juga berada di sekitar gerbang belakang kediaman Duke Louis.

"Orang-orang itu lagi. Apa sebenarnya tujuan reka berada di sekitar gerbang belakang kediaman paman Louis ? Apa reka sedang mata-mati seseorang seperti aku atau orang lain yang berada di dalam kediaman paman Louis atau reka sedang riksa situasi di gerbang belakang kediaman paman Louis karena reka berencana untuk lakukan penyerangan ?," pikirku.

skipun aku mikirkan itu, aku tidak terlalu mikirkannya karena begitu aku lihat orang-orang ncurigakan itu lagi, aku tetap terus lanjutkan langkahku untuk nuju ke tempat latihan rahasiaku. Ketika aku sedang berjalan, aku rasakan kalau orang-orang ncurigakan itu sedang lihat dan mperhatikanku. ski begitu, aku tetap lanjutkan langkahku sambil nundukkan sedikit kepalaku agar wajahku tidak terlihat oleh reka.

Beberapa saat kemudian, aku pun kini sudah berada jauh dari reka yang masih berada di depan dan sekitar gerbang belakang kediaman Duke Louis. Setelah berada jauh dari reka, aku terus berjalan sambil mikirkan sesuatu.

"Aku tidak rasakan kalau reka sedang ngikutiku. Itu berarti sepertinya tujuan reka bukanlah untuk mata-matai orang yang tinggal di kediaman paman Louis. Jika itu adalah tujuan reka, seharusnya reka langsung ngikutiku setelah aku pergi keluar dari kediaman paman Louis. Sepertinya reka miliki tujuan lain yang tidak diketahui," pikirku.

Setelah mikirkan itu, aku terus lanjutkan langkahku untuk nuju tempat latihan rahasiaku. Tetapi, baru beberapa langkah aku berjalan setelah mikirkan itu, aku rasakan kalau orang-orang yang berada di depan dan sekitar gerbang belakang kediaman Duke Louis mulai bergerak. Aku rasakan reka mulai bergerak ngikutiku.

"Sepertinya pemikiranku yang sebelumnya telah salah. Jadi tujuan reka adalah untuk mata-matai orang yang tinggal di kediaman paman Louis. Mungkin tujuan reka yang sebenarnya adalah aku. Ketika lihat aku yang baru saja keluar dari kediaman paman Louis, reka mutuskan untuk ngikutiku dan mungkin reka juga akan ncoba untuk nangkapku untuk ncari tahu informasi tentangku. reka saat ini belum tahu identitasku, reka hanya nganggap kalau aku rupakan seseorang yang tinggal di kediaman paman Louis. Aku tidak boleh mbiarkan identitasku diketahui oleh reka. Jika reka tahu kalau aku tinggal di kediaman paman Louis, ke depannya reka akan terus datang ke kediaman paman Louis. Aku harus segera berlari ke tempat itu agar reka tidak bisa ngejar dan nangkapku," pikirku.

Setelah mikirkan itu, aku langsung berlari dengan cepat nuju tempat latihan itu. Sentara itu, orang-orang yang ncoba ngikuti Rid terlihat sedikit terkejut ketika lihat Rid yang berlari.

"Hei, orang itu mulai berlari, sepertinya dia sudah tahu kalau kita sedang ngikutinya,"

"Cepat kejar orang itu," ucap orang-orang itu.

Orang-orang itu pun langsung berlari untuk ngejar Rid.

Sentara itu, ketika aku sedang berlari untuk nuju tempat latihan rahasiaku, aku masih rasakan kalau orang-orang itu masih ngejarku.

"Ternyata benar kalau tujuan reka adalah untuk ngejarku. Tetapi dengan kecepatan reka yang seperti itu, reka tidak akan bisa untuk ngejarku," pikirku.

Kemudian, aku ningkatkan kecepatan lariku agar reka tidak bisa ngejarku.

Sentara itu, orang-orang yang sedang berlari ngejar Rid terlihat terkejut ketika Rid mpercepat larinya. Jarak antara reka pun kini secara perlahan semakin njauh.

"Apa-apaan orang itu, larinya cepat sekali,"

"Padahal kita sudah berlari dengan sekuat tenaga, tetapi kita tidak bisa ndekat sedikitpun ke arah orang itu. Justru jarak kita semakin njauh," ucap orang-orang itu.

Setelah reka ngatakan itu, tiba-tiba di samping reka ada perempuan yang ngenakan jubah yang sedang berlari ndahului reka. Perempuan itu adalah biarawati yang bernama Elsie. Saat ini Elsie sedang ngenakan pakaian biasa di dalam jubah miliknya. Dia saat ini tidak ngenakan pakaian biarawati seperti biasanya. Orang-orang itu terlihat terkejut ketika lihat Elsie yang sudah ndahului reka.

"Nona Elsie ?!," ucap salah satu dari orang itu.

"Kalian lambat sekali. Dengan kecepatan kalian itu, kalian tidak akan bisa ngejarnya. Kalau begitu, aku pergi duluan untuk ngejar orang itu," ucap Elsie.

Setelah itu, Elsie pun ningkatkan kecepatan larinya untuk ngejar Rid yang sudah berada cukup jauh di depannya.

Sentara itu, ketika aku masih terus berlari, aku rasakan ada seseorang yang perlahan mulai ndekat.

"Ada seseorang yang perlahan mulai ndekat. Kecepatan orang ini kelihatannya lebih hebat dari orang-orang yang lainnya yang sedang ngejarku. Selain itu, aku rasakan aura yang sedikit aku kenal dari orang yang perlahan mulai ndekatiku ini. Aku harus mastikan siapa orangnya," pikirku.

Setelah mikirkan itu, aku yang masih terus berlari pun secara perlahan mulai noleh ke belakang. Ketika noleh ke belakang, aku lihat seorang wanita yang sedang berlari sangat cepat untuk ngejarku. Wanita itu berlari sambil ngenakan jubah. Tetapi ski ngenakan jubah, aku tahu siapa identitas wanita itu karena wajahnya sedikit terlihat ketika dia sedang berlari. Wanita itu adalah biarawati yang sebelumnya lihat aksiku yang sedang nyembuhkan senior Nadine dan senior Gretta.

"Biarawati itu..., ternyata orang-orang itu adalah orang-orang dari gereja Sancta Lux. Itu berarti tujuan reka sudah jelas yaitu aku. Tetapi saat ini reka belum tahu siapa aku, jadi lebih baik aku terus berlari agar tidak terkejar dan tertangkap oleh reka. Aku hanya perlu berlari sebentar lagi karena aku sudah berada dekat dengan hutan perbatasan yang rupakan tempat masuk nuju tempat itu. Setelah aku sudah masuk ke hutan perbatasan dan berlari nuju tempat itu, reka mungkin akan berhenti untuk ngejarku karena aku tidak yakin kalau reka akan terus ngikuti hingga ke tempat itu," pikirku.

Setelah itu, aku terus berlari untuk nuju hutan perbatasan. Beberapa saat kemudian, aku pun kini telah tiba di depan hutan perbatasan. Setelah tiba di depan hutan perbatasan, aku pun langsung masuk ke dalam hutan itu dan terus berlari untuk nuju ke tempat latihan rahasiaku yang berada di sisi lain dari bagian depan hutan perbatasan.

Sentara itu, beberapa saat setelah Rid masuk ke dalam hutan perbatasan, Elsie pun kini tiba di depan hutan perbatasan. Elsie pun mutuskan untuk berhenti di depan hutan perbatasan itu dan tidak lanjutkan untuk ngejar Rid yang pergi ke dalam hutan perbatasan itu. Setelah berhenti di depan hutan perbatasan itu, Elsie pun mulai lihat dan mperhatikan hutan itu.

"Hutan ini, kenapa orang itu mutuskan untuk pergi ke dalam hutan ini ?," pikir Elsie.

Lalu, beberapa saat setelah Elsie berhenti di depan hutan perbatasan itu, orang-orang yang ikut ngejar Rid Archie pun kini juga sudah berada di depan hutan perbatasan untuk nyusul Elsie. Orang-orang itu terlihat kelelahan setelah berlari untuk ngejar Rid dan nyusul Elsie.

"Lari anda cepat sekali, nona. Ngomong-ngomong, pergi kemana orang yang sebelumnya kita kejar ? Dan kenapa anda berhenti disini, nona ?," tanya salah satu dari orang itu.

"Orang itu pergi ke dalam hutan ini," ucap Elsie sambil lihat ke arah hutan itu.

Setelah ndengar perkataan Elsie, orang-orang itu langsung noleh ke arah hutan itu.

"Orang itu pergi ke dalam hutan ini ? Tunggu hutan ini kan....," ucap salah satu dari orang itu.

"Iya, hutan itu rupakan hutan masuk nuju tempat yang cukup berbahaya di bagian utara kota San Lucia. Hutan ini mang tidaklah berbahaya, tetapi tempat yang ada di ujung hutan ini cukup berbahaya karena tempat itu rupakan tempat tinggal beberapa hewan buas atau monster. Orang yang ada di kota San Lucia atau yang berada di sekitar tempat itu pun njauhi tempat itu," ucap Elsie.

"Lalau bagaimana, nona ? Orang itu telah masuk ke tempat yang cukup berbahaya, apa lebih baik kita tidak usah ngejar orang itu ?," tanya salah satu dari orang itu.

"Tidak, kita akan terus ngejar orang itu," ucap Elsie.

Orang-orang itu terlihat terkejut setelah ndengar perkataan Elsie.

"Apa ?!,"

"Tapi kan, tempat itu cukup berbahaya, nona Elsie," ucap orang-orang itu.

"Tidak ada tapi-tapi, kita tetap harus ngejar orang itu karena orang yang ncurigakan itu kemungkinan adalah Rid Archie. Jika orang itu bukanlah Rid Archie, kita bisa ndapatkan informasi tentang kediaman tuan Duke dari orang itu. Kita bisa bertanya dan mastikan apakah Rid Archie tinggal di kediaman tuan Duke atau tidak. Karena sebelumnya aku lihat Rid Archie bersama dengan nona Duchess dan putri Irene, aku jadi berpikir kalau Rid Archie kemungkinan tinggal di kediaman tuan Duke. Tetapi itu hanyalah kemungkinan, kita mbutuhkan bukti yang jelas tentang Rid Archie yang mang tinggal di kediaman tuan Duke,"

"Tetapi jika orang itu mang benar adalah Rid Archie, sesuai perkataan tuan Julian semalam, kita harus ndapatkannya dengan cara apapun," ucap Elsie.

-Bersambung

You are reading Peace Hunter Chapter 434 : Pengejaran Orang Mencurigakan on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Mercenary’s War cover
Similar genre

Mercenary’s War

Just Like Water ·Action

GaoYangwasamilitaryenthusiast,anordinaryone,wholovedknives,guns,andadventure. Inanaccident,GaoYangfoundhimselfinAfrica,whereheunfortunatelyexperien...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.